Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 20 - Cinta Tersembunyi



Tak! Seon Wooil meletakkan sebuah panci di atas meja. Kepulan asap terlihat jelas, mengeluarkan aroma yang sangat harum.


"Apa ini?" tanya Tuan Seon.


"Steam fish," jawab Seon Wooil singkat. Ia meletakkan beberapa piring lagi berisi beragam menu.


"Untuk apa? Kau mau kedatangan tamu?" tanya Tuan Seon kebingungan.


Biasanya jam segini, ia sudah tidak bisa melihat wajah putra bungsunya lagi. Karena cowok ini sudah mengurung diri di kamar dan sibuk dengan gadgetnya.


Tak!


Kali ini Seon Wooil meletakkan sebuah piring berisi nasi di hadapan sang ayah, lengkap dengan sendok dan sepasang sumpit.


"Kenapa Ayah melihatku begitu?" tanya Seon Wooil.


"Kamu lagi ada masalah besar? Apa yang harus Ayah selesaikan?"


Saking bingungnya dengan sikap sang anak yang aneh, Tuan Seon jadi berpikir macam-macam.


"Udah, Ayah nggak udah mikir yang berat-berat," kata Seon Wooil sambil menyendokkan nasi ke piringnya.


"Kata Ayah selama ini kita nggak pernah makan bersama. Jadi mulai hari ini, kita nggak usah ke restoran lagi untuk makan bersama. Aku akan makan bersama ayah," kata Wooil tanpa memandang wajah ayahnya.


Crang! Sendok yang dipegang Tuan Seon terjatuh ke lantai.


"Apa katamu?" tanya Tuan Seon tidak percaya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku benci melihat Ayah makan sendiri. Jadi ku temani," kata Seon Wooil.


Tuan Seon melihat putranya cukup lama. Ia tahu, meski kata-katanya ketus dan bernada tinggi, tapi dibalik dari ucapannya itu menyiratkan rasa sayang.


"Terima kasih, ya," kata Tuan Seon. Senyum mengembang di wajahnya yang tampak mulai keriput.


Seon menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tidak ingin sang ayah melihatnya menangis.


"Aku bukan cowok cengeng," begitu pikirnya.


"Hhmmm... Steam fish ini enak sekali. Kamu membelinya di mana? Rasanya sangat mirip dengan masakan ibumu," kata Tuan Seon dengan mata berbinar.


"Rahasia! Nanti kalau Ayah mau lagi, akan aku belikan," katanya Wooil sambil menyendokan kuah cheotang yang memiliki bau sangat khas.


Seon Wooil memang bisa mengelabui ayahnya saat ini. Tapi para pelayan tak akan bisa menahan bibirnya untuk bicara, kalau semua menu yang berada di atas meja saat ini adalah masakannya.


...🍎🍎🍎...


"Ehem! Wajahnya berseri-seri terus dari tadi. Udah kayak lampu taman. Ada apa, nih?" kata Flora.


"Iya, nih. Bagi-bagi cerita, dong. Karena Alva atau yang menelepon tadi?" ujar Tika.


"Gaes, kalian tuh kebanyakan nonton sinetron kayaknya. Padahal aku biasa aja, kok. Lagian yang telepon aku tadi itu oppaku," kata Bitna.


"Beneran oppa kamu, nih? Bukan oppa cagia?" ledek Flora.


"Beneran oppaku, kok. Aku mana sempat pacaran di sana. Lagian cowok mana, sih yang mau sama aku?" kata Bitna.


Waduh, sepertinya Bitna masih merasa kalau Seon Wooil dirinya ada hubungan erat.


"Cih, nggak asik. Padahal aku ingin lihat cerita cinta segitiga terus baku hantam," kata Flora.


"Kayaknya bener, deh, Flo kebanyakan nonton sinetron," celetuk Sri Devi.


"Eh, tapi kalian ngerasa nggak sih? Dari tadi tuh Bitna ngomong pake bahasa gaul, lo," ujar Tika. "Belajar dari siapa, sih?"


"Kasih tahu nggak, ya? Kalian mau tahu, atau mau tahu banget?" kata Bitna sambil tertawa jahil, lalu berlalu pergi menuju ke kelas.


Bersamaan dengan itu, bel masuk pun berbunyi.


...🍎🍎🍎...


"Jadi, sekian dulu untuk hari ini. Jangan lupa minggu depan kita ada quiz tentang termodinamika," ujar Pak Guru.


"Baik, Pak," jawab anak-anak serempak.


"Kalau begitu, selamat sore," ujar guru fisika muda itu lagi.


"Dasar anak-anak ini, kalau udah pulang energinya pada full lagi. Padahal tadi waktu belajar udah letih, lesu, lunglai, lapar dan loyo," gumam Pak Guru sambil meninggalkan kelas.


"Bitna, kamu belum mendaftar ekskul, ya?" tanya Tika dan Flo pada Bitna.


"Udah, kok. Aku mendaftar ekskul berkebun sama Imelda dan Sundari," kata Bitna. Imelda dan Sundari adalah teman sekelas mereka juga. Kedua remaja itu cukup pendiam di kelas.


"Wah, Bitna suka berkebun, ya?" tanya Devi.


"Hu'um, aku suka banget," Bitna menganggukkan kepalanya berkali-kali. "Aku jadi penasaran juga, menamam tanaman tropis," lanjutnya dengan mata berbinar.


"Syukur deh kalau gitu, kamu jadi punya teman baru," kata Flo.


"Sebenarnya aku juga sangat suka astronomi, sih. Kita boleh ambil dua ekskul, kan? Tapi aku nggak tahu ada nggak yang berkaitan dengan itu?" ucap Bitna.


"Ada, kok. Namanya ekskul Astronomi. Tuh ketuanya." Tika menunjuk ke arah Alva yang bersiap untuk kegiatan selanjutnya.


"Kenapa tunjuk-tunjuk aku?" tanya Alva pada Tika.


"Ini, Bitna katanya mau masuk eks... Pffftt..." Tika nggak jadi menyelesaikan kalimatnya. Bibitnya buru-buru ditutup oleh Bitna.


"Teman-teman, udah ya. Aku udah telat, nih. Imel dan Sundari udah duluan ke kebun." Bitna buru-buru pergi ke luar kelas.


Jedug! Hampir saja Bitna terjatuh, karena sepatunya tersandung kaki meja.


"Hei, kelihatan banget nggak, sih? Bitna itu salah tingkah," bisik Tika.


"Iya benar. Hei Alva, Bitna tadi kamu apain sampai dia jadi salah tingkah gitu?" ucap Flora.


"Aku apain, ya? Kalian mau juga?" goda Alva.


"Iiuhhh.. Apaan, sih? Aku alergi sama buaya darat," kata Flora nggak mempan dengan rayuan ketua kelas itu.


...🍎🍎🍎...


Drap! Drap! Drap!


Bitna berlari menuruni anak tangga. Ia berkeliling mengitari deretan laboratorium di lantai satu. Beberapa kali ia berhenti dan membungkukkan badannya, ketika bertemu dengan para guru.


"Sundari sama Imel ke mana, sih? Apa mereka beneran udah ke kebun? Atau balik ke aarama dulu?" Bitna kehilangan teman satu ekskulnya. Sementara teman-teman satu klub yang lain, Bitna belum begitu mengenalnya.


"Heh, bocah plastik! Berhenti kamu!"


Seorang wanita berseru di belakang Bitna. Siswi pertukaran pelajar itu terperanjat mendengarnya.


"Hoi! Sialan! Kamu nggak dengar? Aku menyuruhmu berhenti! Jangan berlagak hebat, ya?" lagi-lagi wanita itu berteriak.


Bitna menatap sekeliling. Tidak ada seorang pun di depan laboratorium Fisika Elektronika itu selain dirinya dan dua wanita yang berseru tadi.


"Ka- kakak memanggil saya?" tanya Bitna.


"Iya, kau! Sialan! Memangnya aku sudah tua sampai dipanggil kakak?" katanya lagi.


Bitna termenung. Dia kan emang belum mengenal seluruh siswa di sekolah itu?


"Jadi ada apa?" tanya Bitna.


"Kau! Gara-gara ulahmu Min Ji jadi mati bunuh diri!" ujar siswa yang tidak dikenali Bitna itu.


"Siapa? Min Ji? Apa urusannya denganku? Memangnya kau mengenalnya?" ucap Bitna tak bisa menutupi rasa herannya.


"Gak usah sok polos. Kami melihat fotomu bertebaran di berita Min Ji. Kau satu sekolah dengannya, kan?" ujar wanita itu.


"Kau cuma menebaknya, kan? Aku nggak ada hubungannya dengan Min Ji," jawab Bitna.


Kedua remaja perempuan itu membesarkan bola matanya. Salah seorang di antara mereka bahkan melayangkan tamparan ke arah Bitna.


"Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Memangnya masih zamannya membully?"


Seorang pria yang datang tiba-tiba, menyelamatkan Bitna.


(Bersambung)