Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 7 - Culture Shock



Bitna membuka kelopak matanya lebar-lebar. Telinganya mendengar suara lantunan bahasa arab yang sangat kuat.


"Suara apa itu?" batin Bitna terkejut sekaligus takut.


Gadis Korea itu memandang ke sekeliling. Suara lantunan itu berasal dari luar gedung.


"Ah.. Aku lupa kalau sudah tinggal di negara orang. Aku benar-benar culture shock," gumam Bitna.


"Bitna, kau bangun cepat sekali? Apa terganggu dengan suara adzan?" ujar Tika yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"A-zan?"


"Iya. Suara lantunan yang sangat kuat itu adzan namanya. Panggilan ibadah untuk umat muslim," jelas Tika.


"Oh... "


Bitna baru menyadari, kalau di Indonesia terdiri dari beragam budaya dan keyakinan.


"Maaf ya kalau kau terganggu. Tapi kau akan mendengarnya setiap hari," kata Tika.


"Nggak, kok. Aku pasti akan terbiasa nanti," kata Bitna.


"Sekarang masih jam 04.43. Kau bisa tidur lagi, nanti aku bangunkan jam 05.30-an," usul Tika.


"Ah, nggak. Aku bisa bersiap dan melakukan hal lain. Bangun lebih pagi ternyata enak juga, ya," kata Bitna.


Remaja cantik itu kembali teringat dengan trman sekamarnya kemarin yang berasal dari Jeolla Selatan. Gadis daerah itu juga suka bangun pagi. Sepertinya Bitna juga akan sering bangun pagi.


...🍎🍎🍎...


"Selamat pagi, Eonni," sapa Yumna.


"Selamat pagi, Yumna. Kau membuatku berasa di Korea," kata Bitna sambil tersenyum manis.


"Tentu saja. Kan cita-citaku ingin menikah dengan oppa D... Omo! Mata kakak kenapa? Kok kayak panda gitu?"


Yumna berseru saking terkejutnya. Ia bahkan tidak sempat selesai menyebutkan nama biasnya.


"Aku cuma kurang tidur," jawab Bitna.


Tadi malam, ia dan Tika bercerita banyak tentang ayah. Mereka baru tidur larut malam.


"Nah, udah ku bilang. Kalau satu kamar dengan Kak Tika itu horor," celetuk Citra sambil memasang ikat pinggang.


"Horor gimana?" tanya Yumna penasaran. Perasaan tadi malam mereka baik-baik aja di kamar.


"Kak Tika itu..."


Jedug!


"Ngomong apa kalian?" Tika tiba-tiba muncul dan menghadiahkan sebuah bogem kepada Citra.


"Eh, anu..."


"Bitna, kau bisa pakai concelearku untuk menyamarkan lingkar hitam di matamu," kata Tika dengan sangat lambat, agar Bitna bisa memahaminya.


"Eeehhh? Kak Tika ada menyimpan make up? Emang boleh?" seru Citra dan Yumna bersamaan.


"Punyaku malah udah disita semua. Yang tinggal cuma bedak bayi. Huuuh..." kata Yumna.


"Nggak. Aku cuma menyimpan concelear dan lip gloss untuk keadaan tertentu," bantah Tika.


"Heee... Masa? Pasti ada maskara, blush on dan bedak padat juga, kan?" tuduh Citra.


"Siapa itu yang pake-pake maskara?" tanya Mbak Sheza yang tiba-tiba muncul.


"Nggak ada, Mbak. Mereka asal nuduh aja," jawab Tika.


"Ya udah, karena Mbak lagi senang pagi ini, kalian lolos deh," kata Mbak Sheza.


"Bitna, ini seragam untukmu."


Mbak Sheza memberikan beberapa seragam baru kepada Bitna. Ada yang putih abu-abu berlambang osis di sakunya, baju batik, baju pramuka, dan sebuah kebaya sunda berwarna putih untuk hari tertentu.


"Yah... Kak Bitna udah ganti seragam aja. Padahal aku suka banget seragam Korea Kak Bitna," celetuk Yumna.


"Aku malah penasaran lihat Bitna pakai baju kebaya," kata Julia yang baru saja bergabung.


"Aku juga penasaran ingin mencobanya," kata Bitna antusias.


"Yumna, kalau kau mau, baju seragam itu untukmu saja. Sepertinya ukuran badan kita sama," kata Bitna pada Yumna menggunakan Bahasa Indonesia yang cukup terbata-bata.


"Cheongmall?" tanya Yumna dengan mata berbinar.


"Hm...! Mullon imnida," Bitna menganggukkan kepalanya. "Aku punya tiga seragam," lanjutnya sambil mengacungkan tiga jari kanannya.


"Hei, udah jam 6.20, nih. Nanti kita bisa terlambat sarapan, cuma dapat kerak nasi," seru Julia mengingatkan.


"Ah, Tika, tunggu aku. Aku mau ganti baju dulu. " ujar Bitna menggunakan Bahasa Korea.


"Ha?" Tika melongo mendengar ucapan Bitna. "Bitna, aku nggak ngerti Bahasa Korea. Kau bisa bicara pakai Bahasa Inggris saja kalau bingung," ujarnya.


...🍎🍎🍎...


Ruang makan SMA Internasional Astana Nagara.


Sekolah yang hanya memiliki enam ratus siswa itu memiliki beberapa ruang makan yang cukup luas untuk menampung seluruh siswa. Ruang makan itu dibedakan berdasarkan kelas. Jadi, jangan harap bertemu kakak kelas saat jam makan.


Semua siswa di sini tinggal di asrama. Asrama putra dan asrama putri, dipisahkan oleh bangunan sekolah dan juga petugas keamanan yang berjaga ketat. Tetapi ketika belajar dan makan, para siswa pun membaur jadi satu.


Tika, Bitna dan Julia berjalan menyusuri meja prasmanan yang menghidangkan menu sarapan.


"Ini apa?" tanya Bitna.


"Ini nasi goreng sosis. Terus ini bubur ayam," jelas Julia.


"Hmmm... Agak mirip dengan dakjuk, ya?" komentar Bitna saat melihat bubur ayam.


Mereka lalu mengambil piring dan mengambil menu pilihan masing-masing. Bitna mengambil nasi goreng sosis dengan tambahan timun, tomat dan...


"Telur?" gumam Bitna sambil reflek menutup mulutnya.


Remaja itu kembali merasakan mual ketika melihat beberapa chef membuat omelet di belakang meja prasmanan. Omelet itu untuk pelengkap nasi goreng.


"Bitna, kau kenapa?" tanya Tika dan Julia cemas.


Wajah Bitna terlihat sangat pucat, dengan peluh mengalir di wajahnya.


Beberapa saat kemudian di kelas...


"Bitna, ini gorengan dan susu kedelai untukmu. Ku dengar kamu tadi nggak jadi sarapan." Alva meletakkan makanan yang disebutnya tadi di meja.


"Terima kasih," kata Bitna.


"Cieee.. . Ketua kelas perhatian, nih," goda teman-teman sekelas.


"Apaan, sih? Aku kan emang baik," bantah Alva. Telinganya memerah, menahan malu.


"Halah, mana ada. Waktu aku sakit cuma di kasih teh anget dari uks sama minyak telon," kata Flora.


"Bitna pasti masih belum terbiasa sama makanan di sini," kata Sri Devi yang duduk di depan Bitna.


"Nggak juga, sih. Aku cuma alergi telur," kata Bitna sedikit berbohong. Sebenarnya ia sendiri pun bingung kenapa ia selalu mual setiap melihat telur.


"Waduh, kamu bakalan susah di sini. Telur itu salah satu menu wajib di sini," kata Flora.


"Haah?" Bitna kembali pucat. "Gimana, nih?"


...🍎🍎🍎...


SMA Seodaemu-Gu, Korea Selatan, pukul 6 sore.


Tik! Tik! Tik!


Tetesan air di lantai kamar mandi menggema ke seluruh ruangan di bangunan lama. Para siswa sebagian besar sudah meninggalkan sekolah. Tapi beberapa siswa kelas tiga masih berada di ruang belajar, untuk mengikuti kelas malam.


"Hiks... Hiks... Hikss..."


Suara tangisan wanita misterius turut terdengar dari salah satu toilet paling ujung.


"Kau mendengarnya?" kata seorang murid perempuan yang berjalan di lorong.


"Iya, jelas sekali. Siapa yang menangis di toilet sekolah?" balas murid perempuan lainnya.


"Apa ada anak yang dibully? Coba kita lihat?" ajak salah seorang di antara mereka.


"Hah? Nggak ah. Ini udah hampir gelap. Kalau itu bukan manusia gimana?" larang murid perempuan berkaca mata.


"I-iya juga," kata yang lain.


"Nggak mungkin. Sekolah kita kan nggak punya cerita mistis kayak gitu, selain gedung laboratorium yang terbakar."


"Aku mencium bau darah. Apa kalian juga?"


Ceplak! Tiba-tiba sepatu mereka memijak suatu genangan benda cair.


"I-ini, kan? Darah?"


(Bersambung)