
"Aku mau menawarkan sesuatu yang menarik padamu. Aku bisa memberimu akses untuk bertemu para idolamu, terutama Kim Hyun Seung," kata Jun Hyeon dengan tatapan licik.
"Ternyata yang dibilang Bitna benar. Pria ini membuka pintu yang lebar untukku. Tetapi dia kuga sangat mengerikan. Kapan dia mencari semua informasi tentang diriku?" gumam Risa dalam hati.
Gadis remaja itu memindahkan tangan kirinya ke dalam laci. Ia menghindari pandangan Jun Hyeon, yang menatap jemarinya yang dipenuhi peluh.
"Jadi, apa yang perlu aku lakukan? Apa aku juga bisa bertemu dengan aktor lainnya?" tanya Risa setelah beberapa detik hening.
Jun Hyeon pun tersenyum puas, "Dasar cewek bodoh. Dengan satu bayaran murah saja dia sudah tergoda," pikir Jun Hyeon.
Ternyata tidak sulit untuk menghancurkan Seo Bitna, walau pun di negara lain.
"Kau hanya perlu menyebarkan gosip ini. Semua orang pasti akan percaya dengan sedikit bukti yang ku berikan." Park membisikkan sebuah rencana untuk melawan Bitna dengan telak.
"Baiklah..." gumam Risa. Ia menatap mata pria itu cukup lama.
Park Jun Hyeon tertawa kecil. Kemenangan sudah di depan mata. Secara perlahan, Bitna akan kembali hancur. Dia tidak akan bisa menyelesaikan studinya di Indonesia, jika gosip ini tersebar.
"Baiklah... Aku sudah memutuskan untuk menolaknya," lanjut wanita dengan rambut ikal kecoklatan itu.
"Apa?" Jun Hyeon sedikit marah. Ia tak percaya dengan yang barusan didengarnya.
"Aku menolak tawaranmu," kata Risa dengan tegas.
"Kenapa? Tawaranku belum cukup bagus? Atau kau meragukannya?" tanya Jun Hyeon sambil menahan emosinya.
"Nggak. Aku percaya kok, kau punya segalanya. Kau bisa mengabulkan semua itu dengan mudah. Tapi aku tidak menjual harga diriku demi bertemu para idola itu," kata Risa.
"Kenapa? Bukankah itu tawaran yang sangat bagus?"
"Memang. Tapi tujuan hidupku bukan hanya demi idol semata. Berkat seseorang, aku jadi menyadarinya. Aku tidak mau menyebarkan gosip murahan itu demi para aktor tampan yang tidak ku kenal langsung selama ini," jelas Risa.
"Brengsek! Cewek jelek macam dirimu saja terlalu banyak gaya," bentak Jun Hyeon. "Kau pasti akan menyesal nanti. Tawaran ini nggak akan datang dua kali."
"Silakan pergi dari sini, sebelum kupanggilkan petugas keamanan. Kau jangan lupa, kalau kau cuma pendatang di sini. Sama sekali nggak punya kuasa," usir Risa secara frontal.
"Hei, Park Jun Hyeon! Ayo pergi. Waktu kita sudah habis. Mereka tadi cuma memberi izin selama lima belas menit," seru salah seorang siswa dengan logat Jepang yang kental.
"Haaah.. Syukurlah, dia pergi," gumam Risa sambil memandang punggung kedua siswa asing itu.
Jemari tangan kiri Risa menekan tombol save dan off pada sebuah recorder. Ternyata dia diam-diam merekam pembicaraan dengan Park Jun Hyeon tadi.
...🍎🍎🍎...
"Ayo, turun. Mau nunggu apa lagi?" Tuan Kim memaksa Min Ji untuk turun dari mobilnya.
"Aku tidak mau!" seru Min Ji.
"Kau mau jadi apa kalau nggak sekolah? Cantik dan kaya saja tidak cukup! Apa kau mau buka panti pijat plus plus kalau sudah tua?" omel Tuan Kim.
"Kan semua salah Papa sendiri. Memaksaku kembali ke sekolah. Uang Papa banyak. Tapi masa untuk membiayaiku sekolah di luar negeri saja nggak mau?"
Plak! Min Ji mendapatkan hadiah sebuah tamparan di pipi kanannya.
"Papa tidak mau berdebat denganmu lagi. Jadi segeralah turun dari sini," usir Tuan Kim.
Beberapa saat kemudian...
"Apa dia mayat hidup? Lihatlah wajahnya, pucat banget," seru beberapa siswa lainnya.
"Jadi berita itu, benar? Kalau dia nggak mati dan pergi berlibur?"
"Masih punya muka dia kembali lagi ke sini?"
Min Ji habis dicaci oleh para siswa yang memandangnya dengan tatapan aneh. Beberapa dari mereka tak segan-segan mencibir wanita itu.
"Hai, Chae Rin." Kim Min Ji tersenyum lega ketika melihat Ahn Chae Rin berjalan menuju ke kelas.
"Wooil, tunggu aku! Apa kau sudah mengerjakan PR hari ini?" Chae Rin melewati Min Ji begitu saja. Ia sama sekali tidak menoleh kepada mantan sahabatnya itu.
"Aku nggak mau memberimu contekan lagi. Pergi sana!" usir Seon Wooil.
"Kau pasti nggak bisa membiarkan permintaanku begitu saja. Apalagi kalau sudah ku kasih yang enak-enak," bujuk Chae Rin.
"Brengsek! Kau ngomong apa, sih? Jangan bikin orang salah paham?" maki Wooil. Ahn Chae Rin hanya terkekeh melihat reaksi dari teman cowoknya itu.
Kim Min Ji berjalan sendirian hingga memasuki kelas. Ia hanya menundukkan kepala. Tidak ada seorang pun yang menyapa, apalagi menyambutnya. Semuanya acuh terhadap dirinya.
"Chae Rin, kok kamu jahat banget, sih? Temanmu kembali ke sekolah, tapi malah dicuekin terus?" ucap beberapa orang murid laki-laki.
"Yang kalian maksud siapa, ya? Dulu kan ada seseorang yang memutuskan hubungan sepihak denganku? Aku ternyata tidak ada dalam dadtar temannya," jawab Chae Rin lantang.
Kim Min Ji semakin menundukkan kepalanya. Kalau bukan karena ucapan papanya tadi, dia pasti tidak akan masuk sekolah.
"Hidup kita sangat bergantung padamu. Kalau kau nggak kembali sekolah, artinya kau semakin menghancurkan citra papa dan mamamu ini. Lalu kita akan dikucilkan dari negara ini. Apa kau mau jadi anak durhaka dan gelandangan?" Begitu kata Tuan Kim tadi, ketika memaksa Min Ji untuk sekolah.
"Hei, cowok-cowok. Kenapa nggak kalian aja yang berteman dengannya? Bukannya kalian para peia menyukai visual yang menarik untuk dipandang?" kata Chae Rin pula.
"Kau menyuruh kami berteman dengannya? Dengan bekas Pak Guru kita? Kami masih cukup waras untuk mencari wanita lain yang masih suci dan bersegel," kata para cowok itu.
Sudut mata Kim Min Ji basah. Ia tak kuasa menahan rasa sedihnya. Remaja perempuan itu merasa sangat terhina di kelas. Bahkan para cowok di kelas sudah tidak percaya, kalau dia sebenarnya memang masih perawan.
...🍎🍎🍎...
"Gimana jadinya anak itu? Apa dia sudah kembali ke sekolah?" tanya Tuan Seon pada salah satu ajudannya.
"Sudah Tuan. Anak bernama Kim Min Ji itu telah masuk sekolah sampai sore hari," jawab sang ajudan.
Tuan Seon tersenyum tipis, "Bagus. Ada baiknya juga rencana itu dijalankan," ujarnya.
"Pantas Tuan Kim benar-benar tunduk pada perintah Tuan? Ternyata semua ritel usahanya terhambat, jika tidak patuh? Saya aemoat heran dengan perubahan Tuan Kim yang begitu drastis. Dia dan istrinya kan terkenal arogan?"
"Sebenarnya tidak ada hubungannya kebijakan pemerintah dengan ancamanku, jika semua surat menyurat mereka lengkap," sahut Tuan Seon.
"Masalahnya adalah, beberapa barang milik mereka adalah ilegal. Itu sebabnya ritel usaha mereka dicekal sementara. Dan kesempatan ini kugunakan untuk memberi pelajaran pada gadis sombong itu," lanjut Tuan Seon.
"Kenapa dia tidak diberhentikan saja?" tanya sang ajudan.
"Aku ingin dia mendapatkan sanksi sosial. Dia harus merasakan, apa yang dirasakan Seo Birna dulu," ucap Tuan Seon datar.
(Bersambung)