Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 40 - Dia yang Menolongmu



"Aku pulang..."


Plak!


"Dari mana saja kau anak nakal? Kenapa bikin semua orang cemas?" Bibi melayangkan kain serbetnya ke punggung Bitna.


"Duh, Ibu! Dia baru aja pulang dan terluka. Kenapa malah marah-marah, sih?" protes Yeon Woo.


Pria berambut cokelat itu menghadang ibunya untuk mendekati Bitna. Tubuhnya yang tinggi berdiri tepat di antara adik sepupu dan ibunya.


"Ibumu ini cemas, tahu. Ayahmu berulang kali menelepon waktu Ibu lagi bekerja. Dia mengatakan 'anakmu hilang, anakmu hilang'. Gimana Ibu nggak cemas?" ujar bibi menumpahkan segala kekhawatirannya.


"Maafkan aku, Bibi. Aku sudah membuat semuanya khawatir dan repot," kata Bitna.


"Bagaimana kau akan pergi ke Indonesia kalau begini? Di Korea saja kau dibully dan diculik," ucap bibi lagi masih dengan nada tinggi.


"Bu, Bitna ini sedang sedang shock. Tapi Ibu malah memarahinya terus," omel Yeon Woo.


"Lagian Indonesia tingkat tindakan bullynya jauh lebih rendah dari pada Korea. Apalagi Bitna kan utusan negara, pasti dia akan dijaga," jelas Yeon Woo pada ibunya. Ia masih berdiri menghadang sang ibu.


"Ah, maafkan Bibi. Bibi hanya trauma dengan kehilangan, tak bermaksud memarahimu," ucap bibi kemudian. Nada bicara bibi telah melunak. Sudut matanya tampak berair.


Yeon Woo bergeser, membiarkan ibunya memeluk Bitna untuk waktu yang cukup lama.


Cewek bertubuh mungil itu berjalan tertatih-tatih. Luka di pergelangan kakinya terasa sangat pedih.


"Masuklah, Nak. Istirahat di dalam. Kau belum makan, kan?" kata Bibi lagi.


"Terima kasih, Bi."


"Terus kau ngapain di sini?" kata Seo Dami pada putranya.


"Aku? Aku kan baru saja menjemput Bitna," ucap Yeon Woo dengan wajah bingung.


"Terus kau nggak pergi kuliah? Sudah jam berapa itu?" Bibi kembali mengomel.


"Ya ampun, Bu. Ini udah hampir telat. Mau izin aja."


"Nggak ada alasan. Ibumu ini udah bayar mahal untuk kuliahmu. Cepat siap-siap!" Bibi tetap memaksa Chae Yeon Woo untuk pergi kuliah.


"Duh! Iya.. Iya.. Jangan pukul aku lagi."


Yeon Woo berlari menuju ke kamar, melarikan diri dari serangan kain serbet ibunya.


Bitna tertawa melihatnya. Inilah bibi yang sebenarnya. Galak tapi penyayang.


"Hei, Bitna!"


Bitna mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya terdengar tidak asing.


"Eunjo!" seru Bitna ketika melihat sahabatnya berdiri di depan rumah.


Cewek tomboy itu nggak sendirian. Dia bersama Kim Youra yang tempo hari pernah menolong Bitna.


"Katanya dia mau ikut juga," jelas Eunjo sebelum Bitna bertanya.


"Aku senang kalian datang. Masuklah, maaf rumah kami sempit," kata Bitna mempersilakan kedua temannya untuk masuk.


"Keadaanmu cukup parah juga," kata Youra.


"Yah.. lumayan. Gumawo, Eunjo. Kau banyak membantuku. Trims juga Youra udah mau datang," kata Bitna.


"Hei, aku nggak banyak membantumu. Malah aku hampir saja menumbuk Ju Hyeon," kata Eunjo.


"Eh, masa?" kata Bitna. "Berarti benar yang mengirimkan polisi itu dia."


Bitna melepaskan seragamnya secara perlahan, lalu berganti pakaian menggunakan pakaian rumah.


"Tapi dari mana dia tahu lokasiku?" lanjut Bitna lagi.


"Entahlah. Tapi ku dengar dia mendatangi rumah Min Ji dan menghajar cewek itu," kata Eunjo.


"Wah, Bitna. Kau hebat. Kok bisa didekati dua cowok populer sekaligus?" kata Youra.


"Haaah.. Kau nggak tahu aja aslinya mereka gimana," sahut Bitna. "Tapi kali ini aku beneran berterima kasih sama Wooil."


Ceklek!


"Bitna, pinjam sisirmu, dong!" Wooil menerobos masuk ke dalam kamar Bitna.


"Oppa! Kalau mau masuk ketuk dulu, dong," seru Bitna.


"Sorry."


Bam! Yeon Woo kembali menutup pintu dengan kuat. Ia tak tahu kalau ada teman Bitna di dalam.


"Itu abangmu? Ganteng banget..." celetuk Eunjo.


"Mirip idol nggak, sih?" tambah Youra.


"Duh, wajahnya sih iya. Tapi sifatnya nggak banget, deh," kata Bitna.


"Abangmu cuma satu, kan? Berarti dia yang kuhubungi tadi," kata Eunjo dengan mata berbinar.


"Yahh... Kalau diingat-ingat lagi, aku berhutang banyak padanya hari ini. Ah, sama Wooil juga," ucap Bitna.


"Oh, iya. Btw kalian ngapain di sini? Ini masih jam sekolah, kan?" Bitna menyadari sesuatu.


"Kami izin pada Bu Guru untuk menjengukmu," ucap Eunjo disertai anggukan kepala dari Youra.


"Halah! Bilang aja kalian bolos," celetuk Bitna.


Tok! Tok! Tok!


"Anak-anak. Bibi buatkan rappoki untuk kalian, nih," seru bibi di depan pintu kamar.


Bitna pun membukakan pintu, "Terima kasih, Bi," ujarnya.


"Bibi buatkan ekstra telur untuk kalian," kata bibi lagi.


"Telur?"


Bitna mual seketika mendengar nama makanan itu. Isi perutnya seakan berputar melihat telur setengah matang di atas rappoki.


"Hueeekkk...! Bitna akhirnya memuntahkan isi perutnya.


"Bitna, kau kenapa?"


...🍎🍎🍎...



Hayoo... Siapa yang jadi kepengen makan juga...? 🤣🤣🤣


(Bersambung)