
"Aku tak punya pacar dan nggak hamil. Jadi jangan mikir macem-macem," kata Bitna yang tiba-tiba muncul.
Cewek cantik itu mengambil odeng, lalu mengunyahnya. Perutnya sudah minta diisi dari tadi.
"Terus Seon Wooil itu siapa?" selidik Yeon Woo.
"Oppa dengar nama itu dari mana?" Bitna balik bertanya.
"Cowok aneh yang mengikutimu waktu itu. Dia bertanya, apa aku orang suruhan Wooil?" kata Yeon Woo.
Bitna terdiam untuk beberapa saat. Dia tak menyangka, segitu besarnya pengaruh Wooil pada orang di sekitarnya.
"Dia bukan siapa-siapa. Cuma tikus ladang aja," kata Bitna kemudian. Suaranya cukup nyaring.
"Aku? Tikus ladang?"
Jeng! Jeng!
Orang yang diomongin pun muncul.
"Wo-woil? Kau ngapan di sini? Sejak kapan di sana?" kata Bitna salah tingkah.
"Aku baru aja sampai, waktu kau bilang tikus ladang tadi," kata Wooil dengan tatapan mengintimidasi.
"Selamat malam, Bibi."
Wooil membungkukkan badannya di depan pintu, memberi salam kepada Bibi Dami. Sikapnya begitu santun, berbeda dengan arogannya kepada Bitna tadi.
"Selamat malam, Nak," balas bibi.
"Salam kenal, Kak. Aku Seon Wooil, teman sekelas Bitna." Kali ini Wooil memperkenalkan dirinya kepada Yeon Woo.
"Kau sedang apa sih di sini? Menguntitku?" Bitna mengulang pertanyaannya, yang tadi diabaikan Wooil.
"Bitna, jangan begitu. Bawalah temanmu masuk," kata bibi.
"Wooil, masuklah. Kebetulan kami mau makan malam. Ada Gyeran jjim dan pangsit. Kau suka, kan?" kata bibi.
"Bu, kenapa tiba-tiba ada pangsit?" protes Ara.
"Ssssttt... Jangan banyak protes. Cepat ambilkan pangsit udang di kulkas," bisik bibi.
Wooil tertawa kecil, "Saya sudah makan malam kok, Bi. Tapi sepertinya masakan bibi sangat menggoda," kata Yeon Woo.
Teman sekelas Bitna itu pun masuk ke dalam rumah dan duduk dengan sangat sopan.
"Ah... Pasti lebih menggoda masakan ibumu. Tapi pangsit buatan Bibi sering dipuji orang sini lho," balas bibi.
"Aku nggak punya ibu," kata Wooil kemudian.
"Hah?" Maaf, Nak," ucap bibi merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Bi. Ibu saya meninggal beberapa tahun yang lalu. Walau pun masih sering rindu, tapi sekarang sudah nggak apa-apa," kata Wooil sambil membantu bibi menabur minyak wijen ke dalam nasi panas.
"Ah, apa kalian mau bossam kimchi dan cumi kering?" tanya Yeon Woo memecah suasana.
"Ah, iya. Bawa kemari. Kau suka, kan?" kata bibi.
"Iya, aku suka, Bi."
"Ini, pangsitnya sudah aku panaskan," kata Ara sambil membawa sebuah nampan penuh dengan pangsit udang.
"Yuk, makan," seru Yeon Woo.
"Bitna, kamu nggak makan juga?" tanya Wooil melihat Bitna pergi meninggalkan ruangan itu.
"Nggak, aku udah kenyang lihat wajahmu," kata Bitna.
Gadis itu buru-buru pergi ke kamar mandi untuk membuang seluruh isi perutnya. Bitna masih nggak mengerti kenapa dia selalu mual setiap melihat telur.
Sementara itu Wooil terlihat bersalah ketika Bitna tidak makan malam bersama mereka.
"Oooh..." gumam Wooil.
...🍎🍎🍎...
"Aku iri pada keluargamu," kata Wooil sambil berjalan-jalan di sekitar jembatan kecil.
"Kalian terlihat begitu hangat walau makan malam sederhana," lanjut Wooil lagi.
Pria itu melemparkan pandangannya menuju langit malam bertabur bintang.
"Iri? Kau nggak akan tahu gimana pedihnya hatiku yang sudah kehilangan ayah dan ibu, lalu malah menjadi korban bully," kata Bitna.
Wooil tidak menyahut. Ia terus berjalan melalui sungai kecil di sekitar rumah Bitna.
"Ah... Di sini banyak pohon persik, ya. Udaranya jadi sangat segar san sejuk," ucap Wooil.
"Jangan mengalihkan ceritaku. Kau mau apa ke..."
"Ini. Kau ini ceroboh sekali," kata Wooil memotong ucapan Bitna.
Pemuda itu menyerahkan sebuah flasdisk berwarna kuning.
"Ah... Ini, kan?" Bitna mengambil flasdisk itu dari telapak tangan Wooil.
"Kau hampir saja membongkar kejahatanmu sendiri. Bisa habis kalau semua orang melihatnya," ucap Wooil.
Flasdisk itu berisi rekaman video skandal Min Ji dan Pak Song Gae Nam. Di dalamnya juga ada beberapa karya tulis yang belum dipublikasikan.
"Rupanya kau sudah melihat isinya, ya," gumam Bitna.
"Terima kasih, Wooil. Kau selalu menyelamatkanku," ujar Bitna dengan tulus.
Bola mata gadis belia itu menatap ke arah pemuda tampan di hadapannya.
"Jangan seperti itu. Kau nggak boleh suka padaku, walau pun cuma salah paham."
Wooil membuang wajahnya dari pandangan Bitna.
"Kenapa? Aku jauh dari standarmu?" kata Bitna.
"Bukan...Tapi mungkin aja kita ini saudara," kata Wooil dengan sangat pelan.
"Apa?"
Bitna menghentikan langkah kakinya. "Kau masih mencurigai ayahmu dan ibuku?" ujarnya.
"Bukan curiga. Tapi buktinya memang ada. Ayahku banyak menyimpan foto ibumu di ruang kerjanya," kata Wooil.
Cowok itu menunjukkan beberapa foto yang ia ambil menggunakan kamera HPnya. Bitna terlihat shock.
"Beasiswa yang kamu terima, delapan puluh persennya juga dari ayahku," tambah Wooil.
"Kau serius?" Bitna tak percaya. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Kau beneran nggak tahu?" tanya Wooil.
"Nggak. Gimana aku bisa tahu?" ujar Bitna.
Seon Wooil yang semula ingin nenyerang gadis itu, berubah menjadi iba. Hatinya tak kuasa melihat gadis itu menangis terisak-isak.
"Gimana kalau seandainya kita memang bersaudara?" kata Bitna.
"Aku akan mengusirmu jauh-jauh dari Seoul, bahkan Korea. Seperti yang kulakukan sekarang," kata Wooil.
"Temukanlah Ayahmu, lalu hiduplah bersamanya. Jangan ganggu kami lagi," lanjut cowok itu.
"Eh? Dari mana kau bisa tahu soal itu?" tanya Bitna.
(Bersambung)