Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 53 - Ketika Mendengarnya



"Kau sendiri? Apa cita-citamu? Apa kau juga ingin menjadi dokter seperti ayah dan ibumu?" balas Bitna.


"Cita-citaku adalah menjadi imammu nanti," gumam Alva dengan sangat lirih.


"Apa?" Bitna mengerutkan kening, hingga kedua alisnya bertaut.


"Aku tidak mau jadi dokter." Alva buru-buru menukar jawabannya.


"Kenapa? Nilai-nilaimu kan bagus," kata Bitna.


"Kalau orang setampan aku menjadi dokter, nanti pasien-pasiennya nggak sembuh-sembuh," sahut Alva dengan ekspresi datar.


"Lho, kok gitu?" tanya Bita semakin bingung.


"Karena mereka pasti akan datang lagi untuk bertemu denganku. Terutama pasien perempuan," jawab Alva masih dengan wajah lempengnya.


"Makanya, aku mau jadi dosen saja. Biar mahasiswaku rajin datang ke kelas," lanjutnya dengan percaya diri level 10/10.


"Syalan! Pede banget, Lu. Emangnye cuma Lu doang yang cakep di mari," kata Bitna dengan logat Betawi, yang ia pelajari dari Sundari.


Alva tertawa lepas, mendengar gadis Seoul yang sudah Indonesia banget itu.


Sementara Bitna memandang bola mata Alva yang indah, dengan warna kecoklatan yang cemerlang. Serta kelopak mata ganda dan bulu mata cukup lentik bagi para laki-laki.


Gadis remaja itu sengaja tidak menjawab Alva tentang menjadi imamnya tadi. Tentu saja Bitna mendengarnya dengan sangat jelas. Jarak mereka hanya sekitar tiga jengkal.


Akan tetapi, perempuan ras Asia Timur itu sudah mengerti maksud Alva secara mendalam. Ia sudah sering mendengar kata "menjadi imam" atau "menjadi makmum" dari teman-teman muslimnya. Hati Bitna pun bergejolak.


...🌺🌺🌺...


"생일 μΆ•ν•˜ν•΄μš”, μ„œλΉ›λ‚˜"


"Selamat ulang tahun, Seo Bitna."


Bitna mematung di depan pintu asrama, melihat suasana kamar berubah menjadi seperti suasana musim semi di Korea. Air mata mengalir tanpa izin, di pipinya yang sedikit chubby.


"Kapan kalian bikin ini semua? Kan kita sama-sama sekolah," ujar Bitna tak bisa menyembunyikan rasa harunya.


"Eits, rahasia negara itu, mah," celetuk Yumna seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Selamat, ya. Kakak udah tambah tua," kata Citra dan Afie.


Kedua remaja tersebut memegang sebuah nampan besar, yang berisi beragam makanan dan lilin angka enam belas di salah satu sisinya.


"Woah! Apa ini? Harum banget!" kedua bola mata Bitna berbinar melihat makanan berwarna warni tersebut.


"Ini namanya nasi tumpeng. Kalau di Indonesia, beberapa perayaan itu menggunakan tumpeng. Nanti sebelum makan potong tumpeng dulu," jelas Tika.


Atika menunjuk nasi kuning yang berbentuk kerucut itu. Di sekelilingnya terdapat sayur urap, ayam bakar, tahu tempe goreng, mi goreng bihun, telur pindang, sambal hati kentang dan kerupuk. Beragam warna makanan tersebut membuat tampilannya sangat cantik.


"Oh, gitu..." gumam Bitna. Lidahnya terdengar berdecap menahan air liurnya.


"Kakak nggak usah khawatir. Aku juga udah siapin sup rumput laut, kok," kata Yumna sambil mengeluarkan sebuah mangkok dari kamarnya.


"Tapi ini semua berlebihan banget nggak, sih? Aku tahu uang jajan kalian juga pas-pasan," kata Bitna.


"Tenang aja. Uang jajan kami sama sekali nggak terganggu, kok. Ini nggak terlalu mahal kayak cake," ucap Citra.


"Kakak kan sebentar lagi mau pulang ke Korea, jadi kita harus bikin perayaan, dong," ucap Yumna menambahkan.


"Masih lama kali...? Aku masih sebulan lagi disini kok, sampai setelah kenaikan kelas," sahut Bitna. Gadis itu tidak bisa lagi menampung air matanya.


"Besok kalau kakak pulang ke Korea jangan lupakan kami ya," ucap Yumna dengan nada manja.


"Hei, mana bisa aku melupakan bocah-bocah tengil seperti kalian," ucap Bitna tertawa lebar.


"Tapi besok cita-cita aku mau kuliah di Korea, kok. Mau ketemu sama oppa-oppa biasku dan Kak Bitna juga," ujar Yumna lagi.


"Hei, kalau mau kuliah di luar negeri itu belajar, bukan menonton drakor tiap malam," Julia menyentil lengan adik sekamarnya itu.


"Itu kan aku lagi belajar Bahasa Korea, Kak," ucap Yumna membela diri.


"Halah, alasan. Memangnya nggak cukup kamu belajar langsung sama Bitna?" protes Citra.


"Ya kan sambil refresh isi kepala," balas Yumna lagi.


"Guys, btw kapan kita makan, nih? Cacing di perutku udah pada pingsan. Lagian sup rumput lautnya juga udah mulai dingin," kata Afie sambil mengelus perutnya yang ramping.


"Iya, nih. Aku juga udah nggak sabar cobain nasi tumpengnya," kata Bitna.


"Potong tumpeng dulu, apa makan sup rumput laut dulu, nih?" tanya Tika.


Brak!!! Tiba-tiba pintu asrama terbuka lebar.


"Kalian ngapain?" seru wanita berjilbab biru yang datang tiba-tiba.


"Mbak Sheza...!"


"Waduh, gawat! Ketahuan pengawas asrama nih. Pssti bakal kena hukuman," batin para penghuni asrama mawar tersebut.


"Kalian ngapain, sih, bikin acara nggak ngajak-ngajak? Kita kan juga mau ikut."


Di belakang Mbak Sheza muncul Flo, Devi, Sundari. Flo terlihat membawa sebuah kotak cake ulang tahun.


"Kalian... Huaaaaa..."


"Lah, Bitna? Kok malah nangis? Maaf Mbak tadi bentak kamu," kata Mbak Sheza panik.


...🌺🌺🌺...


"Alva, tolong letakkan bukunya di sini. Terima kasih, ya." Salah seorang guru meminta bantuan Alva untuk membawa beberapa buku dari perpustakaan.


"Baik, Bu. Apa ada yang perlu dibantu lagi?" tanya Alva.


"Nggak ada. Kamu udah bisa ke kelas."


Alva pun undur diri dan hendak menuju kantin, mumpung masih jam istirahat. Tapi sedetik kemudian langkah kakinya terhenti. Sudut matanya menangkap bayangan seorang gadis berambut indah, yang tengah berdiri di depan ruang guru.


"Ngapain dia di sini? Gangguin, ah," pikir Alva dalam hati. Jiwa jahilnya meronta-ronta.


"Hei, Wooil! Kau ngomong apa barusan? Kau nggak senang mendengar aku mau pulang? Takut ya, posisimu sebagai juara umum bakal ku rebut lagi?" ujar Bitna melalui sambungan telepon.


Alva berdiri mematung. Ia sudah mendengar yabg seharusnya tidak ia ketahui.


"Apa? Bukannya kau bilang waktu itu nggak asik, kalau nggak ada aku? Awas ya nanti, kalau aku pulang!" seru Bitna lagi.


Entah apa yang mereka bicarakan di telepon, tetapi Alva tidak ingin mengganggu tawa bahagia dari wanita itu.


(Bersambung)