Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 18 - Rahasia Tuan Seon



"Tumben ayah sudah pulang?"


Wooil mendengar orang berbincang dengan Tuan Seon Kang Nam dari dalam rumah. Wooil juga melihat sepasang sepatu yang agak lusuh di depan pintu.


Ini sangat aneh. Tuan Seon Kang Nam bukanlah orang yang biasa menerima tamu di rumahnya, baik dari kalangan pejabat, mau pun orang biasa. Pejabat Kota Seoul itu lebih memilih bertemu dan berbincang di kantornya.


"Jadi gimana, Pak? Apa anak-anak sudah tahu?" Wooil mendengar suara seorang pria yang asing di telinganya.


"Pak?" gumam Wooil semakin heran.


Tidak sembarang orang bisa memanggil ayahnya dengan sebutan itu. Tapi kenapa sepatunya lusuh begitu? Apa sedang menyamar?


"Belum, Pak. Aku malu untuk memberitahunya," jawab Tuan Seon Kang Nam dengan nada suara cukup rendah, tetapi masih terdengar dari luar.


Mendengar percakapan itu, Wooil mengurungkan niatnya untuk masuk. Dia lebih memilih untuk bersembunyi di balik bunga-bunga sambil menguping. Tak lupa ia menekan tombol recorder di HPnya.


"Kenapa belum diberi tahu? Anak-anak kan sudah besar. Mereka pasti mengerti," kata pria asing itu lagi.


Seon Wooil semakin penasaran, "Apa sih yang mau mereka bicarakan? Kenapa ayah punya banyak sekali rahasia?" pikir Wooil. Remaja pria itu memasang telinganya baik-baik.


"Nyaliku nggak cukup kuat untuk memberitahu kebobrokan ayahnya ini." Terdengar Tuan Seon menjawab pertanyaan misterius itu.


"Mereka terlanjur menganggap ayah mereka ini orang yang hebat. Gimana reaksi mereka kalau tahu yang sebenarnya?" lanjut Tuan Seon.


"Pak, sepertinya Anda salah pemahaman. Menurutku itu bukan hal yang memalukan. Lebih baik Anda ceritakan semuanya, sebelum anak-anakmu salah paham." Pria itu terus membujuk Tuan Seon Kang Nam untuk jujur.


"Pak Hwan, kalau bukan karena egoku yang memaksa kapal itu berangkat, pasti mereka semua masih berkumpul dengan keluarganya sekarang. Kapal itu nggak akan hilang seperti ini," jawab Tuan Seon dengan suara bergetar.


"Kapal?" gumam Seon Wooil yang masih setia menjadi pendengar illegal di luar rumah. Panas terik yang mencengkeram tubuhnya tak dihiraukan.


"Padahal semua orang sudah memberi peringatan saat itu, kalau badai akan menerjang kawasan perairan di Asia Tenggara. Tapi aku terus memaksa mereka untuk pergi," ujar Tuan Seon.


"Ini bukan salah Anda sepenuhnya, Pak. Anda kan sudah berusaha bertanggung jawab atas kejadian itu," kata Pak Hwan.


"Uang santunan yang diberikan itu nggak ada artinya jika dibandingkan dengan keluarga yang hilang. Aku bahkan..." Tuan Seon menghentikan kalimatnya sejenak.


"Aku bahkan membuat seorang gadis kecil kehilangan ayah untuk selamanya," lanjut Tuan Seon Kang Nam.


"Gadis kecil? Bitna?" ujar Seon Wooil dengan suara tertahan. Remaja cowok itu bisa mengetahui, kalau ayahnya saat ini pasti sedang menangis.


"Pak, Anda sudah merawat anak itu dengan cukup baik. Meski aku tidak tega melihat wajahnya yang sedih, setiap datang padaku untuk menanyakan ayahnya. Tapi ia tumbuh menjadi gadis pintar dan sangat baik," kata Pak Hwan.


"Ku dengar, ia bahkan pergi ke Indonesia mengikuti pertukaran pelajar," lanjut Pak Hwan.


"Itu semua berkat putra bungsuku, Seon Wooil. Dia banyak membantu keperluan administrasi gadis itu untuk pergi ke luar negeri. Aku sungguh malu padanya," kata Tuan Seon.


"Anda sudah mengorbankan pekerjaan Anda di bidang perdagangan dan perkapalan, lalu memilih menjadi pejabat." Tuan Hwan menggantung kalimatnya untuk menyeruput secangkir teh yang dihidangkan pelayan.


"Dulu aku berpikir, kalau menjadi pejabat bisa lebih mudah membuat kebijakan untuk menyantuni para korban dan melanjutkan pencarian. Ternyata tidak semudah itu," ucap Tuan Seon dengan suara tercekat.


"Tidak semua pejabat memihak pada yang lemah. Aku tidak bisa berbuat banyak, ketika anggaran untuk pencarian kapal itu dihentikan," lanjut Tuan Seon.


"Begitulah manusia, Pak. Di semua negeri pasti sama. Ada yang baik dan ada yang serakah," komentar Pak Hwan.


"Pak Hwan, terima kasih sudah mau bertahan di sana selama bertahun-tahun hanya demi anak-anak korban kapal itu," ujar Tuan Seon.


"Tidak masalah, Pak. Dulu Anda banyak sekali membantu saya. Dengan cara inilah saya membalas budi," balas Pak Hwan.


"Aku malu sekali pada gadis cilik itu, yang bahkan bersedia pindah ke Indonesia demi mencari ayahnya. Aku kalah telak," kata Tuan Seon lagi.


"Perlahan tapi pasti, kita terus berusaha mencari mereka yang hilang. Jangan putus asa," ujar Pak Hwan.


"Hah! Apa ini? Kenapa mataku berair? Padahal ngak ada bawang atau pun debu di sini," gumam Wooil.


Cowok itu lalu berpindah dari posisinya. Ia takut tiba-tiba Pak Hwan keluar, dan melihatnya bersembunyi di balik rerimbunan bunga.


"Jadi itu yang selama ini terjadi? Astaga! Aku sudah menuduh ayah yang tidak-tidak selama ini," gumam Wooil merasa bersalah.


"Aku juga jadi tak sabar untuk menelepon kucing kampung itu dan meminta maaf," ujar Seon Wooil.


Remaja itu mengambil jalan memutar melalui pintu belakang. Ia jarang sekali melalui tempat ini. Bahkan hampir tidak pernah, sejak sang ibunda meninggal beberapa tahun yang lalu.


Sebuah pohon camelia yang tingginya baru sebahu Wooil, adalah jejak terakhir sang ibu di bumi ini. Abunya ditebar di sana, di dekat bunga camelia yang baru di tanam satu bulan sebelum wanita itu meninggal.


Itu juga alasan Wooil jarang mengunjungi tempat ini. Ia akan sangat merindukan ibu, ketika berada di sini. Wooil teringat hari-hari di mana ia dan ayahnya selalu bertengkar saat ibu sakit parah.


Wooil menuduh sang ayah terlalu sibuk dengan urusan kantor. Sementara sang ayah berdalih mencari uang untuk pengobatan istrinya.


Kini setelah beberapa tahun berlalu, Wooil baru tahu. Kalau saat itu ayahnya sedang terpuruk. Ia harus ganti rugi atas kesalahan yang ia buat. Beberapa asetnya terpaksa dijual. Ia juga menderita karena istrinya sakit keras.


"Bu, bagaimana kabar Ibu di sana? Ibu pasti sangat bangga memiliki ayah, kan?" gumam Wooil sambil meletakkan setangkai bunga daisy yang baru saja di petiknya.


"Maafkan aku yang telah membiarkan ayah sendirian selama ini. Aku janji, mulai hari ini akan memperhatikan ayah, menyayangi ayah. Seperti aku menyayangi ibu dulu," ujar Wooil di hadapan pohon camelia yang sedang berbunga itu.


"Ah, kenapa mataku terus berair, sih? Ini bukan air mata, Bu. Aku tidak menangis, kok."


Srot!


Wooil membuang lendir yang berkumpul di hidungnya, lalu mengusap air matanya dengan baju seragam yang ia pakai.


"Aku janji, akan menjadi anak baik yang membanggakan ayah dan ibu," tutup Wooil.


(Bersambung)