Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 50 - Bayaran Setimpal



Klang! Klang! Klang!


Suara dentang sendok dan garpu saling beradu di ruang makan kelas dua SMA Astana Nagara. Bau harum masakan membuat para siswa buru-buru mengantri.


"Bodoh banget sih, aku tadi? Gampang banget dipancing Alva sama street food. Padahal itu kan akal-akalan dia ngajak jalan berdua."


Seo Bitna terus-terusan menggerutu dalam hati. Gadis yang berada dalam antrian makan malam itu, sebenarnya bukan tidak menyukai ajakan Alva tersebut. Dia hanya malu, karena terlalu mudsh meng-iya-kan tanpa ada tarik ulur.


Duk!


"Duh, Bitna. Ayo cepat jalan, dong. Kami juga lapar, nih," protes anak-anak perempuan di antrian belakang.


"Mianhae..." kata Bitna sambil buru-buru mengambil lauk, dan jalan menuju meja teman-temannya.


"Sssttt... Lihat, tuh. Dia pasti lagi ada masalah," bisik Flo pada Tika, Julia, dan Devi.


Semua teman-teman Bitna heran, melihat cewek Korea itu dengan asyiknya mengunyah telur balado tanpa rasa mual. Biasanya, melihat dari jauh saja, perutnya sudah terasa berputar.


"Kayaknya nggak, deh. Soalnya dari tadi wajahnya senyum-senyum mulu. Kayak emak-emak abis dapat arisan," bantah Julia.


"Mungkin dia emang lagi senang. Kan tadi abis balik dari rumah sakit," jawab Tika sambil mengunyah kerupuk udang.


"Bitna! Hoi, Bitna!" panggil Flora.


"Ya, Al?"


"Cieeee... Rupanya dari tadi senyum-senyum tuh karena mikirin Alva, ya?" sorak teman-temannya.


"Ih, nggak kok," bantah Bitna.


"Udah... Nggak usah bohong. Kelihatan banget dari wajahmu," ucap Tika.


"Sikapmu juga. Sejak kapan kamu suka telur?" tanya Flora.


Bitna melihat ke piringnya. Lah, ia baru sadar kalau mengambil lauk telur bulat di balado. Bahkan sudah habis setengah.


"Dasar Alva... Kenapa terus memenuhi isi kepalaku, sih? Bahkan masalah ayah dengan Tuan Kim bisa tenggelam," gerutu Bitna dalam hati, sambil menggenggam sendok tangannya erat-erat.


...🌺🌺🌺...


Drrrtttt...


"Halo?"


"Halo, Paman. Ini aku Seo Bitna."


"Ah, Nak. Apa kabar?" ujar lelaki di seberang sana.


"Luar biasa. Kau memang anak berprestasi, ya," kata Pak Hwan. Suaranya terdengar riang.


"Terima kasih. Tapi aku menelepon ingin mengucapkan terima kasih, atas semua bantuan paman selama ini," ucapnya. "Aku baru tahu, kalau Paman seharusnya sudah pensiun sejak lama."


"Tidak apa-apa, Nak. Aku malah bosan jika di rumah terus setelah pensiun," ucap Pak Hwan.


"Sebenarnya, aku menelepon ini untuk memberi tahu juga, kalau ayahku sudah ketemu dengan selamat," ucap Bitna.


"Syukurlah. Paman senang sekali mendengarnya," ucap Pria itu. "Berarti tugasku benar-benar sudah selesai sekarang. Aku sudah bisa pergi," lanjutnya.


"Paman mau pergi ke mana?"


...🌺🌺🌺...


"Berita hari ini. Sidang perkara penjualan barang illegal ke Asia Tenggara, yang melibatkan aktor ternama Kim Hyun Seung sudah memasuki tahap akhir."


"Pengadilan menyatakan bahwa, bahwa tenggelamnya kapal Seowol 13 lima tahun yang lalu, disebabkan oleh muatan berlebih akibat barang ilegal yang akan dikirim tersebut."


"Pengurangan sekoci dan perlengkapan penyelamat lainnya, dinyatakan sebagai kejahatan kemanusiaan yang menewaskan hingga puluhan orang."


"Maka dari itu, berdasarkan undang-undang yang berlaku di Korea, pengadilan menetapkan bahwa Kim Hyun Seung di menerima hukuman penjara selama dua belas tahun, dan denda sebesar sembilan ratus enam puluh juta won."


"Denda tersebut harus di bayarkan dalam kurun waktu..


Pet!


Chae Do Hyuk mematikan televisi. Ia dan sang istri bernapas lega. Pelaku utama yang telah memporak-porandakan keluarga kakak mereka, telah mendapat hukuman yang setimpal.


"Syukurlah, Hyeong bebas dari segala tuduhan yang dilemparkan kembali oleh Tuan Kim," ucap Do Hyuk.


"Meski kakak iparku tidak bisa berkumpul lagi, tetapi ia pasti tersenyum bahagia melihat suami dan anaknya bertemu dalam keadaan sehat," tambah Seo Dami pula.


"Ibu, ayo sini. Acara Kak Bitna sudah hampir di mulai," seru Chae Ara sangat antusias.


Ia telah siap menonton acara live yang ditayangkan secara internasional, menggunakan ponselnya. Hari ini, Seo Bitna bersama beberapa temannya dari berbagai negara, terpilih menjadi pembicara dalam konferensi anti bullyng yang diadakan oleh UNICEF.


"Ah, benar juga. Gara-gara terlalu mengikuti sidang, aku sampai lupa momen penting keponakanku," seru Seo Dami.


Seo Bitna, sesuai dengan namanya, ia semakin bersinar. Tidak ada lagi yang membullynya di sekolah barunya tersebut. Justru semua menjasi sahabatnya.


Tapi, apakah benar semua masalah sudah selesai?


(Bersambung)