Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 44 - Karma Instan



"Terima Kasih Kak Ningsih. Selain mengantarku, kakak juga banyak mengajariku selama di taksi," ucap Bitna.


"Sama-sama, Bitna. Aku senang bertemu denganmu. Semoga nanti di Indonesia kita ketemu lagi, ya," ujar Ningsih.


"Kak Bitna..." Ara berlari keluar.


"Ini ongkos taksinya," gadis kecil itu menjulurkan tangannya, memberikan sejumlah uang pada Bitna.


"Nggak usah, Dik. Biar aku saja yang membayar taksinya," kata Ningsih.


"Beneran?"


"Hu'um. Tapi janji, ya. Harus lulus lalu kita bertemu lagi," janji Ningsih.


"Wah, siapa ini, Kak? Cantik banget. Kulitnya eksotis," kata Ara dengan sangat polos.


"Dia Kak Ningsih. Guru les kakak sebelum ke Indonesia," jelas Bitna.


"Salam kenal, Kak. Aku Chae Ara, dari SMP Dongsan. Aku suka banget pakaian adatnya," celoteh Ara.


"Oh ya?" sahut Ningsih.


"Ara, Kak Ningsih kan ditungguin sama taksinya," tegur Bitna.


"Oh iya, aku lupa," celetuk Ara.


"Kapan-kapan kita ketemu lagi ya, Ara," kata Ningsih lalu kembali naik ke dalam taksi.


"Kakak nggak apa-apa, kan?" tanya Ara setelah taksi itu pergi meninggalkan rumahnya.


"Ya."


"Duh, di rumah lagi kacau," lapor Ara.


"Kacau gimana?" tanya Bitna nggak mengerti.


"Ayah di PHK dari perusahaan. Ibu juga dilarang berjualan lagi," jelas Ara.


"Siapa yang melarang? Terus kenapa paman di PHK? Apa masalahnya?" tanya Bitna tak terima.


Chae Ara hanya diam. Air matanya mengalir perlahan.


Bitna berlari masuk ke dalam rumah.


"Apa yang terjadi, Paman? Siapa yang mengganggu keluarga kita?" tanya Bitna.


"Nak, jangan khawatir. Paman tinggal mencari pekerjaan baru, kan?" ucapnya.


"Nggak. Ini nggak adil. Memangnya kita sudah melakukan apa sampai diperlakukan begini?" Emosi Bitna meluap.


"Tadi aktris Kim Dayoung bersama suaminya datang ke sini. Mereka mengancam keluarga kita," kata Ara sambil menangis.


"Keluarga Kim?" tubuh Bitna bergetar mendengar nama itu. "Apa yang sebenarnya mereka inginkan, sih?"


...🍎🍎🍎...


"Sayang, ku pikir kamu akan membiarkan masalah ini begitu, saja?" ucap Kim Dayoung dengan manja.


"Nggak, dong. Mana mungkin aku membiarkan keluarga kita diinjak-injak sama keluarga miskin kayak mereka," kata Tuan Kim Hyunseung.


"Terus yang kamu bilang sama Min Ji kemarin itu apa?" tanya Dayoung, mengkhawatirkan keadaan putrinya.


"Loh, kamu nggak tahu? Para wartawan banyak berkumpul di sekitar rumah kita saat itu," kata Tuan Kim.


"Aku terpaksa berakting, agar tidak menimbulkan spekulasi lagi di depan publik," lanjut Tuan Kim.


"Video bercumbunya dengan guru itu udah membuat citra kita anjlok. Dia pantas menerima hukuman itu. Semua ini terjadi gara-gara kamu terlalu memanjakannya," kata Tuan Kim.


"Aku? Kan kamu juga yang terlalu keras padanya, sampai dia memberontak," balas Dayoung.


"Ini juga salah keluarga miskin itu. Kalau saja mereka bisa menjaga keponakannya yang yatim piatu, pasti nggak akan terjadi hal yang seperti ini," omel aktris cantik itu.


"Aku sudah membereskan masalah keluarga miskin itu. Mereka nggak akan bisa berbuat apa-apa lagi," ucap Tuan Kim.


"Keluarga sombong itu maksudmu? Seberapa tinggi sih harga diri mereka?" ucap Dayoung kesal.


"Cuma disuruh klarifikasi ke publik dan menutupi yang sebenarnya terjadi kok susah banget? Padahal kita sudah memberikan hadiah uang yang sangat besar, tapi mereka malah menolaknya," lanjut aktris senior itu.


"Tapi putrimu itu juga salah, karena sudah berani menggoda pria demi kepentingannya. Gimana sih caramu mendidiknya?" marah Tuan Kim.


"Putriku? Oh jadi dia cuma putriku? Memangnya karena siapa dia bisa lahir?" balas Dayoung.


"Uhuk! Uhuk!"


Pak Supir yang mengemudikan mobil pasangan aktor dan aktris itu, sepertinya mulai gerah dengan pertengkaran mereka.


Bzzzztttt!!!


HP milik Tuan Kim bergetar.


"Hah?Tumben dia menelepon? Ada apa?" pikir Tuan Kim heran, menatap nama yang muncul di layar.


"Halo Tuan Seon? Apa kabar?" kata Tuan Kim berbasa-basi.


"Sepertinya putraku kemarin sudah mengatakan, kalau Anda mengganggu gadis itu lagi, maka karir Anda akan tamat," ucap Tuan Seon di seberang sana.


"Apa maksud Anda, Tuan Seon?"


"Kau baru saja menghancurkan keluarga itu, kan? Maka tunggu saja balasannya," ucap Tuan Seon.


"Hei, hei.. ini nggak adil. Kenapa Anda memutuskan secara sepihak? Anda terlalu menggunakan kekuasaan dalam hal ini, Pak," ujar Tuan Kim tidak terima.


"Apa bedanya dengan yang Anda lakukan barusan pada keluarga itu?"


"Aku tidak tahu apa yang sudah Anda dengar. Tapi semua itu salah paham," ujar Tuan Kim membela diri.


"Berarti kabar yang kudengar kalau Pak Chae Do Hyuk dipecat dan istrinya, Seo Dami dilarang berdagang juga cuma salah paham, ya?" balas Tuan Seon.


"Eh, maksudnya?" kata Tuan Kim tidak mengerti.


"Ya berarti tidak masalah kalau besok pagi kita melihat mereka beraktifitas seperti biasa lagi, kan?" kata Tuan Seon menekankan.


"Pak, saya sangat mengerti. Jabatan Anda sebagai pejabat tinggi di Seoul membuat Anda sangat sibuk. Tapi kenapa Anda malah mengurusi keluarga miskin seperti mereka?" sindir Tuan Kim.


"Jaga bicaramu! Anak perempuan itu jauh lebih berharga dari pada kalian yang dipuja seluruh warga negeri ini," jelas Tuan Seon.


Dengus napas Tuan Kim terdengar sangat jelas. Dia tak bisa lagi menahan emosinya.


"Berarti, Anda tak masalah kalau publik mengetahui hubungan Anda dengan gadis bernama Seo Bitna itu?" kata Tuan Kim.


"Ya, aku tak masalah."


"Anak Anda pasti tak akan menyukainya," kata Tuan Kim.


"Kedua anakku pasti akan mengerti," kata Tuan Seon sambil menatap ke layar laptop, yang menunjukkan Seon Wooil mengacak-acak ruang kerjanya tertangkap kamera CCTV.


(Bersambung)