Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 9 - Itu milikmu?



Tidak seperti biasanya, pagi ini cukup tenang. Bitna tidak mendapatkan siraman saus tomat, telur busuk dan sampah lainnya.


Apakah ini karena video yang tersebar kemarin?


Ataukah karena pelaku utama pembullyan tersebut sedang di skors? Entahlah. Yang jelas Bitna merasa cukup damai pagi ini.


Yang masih mengganjal di pikiran Bitna saat ini, siapa yang merekam dan menyebarkan video itu? Apakah ia punya maksud baik, atau buruk?


Sruk!


Sebuah bingkisan kecil dengan inisial J.H terjatuh dari kursi.


"Ah, lagi-lagi... Aku jamin dia adalah orang kaya. Dari mana dia dapat uang untuk belikan aku hadiah setiap hari?" gumam Bitna sambil meneliti hadiah misterius itu.


Matanya menatap seisi kelas. Dia sama sekali tidak bisa menebak, siapa pengirim hadiah misterius ini.


"Dia yakin nggak salah meja? Jangan-jangan ini sebenarnya bukan untuk aku?" pikir Bitna.


"Ah, sudahlah. Kalau memang dia berani, pasti suatu hari nanti memunculkan wajahnya.


Bitna menatap jam dinding di depan kelas. Masih ada waktu Lima belas menit lagi, hingga bel masuk berbunyi.


“Oh iya, aku harus mengecek sesuatu. Seharusnya pengumumannya sudah keluar.”


Setelah meletakkan tas di dalam kelas, Bitna pun melangkahkan kaki ke depan ruang guru. Remaja itu mencari-cari pengumuman karya tulis ilmiah yang diikutinya beberapa waktu lalu.


“Ah, ketemu!”


Bola mata Bitna yang semula bersinar, kini jadi redup. Yang ia harapkan sama sekali tidak terjadi. Bitna justru seperti tertimpa bom waktu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Tanpa disadari, kaki Bitna pun melangkah ke suatu tempat.


"Permisi, Bu Guru. Saya mau bertanya tentang pengumuman makalah itu." Bitna menemui guru kimia yang mengelola majalah sains tersebut.


"Oh, kamu sudah baca," jawab Bu Aram dengan nada jutek.


"Sudah, Bu. Tapi kenapa bukan nama saya?" protes Bitna.


“Memangnya harus nama kamu yang tercantum di sana?” balas Bu Aram sambil menenggak sebotol yogurt.


“Eh? Seharusnya begitu, kan? Judul Makalah ilmiah yang lolos itu adalah karya saya.”


"Naskah itu kamu berikan ke sekolah, kan? Memangnya ada surat pernyataan kalau itu murni buatan kamu?" ucap Bu Aram.


Bitna ternganga mendengar kalimat dari gurunya, "Haruskah ada surat pernyataan seperti itu?" ucap Bitna.


"Tentu saja. Di zaman digital serba canggih ini, memangnya bisa dipercaya kalau itu karya original milik kamu?” tanya Bu Aram.


“Itu memang benar karya saya, Bu. Bukankah Ibu sendiri yang membimbing praktikum saya tempo hari?” tegas Bitna.


“Lagipula di awal tidak ada ketentuan harus membuat surat pernyataan segala?” lanjut Bitna.


“Keteledoran kamu itu tidak bisa ditoleransi dengan mudah. Hidup ini penuh kompetisi. Siapa yang lalai dan tidak waspada, tentu saja sudah kalah dari garis start.”


Bu Aram sama sekali tidak mendengarkan pembelaan siswinya tersebut.


"Tapi, makalah itu kan memang saya yang membuatnya, Bu." Bitna berusaha mempertahankan haknya.


"Apa kamu bisa membuktikan kalau makalah itu memang kamu yang buat? Semua siswa juga bisa. Tapi karena kamu sudah menyerahkannya ke sekolah, naskah itu bisa saja tentu sepenuhnya hak sekolah."


“Tapi kenapa harus nama Seon Wooil?” Bitna masih tidak terima.


“Siapa saja nama yang tertera di sana nggak masalah, kan? Dan menurut Ibu, dia jauh lebih pantas daripada kamu,” ujar Bu Aram.


"Lebih pantas? Apa patokannya? Tapi bukankah itu namanya plagiat?" Bitna masih belum menyerah.


"Ya coba saja kamu buktikan jika itu memang karya kamu,” tantang Bu Aram.


“Memangnya bakal ada yang percaya sama cewek pembohong sepertimu? Kamu bilang kalau kamu anak kapten kapal? Ternyata cuma anak pengupas kentang yang meninggal karena kelelahan bekerja," tawa Bu Aram memotong ucapan Bitna.


“Kalau cuma file sama bahan pendukung sih semua siswa juga bisa punya. Kamu punya file aslinya kan bukan berarti kamu pemiliknya,” jelas Bu Aram.


Grep! Bitna mengepalkan tangannya. Amarahnya sudah sampai ubun-ubun. Tetapi ia harus tetap menjaga etikanya di depan sang guru.


"Apa yang salah dengan anak pengupas kentang? Dan ayah saya benar-benar se-"


"Ckkk… Sudahlah, fokus saja pada studimu, agar tetap bisa bertahan di sini. Sekolah ini tidak memberi beasiswa cuma-cuma untuk anak sepertimu," usir Bu Aram memotong ucapan Bitna.


...🍎🍎🍎...


Bitna kembali mematung di depan papan pengymuman. Perasaannya berkecamuk melihat nama yang tertera di bawah judul makalah ilmiah yang lolos untuk majalah sains bulan ini.


Bagi beberapa siswa, keberadaan makalah itu sangatlah berharga. Bahkan bisa membantu untuk masuk ke perguran tinggi nanti.


“Hhh… Memangnya Seon Wooil itu kekurangannya apa, sih? Kenapa dia merebut karya ilmiahku?”


Bitna mengepalkan tangannya. Batinnya menjerit atas ketidak adilan ini.


Ah, lagi-lagi mata Bitna menangkap poster pertukaran pelajar ke Indonesia.


“Kenapa aku selalu membaca nama negara itu, sih? Apa ini jawaban atas semua masalahku?” gumam Bitna putus asa.


Memang, hati kecilnya sudah sangat pengap dengan seluruh keadaan di sekitarnya. Rasanya hampir semua orang di sekitarnya hanyalah orang-orang toksik. Bahkan Bitna masih belum memahami bibinya sendiri.


Sejenak hati Bitna memang masih merasakan ragu. Apakah ia bisa bertahan di sini dengan segala ketidak adilan yang diterimanya? Atau kah ia hidup seorang diri jauh di negara orang lain yang begitu asing?


“Bu, maafkan aku. Bukannya aku tidak menyukai sekolah pilihan Ibu, tetapi sepertinya aku butuh tempat untuk menenangkan diri," gumam Bitna dalam hati.


Srak!


Tanpa berpikir dua kali, Bitna melepaskan poster itu dari papan pengumuman.


Meski gadis itu belum menetapkan pilihan, setidaknya hal yang ia butuhkan sudah berada di tangannya.


“Ku harap akan ada hal baik terjadi, sebelum aku memutuskan untuk pergi,” bisiknya dalam hati.


...🍎🍎🍎...


“Aku pulang…”


“Loh, Bitna. Tumben cepat sekali kamu pulang jam segini?” Bibi tampak terkejut melihat Bitna yang pulang lebih cepat dari biasanya.


Belasan tas belanja berserakan di lantai papan itu. Chae Ara stertangkap sedang mencoba pakaian baru yang kelihatan cukup mahal.


“Ya, hari ini tidak terlalu banyak kegiatan,” ucap Bitna tidak semangat.


“Katanya bibi sedang kesulitan uang? Tetapi kok bisa belanja banyak dan mahal begini?” pikir Bitna saat melewati deretan tas-tas tersebut.


“O-oh, Bitna. Bibi dapat rezeki lebih hari ini.” Bibi tampak gugup ketika Bitna menatap tas-tas belanja berisi pakaian, sepatu dan beberapa make up itu.


“Ya? Syukur, deh,” jawab Bitna datar. Ia tak mau pusing, dari mana bibi mendapatkan semua itu.


“Bibi juga belikan sesuatu untukmu. SUdah Bibi letakkan di kamarmu,” sambung bibi.


Fyuh, rasa haru Bitna pada sang bibi beberapa detik yang lalu, berubah jadi kekecewaan. Sebuah sweater berwarna oren cerah, terlihat sangat mencolok jika dibandingkan kamar Bitna yang dominan berwarna peach itu.


Bukan, bukan masalah warnanya. tetapi kualitas dan bahannya. Sekali lihat saja semua orang sudah tahu, jika itu adalah barang diskon yang murahan. Mungkin beberapa kali cuci sweater wol itu bakal robek atau berbulu.


“Yah, setidaknya bibi masih ingat membelikanku baju.”


Meski tak ingin berpikir negative, tetapi hati Bitna sejak tadi selalu berkata, bahwa uang asuransinya yang dikelola sang bibi banyak berkurang, khususnya hari ini.


(Bersambung)