
"Silakan di makan, Pak."
Semangkuk sup kerang dengan kepulan asap di atasnya, serta seekor ikan laut bakar yang mengeluarkan aroma sedap, telah tersaji di atas meja makan sederhana.
Ada juga sambal dabu-dabu yang diadaptasi dari kepulauan Sulawesi, dengan rasa luar biasa memanjakan lidah.
"Mm... Nak, maksudku bukan bantuan seperti ini yang ku minta padamu. Kau silakan menikmati makan siangmu yang tertunda dengan baik," ujar pria tua dengan badan ringkih tersebut.
"Ini bukan bantuan dariku, tetapi aku mengajak Bapak makan bersamaku. Aku senang sekali bertemu sesama orang Korea di sini," ucap Lim Chan sambil tersenyum lebar.
Pria yang memiliki mata sipit dan tubuh atletis tersebut menyodorkan sepiring nasi kepada pria ras Asia Timur di hadapannya, lalu menuangkan air kelapa ke dalam gelas minumnya.
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama, Pak. Ah, haruskah aku memanggil Anda dengan sebutan Kapten Seo Il Sang?" ucap Lim Chan dengan suara sedikit bergetar.
Tak! Sendok yang sedang dipegang oleh pria berbahasa Korea tersebut terjatuh di lantai gubuk, yang terbuat dari papan pohon kelapa.
"K-kau..? Bisakah aku mendengarnya lagi?" ujar pria tersebut dengan sangat lirih.
Seon Lim Chan menelan ludahnya. Dadanya terasa sesak dan bergemuruh. Lidahnya kelu untuk mengucapkan kalimat itu lagi.
Srot! Lim Chan membuang lendir yang berkumpul dihidungnya. Tetapi berapa sering pun ia membuangnya, cairan itu kembali memenuhi rongga hidungnya yang mancung. Tidak hanya hidungnya, matanya juga berair hingga mengalir ke pipi.
"Nak, sebenarnya kau siapa?" ujar pria yang mengaku Seo Il Sang tersebut.
Lim Chan tidak menjawab pertanyaan pria tersebut. Ia malah sibuk mengutak-atik smartphone-nya. Pria tua tersebut menunggu dengan sabar.
"Apakah Bapak mengenal gadis ini?"
Lim Chan menunjukkan sebuah foto seorang gadis manis, yang berpose mengenakan seragam SMA Indonesia. Senyumnya begitu mengembang di antara teman-temannya yang berbeda ras dan suku dengannya.
Pria tersebut menatap layar benda elektronik itu cukup lama. Air matanya mengalir tanpa seizinnya. Bibirnya bergetar hebat.
"I-ini mirip putriku, Seo Bitna. Tapi kenapa dia tidak berseragam pelajar Korea?" ujar Pria itu kebingunan.
Berkali-kali pria itu menepuk dadanya sendiri, sambil mengucap nama Bitna berkali-kali. Antara rasa senang melihat gadis kecilnya telah tumbuh kian dewasa, tetapi juga sedih karena tidak bisa melihat dan memeluknya dari dekat.
"Kapten, kenapa Anda baru muncul sekarang? Semua orang mencarimu selama bertahun-tahun," kata Lim Chan setelah emosinya cukup stabil.
"Maafkan aku," ujar Kapten Seo Il Sang dengan suara lirih. "Saat itu aku terdampar di sini dengan kondisi sangat memgenaskan. Kaki yang terluka parah. Pendengaran sedikit terganggu dan kemampuan berbicara yang menurun," ceritanya.
"Aku hampir mati dan jadi santapan hewan liar, jika penduduk sini tidak menyelamatkanku," lanjut pria yang pernah berprofesi sebagai nakhoda kapal tersebut. "Tapi bagaimana kamu bisa mengenaliku?" lanjutnya.
"Aku Seon Lim Chan, anak dari Seon Kang Nam. Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya atas nama ayahku. Yang telah membuat Anda dan seluruh anak buah kapal tertimpa musibah."
Lim Chan membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat, di hadapan Kapten Seon Il Sang.
"Tegakkanlah tubuhmu, Nak. Ini bukan salahmu atau ayahmu. Alam memang memberi kami ujian sangat berat kala itu," ujar Seo Il Sang dengan nada lembut.
"Jika saja saat itu aku pulih dengan cepat, aku pasti akan pulang lebih awal. Tapi, Selama bertahun-tahun aku mengalami lumpuh sebagian tanpa bisa bicara. Mereka yang tidak mengenalku, terus merawatku dengan baik," ucap Seo Il Sang.
"Kata mereka aku mulai bisa bicara selama setahun terakhir. Seorang dokter sukarelawan, dengan sabar melakukan terapi terhadapku, sampai aku bisa berjalan seperti saat ini," lanjut pria yang berjalan menggunakan tongkat tersebut.
"Jadi, karena itu Bapak baru muncul sekarang?" tanya Lim Chan.
"Iya. Aku dibantu kepala desa di sini sedang mengembalikan identitasku agar bisa pulang ke Korea. Dan entah mengapa, tiba-tiba kau muncul begitu saja seperti dewa."
"Ah, padahal aku masih tidak tahu teman-temanku ada di mana. Rasanya sedikit merasa bersalah jika aku pulang duluan tanpa mereka."
"Kapten, mereka sudah pulang lebih dulu," kata Lim Chan dengan suara tertahan.
Lim Chan menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. Kedua alisnya bertaut untuk menahan air mata yang hendak jatuh.
"Iya, tapi mereka pulang tanpa nyawa." Lim Chan menjeda kalimatnya sejenak. "Beberapa waktu lalu kami menemukan puing kapal dan puluhan tulang belulang di dasar lautan, tidak jauh dari sini," lanjutnya.
Kapten Seon Il Sang sangat shock mendengarnya.
...🍎🍎🍎...
"Aahhh... Segarnya... Rasanya sejak tinggal di sini, aku jadi semakin rajin mandi," kata Bitna sambil mengacak rambutnya dengan handuk.
"Gimana, udah lihat papan pengumuman?" tanya Tika.
"Tika, kau punya pelembab rambut, nggak?" ujar Bitna tanpa merespon pertanyaan Tika.
"Lihat, tuh. Dari tadi senyum-senyum sendiri. Mentang-mentang lagi happy, aku jadi dicuekin. Selamat ya udah masuk jadi juara dua," kata Tika.
"Ha? Apa sih yang dari tadi aku pikirkan?"
Bitna menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa kalau baru saja menang lomba juara kedua karya tulis. Dan harus mempersiapkan untuk tahap berikutnya.
Sedari tadi pikirannya hanya dipenuhi dengan wajah Alva, yang menggandengnya di sepanjang koridor gedung utama.
"Kenapa sih anak ini? Aneh, kaya kesambet. Tahu deh, yang baru juara dua itu," Tika bicara dengan dirinya sendiri.
"Hehehe... Sorry, Tik. Pikiranku tadi ke mana-mana. Kamu juga selamat, ya. Karya ilmiah fisika eksperimenmu juga di-notice sama Munchen University," ujar Bitna.
"Iya... Aku tahu. Kepalamu penuh dengan Alva, kan? Semua juga lihat, kok, kalau kalian berdua gandengan tangan di koridor," kata Tika sambil tersenyum jahil.
Bitna terasa tertampar berkali-kali. Nyawanya sudah menghilang setengah, "Kenapa aku nggak memikirkan, kalau bisa saja teman-teman bakal melihat kami berdua?" pikir Bitna.
Wajahnya saat itu pasti sudah memerah seperti udang bakar.
Tok! Tok! Tok!
"Bitna, kamu dipanggil Pak Hamid dan Ketua Yayasan sekolah, tuh. Ada tamu penting katanya. Pakai baju bagus, ya," ujar Mbak Sheza.
"Tamu penting?"
Bitna tidak bisa menebak, siapa yang malam-malam ini datang untuk menemuinya. Apakah utusan dari Korea benar-benar datang untuk membawanya pulang? Tapi kan nilainya sudah membaik?
Sepanjang perjalanan menuju menemui sang tamu penting, Bita tidak bisa berpikir.
"Nah, silakan masuk. Aku tunggu di luar," bisik Mbak Sheza.
Seo Bitna melangkahkan kakinya memasuki ruangan di depannya. Tubuhnya membeku. Napasnya terhenti. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"A-ayah," ucap Bitna dengan suara tercekat.
"I-ini beneran Ayah?" ulangnya lagi.
Dabum!!! Tanpa sengaja Bitna tersandung kabel ketika akan melangkah lebih dekat. Gadis itu pun berusaha untuk bangkit.
Tetapi? Semuanya telah berubah. Ayahnya tidak ada. Dirinya tidak lagi berada di ruang tamu kepala sekolah. Hanya langit-langit kosong berwarna putih yang ia lihat saat ini.
"Jadi itu cuma mimpi?" sesal Bitna.
(Bersambung)