
Yeon Woo terus memacu sepedanya. Tak lupa ia menghubungi beberapa teman kuliahnya, untuk menuju ke lokasi yang sama.
"Bitna berada di pergudangan dekat dermaga. Dia membutuhkan pertolongan segera. Jangan pergi sendirian," begitu isi pesan dari Eunjo.
"Sialan! Siapa yang berani mengganggu adikku?" gerutu Yeon Woo sambil mengayuh sepedanya.
Semula sepupu Bitna itu tidak percaya dengan pesan yang ia terima dari nomor tidak dikenal.
Tapi rekaman percakapan yang ia dapatkan berikutnya, membuatnya tidak bisa menunda waktu lagi. Terlebih beberapa hari yang lalu ia baru saja mendengar kabar, bahwa Bitna di bully di sekolah
Lima belas menit sebelumnya...
Tanpa disadari oleh siapa pun, Seon Wooil mengirimkan rekaman percakapan teleponnya tadi dengan detektif bayaran kepada Go Eunjo.
Go Eunjo pun bergerak dengan cepat. Ia menghubungi Bu Hana untuk memperoleh bantuan. Eunjo juga mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Yeon Woo, yang nomornya baru saja ia dapatkan.
Sementara itu di lokasi, Bitna terus berlari menerobos keluar gerbang. Ia terus bergerak mencari keramaian.
Napasnya hampir saja habis setelah berlari cukup jauh. Namun ia masih tidak menemukan siapa pun. Lokasi di sekitar sana benar-benar sepi seperti di tempat terpencil.
Tidak dapat dipercaya kalau tempat itu masih berada di Kota Seoul.
"Hah... Hahh... Siapa pun.. Tolong aku!"
Bruk! Bitna ambruk di jalan. Matanya memandang sayu ke depan. Sayup-sayup ia melihat seseorang datang menuju ke arahnya.
"Oppa!" seru Bitna girang.
"Kau nggak apa-apa?" tanya Yeon Woo. Cowok itu melemparkan sepedanya begitu saja, dan berlari menghampiri sang adik.
"Aku nggak baik-baik aja. Aku takut, oppa!" tangis Bitna di dalam pelukan sepupunya.
"Kau sudah aman, sekarang." Yeon Woo berhasil melepaskan lilitan tali di lengan Bitna.
"Yeon Woo, apa kami terlambat?"
Beberapa pemuda datang menghampiri mereka.
"Sama sekali nggak. Tapi kita harus segera pergi dari sini sebelum mereka datang mengejar. Bitna juga harus diobati," ucap Yeon Woo.
"Tenang Yeon Woo, mereka nggak bisa berbuat sembarangan. Polisi sudah datang," ujar teman-teman Yeon Woo.
"Syukurlah..." Yeon Woo bernapas lega.
"Ayo ku antar ke rumah sakit. Sepedamu masukkan ke mobil saja," ujar teman Yeon Woo lagi.
"Semuanya... Terima kasih," kata Bitna sambil menangis.
...🍎🍎🍎...
"Apa yang terjadi di kelasmu, Bu Hana?" tanya beberapa orang guru.
"Haaah... Entahlah. Aku pun nggak tahu. Semuanya memang sudah selesai, tetapi nyawaku seperti tinggal setengah," ujar Bu Hana.
Semula Bu Hana tidak percaya, jika masalah muridnya yang tidak masuk sekolah menjadi sebesar ini.
"Nggak ku sangka Min Ji berbuat sejauh itu demi membalas dendam sama Bitna. Anak itu mengerikan," gumam Bu Hana.
Song Gae Nam, guru matematika yang terkena skandal bersama Kim Min Ji, berjalan dengan santai
memasuki ruang guru.
"Nggak ada, kok. Kelas terakhir saya hari jumat kemarin," ujar Pak Song.
"Hari ini saya cuma datang untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal," lanjut guru muda itu.
"Ah... Aku sedih sekali Pak Song cuti sementara waktu," ucap Bu Aram. "Oh, iya. Apa Bapak sudah mendengar kabar perbuatan Min Ji hari ini?" tanyanya.
"Min Ji? Emang dia kenapa? Siswi itu tidak ada hubungannya dengan saya," kata Pak Song.
"Tapi kalau dari awal Bapak tegas dengannya, pasti hal ini tidak akan terjadi. Saya dengar, Bapak sudah menerima banyak hal dari anak itu," sela Bu Hana.
"Aku cuma berusaha bersikap baik dengan para siswa. Dan apa yang kuterima darinya, itu pemberiannya secara sukarela. Aku tidak pernah meminta apa pun darinya," ujar Pak Song membela diri.
"Apa benar semua siswa? Tapi kenapa yang kulihat, Bapak hanya dekat dengan siswi itu. Sedangkan siswa-siswi lainnya tidak ada perlakuan istimewa," balas Bu Hana lagi.
Grep! Pak Song mengepalkan tangannya. Dadanya bergemuruh menahan emosi. Ia harus tetap bisa menjaga nama baiknya sampai akhir.
"Bu Hana kenapa, sih? Apa Anda cemburu, karena murid Anda lebih dipandang Pak Song, dari pada Anda sendiri?" sindir Bu Aram.
"Duh, Bu Aram. Jangan terbawa emosi. Sedikit banyaknya apa yang dibilang Bu Hana itu benar. Setiap orang yang melihatnya, pasti akan berpikir hal yang sama terhadapku," kata Pak Song.
"Cih, sok bijak. Padahal aku tahu kebusukan kalian berdua," bisik Bu Hana.
"Oh Bu Aram, saya baru tahu kalau suami Anda sangat tampan dan masih muda."
Salah seorang guru olahraga berusaha menyegarkan suasana yang sedari tadi tegang. Ia menunjukkan sebuah foto dari HPnya.
"Yang benar? Mana? Aku belum pernah lihat," kata yang lainnya.
Bu Aram hanya tersenyum canggung. Hatinya merasa gelisah. Ia penasaran dengan foto yang ditunjukkan guru tersebut.
"Ini, saya baru saja lihat fotonya di medsos. Pria itu menandai nama Bu Aram. Duh, Bu Aram pergi liburan ke luar negeri kok diam-diam saja?" kata guru olahraga itu.
"Hah, luar negeri?"
Jantung Bu Aram berhenti berdetak. Dia kan tidak pernah pergi ke luar negeri, kecuali dengan...
"Loh, ini kan bukan suami Bu Aram," celetuk beberapa orang guru, ketika melihat Bu Aram berpelukan di cium seorang pria tampan.
"Benar. Bukannya suami Bu Aram itu manajer di hotel Axton? Ini sih masih seperti mahasiswa," kata Pak Song.
Bu Aram pucat pasi. Ia tak bisa menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari para guru.
"Sial, kenapa dia belum menghapus foto itu, sih? Apa dia masih mengharapkanku?" ucap Bu Aram, masih dengan PD super tinggi.
(Bersambung)
Hei, kalian mau ke mana? Jangan buru-buru pergi dulu. Ada yang spesial, nih.
Ada tiga nominasi cowok tertampan di Metamorphosis universe, nih. Kalian pilih yang mana? Tulis di kolom komentar ya...