
"Bitna, terima kasih sudah menjadi teman sekamarku selama dua hari ini."
Gadis manis dan sedikit pendiam asal Provinsi Jeolla Selatan ini memeluk Bitna dengan erat.
"Hei, kau ngomong apa?" Bitna membuang lendir yang berkumpul di hidungnya.
"Harusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau sudah menjadi teman terbaikku selama di sini. Kau juga selalu mengingatkanku agar tepat waktu terutama pagi hari," kata Bitna panjang lebar.
"Janji ya, jangan lupakan aku," ujar gadis tadi dengan dialek daerah yang khas.
"Kalau gitu berjanji, kita akan bertemu kembali setelah pulang ke Korea nanti."
Bitna mengacungkan jari kelingkingnya.
"Hei, anak-anak. Mau sampai kapan acara perpisahan kalian?" tegur Nyonya Yujeong sambil tertawa.
"Kita bisa terlambat nanti. Kalian kan bisa saling menelepon setelah sampai," tambah wanita cantik itu.
"Baik, Nyonya," kata kedua remaja itu.
Para pelajar asal Korea pun berpisah di halaman hotel. Masing-masing dari mereka berangkat dengan seorang pendamping menuju ke sekolah barunya.
Teman sekamar Bitna berangkat melalui jalur udara. Ia akan ditempatkan di sebuah sekolah Internasional di Surabaya.
Sementara Bitna?
Remaja yang sebentar lagi menginjak usia enam belas tahun itu diantar melalui jalur darat.
Mobil berwarna hitam itu, melaju di jalanan Kota Jakarta yang tidak pernah sepi. Ratusan kendaraan saling berebut untuk menggunakan jalan yang sama.
Gedung-gedung tinggi aneka bentuk dan warna, menghiasi setiap sudut kota yang indah. Tapi perlahan, panorama pun berganti.
Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, digantikan dengan perumahan rakyat kelas menengah yang berjajar rapi.
Para ibu rumah tangga dengan pakaian kebesaran mereka, berkumpul di beberapa tempat untuk saling bertukar cerita, sambil menemani anak-anak bermain. Sungguh pemandangan yang sangat langka di Korea.
Rel kereta api saling bertaut. Pasar rakyat yang estetik beberapa kali mereka lalui.
Tak terasa, pemandangan menakjubkan bagi Bitna itu pun hilang. Mobil yang mereka kendarai memasuki Tol Jagorawi alias Jakarta - Bogor - Ciawi.
Jalanan yang sepi dan luas, membuat kendaraan roda empat itu melaju tanpa hambatan. Bagai diayun-ayun, mata Bitna pun semakin berat. Ia pun terlelap.
...🍎🍎🍎...
Gubrak!
Bitna tersentak kaget. Suara benturan itu membuat tidurnya terganggu.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Bitna sambil mengucek matanya.
Siswi itu mengecek HPnya untuk mengecek, berapa lama ia terlelap.
"Nggak ada apa-apa. Hanya sebuah gerobak membawa rumput terbalik karena keberatan muatan," jawab Nyonya Yujeong.
"Gerobak?" Bitna menatap ke luar jendela.
"Woaahhh... Indah sekali."
Mata Bitna berbinar. Di sekeliling mereka terhampar sawah yang di belah oleh jalan. Dari kejauhan terlihat perbukitan dengan kebun beragam sayur di lerengnya yang landai.
"Boleh aku buka kacanya?" tanya Bitna meminta izin.
"Silakan," kata sang pengemudi.
Bitna membuka kaca jendela secara perlahan. Ia bisa merasakan udara sejuk menyapa wajahnya.
"Hahhh... Segar sekali. Ini di mana?" tanya Bitna.
"Kita ada di Bogor," kata Nyonya Yujeong. "Sebentar lagi kita sampai," lanjutnya.
"Oh..." Tiba-tiba jantung Bitna kembali berdegup kencang. Dia mulai gugup.
"Santai aja. Kamu pasti akan suka sekolahnya. Muridnya baik-baik, kok," hibur Nyonya Yujeong.
Perlahan permandangan indah tadi berganti menjadi suasana metropolitan yang lumayan padat. Laju kendaraan pun mulai melambat.
Setelah melalui beberapa lampu lalu lintas, kendaraan roda empat itu pun membelokkan kemudinya memasuki sebuah kompleks sekolah yang dipenuhi pepohonan rimbun.
Sekolah Internasional Astana Nagara, begitu namanya. Bangunannya megah bagai istana, dengan desain modern klasik.
"Wah, pasti isinya anak orang kaya semua," gumam Bitna dalam hati.
Apalagi di sini. Ia yang orang asing, kalangan menengah ke bawah, dan sendirian. Apa yang bisa dilakukannya?
"Bitna? Kenapa melamun?" tanya Nyonya Yujeong. "Ayo kita ke bagian administrasi dulu," lanjutnya.
Bitna berjalan mengikuti Nyonya Yujeong dan salah seorang pegawai dinas pendidikan setempat. Matanya tetap waspada memperhatikan sekeliling.
"Memang tidak ada penyambutan resmi, karena baru akan dilaksanakan hari senin nanti," kata Nyonya Yujeong.
"Jadi jangan terlalu kecewa. Mereka pasti akan menyambut baik kedatanganmu," kata wanita itu lagi.
"Ah, sepertinya Nyonya Yujeong salah paham," pikit Bitna.
...🍎🍎🍎...
"Jadi ini adalah pengawas asramamu nanti, Nona Sheza Illona. Dan ini adalah wali kelas kamu, Elya Aurum," kata kepala sekolah menjelaskan.
"Halo, salam kenal Bapak Ibu. Saya Seo Bitna dari Korea Selatan. Mohon bimbingannya." Bitna membungkukkan badannya sembilan puluh derajat.
"Wah, Bahasa Indonesia kamu bagus sekali. Mari saya tunjukkan kamar kamu. Nanti barang-barangnya akan dibawakan oleh petugas," kata Mbak Sheza.
"Terima kasih," kata Bitna.
"Nah, kalau begitu saya pamit dulu. Semoga betah ya, Bitna. Jangan sungkan untuk menghubungiku," kata Nyonya Yujeong berpamitan.
"Terima kasih, Nyonya. Saya pasti akan menghubungi Anda jika ada kesempatan," kata Bitna sembari memberi salam.
Sementara itu di asrama...
"Hei, mereka datang!" seru Afie yang mendengar suara langkah kaki.
"Kira-kira dia mau masuk ke kamar siapa, ya? Kan ada tiga kamar yang masih dihuni satu orang," kata Yuni.
"Semoga di kamarku, deh. Aku takut tidur sendiri," kata Afie.
Lalu...
"Selamat pagi, adik-adik. Saya membawakan teman baru untuk kalian, nih." Mbak Sheza memperkenalkan Bitna.
"An-neyong haseo, nuna. Eh, onnie. Je i-reum-eun…im-ni-da Yumna Elnara," kata Yumna dengan lidah keseleo.
"Salam kenal, Yumna. Namaku Seo Bitna. Bahasa Koreamu bagus sekali," kata Bitna sambil tertawa kecil.
Entah kenapa hati Bitna tersentuh dengan sambutan hangat yang sederhana ini.
"Bahasa Koreamu juga bagus. Aku Atika Alfarosa, kamu bisa memanggilku Tika."
"Aku Citra Seraphina, kelas Satu A."
"Aku Julia Arsanti, panggil aja Julia."
"Kalau aku Afie Fadilla, kelas Satu B. Suka makan keripik dan..."
"Udah, nanti aja perkenalan lengkapnya," kata Mbak Sheza sambil melirik ke arah Afie.
"Hehehe...Sorry, Mbak. Aku terlalu semangat," kata Afie sambil cengegesan.
"Salam kenal semuanya. Mohon bantuannya selama di sini," kata Bitna seraya membungkukkan bada tiga puluh derajat.
"Nah, Bitna, kau sekamar dengan Tika, ya," kata Mbak Sheza.
"Waduh, kasian banget sekamar sama Kak Tika," celetuk Citra dan Afie.
"Memangnya kenapa?" tanya Bitna bingung.
(Bersambung)
Eits, jangan ke mana-mana dulu. Seperti biasa ada bonus gambar, nih.
Kali ini adalah denah ruang asrama dan kamarnya. Supaya teman-teman gak pada bingung.
Jadi, design kamar dan asrama ini sama persis dengan kosan author dulu. Susunan kamar dan nama-nama temannya juga 😊...
Tapi dulu Author nggak sekamar sama orang Korea loh, ya.. Cuma suka ngehalu aja. 😅😅
Gimana, nih? Kalian suka nggak? Komen di kolom komentar ya...