Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 42 - Belajar dari Drakor



Langit mulai berubah warna menjadi lembayung. Gumpalan awan berarak-arak di langit, bagaikan kumpulan domba yang hendak pulang ke kandang.


Sesekali angin musim panas berhembus pelan, menggugurkan bunga-bunga yang sedang bermekaran.


Seo Bitna berjalan di sisi pepohonan sambil bersenandung kecil. Gadis mungil itu mengenakan sebuah dress cantik berwarna biru muda.


Rambutnya yang panjang ia biarkan terurai, dan disematkan sebuah jepit manis, pemberian ibunya.


Bitna terus melangkahkan kakinya ke sebuah kafe yang terletak di dekat pusat perbelanjaan Kota Seoul.


Tapi kali ini ia tidak sendirian. Jarak lima puluh meter di belakangnya, sepupunya Chae Yeon Woo mengawal sang adik.


Memang, sejak kejadian kemarin, Bitna belum diizinkan bepergian keluar seorang diri.


Cring!


"Selamat datang."


Salah seorang pelayan kafe menyambut Bitna.


"Baju putih, mengenakan penutup kepala... Ah, apa dia?"


Pandangan Bitna menuju ke seorang perempuan manis berkulit sawo matang, yang duduk di tepi jendela.


"Halo, salam kenal. Aku Seo Bitna. Apakah kakak yang bernama Sri Ningsih?" sapa Bitna.


"Halo Bitna, salam kenal juga. Iya, Sri Ningsih," ujar wanita muda yang duduk di hadapan Bitna saat ini.


"Tak kusangka, kau begitu mungil dan manis," lanjut wanita itu.


"Terima kasih," kata Bitna malu-malu.


"Nggak usah formal kali. Anggap aja aku temanmu, bukan gurumu," kata Ningsih sambil tersenyum.


"Nggak kusangka, Bahasa Korea kakak sangat bagus. Sudah lama ya di Korea?" Bitna mulai bicara santai.


"Nggak, kok. Aku baru tiga bulan di sini," jawab Ningsih.


"Oh, ya? Gimana caranya kakak bisa lancar Bahasa Korea secepat itu? Apa di sini kakak kuliah?" tanya Bitna penasaran.


"Ini agak memalukan, sih. Tapi aku suka K-pop dsn Drama Korea," jawab Ningsih malu-malu.


"Lagi pula aku di sini hanya magang selama enam bulan. Jadi tiga bulan lagi aku harus pulang ke Indonesia," lanjut Ningsih.


"Wah.. Sayang banget. Tapi apa sedahsyat itu ya belajar bahasa sambil nonton drama?" kata Bitna.


"Hei, kamu nggak tahu? Wabah Korea di negaraku sungguh dahsyat, bukan cuma di kalangan remaja aja. Jadi banyak orang yang penasaran dengan bahasa dan budayanya juga," jelas Ningsih.


"Aku juga jatuh hati dengan budaya Indonesia, saat melihat internet," kata Bitna.


"Tapi... Awalnya bukan itu tujuanku pergi ke Indonesia. Memalukan, ya?" sambung gadis itu.


"Kenapa harus malu? Aku aja nekat datang ke Korea awalnya juga karena ingin bertemu idolaku," ucap Ningsih.


"Iya. Ayahku hilang lima tahun yang lalu, karena kapalnya terkena badai."


Raut yang cerah ceria, hilang seketika dari wajah Bitna. Sudut matanya mulai berair. Kedua alisnya bertaut.


"Maaf kalau aku membuatmu sedih." Ningsih menggenggam tangan Bitna.


"Nggak, kok. Akunya aja yang cengeng."


Ningsih memberikan selembar tisu pada Bitna untuk mengelap pipinya yang mulai basah.


"Siapa bilang kamu cengeng? Semua orang pasri sedih kalau berpisah dari orang tuanya. Kau hebat, berani mencari ayahmu ke negeri orang, dengan modal prestasi."


Garis senyum kembali terukir di wajah Bitna yang imut.


"Oh, iya. Baru-baru ini radio kapal ayahku mulai terlacak. Tim khusus sedang mencari."


Bitna membuka website dan menunjukkan headline berita yang ia baca beberapa hari yang lalu.


"Ah, di perairan Maluku," seru Ningsih.


"Kakak tahu tempat ini?"


"Untuk letak pastinya sih nggak. Karena ini jauh kali dengan pulau tempat tinggalku," jawab Ningsih.


"Tapi yang ku tahu, ini berada di Indonesia bagian timur, berbatasan dengan Filipina," lanjut Ningsih.


"Seberapa luas sih Indonesia itu?" tanya Bitna penasaran.


"Luas banget. Oh iya, ku lihat dari brosur yang diberikan Wooil, nanti siswa pertukaran pelajar bakal di tempatkan di Pulau Jawa," kata Ningsih.


"Oh.. Apa itu jauh banget dari perairan tadi?" tanya Bitna.


"Jauuuhhh... Banget. Tapi ku harap, kamu bisa menemukan ayahmu dan pulang bersama ke Korea," kata Ningsih menguatkan hati Bitna.


Waktu terus berlalu. Obrolan Bitna dan Ningsih semakin seru. Tak terasa malam pun mulai datang.


"Jadi Bitna tetap mau ke luar negeri? Nggak bisa di biarkan. Dia harus membayar semua perlakuannya padaku dulu lalu hancur secara perlahan."


Seorang pemuda tampan, berkacamata dan topi, memperhatikan Bitna sejak tadi. Tatapannya begitu tajam. Siapa pun yang melihatnya tahu, kalau ia sangat membenci gadis berbaju biru muda itu.


"Aku harus mengikuti Bitna." Pemuda itu beranjak dari kursinya, dan hendak mengikuti Bitna yang baru saja keluar dari kafe.


Grep!


"Mau ke mana kamu? Biarkan dia pergi dengan tenang," kata seorang pemuda lainnya, yang sedari tadi juga memperhatikan Bitna.


Siapa sih kedua pemuda itu? Apa mereka saling kenal?


(Bersambung)