Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 27 - Sifat Asli Guruku



"Min Ji, apa kau sudah siap?" tanya Kim Dayoung.


Model dan artis cantik usia 46 tahun itu berdiri di depan pintu kamar sang putri yang sedang bersiap-siap.


"Sudah, Ma," jawab remaja bertubuh langsing itu.


Berulang kali ia mematut wajahnya di cermin. Hembusan napasnya terasa berat dan tidak teratur.


Tak seperti biasanya, kali ini Min Ji mengenakan seragam yang cukup longgar serta make up sangat tipis. Gadis bermata cokelat itu juga tidak mengenakan parfum yang biasa ia pakai.


Kim Min Ji pun tak lupa melepaskan beberapa aksesoris yang biasa ia pakai ke sekolah. Pokoknya, remaja paling cantik di kelas satu itu, benar-benar terlihat polos layaknya anak sekolah lainnya.


"Tenanglah Min Ji, Oppa ada di pihakmu," gumam Min Ji pada dirinya sendiri.


Gadis pemilik rambut panjang dan sedikit pirang itu, mengingat kembali kalimat yang diucapkan Pak Song, dalam telepon singkat tadi malam.


Guru muda berusia dua puluh delapan tahun itu selalu meyakinkan Kim Min Ji, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Min Ji, ayo. Sidangnya akan dimulai," seru Dayoung pada putri tunggalnya.


"Ma, apa sudah mencari tahu siapa yang menyebarkan video bully itu?" tanya Min Ji.


"Nggak usah mencari-cari kesalahan orang lain, kalau itu jelas kesalahanmu," ucap Tuan Kim yang tiba-tiba muncul.


"Kau tau, kan? Keluarga kita setiap hari dipantau oleh wartawan. Tapi apa yang mereka catat dari dirimu? Foya-foya, berdandan menor, main sana-sini," gerutu Tuan Kim.


"Ditambah lagi setelah kasus video di sekolah itu tersebar, semua gerak-gerikmu semakin diikuti," lanjut Tuan Kim.


Dengus napasnya terdengar sangat jelas. Kelopak matanya terbuka lebar. Seluruh urat di wajahnya terlukis dengan jelas. Tapi itu tidak membuat sang putri takut kepadanya.


"Jadi Papa menyalahkanku? Apa segitu pentingnya citra keluarga dibandingkan aku?" balas Min Ji.


"Iya, sangat penting. Karena kita publik figur," ucap Tuan Kim tegas. "Jadi jangan buat masalah lagi di sidang nanti," lanjutnya.


"Padahal Papa dan Mama yang nggak kompeten membesarkanku. Apa susahnya Papa membayar para guru untuk menaikkan nilaiku?" teriak Min Ji histeris.


"Kalau saja Papa lakukan itu semua, aku nggak akan begini pada Pak Guru. Aku capek dibandingkan dengan prestasi anak-anak artis lainnya."


Min Ji meluapkan amarahnya pada sang ayah.


Plak! Satu tamparan mendarat di dinding samping Min Ji berdiri. Ternyata pria itu masih tidak tega untuk main tangan pada putrinya, meski amarahnya telah mencapai ubun-ubun.


"Kalau mau nilai bagus ya belajar! Bukan menyogok dan menggoda para lelaki? Kau mau hidup seperti apa nantinya?" marah Tuan Kim.


...🍎🍎🍎...


Ruang Komite SMA Seodaemu-Gu, pukul 10.30.


Para anggota komite, serta jajaran guru senior sudah berkumpul. Sidang akan segera dilaksanakan.


Kim Min Ji duduk di salah satu kursi. Wajahnya tertunduk. Tubuhnya tak henti gemetar. Peluh meluncur di kulitnya yang halus bak sutra.


"Saya yakin, para hadirin sekalian sudah melihat video yang sedang viral itu," ucap Pak Kepala Sekolah membuka sidang.


"Jadi, saya ingin bertanya langsung. Pak Guru Song Gae Nam dan Kim Min Ji. Kalian tahu kan, kalau dilarang pacaran antara guru dan murid di sekolah ini?"


"Iya," jawab Min Ji setengah berbisik.


"Terus kalian juga tahu kan, apa hukuman bagi yang melanggarnya? Apalagi jika itu dilakukan demi nilai."


Berkali-kali gadis itu melemparkan pandangan ke arah Song Gae Nam. Tapi sayang, cowok tampan itu lebih memilih bungkam.


"Bagaimana tanggapan Anda, Pak Song?" tanya salah seorang anggota komite.


"Saya mohon maaf kepada Saudara sekalian. Saya sudah gagal menjadi guru, dan mendidik murid saya," ucap Pak Song dengan sangat tenang.


Kini seluruh perhatian berpindah ke Song Gae Nam. Mereka semua menantikan kalimat selanjutnya dari guru muda penuh talenta ini.


"Saya akui, masih sangat baru menjalani profesi sebagai guru. Sehingga belum memahami betul kondisi psikologis dari setiap siswa," ucap Pak Song.


"Apa maksud Anda, Pak Song? Putri saya mengalami masalah kepribadian?" tanya Tuan Kim.


"Bukan begitu, Pak. Tetapi usia mereka saat ini adalah puncaknya masa pubertas. Mereka kadang tidak bisa membedakan perasaan mereka sendiri. Mereka juga ingin mendapatkan perhatian lebih," Pak Song menjeda kalimatnya sejenak.


Tatapan tajam dari Tuan Kim, tidak membuat pria itu gentar.


"Jadi mungkin saja, perhatian yang saya berikan saat mengajar disalah artikan. Padahal sikap saya dengan semua murid itu sama," ucap Pak Song menutup kalimatnya.


"Jadi semua ini hanya salah paham? Terus gimana dengan potongan video yang menunjukkan kalian pegangan tangan? Kalian juga terlihat seperti akan berciuman," tanya salah seorang guru senior.


"Itu juga kesalahan saya, Pak. Seharusnya saya lebih hati-hati dengan sikap para siswa. Mungkin karena saya lama sekolah di Amerika, kontak fisik seperti itu hal wajar, berbeda dengan Korea," jelas Pak Song.


Grrrrtttt...!


Kim Min Ji mengatupkan bibirnya rapat-rapat, "Dasar penghianat! Padahal bukan itu kesepakatannya kemarin," gumam Min Ji dalam hati.


"Padahal aku sudah memberikan semuanya," gumam Min Ji lagi.


Sayangnya putri tunggal dari pasangan Kim itu tidak bisa mengatakan sepatah kata pun mengenai kebohongan Song Gae Nam.


Jika dia mengungkapkannya ke publik, maka masalah akan semakin besar, dan nama baik keluarganya akan tercemar.


"Jadi kalian nggak pacaran?"


"Tentu saja tidak. Mana berani saya berpacaran dengan anak di bawah umur, apalagi siswa saya sendiri," jawab Pak Song tanpa rasa ragu.


"Oh, jadi aku cuma anak di bawah umur? Terus yang udah dia terima selama ini dianggap apa?" gerutu Min Ji dalam hati.


"Berarti bisa disimpulkan bahwa ini hanya kesalahpahaman, jadi..."


"Maaf Pak Kepala, gimana dengan identitas yang merekam dan menyebarkan video ini? Bukankah nggak adil kalau dia nggak dihukum juga?" Kim Dayoung, Ibunda Min Ji memotong ucapan Kepala Sekolah.


"Soal itu masih kita selidiki lebih lanjut. Lagipula, yang menyebarkan video ini kan putri Anda sendiri?" kata Pak Kepala Sekolah.


"Benar. Bisa saja putri Anda sengaja merekamnya sendiri, untuk mendokumentasikan kedekatan mereka. Makanya masuk akal kalau video itu ada dalam flask disknya," timpal yang lain.


"Itu nggak benar! Aku nggak pernah merekamnya," bantah Min Ji.


"Sudahlah, meskipun merekam diam-diam itu salah. Tetap saja merayu seorang guru itu kesalahnnya jauh lebih besar," celetuk salah seorang guru.


"Nah, aku setuju. Lihat saja pakaiannya dalam video itu, sangat minim dan make up tebal," kata anggoya komite lainnya.


Min Ji tertunduk lesu. Apakah ini akhir hidupnya di sekolah ini? Kenapa Papanya hanya diam saja?


(Bersambung)