Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 26 - Dasar Pengganggu!



"Hei, lagi ngapain?"


"Ya ampun, Jun Hyeon.. Ngagetin aja," seru Bitna sambil cepat-cepat menutup website yang sedang ia buka.


"Lagi lihat video ehem, ya? Buru-buru banget nyimpen HPnya," kata Jun Hyeon.


Pria tampan itu nenarik sebuah kursi dan duduk tepat di depan Bitna.


"Dih, enak aja! Aku tuh anak baik-baik, ya. Nggak nonton begituan. Kamu ngapain di kelasku?" ujar Bitna.


"Nih, untukmu."


Park Jun Hyeon meletakkan sebuah sandwich tuna dan sekotak susu di meja, "Hari ini pasti berat banget untukmu," ujarnya.


Bitna mengerutkan keningnya, "Maksudmu berat? Karena aku dibully?"


"Ya, itu salah satunya," sahut Jun Hyeon.


"Aku udah biasa soal itu," kata Bitna sambil membenarkan posisi duduknya.


"Terus apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikanmu?" tanya Bitna kemudian.


Jun Hyeon hanya tersenyum tipis.


"Apa? Jangan bikin aku penasaran, dong. Kalau bayarannya mahal, kau nggak perlu repot-repot membantuku kayak gini," kata Bitna tak sabar.


"Idih, galak amat, sih? Kau cukup terima pernyataan cintaku," jawab Jun Hyeon tegas.


"Maaf, kalau itu aku nggak bisa," balas Bitna segera.


"Kenapa? Itu kan nggak susah?" tanya Jun Hyeon.


"Aku nggak mau! Itu susah banget untukku!" jawab Bitna tegas.


"Setidaknya kau berpikir dulu sebelum jawab, dong..." kata Jun Hyeon pura-pura marah.


"Duh, hari ini panas banget, ya. Jadi haus."


Wooil yang tiba-tiba lewat di samping meja Bitna, mengambil kotak susu dan meminumnya."


"Hei, kau! Aku nggak ngasih susu itu untuk kamu!" marah Jun Hyeon.


"Aku tahu, kok. Tapi Bitna punya hutang budi padaku, dan belum di bayar. Dan kebetulan aku lagi haus," kata Wooil tanpa rasa bersalah.


"Kau berhutang budi dengannya? Berapa besar yang harus dibayar?" tanya Jun Hyeon pada Bitna.


"Kenapa kau pingin tahu soal itu?" ucap Bitna dengan wajah datar.


"Ya karena aku kan...." Jun Hyeon bingung melanjutkan kalimatnya. Karena memang sebenarnya dia dan Bitna nggak ada hubungan apa-apa.


"Sudahlah, aku cuma butuh minum dan sandwich ini. Kau kan bisa membelikannya lagi untuk Bitna. Ya, kan?" kata Wooil dengan nada ngeselin.


"Ckk! Dasar sinting! Kau kan juga bisa beli sendiri. Kenapa merampas punya orang lain. Dasar pengganggu!" gumam Jun Hyeon kesal.


"Hei, Jun," panggil Bitna.


"Ya? Kau mau minta ganti sandwich? Aku belikan yang lebih enak, ya," kata Jun Hyeon.


"Nggak, bukan itu. Aku mau bilang, bel masuk udah bunyi. Kau gak balik ke kelas?" kata Bitna dengan wajah yang sangat datar.


"O-oh? Ya ini mau balik. Sampai nanti," ujar Jun Hyeon.


Wajahnya memerah. Rasa malunya naik sampai ke ubun-ubun.


"Pffft... Dasar cowok aneh," tawa Wooil saat Park Jun Hyeon keluar dari kelas.


...🍎🍎🍎...


"Cieee... Yang direbutin sama dua cowok.." goda Eunjo.


"Maksudmu aku?" tanya Bitna.


"Memangnya siapa lagi yang aku ajak bicara? Kenapa kau jadi dekat sama mereka berdua?" balas Eunjo.


Gadis cantik bergaya tomboi itu mengedipkan mata berkali-kali pada sahabatnya.


"Matamu kenapa? Kemasukan debu?" tanya Bitna pura-pura polos.


"Huh, nggak asik banget sih, kamu! Kok kau bisa akrab banget sama mereka bertiga?" ulang Eunjo.


"Huuh... Apanya yang dekat. Mereka tuh cuma bikin rusuh, tahu," ucap Bitna.


"Aku masih nggak percaya sama mereka berdua," bisik Bitna. Ujung jemarinya memainkan pena menutupi kegelisahan.


"Haah... Kenapa lagi, sih? Apa kau nggak bisa menikmati masa-masa indah ini dulu?" Eunjo menghela napas berkali-kali.


"Iya aku nggak bisa," sahut Bitna.


"Kenapa? Kau tuh terlalu banyak belajar. Santai dikit lah... Nikmati masa remajamu. Mungkin aja salah satu di antara mereka itu beneran suka sama kamu," kata Eunjo.


"Gimana aku bisa dekat sama mereka? Dua-duanya mencurigakan," Bitna menjeda kalimatnya, dan menatap Wooil cukup lama.


"Seon Wooil itu pernah membullyku. Dia juga mengambil karya ilmiahku tanpa izin. Apa nggak aneh kalau dia tiba-tiba baik?" kata Bitna.


"Terus kalau Jun Hyeon?" tanya Eunjo penasaran.


"Aku nggak pernah kenal dia sebelumnya. Tapi kenapa dia tiba-tiba suka denganku?" ucap Bitna setengah berbisik.


"Duh, kau ini bikin aku kesal!" seru Eunjo. "Kau nggak kenal kan, bukan berarti dia nggak mengenalmu," lanjutnya.


"Ah, aku ngomong apa, sih? Pokoknya, bisa aja dia udah kenal kamu dari lama," jelas Eunjo lagi.


"Aku masih nggak minat pacaran," kata Bitna.


"Terserahmu, deh. Padahal aku pengen banget pacaran, tapi kenapa nggak ada yang dekati aku, sih?" Eunjo menggigit pipet susu kotak miliknya sampai penyet.


"Hei, kenapa Pak Guru belum masuk juga? Ini udah lewat lima belas menit dari bel masuk," tanya Bitna.


"Heeh... Kayaknya cuma kau deh, yang sedih karena guru nggak masuk kelas." Eunjo memajukan bibirnya ke depan.


"Bukan sedih. Tapi kau kan tau sendiri, guru filsafat itu orang yang paling tepat waktu."


"Emangnya kau tadi nggak dengar pengumuman? Sebentar lagi mau sidang kasus Min Ji. Katanya mau disiarkan langsung di semua kelas," ucap Eunjo.


"Eh, serius? Ku pikir mereka bakal lolos lagi dari hukuman?"


"Nggak mungkin, deh. Video itu kan udah teraebar kemana-mana. Belum lagi video Min Ji membullymu," kata Eunjo.


"Bagus deh kalau gitu."


"Pasti seru nih, nanti. Aku jadi penasaran sama tanggapan Pak Guru Song. Kau mau ikut nonton juga, kan?" kata Eunjo berapi-api.


"Mungkin," jawab Bitna singkat.


"Ih, kok nggak semangat gitu?" tanya eunjo heran.


"Hh...Aku lagi mikirin kabar ayahku."


"Oh, gimana? Udah ada berita baru?"


Bitna menggelengkan kepalanya.


"Terus gimana? Kau tetap pergi ke Indonesia?" Kedua bola mata Eunjo membesar, nggak sabar menunggu jawaban dari sahabatnya.


"Iya, aku bakal pergi. Tadi formulirnya udah aku kasih ke Bu Guru."


"Oh bestieee.. Aku pasti bakal kangen. Kau pasi nggak bakal ketemu sahabar sebaik aku di sana."


"Dih, mulai lagi deh narsisnya." Bitna tertawa lepas mendengar kalimat Eunjo.


...🍎🍎🍎...


Ruang Komite Sekolah. Pukul 10.40.


"Pak Guru Song Gae Nam dan Kim Min Ji. Kalian tahu kan, kalau dilarang pacaran antara guru dan murid di sekolah ini?"


"Iya, tahu," jawab Min Ji setengah berbisik.


"Terus kalian juga tahu kan, apa hukuman bagi yang melanggarnya? Apalagi jika itu dilakukan demi nilai."


Min Ji mengangkat kepalanya. Tubuhnya gemetar ketakutan. Rasa takut pun menguasai dirinya.


Berkali-kali gadis itu melemparkan pandangan ke arah Song Gae Nam, berharap mendapatkan bantuan dan perlindungan. Tapi sayang, cowok tampan itu lebih memilih bungkam.


"Oppa, kau nggak melupakan janji kita, kan? Aku sudah memberikan semua yang kau minta," batin Min Ji sambil menahan tangis.


(Bersambung)


Kira-kira apa ya yang diberikan Min Ji ke Pak Guru?" tunggu episode selanjutnyaa~~