
"Bitna, tunggu! Kenapa tadi kau tiba-tiba lari? Lihat, kau jadi basah kuyup begini."
Eunjo berjalan tertatih dengan napas ngos-ngosan. Gadis berambut pendek itu berlari dari halte hingga ke ruang kelas. Sekujur tubuhnya basah.
"Eunjo, Jun Hyeon itu mengerikan!"
Bibir Bitna yang membiru, tampak bergetar kuat. Suara gemeretak giginya terdengar sangat jelas.
"Mengerikan gimana? Kau saja masih membawa jaketnya?" tanya Eunjo.
Remaja itu melepaskan jaketnya yang menyerap banyak air. Sepatunya yang digenangi air juga dilepaskan.
"Ah," Bitna menepuk jidat ketika menyadari kelalainannya. "Aku cerita dari mana, ya? Tapi Jun Hyeon itu..."
"Ssttt... Diam! Jun Hyeon sedang berjalan ke arah sini," bisik Eunjo.
Bitna memutar kepalanya sembilan puluh derajat. Detak jantungnya meningkat berkali-kali lipat, melihat sosok pria yang datang mendekat.
"Bitna? Kau nggak apa-apa? Kenapa tadi buru-buru pergi?"
Jun Hyeon berdiri tepat di samping meja Bitna.Tangan kanannya membawa sebuah kotak susu stroberi kesukaan Bitna. Pundaknya tampak naik turun. Napasnya tidak teratur.
Baru kali ini Bitna mual melihat susu stoberi. Isi perutnya serasa diaduk. Bulir keringat dingin membasahi tubuhnya yang kedinginan.
"Bitna, wajahmu semakin pucat. Kau nggak apa-apa?" tanya Jun Hyeon.
Matanya tidak mau melepaskan pandangan dari gadis mungil di hadapannya. Keningnya membuat kerutan sangat dalam, sampai kedua alisnya bertaut.
"A-aku nggak apa-apa. Tadi aku hanya sakit perut dan mendadak butuh toilet."
Bohong, Bitna berbohong. Tapi hanya itulah yang bisa diucapkannya saat ini.
"Apa kau perlu berobat?" tanya Jun Hyeon lagi.
"Nggak. Terima kasih, Jun. Tapi perutku sudah mulai membaik, kok," ujar Bitna.
"Bitna... Kau beneran nggak apa-apa? Kalau mau istirahat ke UKS biar aku temani."
Eunjo ikut khawatir melihat kondisi sahabatnya yang sangat buruk.
"Aku beneran nggak apa-apa, kok. Kalian nggak usah khawatir," kata Bitna dengan setengah berbisik.
"Ya sudah kalau gitu. Ini untukku." Jun Hyeon meletakkan kotak susu di meja Bitna.
"Bitna, apa yang mau kau bilang tadi? Kenapa Jun Hyeon mengerikan?" bisik Eunjo ketika cowok tampan itu telah meninggalkan kelas.
"Aku akan ceritakan nanti. Tapi aku juga masih belum yakin," sahut Bitna hampir tidak terdengar.
"Sakit perut itu cuma bohongan, kan?" Eunjo menggenggam lengan Bitna untuk memastikan temannya baik-baik saja.
"Tadinya aku cuma bohong. Tapi sekarang perutku beneran sakit." Bitna meringis sambil memegang perutnya yang ramping.
"Eehh?" seru Eunjo panik.
"Nak, kenapa kau ada di sini? Kembali ke kelasmu, pelajaran akan segera dimulai."
Tiba-tiba terdengar suara Pak Guru Sejarah di depan kelas.
"Saya izin sebentar saja, Pak." Jun Hyeon menerobos masuk ke dalam kelas.
"Jun?" gumam Bitna melihat cowok kelas sebelah kembali menghampirinya.
"Ah, jaket!" Bitna buru-buru melepaskan jaket milik Jun Hyeon dari tubuhnya.
"Kau pakai aja dulu jaket itu. Aku cuma mau memberikan ini, supaya kau nggak sakit."
Jun Hyeon meletakkan satu stel seragam baru di meja Bitna.
"Ini..."
"Ba-baik, Pak," sahut Jun Hyeon.
"Nih, handuk buat mengelap rambutmu. Jaga Virna baik-baik," bisik Jun Hyeon pada Eunjo yang duduk di sebelah Bitna.
"Ah, tidak! Jantungku hampir berhenti berdetak melihat senyum manisnya," celetuk Eunjo sambil memandang punggung Park Jun Hyeon yang beranjak pergi.
"Mengerikan dari mananya? Dia malah kelihatan perhatian dan manis banget, tahu," lanjut Eunjo sambil memeluk erat handuk pemberian Jun Hyeon.
"Hei, yang di belakang! Jangan abaikan Bapak, ya. Mau berdiri di depan kelas lagi?" tegur Pak Guru.
"Maafkan saya, Pak," ucap Eunjo sambil membungkukkan badannya hampir sembilan puluh derajat.
...🍎🍎🍎...
Sepanjang pelajaran Bitna tidak dapat berkonsentrasi. Seluruh pikirannya tercurah kepada siswa tampan peringkat tiga di sekolah.
"Apa dugaanku salah, ya?" pikir Bitna.
"Kalau diperhatikan sekilas, dia terlihat sangat baik. Tapi kalau mengingat kebiasaannya memberikan hadiah diam-diam, aku jadi semakin yakin dia penguntit itu," ucap Bitna dalam hati.
"Bitna, Pak Guru sudah keluar. Ayo ke kantin. Aku lapar," ajak Eunjo.
"Kau pergi saja bersama yang lain, aku ada urusan," sahut Bitna.
"Kau lagi nggak bawa uang? Aku akan mentraktirmu hari ini."
Eunjo menarik lengan Bitna, memaksanya untuk pergi ke kantin bersamanya.
"Nggak, kok. Bibiku sudah memberikan uang. Tapi aku ada urusan dengan Jun Hyeon."
"Ya udah, deh. Aku temani. Tapi abis itu kita ke kantin, ya," kata Eunjo.
Kedua dara manis itu berjalan menuju ke kelas sebelah untuk menemui Park Jun Hyeon. Beruntung, cowok populer itu masih berada di kelas.
"Bitna, tumben datang ke kelasku?" Jun Hyeon menyambut Bitna dengan senyuman termanisnya.
"Aku mau mengembalikan ini. Terima kasih, ya."
Bitna meletakkan jaket yang sudah terlipat rapi di atas meja. Jaket itu telah kering atas bantuan hair drayer milik Bitna.
"Oh, ok."
"Aku juga mau mengembalikan ini. Aku nggak bisa memakainya."
"Kenapa? Jadi kau tetap memakai seragam basah itu selama pelajaran?" protes Jun Hyeon tidak terima.
"Aku nggak mampu membayarnya. Uang jajan bulananku nggak banyak," kata Bitna.
"Aku nggak memintamu mengganti uangnya. Pakai saja." Jun Hyeon terus memaksa.
"Aku tetap nggak bisa," tolak Bitna.
"Baiklah.. Terserahmu saja."
Jun Hyeon akhirnya menerima seragam itu.
"Sudah, ya. Aku pergi."
Bitna lalu mengajak Eunjo pergi.
"Apakah kau takut karena sudah menyadari keberadaanku?" gumam Jun Hyeon.
"K-kau bilang apa?" Bitna bergidik ngeri. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Ku harap kau menerima perhatian dariku," ucap Jun Hyeon mengubah kalimatnya.
(Bersambung)