Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 38 - Anak Pria Itu



"Tapi kita sudah beberapa kali tidur bersama? Dan sekarang, aku hamil sepuluh minggu. Kau mau menelantarkan anak ini dan kulaporkan pada ayahmu?" ucap Bu Aram kemudian.


"Berapa? Sepuluh minggu? Jadi itu sebabnya tubuhmu kelihatan gemuk?" Lim Chan membesarkan bola matanya karena terkejut.


"Iya. Aku tak menyangka, kalau akhirnya akan seperti ini," ucap Bu Aram dengan wajah muram.


"Pfttt... Kalau begitu laporkan saja pada Ayahku," ucap Lim Chan sambil tertawa.


"Kau benar-benar mau menelantarkan anak ini? Itu jahat sekali," desak Bu Aram. Lagi-lagi, usahanya untuk memeluk pria itu diabaikan.


"Anak siapa? Kita memang pernah tidur bersama. Tetapi ya sekedar tidur. Aku nggak pernah melakukan apa pun padamu," kata Lim Chan seraya menjauhkan tangan Bu Aram dari bahunya.


"Nggak. Kau bohong!"


"Aram, dengarkan aku. Aku ini pria yang menjaga barang pribadiku, untuk istriku seorang. Jadi aku nggak pernah menyelupkannya ke perempuan mana pun," ungkap Lim Chan.


"Kau pikir aku percaya? Siapa pun di dunia ini, pasti suka melakukan hal itu," kata Bu Aram.


"Nggak semua. Mungkin kau begitu. Tapi aku tidak. Lagi pula, kita sudah nggak bertemu jau lebih lama, dari usia kandunganmu. Jadi itu anak siapa? Kau berani tes DNA?" ucap Lim Chan dengan tegas.


"Chan, jangan begitu. Ku mohon, jangan timggalkan aku." Bu Aram yang telah terbongkar kebohongannya, tidak merasa malu. Ia malah semakin memaksa Seon Lim Chan untuk bertanggung jawab.


"Maaf, hubungan kita berakhir sampai di sini. Jangan temui aku lagi." Lim Chan meninggalkan guru muda yang berteriak histeris di tepi pantai tersebut.


"Dasar cowok sialan! Aku tak mau mengandung bayi ini darinya!" Bu Aram terus menerus memukul perutnya. Berharap janin itu keluar dari sana.


"Gila! Aku tak mau mengandung bayi ini! Andai saja aku tidak terperdaya rayuannya. Bagaimana aku bisa mengatakan, kalau ayah dari anak ini adalah muridku sendiri?" tangis Bu Aram di pantai yang hampir tenggelam oleh senja.


Beberapa bulan yang lalu, tepatnya satu hari setelah sidang pendisiplinan guru kimia kelas satu, Aram. Wanita yang karirnya berada di ujung tanduk itu terus menerus menyendiri di ruang laboratorium kimia biologi.


Ia tidak makan. Ia juga tidak pulang. Setiap detik yang berlalu, hanya memikirkan kekasihnya, yang kini berada di Amerika.


Aram menikah terlalu cepat. Ia tidak sempat merasakan pacaran selayaknya kawula muda lainnya. Menikah dengan pria yang tujuh tahun lebih tua darinya, sebenarnya ia menerima curahan kasih sayang yang berlimpah.


Tetapi jiwa mudanya meronta, ia ingin bebas. Ia ingin merasakan cinta yang bergairah. Di saat ia sedang terpuruk, seorang siswa dengan setia menemaninya.


"Jun Hyeon, kau nggak pulang?"


"Aku akan pulang, setelah Bu Guru juga pulang," jawab pria belia itu.


"Kenapa kau di sini?"


"Bu Guru belum makan, kan? Ini aku belikan burger. Ada pakaian ganti juga."


"Kau... Sialan. Kau mengingatkanku pada pria itu," tangis Bu Aram pecah.


Murid laki-laki kelas satu SMA itu pun memberikan pundaknya pada sang guru. Denyut nadi mereka perlahan berubah semakin liar. Dengus napas berat dan rasa menggelitik di titik tertentu tak dapat di tahan.


Satu per satu, helai demi helai pun terlepas. Pendingin ruangan yang menyala tak mampu menangkal keringat yang mengalir. Kejadian tidak diinginkan pun terjadi. Sang guru terpaku di bawah gelombang dahsyat yang dilakukan muridnya tersebut.


"Oh, Jun Hyeon," pekik Bu Aram tertahan.


Itulah pertama kalinya remaja belia itu merasakan kenikmatan yang dahsyat. Ia melepas masa perjakanya bersama sang guru.


...🍎🍎🍎...


"Tika, kok sendirian? Bitna mana?" tanya teman-teman di kelas.


"Lagi di koperasi beli buku tulis," kata Tika. "Kalian sini, deh, pada ngumpul. Cowok-cowok juga. Aku ada berita untuk kalian. Tapi jangan tahu Bitna," ucap cewek mungil tersebut.


"Apaan, ya?" kata mereka semua.


"Gila! Kenapa jadi gini? Bitna kan lagi tertimpa masalah?" marah Flora.


"Ssttt... Suara kalian jangan kencang-kencang. Nanti kedengaran keluar," bisik Tika.


"Kalian nggak mau kan, Bitna dideportasi dan membayar denda?" tanya Tika.


"Nggak mau, lah. Dia itu udah jadi bagian dari kelas ini. Kita harus bersama-sama sampai ujian kenaikan kelas," kata Zay dan Imelda. Teman-teman yang lain pun mengangguk.


"Bagus. Aku punya rencana. Tapi kita semua harus kompak," kata Tika. Ia lalu membeberkan rencananya.


"Gimana?"


Semua teman-temannya mengacungkan jempol.


"Guys, bahaya. Bitna sudah menuju ke sini," seru Talita yang duduk di dekat pintu.


Anak-anak kelas satu pun bergegas kembali ke kursi masing-masing.


"Tumben rapi bener duduknya? Apa mau ulangan, ya?" pikir Bitna curiga, ketika memasuki kelas.


Malam hari, setelah makan malam...


"Julia, kamu lihat Tika, nggak?" tanya Seo Bitna.


"Loh, tadi bukannya kalian barengan? Kayaknya tadi dia keluar lagi, deh," jawab Julia yang sedang menyetrika seragam.


"Aku tadi balik duluan ambil buku, mau masuk kelas tambahan. Ini, aku titip kunci kamar. Punya dia tadi nggak dibawa," kata Bitna


"Oke."


Bitna berjalan tergesa-gesa di koridor. Suasana cukup sunyi. Hanya ada beberapa siswa yang melintas dari arah ruang makan dan perpustakaan.


"Rupanya suasana malam di sekolah ini cukup sepi, ya?" gumam Bitna.


Area sekolah mewah tersebut memang cukup luas. Terdapat beberapa gedung utama sebagai ruang kelas, kantor guru, aula dan gedung olahraga di bagian tengah. Sementara di bagian kanan dan kirinya adalah asrama.


Bitna harus berjalan melalui dua gedung besar, untuk menuju ke kelas tempat mereka belajar malam ini. Dan ia baru melewati satu gedung saja. Gadis itu pun mempercepat langkahnya agar tidak terlambat.


"Huaaa.. Akhirnya sampai juga," ujar Bitna saat berdiri di depan kelas yang bertuliskan ruang belajar malam.


"Permisi... Loh, kok?" Langkah Bitna terhenti ketika memasuki kelas. "Kalian semua ngapain di sini?" tanya Bitna keheranan.


Semua teman sekelasnya berada di sana. Hanya posisi duduknya yang berbeda dengan kelas pagi hari. Ia pikir hanya ada beberapa orang yang mengikuti kelas.


"Ngapain di sana? Ayo duduk," kata Flora sambil menepuk-nepuk sebuah kursi kosong.


"Ya tapi kalian ngapain di sini? Kan nilai kalian bagus-bagus semua? Alva juga. Ngapain ikutan kelas tambahan?" tanya Bitna yang masih belum bisa mencerna semuanya.


"Aku bosan di asrama. Gak asa kawan," kata Alva cuek. Ia bahkan hanya membawa selembar kertas kosong dan sebuah pena.


"Kalau aku, kan nilainya emang ancur," kata Zay yang memiliki alasan cukup tepat.


"Terus kamu?" Bitna menunjuk teman sekamarnya.


"Sama kayak Alva. Bosan di kamar gak ada teman," sahut Tika.


Seo Bitna duduk di kursi sambil tersenyum simpul, "Dasar orang-orang ini, mereka pasti mengkhawatirkan aku," ucap Bitna dalam hati.


(Bersambung)