Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 47 - Menyesal



"Huwaaaa...!"


Buk! Buk! Buk! Bitna menendang-nendang selimut yang ia pakai.


"Apa sih yang sudah kulakukan kemarin? Kenapa aku bisa ngomong gitu?"


Bitna merasakan tubuhnya sedikit menghangat. Dadanya bergejolak. Aroma wangi parfum dan shampo milik pria yang mengajaknya berkencan kala itu, masih terekam jelas di syarafnya. Suara lembut yang berbisik di telinganya, bagaikan suara ******* syahdu yang memanjakan telinga.


"Gila! Aku pasti udah nggak waras, sampai bisa ngomong kayak gitu sama dia," gumam Bitna seraya memutar-mutar tubuhnya di kasur.


"Kenapa aku gampang banget nyatain oerasaan sama dia? Apa kau nggak tau yang namanya tarik ulur, Bitna?" ujar gadis itu pada dirinya sendiri.


Sruk! Tiba-tiba selimut terbuka. Udara dingin yang menelusup dari celah-celah jendela, menggerayang ke seluruh tubuh gadis Korea Selatan tersebut.


"Astaga, Tika! Kaget aku," seru Bitna melihat seorang perempuan dengan piyama merah, berdiri dengan rambutnya yang terurai panjang. Mana lampu kamar dah mati lagi.


"Kamu ngapain malam-malam latihan gulat di kasur? Ada masalah?" kata Tika.


Cetek! Lampu kamar kembali menyala.


"Ada. Eh, nggak sih."


"Huh, pasti ada, kan? Tentang sekolah?" tebak Tika.


"Hhh... Entahlah." Bitna memandang langit-langit kamar yang putih polos. "Apa kamu pernah suka sama seseorang, sampai mengganggu pikiran?" tanya gadis itu.


"Oh... Jadi ini sebabnya, kamu sama Alva diam-diaman aja di kelas? Jadi apa jawabanmu setelah ditembak dia?" ujar Tika.


"Hah! Kok kamu tahu? Kamu lihat ya, waktu itu?" Bitna menutup wajahnya dengan bantal.


"Nggak. Aku nebak aja. Siapa pun pasti bakal tahu, kalau melihat sikapmu begini," kata Tika sambil tertawa penuh kemenangan.


"Gawat! Aku keceplosan!" sesal Bitna dalam hati. "Padahal aku bisa aja menyangkalnya tadi."


"Lah... Diajakin ngobrol malah bengong. Kayaknya kesambet beneran ini anak," kata Tika.


"Huh? Pertanyaanku belum di jawab, kamu pernah suka sama orang, nggak?" kata Bitna.


"Pernah, dong," jawab Tika penuh percaya diri.


"Oh, ya? Nggak nyangka anak teladan kayak kamu bisa suka sama orang juga."


"Aku kan manusia, Ceunah. Bukan robot," kata Tika sambil menimpuk Bitna dengan bantal.


"Aku jadi penasaran, seperti apa orang yang disukai Tika?" komentar Bitna.


"Kamu mau tahu? Kalau gitu kamu juga harus cerita, dong. Gimana hubunganmu dengan Alva," balas Tika.


"Ehm, jadi sebenarnya..." Bitna pun berbisik, agar tidak terdengar oleh orang lain.


"Ya ampun, jadi gitu ceritanya? Sekarang kamu menyesal, nih?" komentar Tika.


"Aish, aku udah nepati janji, nih. Sekarang giliranmu."


"Kamu juga pasti kenal kok, sama cowok yang aku sukai. Tapi sayang, susah untuk digapai," kata Tika.


"Weih, siapa? Anak kelas kita?" tanya Bitna.


"Nggak," jawab Tika.


"Anak kelas sebelah?"


"Nggak juga."


"Kakak kelas pasti," tebak Bitna.


"Masih salah. Lah, terus siapa, dong? Katanya aku kenal." Bitna mengerutkan dahinya.


"Beneran nggak sih, anak ini punya orang yang disukai? Jangan-jangan cuma alasan dia aja, untuk memancinku cerita," batin Bitna.


"Adinata Yusuf," jawab Tika singkat, dan jelas.


"Ohh.. Adinata?" gumam Bitna. "Hah? Apa? Adina- Maksudku Pak Adinata guru fisika kita?" Bitna baru loading.


"Yo'i."


"Kau ngibul, kan?" Bitna masih menolak kenyataan.


"Ish, ngapain aku ngibul? Aku udah suka sama beliau sejak awal mengajar di sini," kata Tika.


"Jadi itu sebabnya, kamu bilang susah digapai?" balas Bitna.


"Ho'oh."


"Gile! Emang sih, Pak Nata kan cakep, masih muda pula. Apa beliau udah punya pacar? Umurnya berapa, sih?" kata Bitna.


"Kayaknya belum, sih. Tapi aku nggak tahu juga. Tahun ini mau masuk dua puluh enam tahun."


"Terus kamu mau memendamnya sampai kapan?" tanya Bitna penasaran.


"Entahlah. Mungkin sampai aku lulus. Aku udah hampir dua tahun memendam sendiri," kata Tika.


"Hhh... Aku nggak bisa ngasih nasehat. Karena kasus percintaanku sendiri pun miris banget," ujar Bitna.


"Kamu beneran menyesal?" tanya Tika lagi.


...🌺🌺🌺...


Hari minggu, harinya bebas pegang HP.


"Ah... Rebahan sambil pegang HP emang enak, ya.." gumam Bitna sambil menekan tombol power di ponselnya.


Ting! Ting! Ting!


"Omo! Baru aja hidup, udah rame banget," kata Bitna sambil membuka pesan yang masuk. Tak butuh waktu lama, langsung membalasnya.



Tak disangka, pesan balasan pun langsung diterima.


Tuk! Tuk! Tuk! Jemari Bitna dengan lincah mengetik di layar HPnya. Tanpa sadar ia senyum-senyum sendiri.


"Ecieee... Dari siapa, tu? Ayang yang di Korea, ya?" ledek Tika.


"Ini Eunjo. Musuh bebuyutanku," jawab Bitna tanpa mengalihkan pandangannya dari layar HP.



Bitna terus membalas pesan-pesan tersebut dengan sambil tertawa kecil.



"Heol! Eunjo beneran punya pacar!" Bitna bangkit dari kasurnya.


"Kenapa? Kau iri, ya?" tanya Tika terkekeh, sambil menyeterika baju.


"Ish, ucapan kalian berdua sama persis," seru Bitna. Jemarinya masih terus berselancar di atas layar.



"Hahaha... Dasar Eunjo. Ada-ada aja," tawa Bitna sampai menepuk-nepuk kasur.


"Emang ya, HP bisa bikin orang jadi gila," gumam Tika pura-pura tidak melihat Bitna.


"Kau mau membaca pesannya? Dia aneh," kata Bitna.


"Terus, aku disuruh baca hangul yang nggak udah kayak ngapalin rumus teori relativitas?" kata Tika.


"Oh, iya. Aku lupa. Hehehe."


Tling! Tiba-tiba saja sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya.


"Siapa ini?" pikir Bitna sambil membuka pesan.



"Siapa, sih? Nggak kenal langsung marah-marah," gerutu Bitna.


"Ada apa lagi?" tanya Tika.


Bitna mengetuk layar HPnya dua kali, melihat foto profil sang pengirim pesan.


"Ini kan... Alva!" seru Bitna dan Tika bersamaan.


Dug! Dug! Dug! Jantung Bitna berdegup kencang bagai beduk bulan puasa, melihat foto pria yang menembaknya beberapa hari yang lalu.


"Ganteng banget, sih. Aku nggak kuat Maemunaaaahhh!" batin Bitna.


Dua puluh menit kemudian...


"Mianhae! Udah nunggu lama?" tanya Bitna.


Alva terpana melihat remaja wanita itu menggunakan pakaian santai. Dengan baju model sabrina dan rok sepanjang lutut membuatnya terlihat sangat manis.


"Ah, dia nggak pakai kalung pemberian Jun Hyeon lagi rupanya," gumam Alva. Entah mengapa hatinya merasa senang.


"Dia ganteng banget, sih, pake baju bebas gini?" pikir Bitna pula. Pipinya bersemu merah. "Ah, kenapa aku gini? Ini kan bukan kencan? Sadar Bitna."


...🌺🌺🌺...


"Ayah..." Bitna menghambur masuk ke dalam ruang perawatan sang ayah.


Seo Il Sang tertawa melihat tingkah manja putrinya. Usianya sebentar lagi memasuki enam belas tahun. Tetapi di mata Il Sang, gadis itu masih saja kecil seperti dulu.


"Maaf aku tidak bisa sering menjenguk. Sekolah melarang kami sering-sering keluar asrama," kata Bitna.


"Nggak apa-apa, anakku. Yang penting sekolahmu lancar," ucap Seo Il Sang.


"Ayah pasti kesepian di sini," kata Bitna.


"Nggak, kok. Ayah punya teman baru di sini."


"Siapa? Oppa Lim Chan kan sudah pergi?" tanya Bitna penasaran.


"Tuh, orangnya datang."


(Bersambung)