
"Seo Bitna sakit?" Mbak Sheza jalan tergopoh-gopoh ke asrama mawar. Perempuan paling penyabar di asrama wanita itu tidak sendirian. Dia bersama seorang dokter dari klinik sekolah.
"Tika, Seo Bitna kenapa? Bukannya tadi dia baik-baik aja?" ucap Mbak Sheza cemas, melihat salah satu anak asramanya meringkuk ketakutan di tempat tidur.
"Aku juga nggak tahu, Mbak. Tadi kami ketemu seseorang, lalu..." Tika pun menceritakan pertemuan mereka dengan pria asing itu.
"Bitna sepertinya hanya shock saja. Mungkin ia punya trauma dan pengalaman buruk terhadap pria itu," ucap dokter.
"Jangan takut, Bitna. Ceritakan semuanya pada kami. Kami pasti akan melindungimu," kata Mbak Sheza.
"Benar. Di sini kita semua saudara, kamu jangan merasa sendirian," kata Tika.
"Terima kasih, semuanya," ucap Bitna dengan suara lirih.
Gubrak!
"Kak Bitnaa... Kakak kenapa...?" Tiga cewek krucil yang tiba-tiba masuk ke asrama.
"Hei, kalian. Aku nggak apa-apa, kok. Maaf sudah bikin kalian khawatir," ucap Bitna.
"Ini ada rendang daging sama keripik ubi balado." Afie menyodorkan dua kotak bekal berisi penuh makanan.
"Mamaku juga bawa ayam kecap sama tempe bacem, nih," kata Yumna pula.
"Kalau mamaku nggak ada masak apa-apa karena sibuk. Tapi ada banyak beli snack untuk stok camilan kita," kata Citra. Kedua tangan gadis yang tinggi semampai itu penuh dengan plastik dari snack dan cake merk mahal.
"Wow! Kita mau buka bazar makanan, ya?" kata Julia yang baru saja masuk. Ia hanya menenteng sekantung buah jeruk di tangan kanannya.
Memang, anak kelas dua sudah lebih santai dan terbiasa dengan suasana asrama. Jadi ketika kunjungan siswa, mereka pun tidak banyak request lagi.
"Satu-satu, dong. Kalau kayak gini yang ada Bitna malah sakit karena kebanyakan makan," tambah Tika.
Bitna hanya diam tanpa merespon kehebohan itu. Air matanya mengalir deras hingga tubuhnya terguncang.
"Loh, Bitna? Kamu kenapa?" semua orang di sana semakin bingung.
"Terima kasih semuanya, sudah menganggap aku yang berbeda ini sebagai orang keluarga," bisik Bitna sambil terisak dalam tangisnya.
"Ututu... Jangan nangis, dong. Aku juga ikutan sedih, nih. Apalagi belum gajian," ucap Mbak Sheza.
"Yaelah, Mbak. Itu mah konteksnya beda," celetuk Julia.
Bitna hampir saja tersedak karena melihat beragam tingkah aneh teman-temannya.
"Memangnya, sebenarnya ada apa, sih? Mbak jadi kepo?" kata Mbak Sheza.
Bitna lalu menceritakan semuanya. Mulai dari hadiah misterius, stalker aneh hingga ciuman yang ia lihat di ruang penyiaran sekolah.
"Wah, itu sih parah banget. Mengerikan," komentar Citra yang duduk bersimpuh sambil mengunyah kripik ubi.
"Benar. Pantes aja kakak jadi ketakutan begitu. Motifnya gak jelas banget. Itu kalau dilaporkan bisa kena hukum pidana, loh," kata Yumna.
"Emangnya dia seganteng apa, sih? Lebih ganteng mana sama guru Fisika kita?" tanya Afie penasaran.
...🍎🍎🍎...
"Anyeong, Bitna. Gimana kabarmu di sana," ucap paman dan bibi melalui video call.
"Anyeong hasimnika, paman dan bibi. Aku di sini baik-baik saja," ucap Bitna sambil tertawa riang.
"Gimana makanmu di sana? Kelihatannya kau bertambah gemuk," ucap bibi.
"Semua makanan di sini enak, Bi. Paman dan bibi harus mencobanya, pasti langsung suka," kata Bitna.
"Oh ya? Paman jadi penasaran gimana rasanya?" komentar paman.
"Paman dan bibi harus coba rendang dagingnya. Enak banget. Dagingnya empuk, bumbunya meresap," kata Bita sambil mengangkat wadah makanan milik Afie.
"Apakah seenak bulgogi?" tanya bibi.
"Wah... Sepertinya Bitna sudah 'Indonesia banget', ya. Padahal baru beberapa minggu di Indonesia," kata paman.
"Syukurlah, Bibi senang banget lihat kamu happy di sana," ucap Seo Dami.
"Eonnie, sudah punya pacar apa belum di sana?" celetuk Ara yang baru aja muncul.
"Hah? Kau ngomong apa, sih?" kata Bitna dengan wajah merah padam.
"Yeee... kenapa malu? Cowok di sana cakep-cakep, nggak?" ucap Ara.
"Cowok aja yang ada dipikiranmu. Makanya kau hanya bertahan di peringkat lima belas di kelas," omel paman Do Hyun.
"Ih, Ayah nggak asik, deh," kata Ara sambil berlalu pergi.
"Hhmmm... Tapi Bibi juga penasaran, apa benar nggak ada cowok yang dekat denganmu di sana? Kamu kan cantik dan manis?" kata bibi.
Sekelebat bayangan pun muncul di dalam kepala Bitna. Pria tampan yang selalu memarahinya tapi juga tulus membantunya. Dan seorang pria dari tanah asing yang selalu ada di saat ia sakit.
"Duh, kenapa aku malah teringat pada kedua cowok itu, sih?" gumam Bitna.
"Bitna, kenapa diam? Jadi benar ada seseorang yang mulai mengisi hatimu?" tanya bibi dengan rasa penasaran memuncak.
"Ah... Bibi apaan, sih? Aku ke sini kan untuk belajar dan mencari Ayah. Bukan untuk pacaran," Bitna menutup wajahnya dengan bantal.
"Loh, asal studimu bagus, kan nggak apa-apa kalau kau punya teman curha eksklusig
"Paman, Bibi, udah dulu ya..." kata Bitna kemudian.
"Yah... Kok dimatiin? Kan belum di jawab," kata Bibi kecewa.
"Lagian kau kenapa ngomong gitu sih sama Bitna? Dia pasti malu banget sekarang," ujar paman memarahi Seo Dami.
"Duh, sayangku. Sekali-kali menggoda Bitna kan nggak apa-apa. Ternyata seru banget mihat wajah merah meronanya," kata bibi sambil tertawa kecil.
...🍎🍎🍎...
"Yang tadi itu adikmu? Cantik banget, ya?" kata Tika.
"Iya, adik sepupuku," ucap Bitna.
"Sepertinya kau dekat banget sama keluarga paman dan bibimu," ujar Tika sambil mengupas jeruk pemberian Julia.
"Yah... Hanya mereka keluargaku yang tersisa," kata Bitna dengan lirih.
Beberapa detik berikutnya, suasana senyap tanpa ada kata. Tika dan Bitna tenggelam ke dalam pikiran mereka masing-masing. Rasa sedih dan kesepian dari kehilangan orang yang mereka sayangi, terasa melekat di dalam setiap denyut nadi.
"Hei, Tika. Sepertinya aku punya ide menarik untuk membalas perlakuan Park Jun Hyeon," ucap Bitna kemudian. Ia sengaja mengalihkan pikirannya agar tidak larut dalam kesedihan.
"Oh, ya? Dengan cara apa?" tanya Tika penasaran.
"Tapi sebelumnya, apa kau mengenal Risa dan Nelvi?" tanya Bitna.
"Risa dan Nelvi?" Tika berpikir sejenak. "Apa maksudmu Nurma Harisa yang pakai behel gigi, dan Nelvi Ratna Putri yang bertubuh gempal itu?" lanjutnya.
Bitna mengangguk kuat, "Iya, itu mereka," sahutnya.
"Tapi apa hubungannya dengan mereka?" tanya Tika tak mengerti.
Bitna pun membisikkan sesuatu ke telinga Tika.
"Wah, kocak itu," kata Tika mengangguk setuju. "Jadi kapan mau di realisasikan?" lanjut gadis manis itu lagi.
"Secepatnya. Aku butu bantuan kalian semua, terutama Yumna," ujar Bitna.
(Bersambung)