Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 61 - Pertemuan Mengejutkan



"Terima kasih atas kerja samanya. Semoga di lain kesempatan, kita bertemu lagi," ucap Bitna menutup rapat tersebut.


Tling!


Bitna mengambil smartphone-nya dari salam saku, untuk melihat pesan yang baru saja masuk.



"Dasar Eunjo. Sejak putus dari Bo Gum, malah sibuk mengejar sepupuku," Bitna senyum-senyum sendiri.


"Ada apa, manajer?" tanya salah seorang anak buahnya."Oh, nggak ada apa-apa, kok." Bitna malu sendiri. Ia baru menyadari kalau rapat mereka belum benar-benar dibubarkan.


Beberapa saat kemudian...


"Nona nggak perlu diantar ke tempat pertemuan dengan Nona Eunjo?"


"Nggak perlu. Aku ingin menikmati suasana musim gugur. Kamu istirahat saja malam ini," jawab Bitna.


"Hati-hati, Nona. Jangan lupa bawa jaket tebal dan penutup telinga. Cuaca sudah mulai dingin," ujar asisten muda dan tampan yang baru berusia dua puluh satu tahun tersebut.


"Hahaha... Tentu saja. Kau mengingatkanku pada seseorang," kata Bitna tertawa lepas.


Wanita dewasa itu lalu masuk ke dalam sebuah halaman rumah mewah, yang dipenuhi beragam bunga dan pohon buah.


"Ayah, aku pulang," ujarnya riang.


"Jangan teriak-teriak. Telinga Ayah masih berfungsi dengan baik," kata Seo Il Sang yang kini telah pensiun.


"Astaga! Ayah lagi ngapain, sih? Kan sudah ku bilang Ayah istirahat saja di dalam. Semuanya biar dikerjakan oleh para asisten," tegur Bitna.


"Ayah bosan tidur dan baca buku saja setiap hari. Masa merawat tanaman pun tidak boleh," protes mantan kapten kapal tersebut. Ia memasan wajah memelas.


"Oke." Pria tua itu mengacungkan jempolnya. "Tapi besok Ayah ingin makan sop kerang pedas, deh," katanya lagi.


"Aman... Besok aku bikinkan," kata Bitna sambil menuju ke dalam rumah.


"Ah, satu lagi. Aku sudah mengosongkan hari sabtu untuk mengunjungi makam ibu," kata Bitna.


"Terima kasih, Nak," sahut Seo Il Sang sambil menitikkan air mata. Beberapa hari lagi adalah peringatan kematian sang istri.


...🌺🌺🌺...


"Hhhh... Ternyata enak juga ya, jalan-jalan sendirian gini. Terlalu sibuk ngurusin kuliah dan kerja, aku sampai lupa cara menikmati hidup."


Bitna menengadahkan kepalanya ke arah langit, dengan jubah jingganya yang indah. Dahulu sekali, di saat seperti ini ia hanya bisa mencari bintang paling terang untuk mengenang sang ayah, sembari merindukan sang ibu yang telah pergi selamanya.


"Andai dulu aku nggak pergi ke Indonesia, apa mungkin nasibku masih sama? Dibully untuk menjadi bahan tertawaan para konglomerat," pikir Bitna.


"Sarung tangan rajutny... Sarung tangan rajut. Musim gugur telah tiba. Beli tiga pasang gratis satu."


Dari kejauhan, Bitna melihat seorang wanita menjajakan dagangannya sambil berkeliling. Wanita muda itu teringat sang ibu, yang berjalan kaki menjual susu kedelai di musim dingin, demi membiayai hidup mereka.


"Ah, Ibu. Terima kasih telah berjuang untukku. Anakmu kini telah berhasil. Ibu juga harus hidup senang di sana," ucap Bitna dalam hati, sambil menyeka air mata di pipinya.


"Nona, Anda mau membeli sarung tangan? Pacar Anda pasti suka, memiliki sarung tangan kembar." Pedagang wanita itu mendekati Bitna.


"Minji! Kau Kim Min Ji, kan?" Bitna terkejut. Setelah bertahun-tahun Min Ji menghilang, mereka malah bertemu dalam keadaan seperti ini.


(Bersambung)


Mohon maaf, S.2 eps 58- 61 mengalami revisi. Maaf atas ketidak nyamanannya. Eps terbaru akan di upload malam ini juga. Selamat membaca.