
Eunjo, kau mengundangnya juga?" kata Bitna.
"Nggak. Bocah tengil ini yang minta ikut denganku," jawab Eunjo.
"Hai, Bitna. Lama nggak jumpa," ucap Seon Wooil.
Cowok resek yang sudah menghilang selama lima tahun, akibat kuliah di Amerika itu telah kembali. Ia merintis perusahaannya sendiri dengan modal yang ia kumpulkan sejak lama. Secara teknis, dia lebih miskin dibandingkan Seo Bitna.
"H-hai," sahut Bitna.
"Kenapa kau menatapku begitu? Apa aku menganggu acara kalian berdua?" tanya Seon Wooil merasa bersalah.
"Nggak, kok. Gabung aja. Aku lagi senang, nih. Bitna cuma terpana melihatmu yang makin tampan," kata Eunjo blak-blakan.
Dug! Bitna menendang kaki Eunjo dengan sepatunya.
"Maaf, Bitna. Yang kau tendang itu kakiku," kata Wooil menahan sakit.
"Ma-maaf," ujar Bitna sambil menutup wajahnya dengan smartphone.
"Ish, ngaku aja napa, sih? Kan Wooil emang tambah cakep. Aku juga mengakuinya, kok," kata Eunjo santai.
"Ma-makasih," kata Wooil.
"Kapan kau kembali dari Amerika. Kenapa nggak bilang-bilang, sih?" ujar Eunjo dengan santai. Berbeda dengan Bitna yang masih salah tingkah.
"Aku baru dua bulan di Korea. Dan ku lihat, kian semua sibuk," kata Wooil.
"Lain kali sering-seringlah panggil kami. Kita minum bareng. Nah, silakan pesan daging dan minuman sepuas kalian. Aku yang bayar," kata Eunjo.
"Aku daging aja, deh. Aku nggak bisa 'minum'. Aku pesan teh hijau panas saja," kata Wooil.
"Hah! Kau nggak bisa 'minum'? Sama banget kayak anak ini," Eunjo menunjuk Bitna.
'Minum' \= konsumsi alkohol
"Aku kan lama di Indonesia. Jadi budaya 'minum' itu nggak biasa kulakukan," kata Bitna sambil menulis menu pesanan.
"Ckk, ya udah deh. Kita pesan minuman bersoda aja," kata Eunjo mengalah.
"Sssttt... Eunjo, bukannya itu Ahn Chae Rin?" bisik Bitna sambil menunjuk seorang waitress.
"Eh, iya bener. Ahn Chae Rin," seru Eunjo tanpa basa basi.
Waitress tersebut menoleh dan melambaikan tangan ke arah mereka.
"Kawan-kawan, kalian berkumpul di sini? Ada acara apa?" tanya Ahn Chae Rin.
"Dia habis pelantikan di militer. Jadi mau mentraktir kami," jawab Seon Wooil. "Kau bekerja di sini?"
"Iya. Aku baru saja lulus dan ingin mencari pengalaman dulu sambil mencari lowongan," kata Chae Rin.
Sejak kejadian yang menimpa Min Ji, gadis arogan itu benar-benar berubah. Dia tidak lagi manja, bahkan sangat rajin belajar. Dia juga tidak lagi membuang-buang masa SMAnya dengan bermain.
...πΊπΊπΊ...
"Hey, dude. Keluar, yuk. Kita berpesta di rumah Sean. Dia katanya banyak mengundang wanita."
"Maaf sekarang lagi bulan Ramadhan. Aku nggak bisa ikut," ucap Alva.
"Tapi kau kan berpuasa cuma di siang hari. Ayolah... Ngapain kau di kos sendirian?" bujuk pria bermata biru tersebut.
"Tapi malam hari aku harus shalat tarawih," tolak Alva lagi.
"Dosen muda satu ini nggak asik banget. Asal diajak ketemuan sama perempuan gak pernah mau," ujar teman lainnya.
"Kau sebenarnya suka sama perempuan atau enggak, sih?" tuduh mereka.
"Tentu saja aku suka perempuan. Makanya aku selalu menjaga diriku hanya untuk satu orang wanita," jawab Alva tegas.
...πΊπΊπΊ...
Alva bersiap dengan tuxedonya. Ia kelihatan tampan. Outfit yang berwarna hitam sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna cerah. Rambutnya ditata rapi. Sebuah jam tangan mahal hasil kerja kerasnya, melingkar di tangannya.
"Apa kau sudah siap, Al?"
"Tentu."
Kamu yakin?" tanya pria yang duduk di sofa, menunggu sahabatnya itu bersiap-siap.
"Iya, dong."
"Melihat dia mengenakan baju pengantin?" Zay terus meyakinkan sahabatnya.
"Iya," jawab Alva singkat, sambil tersenyum riang.
Sementara itu di ruangan yang berbeda, seseorang bergaun putih telah siap berdandan. Hatinya berdegup kencang menantikan upacara pernikahan yang akan segera dilaksanakan.
"Nuna, HP Anda berdering," salah seorang wedding organizer memberikan smartphone milik Bitna.
"Hai, Bitna," seru seorang wanita cantik, yang menyapanya melalui sambungan video call.
"Hai, Tika. Happy wedding ya. Sayang banget acaranya pas aku lagi wisuda," kata Bitna.
"It's ok. Aku nggak nyangka, kamu selesai S-2 cepat banget. Aku otw nyusul S-2 juga, nih. Btw rendangnya aku kirim via udara, ya. Hahahaha..."
"Dasar pengantin baru. Happy banget bawaannya. Gak nyangka, kamu bakalan berjodoh sama Pak Adinata, guru fisika kita. Padahal, kalian nggak pernah pacaran," ucap Bitna.
"Loh, kamu juga. Gak pernah pacaran, tahu-tahu udah ada undangan aja. Aku kaget banget, lho," balas Tika. "Btw sorry ya, ongkos ke Korea mahal banget. Aku jadi gak bisa datang," lanjutnya.
"Nggak apa-apa."
"Tapi ada yang wakilkan kita datang ke sana, kok," kata Flo dan Sundari.
"Oh, ya? Siapa?" tanya Bitna antusias. "Jangan-jangan Zay, yang kerja di kedutaan Indonesia? Atau Devi yang bekerja sebagai pramugari?"
(Bersambung)