Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 15 - Tugas Rakyat Jelata



Setelah insiden meju tadi pagi, pelajaran berikutnya pun berjalan dengan baik. Jahe dan cengkeh benar-benar ampuh menghilangkan bau.


Akan tetapi, seluruh tenaga Bitna telah menguap. Pulang sekolah ini rasanya tak sanggup lagi jalan dari halte menuju ke rumah.


Sebenarnya masih ada cukup waktu untuk ke perpustakaan. Bitna membutuhkan beberapa buku, karena sebagian buku miliknya telah basah dan hancur. Tetapi punggungnya yang tidak bersahabat, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kasur.


"Apa sih yang ku pikirkan tadi? Balas dendam? Duh Bitna, lupakan saja, deh. Dari pada kamu kena masalah lebih besar lagi," pikir Bitna sepanjang jalan.


Meski hanya sesaat, Bitna sempat berpikir untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah membullynya.


"Lebih baik aku segera mengisi formulir pertukaran pelajar saja. Tapi bagaimana caranya mendapat izin paman dan bibi, ya?" gumam Bitna.


Tap!


Langkah Bitna terhenti. Dua orang berpakaian jas lengkap menghalangi jalannya. Tidak jauh dari mereka, terdapat sebuah mobil hitam yang mencurigakan.


"Harap jangan membuat keributan, dan ikuti kami," perintah mereka.


"S-siapa kalian?" tanya Bitna. Ia melihat sekeliling untuk meminta bantuan.


"Jika kamu mengikuti kami tanpa menarik perhatian, maka kamu akan selamat. Tuan kami hanya akan bicara sebentar dengan kamu."


"T-tuan?" Bitna mengerutkan keningnya.


Beberapa orang terlihat melintas, Bitna pun segera membuat isyarat tubuh bahwa dia membutuhkan pertolongan. Namun mereka semua memilih untuk pura-pura tidak melihat, dan tidak ikut campur pada urusan Bitna.


"Sehyuk, sudahlah. Kalau dia tidak mau, aku akan bicara dari sini saja." Seorang pria bersuara berat, berbicara dari dalam mobil dengan pintu terbuka.


"Tuan Kim?" Bitna mundur beberapa langkah. Kedua bodyguard dengan sigap menjaga Bitna agar tidak kabur.


"Jangan membuat image ku jelek di depan umum. Aku cuma ingin bertanya, apa kamu sudah melakukan yang aku minta?" tanya Tuan Kim.


"Saya tidak akan pernah melakukannya, Tuan. Mengerjakan tugas sekolah milik orang lain itu hal yang ilegal," kata Bitna.


"Dan seharusnya, setiap orang berjuang sendiri untuk memperoleh prestasi terbaik," lanjut remaja tersebut.


"Hahahaha... Siapa kau sudah bisa mengatakan hal yang legal dan ilegal?" balas Tuan Kim Angkuh.


Tuan Kim yang tertawa lepas seperti itu membuat Bitna merinding ketakutan. Tetapi lagi-lagi, para pengguna jalan lain hanya menghindar dari seruan Bitna yang meminta pertolongan.


"Nak, dengarkan aku. Kalau kau sudah terjun ke dunia ini, maka kau akan melupakan, apa itu legal dan ilegal," lanjut Tuan Kim.


"Tidak. Saya tidak bisa hidup seperti itu," kata Bitna.


"Jangan terlalu idealis, Nak. Kadang kita butuh pijakan untuk memperoleh keberhasilan. Seperti dirimu, yang mengorbankan nyawa ibumu. Dalam dunia bisnis, ini disebut simbiosis mutualisme.


"Jangan bawa-bawa mendiang ibuku dalam masalah ini, Tuan," marah Bitna.


"Aku hanya memberikan contoh saja, agar kau lebih mudah memahaminya. Bahwa tidak ada satu pun keberhasilan yang diperoleh di dunia ini, tanpa mengorbankan orang lain."


Bitna menggeretakkan giginya dengan kesal.


"Tetapi aku hanya bisa mengingatkan saja, bukan memaksa. Kau tahu kan apa resikonya kalau tidak menurutiku?" kata Tuan Kim.


"Harusnya kau tahu, tugas rakyat jelata sepertimu di negeri ini. Kau harus melakukan yang kami minta untuk tetap bertahan hidup," lanjut Tuan Kim.


Bitna hanya menelan ludah mendengar kalimat Tuan Kim yang tidak bercanda itu.


"Aku sudah mengetahui di mana saudara sepupumu sekolah, dan tempat paman bibimu bekerja. Jadi pikirkanlah baik-baik tawaranku," ancam Tuan Kim sebelum pergi.


Sruk!


Bitna terduduk di trotoar. Seluruh tubuhnya menggigil. Ini bukan masalah kecil. Yang dihadapinya adalah orang besar di negara itu.


Tetapi bagaimana ia menghadapinya? Orang-orang saja pada menghindar melihatnya di bawah bahaya seperti tadi.


"Bagaimana ini? Aku kan tidak mengganggu mereka sama sekali? Kenapa harus aku yang menderita begini?" Bitna menggigit kuku jarinya.


"Gimana kalau video Min Ji dan Pak Song tersebar? Apa aku masih bisa selamat?" gumam Bitna di sela isak tangisnya.


"Tidak, aku tidak boleh kalah. Persetan dengan hati nurani, aku harus lakukan sesuatu secepatnya."


"Aku juga harus cepat-cepat mengurus pertukaran pelajar itu. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bebas dari tekanan mereka."


Drrrrrttt...


"Halo, Bitna."


"Eunjo. Aku membutuhkan bantuanmu," ucap Bitna dengan suara bergetar.


Sambil menelepon Eunjo, Bitna melangkah menuju rumahnya dengan tergesa-gesa. Ia takut akan ada gangguan lainnya jika berlama-lama di luar rumah.


"Terima kasih, Eunjo. Aku pasti akan membalas semua kebaikanmu nanti." Bitna menutup teleponnya.


"Eh, ini kan?"


Bitna membesarkan matanya, melihat beberapa tumpukan kardus dan koper di luar rumah.


"Ara, kenapa barang-barangku ada di luar semua? Siapa yang mengeluarkannya?" seru Bitna dengan wajah sangat kesal.


...🍎🍎🍎...


"Wooil, dari mana saja kau baru pulang jam segini?"


"Bukan urusan Ayah."


"Ini urusanku. Kau masih hidup dan tinggal dirumahku." Tuan Seon menghalangi jalan Wooil yang hendak menaiki tangga.


"Ya sudah, kalau begitu besok aku akan cari tempat kos sendiri," balas Wooil.


"Kau pikir mencari uang untuk biaya hidup itu mudah?"


"Jadi mau Ayah apa, sih? Semua yang kulakukan salah di mata Ayah," teriak Wooil dengan kesal.


"Ayah sudah dengar karya ilmiahmu di salah satu majalah sains nasional."


"Lalu?"


"Itu masih belum cukup. Ayah dengar dari gurumu, kamu masih belum bisa mengerjakan soal-soal sulit kelas untuk simulasi ujian suneung," ucap Tuan Seon.


"Ayah, aku masih kelas satu. Ujian itu masih dua tahun lagi," gerutu Wooil.


"Kau nggak tahu? Satu soal saja tidak bisa kau kerjakan, nilaimu akan jatuh. Mau jadi apa kau kalau tidak lulus ujian?"


"Ya sudah. Kalau begitu ayah saja yang belajar dan ikut ujian. Aku capek."


"Wooil! Ayah belum selesai bicara. Ayah dengar gadis itu mengambil program belajar ke luar negeri. Kau harus bisa melampauinya dengan menunjukkan prestasimu."


"Uh... Apa peduliku kalau dia mau ke luar negeri? Toh aku juga sudah biasa ke luar negeri," pikir Wooil.


...🍎🍎🍎...


Boston, Amerika serikat. Pukul delapan pagi.


"Hey, Lim Chan. Kau mau ikut seminar pagi ini?" Seorang pria bule menepuk bahu Lim Chan yang bidang.


"Ah, tidak. Aku skip dulu. Jam sembilan nanti aku harus menemui Profesor Chambell," balas Lim Chan.


"Haaah... Kau kenapa, sih? Sejak putus dari pacarmu sepertinya tidak ada semangat hidup.


"Jangan asal bicara. Kau kan tahu aku sudah dua minggu hanya tidur dua jam sehari, demi menyelesaikan tesisku," bantah Lim Chan.


Pria bule itu hanya tertawa mendengar Lim Chan yang sewot.


Ddrrtttt...


Lim Chan melihat ponselnya yang berdering.


"Loh, tumben dua menelepon jam segini?"


Pria bermata hitam kebiruan itu mengangkat teleponnya.


"Hei, Wooil? Kenapa meneleponku jam segini? Bukankah di Korea masih larut malam?"


(Bersambung)