Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 46 - Kau Menginginkannya, kan?



"Napasmu memburu. Degup jantungmu juga tidak teratur. Aku yakin kau baru pertama kali merasakannya, kan?" kata Jun Hyeon.


"Aku bisa memberikannya untukmu! Aku siap menjadi yang pertama bagimu," kata Jun Hyeon lagi.


"Nggak! Kau salah paham," bantah Bitna. Wajah remaja itu bersemu merah.


"Bitna, sayang. Aku akan memberikan semua yang kau inginkan, asalkan kau batalkan perjalanan ke luar negeri itu," kata Jun Hyeon dengan senyuman tipis yang mengerikan.


"Kenapa aku harus membatalkannya?" tanya Bitna dengan suara tinggi.


"Sssttt...! Kecilkan suaramu. Memang tidak ada yang bisa melihat kita. Tapi nggak ada jaminan kalau mereka nggak mendengarnya," kata Jun Hyeon.


"Hhh..."


Bitna menghela napas dalam-dalam.


"Aku khawatir padamu. Gimana kamu di negara orang nantinya. Di Korea saja kamu masih jadi korban bully," kata Jun Hyeon.


"Bukan urusanmu! Kenapa kau harus peduli soal itu?" balas Bitna.


"Karena aku menyukaimu," ucap Jun Hyeon dengan sangat lembut.


"Aku nggak yakin kau baik-baik saja di sana. Nggak ada seorang pun yang akan menjagamu seperti di sini," ucap Jun Hyeon lagi.


"Kau mau menghasutku? Masalahmu apa, sih? Kalau kau mau ikut juga ya daftar aja."


"Aku nggak pernah bersaing denganmu. Kamu tahu sendiri, kan? Aku bisa pergi ke luar negeri kapan saja. Tapi aku benar-benar memikirkanmu."


Grep!


Park Jun Hyeon kembali menarik tangan Bitna yang hendak beranjak pergi.


Kepala Bitna menyentuh dada bidang cowok remaja itu. Detak jantung Bitna kembali tak beraturan.


"Kau mendengarnya, kan? Jantungmu saja tak bisa menyembunyikan, kalau kau juga menginginkannya. Aku tak akan mengatakannya pada siapa pun," bisik Jun Hyeon.


"Menginginkan apa?"


"Bercumbu denganku. Aku menyukaimu, Bitna. Jadi tetaplah di sini," ucap Jun Hyeon.


Hidung mancung kedua remaja itu kembali bersentuhan. Vital Bitna kembali berdenyut dengan lebih kencang.


Bitna benci mengakuinya, tetapi ia memang ingin melakukannya. Bercumbu, gadis belia itu belum pernah melakukan hal itu pada siapa pun.


Bibir tipis Jun pun menyentuh kulit halus Bitna. Gadis itu ternyata tidak mengelak. Ia membiarkan Jun mengeksplorasi bibir merahnya.


Tiba-tiba sekelebat bayangan pun muncul di kepala Bitna. Rasa nikmat yang hampir sampai ke ubun-ubun, buyar seketika.


"Jun, Aku melihatmu berciuman dengan anak kelas dua di ruang penyiaran," ucap Bitna seraya mendorong tubuh Jun Hyeon menjauh darinya


"Hmm?" gumam Jun Hyeon santai.


"Kau juga kan yang merekam aksi bully para Min Ji dan teman-teman? Bukan para wartawan itu," ucap Bitna.


"Kalau iya, memangnya kenapa?"


Jun Hyeon melingkarkan tangannya di pinggang Bitna. Tubuh kedua remaja itu pun kini saling bersentuhan.


Bibir Bitna bergetar. Kata-kata yang sudah ia susun di kepala untuk melawan cowok brengsek itu, malah kembali hilang.


"Aku tahu, pada hari itu kau melihat kami dari ruanh UKS, kan? Sayang sekali, Seon Wooil dan teman-temannya datang di waktu yang nggak tepat," ucap Jun Hyeon.


Gadis belia itu meronta dan menendang area vital Jun Hyeon, hingga cowok itu melepaskan dirinya.


Ini kesempatan Bitna, dia berlari menuju ke kelas secepat kilat.


"Sial! Kenapa aku hampir tertipu ketampanan pria brengsek itu, sih?" pikir Bitna.


...🍎🍎🍎...


"Bitna, kau dari mana saja?" tanya Eunjo khawatir.


"Aku... hhh... hhh... dari ruang guru," jawab Bitna sambil mengatur napasnya.


"Kau sakit? Wajahmu memerah..."


Bitna menggeleng.


"Terus? Kau di bully?" tanya Eunjo lagi.


Bitna kembali menggeleng. Eunjo benar-benar bingung melihat sahabatnya.


"Oh iya, ke mana Bu Guru? Kok belum masuk kelas?" tanya Bitna setelah detak jantungnya mulai normal.


"Kau nggak dengar beritanya? Bu Aram kan di skors sampai waktu sidan besok."


"Hhhh? Sidang apa?"


Eunjo melihat ke kanan dan ke kiri, lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas.


"Katanya Bu Aram ketahuan selingkuh dengan mahasiswa," tulis Eunjo di kertas itu.


"Hah? Astaga?" gumam Bitna. "Jadi kelas kita hari ini?"


"Di suruh belajar mandiri. Alias jam kosong," kata Eunjo sambil tersenyum lebar.


Murid mana yang nggak suka kalau ada jam kosong, kan?


"Oh iya, apa kau sudah mendapatkan latar belakang Jun?" bisik Bitna hati-hati.


Eunjo menggelengkan kepalanya, "Susah sekali mencari latar belakang cowok itu," katanya.


"Tapi, dari kabar yang kudengar, katanya Jun Hyeon dulu satu SMP denganmu," bisik Eunjo kemudian.


"Maksudmu SMP Donghan? Masa anak orang mampu seperti dia, sekolah di tempat itu? Apalagi dia siswa populer," sahut Bitna tak percaya.


"Dia memang nggak lama sekolah di sana. Tapi katanya dia sempat sekolah di sana selama satu semester, sampai seseorang mematahkan giginya, dan membuatnya gagal mengikuti lomba tertentu."


Deg!


Wajah Bitna pucat seketika mendengar kalimat Eunjo.


(Bersambung)