
"Nah, Bitna, kau sekamar dengan Tika, ya," kata Mbak Sheza.
"Waduh, kasian banget sekamar sama Kak Tika," celetuk Citra dan Afie.
"Memangnya kenapa?" tanya Bitna bingung.
"Hei kalian berdua! Jangan ngomong sembarangan. Lihat tuh, Bitna jadi takut," tegur Mbak Sheza.
"Ampun, Mbak. Cuma bercanda," kata Citra.
"Kalian mau, novel dan komik terlarang kalian Mbak sita?" ancam Mbak Sheza sambil memasang tampang reog kesurupan.
"Jangan, Mbak. Mbak kok tahu kalau kita nyimpen novel terlarang di loteng?" kata Afie dengan polosnya.
"Heee... Bocah sia bedegul* ini... kok malah dibocorin...?" gerutu Citra dalam hati.
*Sia bedegul: Oonπ€
"Terus kalian ngapain bikin sumpek di sini? Sono, buruan ke kelas," usir Mbak Sheza.
Bitna tercengang di posisinya. Banyak sekali Bahasa Indonesia yang ia tidak pahami. Gimana bisa tinggal di sini untuk satu tahun ke depan?
"Bitna, maaf ya. Mereka memang gitu, tapi sebenarnya baik, kok," kata Mbak Sheza, mencairkan suasana hati Bitna yang tampak membeku.
"Tika di sini dulu ya sama Bitna. Tadi Mbak udah izinkan kamu di kelas."
"Oke, Mbak."
...πππ...
"Yang mau dibilang anak-anak tadi apa, ya? Aku jadi gelisah," gumam Bitna.
"Tika itu kelihatan rapi, dan pintar. Sepertinya dia anak teladan. Apa dia anak orang kaya, dan gak suka teritori*nya di ganggu?" pikir Bitna cemas.
*teritori: wilayah
Sejak menjadi korban perundungan, dia selalu trauma dengan orang kaya. Apakah Tika juga sama seperti anak-anak konglomerat di sekolahnya dulu?
Bitna bingung mau bicara apa. Sedari tadi Tika diam saja. Anak-anak yang lain sudah ke kelas. Sementara Mbak Sheza masih sibuk dengan admistrasi dan barang-barang milik Bitna.
"Bitna, ini kamar kita. Dan kamu di sebelah sini," kata Tika memecah keheningan.
"Kamarnya bagus banget. Aku pikir kalau asrama itu satu kamar berenam atau lebih," ucap Bitna kagum.
Ini sih jauh lebih bagus dari kamarnya di Korea. Bahkan ada kamar mandi di dalam.
"Dulunya emang begitu. Tapi karena sering ada kejadian nggak menyenangkan, akhirnya diputuskan satu kamar berdua aja," jawab Tika.
"Yang sekolah di sini pasti anak-anak orang kaya, ya?" tebak Bitna.
"Nggak, kok," jawab Tika tegas. "Sekolah ini mengadopsi cara subsidi," lanjutnya.
"Subsidi?" Bitna mengerutkan dahinya.
"Iya. Jadi anak-anak orang mampu, sepakat membayar cukup mahal, untuk membantubpara siswa tidak mampu yang berprestasi," jelas Tika.
"Jadi sebelum bersekolah di sini, para wali murid harus menandatangani surat persetujuan itu."
"Wah... Hebat! Ternyata ada cara seperti itu, ya," kata Bitna.
"Hei adik-adik, sepertinya kalian sudah akrab."
Mbak Sheza akhirnya kembali bersama salah seorang pria. Mereka berdua membawa barang bawaan Bitna yang telah diperiksa.
...πππ...
"Hei, bro! Udah dengar kabar menarik nggak pagi ini?"
Alva, sang ketua kelas XI IPA satu berseru heboh setelah kembali dari ruang guru.
"Ada apa? Bu Nanik melahirkan dan cuti panjang?" tebak Surya.
"Pak Salamun meninggal, terus kelas kita pagi ini dibubarkan, ya?" kata Edi pula.
"Dasar anak murid laknat kalian," kata Alva.
"Terus apa, dong? Ulangan kimia siang nanti dibatalkan?" celetuk Nora, si cubby tapi baik hati.
"Salah semua! Kita kedatangan anak baru, nih," kata Alva.
"Anak baru? Pasti anak bermasalah, nih. Kan semester baru udah jalan dua minggu," kata Vera si Ratu Kecantikan di kelas.
"Masih salah. Kali ini dari luar negeri. Cantik banget kayak aktris drakor," sahut Alva.
"Ahh... Biasa aja. Sekolah kita kan emang internasional. Wajar kalau ada anak dari luar negeri," jawab Anggit cuek.
"Yang ini beda. Pokoknya manis banget kayak cklat dikasih gula merah. Aku tadi lihat dia di ruangan Pak Botak," ucap Alva bersemangat.
"Pak Botak?"
"Iya. Pak Hamid Botak," celetuk Alva.
"Iya. Saya emang botak. Terus kenapa?"
Tiba-tiba orang yang diomongin Alva muncul di pintu kelas bersama Tika dan salah seorang murid baru.
Siswi bermata sipit, rambut cokelat yang lurus, kulit putih kemerahan, sangat kontras di antara para siswa lainnya.
Baju seragamnya yang khas, dengan kemeja putih lengan pendek, dasi pita yang manis, serta rok truffle motif kotak-kotak, membuat para murid perempuan seperti melihat tokoh drama Korea di dunia nyata.
"Anak-anak, duduk yang rapi. Seperti kata Alva 'Gondrong' tadi, Bapak membawa teman baru untuk kalian. Ayo silakan memperkenalkan diri," ucap Pak Hamid sang kepala sekolah.
"Annyeong haseo. Selamat pagi teman-teman semua. Saya Seo Bitna dari Korea Selatan. Mohon bimbingannya." Bitna memperkenalkan diri dengan lancar dan baik.
"Woah... Dari Korea Selatan." Para siswa langsung heboh. Ini pertama kalinya mereka mendapat teman dari negara itu.
"Udah.. minta nomor sepatunya nanti aja," kata Pak Hamid menenangkan suasana.
"Kok nomor sepatu, Pak? Nomor HP dong," celetuk beberapa orang cowok.
Sekarang Bitna silakan duduk di samping Flora," kata Pak Hamid sambil menunjuk ke sebuah kursi kosong di sebelah gadis manis berkulit coklat.
"Terima kasih, Pak."
Bitna lalu menuju ke kursi yang ditunjuk oleh kepala sekolah.
"Nah, anak-anak. Sambil menunggu guru kalian datang, silakan berkenalan lagi ddngan Bitna. Tapi suaranya jangan sampai terdengar ke kelas sebelah."
"Baik, Paaak," jawab para siswa serempak.
"Untuk Alva, setelah sekolah hari ini, mohon datang ke ruangan saya, untuk pangkas rambut gratis," kata Pak Hamid.
"Waduh, mampus gue!" kata Alva.
(Bersambung)