Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 22 - Skandal Terbongkar



Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Korea.


Siswa kelas I B wajib memberikan presentasi tentang penelitian singkat yang dilakukan per kelompok.


Presentasi tersebut mereka kemas dalam bentuk video singkat. Dan video tersebut ditayangkan langsung di depan kelas untuk dinilai.


Namun, tanpa sepengetahuan para siswa, Bu Guru menyambungkannya dengan tayangan video di ruang Guru.


"Kamu yakin melakukannya?" Eunjo bertanya pada Bitna dengan bahasa isyarat.


"Ya, aku yakin," balas Bitna dengan bahasa isyarat pula.


Tapi entah mengapa, hati Eunjo bedebar keras seperti gendang yang ditabuh dalam acara musik. Ia tidak bisa konsentrasi.


Ketika Bu Sora, guru Bahasa Korea, memanggil kelompok saru, jantung Bitna yang tadi berdetak normal, kini menjadi lebih cepat dua kali lipat.


"Semoga saja semuanya lancar," doa Bitna dalam hati.


Video pun diputar. Kim Min Ji menyampaikan presentasi dengan cukup lancar.


Awalnya biasa saja, tidak ada yang menarik selain video benteng bersejarah di Korea Selatan. Namun saat memasuki detik ke dua puluh, semua mata terbuka lebar.


Para siswa mulai berbisik, namun Min Ji mengabaikannya.


"Min Ji! Hentikan," perintah Bu Sora.


"Y-ya?" Remaja cantik itu masih belum menyadari apa yang telah terjadi.


"Sssttt... Min Ji... Kau salah memutar video," bisik salah seorang teman kelompoknya.


Tanpa apa-aba, Min Ji lalu menoleh ke layar. Hatinya menjerit. Ia melihat sendiri adegan mesranya dengan Song Gae Nam, Guru Matematika tampan di sekolah itu.


"K-kok gini?"


Seluruh tubuh Min Ji gemetar. Rasa takut bercampur malu menguasai tubuhnya.


Min Ji pun berusaha mematikan video perselingkuhannya dengan Pak Song yang sedang terputar. Setelah itu, ia berlari meninggalkan kelas.


...🍎🍎🍎...


"Kalian udah dengar beritanya? Pak Song pacaran sama anak kelas I B."


"Heh? Jadi gosip itu bener? Pak Song yang guru matematika itu?"


"Iya. Malah dia sendiri yang nyebarin videonya waktu presentasi tugas Bahasa Korea."


"Wah, gila. Mampus deh dia. Pasti bakal kena sidang deh, itu."


"Gak tahu, deh. Kan Bapaknya komite elit sekolah. Bisa aja dia lolos dari hukuman."


"Kayaknya gak mungkin deh dia lolos, karena video itu udah ditonton sama semua murid di kelas dan juga guru-guru di kantor?"


"Wah, kok bisa Pak Guru pacaran sama dia? Emangnya dia cantik banget, ya?"


"Ya cantik, lah. Mamanya kan model terkenal. Dan duitnya juga banyak untuk dempul tuh muka."


"Emang siapa sih yang ngerekam videonya? Kok bisa tersebar?"


"Kayaknya dia dijebak, deh. Tapi nggak apa-apa juga. Aku nggak rela, kalau Pak Song yang ganteng itu pacaran sama cewek gatel kayak dia."


"Ck, bising banget. Sejak kapan sih perpustakaan jadi rame gini," keluh Bitna.


Sejak kelas jam pertama, seluruh siswa di SMA Seodaemu-Gu sibuk membicarakan skandal Kim Min Ji.


Tayangan skandal siswa dan guru itu, telah ditonton puluhan pasang mata.


Hingga saat ini, masih jadi misteri. Siapa yang memasukkan rekaman itu ke dalam flasdisk milik Kim Min Ji. Karena diperiksa berapa kali pun,


flasdisk tersebut memang milik Min Ji.


Sementara Min Ji sendiri sampai saat ini, setelah jam pelajaran Bahasa Korea dan Olahraga usai, masih tidak kelihatan di kelas. Entah ke mana ia pergi.


Sementara Pak Song, telah dipanggil ke ruangan kepala sekolah.


Hingga jam istirahat kedua ini, para siswa masih ramai membicarakan skandal tersebut. Seperti di perpustakaan saat ini.


"Hei, kau lagi ngapain?" seorang cowok duduk di depan Bitna yang sedang sibuk menulis.


"Kau nggak bisa lihat aku lagi apa?" sahut Bitna tanpa menoleh.


"Bukan urusanmu," jawab Bitna ketus.


"Wah, kau sudah berani melawan, ya. Padahal kan aku tanya baik-baik," kata Wooil. "Apa karena kau udah tahu kartu as ku?"


"Kartu as?" ulang Bitna. Dia nggak paham maksud kata-kata itu.


"Hubungan ayahku dengan ibumu," bisik Wooil.


"Hah, gila kau! Aku nggak pernah mengingat hal itu," balas Bitna.


Srak!


Wooil merampas buku yang sedang digunakan Bitna.


"Lho, ini bukan punyamu?" celetuk Wooil. "Chae Rin, sialan. Bisa-bisanya dia menyuruhmu mengerjakam PR."


"Sssttt... Kecilkan suaramu," pinta Bitna.


"Terus ini punya siapa? Min Ji?" Wooil menarik sebuah buku lagi. Ia nggak menggubris ucapan Bitna barusan.


"Kau sengaja mau membuatku kena masalah?" marah Bitna.


"Siapa bilang? Malah aku mau membantumu. Lain kali jangan mau disuruh beginian. Kau fokus belajar aja," kata Wooil.


Rupanya cowok itu nggak sekedar omong kosong. Dalam waktu singkat, ia mengerjakan PR Fisika milik Min Ji.


Bitna hanya melongo melihat cowok di depannya mengerjakan PR dengan sangat enteng.


"Nih, udah selesai. Bawa ke sini buku Chae Rin, ku kerjakan," ucap Wooil.


"Kau pintar banget. Tetapi kok kau juara dua, ya? Harusnya kau juara umum sekolah," puji Bitna.


"Tapi kenapa kau selalu bersikap baik padaku, sih?" tanya Bitna curiga.


"Siapa bilang aku baik padamu. Aku akan mengambil ini sebagai imbalan." Wooil mengambil sebuah apel yang terletak di depan Bitna.


"Hei, siapa yang mengizinkanmu makan itu? Apel itu kuberikan hanya untuk Bitna."


Tiba-tiba Jun Hyeon datang, dan menahan tangan Wooil untuk mengambil apel tersebut.


"Ah, kau lagi. Ngapain sih di sini?" omel Wooil.


"Aku ada janji dengannya," ucap Jun Hyeon sambil melirik ke arah Bitna.


Wooil memandang Bitna untuk meminta jawaban.


"Ya, aku ada janji dengannya. Makanya kau pergilah," ucap Bitna.


"Ckk.. sial!" gerutu Wooil sambil beranjak pergi.


...🍎🍎🍎...


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Jun Hyeon setelah Wooil meninggalkan mereka berdua.


Sret! Bitna meletakkan beberapa lembar uang di hadapan Jun Hyeon.


"Ini mungkin jumlahnya masih sangat kurang. Tapi aku pasti akan melunasi semua biaya hadiah yang pernah kau kasih sama aku," kata Bitna.


"Kau? Apa?" Wajah Jun Hyeon terlihat kesal.


"Kau tahu, kan? Aku memberikan hadiah ini karena aku suka," ucap Jun Hyeon beberapa saar kemudian.


"Aku hidup di dunia yang keras, Jun. Nggak ada yang gratis di dunia ini. Jadi, apa tujuanmu mendekatiku?" tanya Bitna.


"Sial*n! Cewek ini susah banget dideketin, nggak kayak cewek-cewek lainnya," batin Jun Hyeon.


"Terserah kamu, deh, kalau masih nggak yakin sama perasaanku. Tapi kamu lihat aja ketulusanku. Kamu bisa menilai sendiri nantinya," jawab Jun Hyeon.


"Tapi kenapa harus aku? Kita kan nggak salimg kenal sebelumnya?" ucap Bitna.


"Mungkin kamu nggak pernah mengingat keberadaanku. Tapi aku udah mengenalmu cukup lama. Aku menyukaimu," jawab Jun Hyeon.


"Haaah... Bisa gila aku," keluh Bitna.


"Apa perasaan dia itu nyata?" batin Bitna masih ragu.


(Bersambung)