
Tuut... Tuut... Ceklek.
"Halo?"
"Halo, Bi... Ini aku, Bitna."
"Oh, Bitna. Gimana kabarmu, Nak?" tanya bibi antusias.
"Aku baik-baik aja, Bi. Aku sudah di asrama baru," jawab Bitna. "Bagaimana kabar paman dan bibi di sana?" tanyanya.
"Kami semua sehat di sini. Pekerjaan pamanmu juga lancar. Gimana teman-temanmu, Nak?"
"Mereka semua baik, Bi. Aku senang," kata Bitna.
"Syukurlah kalau begitu. Bibi jadi tenang di sini. Lalu gimana dengan ayahmu? Apa sudah ada kabar?" tanya bibi.
"Soal itu... Aku belum sempat mencari tahu, Bi. Aku masih sibuk dengan kegiatan di sekolah. Tapi Bapak dan Ibu guru di sini berjanji akan membantu," kata Bitna.
"Baiklah, Nak. Jaga dirimu di sana," kata bibi sebelum menutup telepon.
Baru saja Bitna menyudahi percakapannya dengan sang bibi, Mbak Sheza pun datang dan meminta mereka berkumpul di ruang belajar.
"Halo, adik-adik. Selamat malam, semua. Aku Sheza Illona..."
"Udah kenal, Mbak," potong Citra.
"Ish! Ganggu kebahagiaan orang aja. Nanti mbak potong subsidi mi instan baru tahu rasa," gerutu Mbak Sheza. Bibirnya manyun tujuh senti meter ke depan.
"Ih, Citra bikin gara-gara, nih," gerutu anak-anak.
"Citra emang mulutnya gitu, Mbak. Belum lulus TK," celetuk Yumna.
Semua membela Mbak Sheza demi sekotak mi instan.
"Nah, jadi karena kedatangan teman baru, Mbak akan mengingatkan kembali aturan di asrama kita," lanjut Mbak Sheza.
"Pertama, setiap anggota wajib menjaga kebersihan dan ada jadwal piketnya. Citra, jangan nyimpen sampah gopud di bawah tempat tidur lagi, ya."
"Iya Mbaaakkk..."
"Terus yang kedua, HP kalian Mbak simpan. Kalian cuma boleh memegangnya hari minggu selama dua jam," kata Mbak Sheza menjelaskan peraturan kedua.
"Oke, Mbak," jawab anak-anak serempak.
"Yang keempat..."
"Ketiga, Mbak," ralat Julia.
"Oh, iya. Yang ketiga, sarapan pagi di mulai jam enam sampai jam tujuh. Yang telat gak bakal kebagian. Afie, pasang bom atom dekat telingamu."
"Heheheh..." Afie hanya cengengesan saja mendengarnya.
"Terus yang keempat, komputer di ruang belajar ini boleh digunakan bergantian untuk membuat tugas. Setiap orang hanya boleh menggunakan selama satu jam. Jangan ada yang bablas nonton drakor dan anime," kata Mbak Sheza.
"Nah, kalau gitu..."
"Loh, udah Mbak?" tanya Tika memotong ucapan Mbak Sheza.
"Oh iya kelupaan. Jam malam cuma sampai jam sepuluh, ya. Jangan ada yang curi-curi ketemuan sama anak asrama cowok," ujar Mbak Sheza mengingatkan.
"Gimana Bitna, sudah paham?" tanya Mbak Sheza pada anggota baru.
Dddoooeeeng!!! Bitna hanya melongo tanpa berkata apa-apa. Ekspresinya begitu datar, tak menunjukkan reaksi apa-apa.
"Bitna, kamu nggak heng, kan?" kata Tika khawatir.
"A-aku nggak paham apa yang kalian bicarakan. Hanya mengerti satu dua kalimat aja," kata Bitna dengan raut wajah sedih.
"Lahh..." kata Mbak Sheza.
"Ya sudah. Nanti ku jelaskan lagi pelan-pelan," kata Bitna.
"Yodah kalo gitu, sekarang waktunya kalian belajar. Sampai jumpa besok pagi," kata Mbak Sheza lalu meninggalkan asrama mawar.
...🍎🍎🍎...
Tik! Tok! Tik! Tok!
Jarum panjang jam dinding bergambar kucing robot itu bergerak perlahan. Mengitari angka-angka yang berbaris melingkar berulang kali.
Suasana gedung asrama lantai empat itu pun semakin sunyi. Bahkan desir pasir yang tersapu angin malam pun bisa terdengar.
Tika membuka kembali kelopak matanya. Semua gelap gulita. Lampu kamar telah padam. Tapi Tika merasa, ada yang tidak beres dengan temannya.
"Di sini panas ya, Na?" ujar Tika.
"Eh, kamu belum tidur?" Bitna membalikkan badannya ke arah Tika.
"Belum. Sepertinya kamu butuh teman," sahut Tika.
"Maaf kalau aku menganggu tidurmu. Aku memang begini kalau tidur ditempat baru," kata Bitna.
"Apa perlu ku nyalakan kembali lampunya?" tanya Tika memberikan tawaran.
"Apa tidak menganggumu?"
"Nggak, kok. Aku fleksibel aja. Tapi mungkin kita bakal kena periksa petugas keamanan malam," kata Tika.
"Hehehe... Ketat juga ya peraturan di sini. Aku baru pertama kali tinggal di asrama," kata Bitna.
"Nanti lama-lama pasti terbiasa," kata Tika. "Apa kau nggak bisa tidur karena merindukan ayahmu, Bitna?"
"Eh, dari mana kau tahu?"
"Maaf, aku nggak sengaja mendengarmu saat menelepon bibimu tadi. Dan juga obrolan guru-guru di kantor," kata Tika.
"Oh.. Nggak apa-apa. Tapi memang, salah satu tujuanku ke sini memang mencari ayahku," kata Bitna.
Untung saja saat itu suasana kamar sedang gelap gulita. Tika tidak bisa melihat mata Bitna yang berkaca-kaca.
"Semoga kalian bertemu kembali, ya. Kalau aku, meski pun rindu sudah nggak bisa ketemu lagi. Ayahku udah pergi selamanya, tanpa sempat menitip pesan padaku," kata Tika.
"Eh?" Bitna terperanjat mendengarnya.
(Bersambung)