Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 27 - Balas Dendam yang Manis



"Ternyata nasinya banyak banget, yah? Aku jadi kenyang, nih," ucap Bitna sambil menepuk-nepuk perut yang buncit.


"Aku juga nggak nyangka kalau kamu suka banget. Sampe sambel sama dendengnya abis," kata Alva.


"Heheheh... Abisnya enak, sih?" Bitna tertawa malu.


Alva tersenyum melihat wajah gadis itu kembali bersinar, "Besok-besok, kita pesan menu yang beda lagi, yuk. Ajak Zay dan teman-teman juga," ajak Alva.


"Boleh aja, sih. Tapi jangan ditraktir lagi. Bisa bangkrut kamu nanti," ujar Bitna mengingatkan.


"Kalau gitu, kamu yang gantian traktir aku," ucap Alva. Pria manis itu mengedipkan sebelah matanya.


"Siapa takut?" kata Bitna. Gadis itu memutar lehernya ke samping. Menghindari kontak mata dengan sang juara umum di sekolah itu.


"Tapi kalau lemakku bertambah gara-gara kamu ajak makan terus, harus tanggung jawab, ya," ujar Bitna bersemangat.


"Tenang aja. Aku pasti bakal tanggung jawab, kok. Tinggal kamu sebut aja gimana caranya. Aku pasti tanggung jawab, kok." Alva mendekatkan wajahnya pada Bitna, membuat detak jantung Bitna berdetak bagai genderang topeng monyet.


"Dia sadar nggak, sih? Ucapannya itu bikin ambigu?" kata Bitna dalam hati.


"Sekarang kamu udah sehat, kan? Kita jalan-jalan sebentar, yuk, sebelum ke kelas. Kamu mau mengikis lemak, kan?" Cowok itu mengulurkan tangannya, untuk membantu Bitna berdiri dari tempat tidur.


"Jalan-jalan ke mana?" tanya remaja perempuan itu.


"Ke klinik sekolah. Aku mau kembalikan HP milik Bu Dokter ini. Tadi sengaja dipinjamkan padaku untuk jaga-jaga," ucap Alva.


"Oh, jadi itu HP milik Bu Dokter?" gumam Bitna dalam hati.


...🍎🍎🍎...


Bitna menghirup udara segar yang berhembus pelan. Sinar matahari masih terik seperti tadi. Tidak, bahkan mungkin lebih terik lagi.


Kedua remaja itu berjalan menyusuri koridor dan anak tangga. Beberapa kali mereka berbelok ke arah gedung lainnya. Suasana masih cukup sepi. Para siswa masih belajar di dalam kelas. Hanya ada beberapa guru yang berlalu lalang.


"Ini pertama kalinya aku berjalan ke sini. Kompleks sekolah ini beneran luas banget, ya?" kata Bitna memecah keheningan.


"Dulunya lahan sekolah ini adalah tanah milik pemerintah Belanda. Lalu dibeli oleh saudagar lokal asal Batavia," cerita Alva.


"Batavia?" Kening Bitna berkerut. Ia tidak pernah mendengar nama itu.


"Jakarta. Dulu namanya adalah Batavia," Jelas Alva.


"Oh... Lalu?" Bitna penasaran dengan kelanjutan ceritanya.


"Setelah Indonesia merdeka, ia pun mendirikan sekolah megah ini untuk kalangan menengah ke atas. Tapi sayangnya, malah jadi tempat praktek para tukang bully," lanjut Alva.


"Astaga..." gumam Bitna.


"Jadi sekarang oleh cucu pendiri tersebut, manajemen sekolah kita diganti seperti sekarang," kata Alva mengakhiri ceritanya.


"Luar biasa... Ternyata sejarah sekolah ini panjang banget. Jadi cerita arwah wanita yang di pohon beringin itu cuma legenda?" kata Bitna.


"Itu beneran. Maksudku bukan arwahnya. Tapi kejadiannya," ujar Alva.


"Seo Bitna, kenapa kamu berjalan di sini?"


Seorang pria menegur Bitna dengan Bahasa Korea. Bitna mundur satu langkah ke belakang ketika mereka bertemu tatap. Tentu bisa kalian tebak, itu adalah Park Jun Hyeon.


"Itu bukan urusanmu. Ini sekolahku sekarang. Kamu yang cuma menumpang di sini," kata Bitna dengan suara bergetar. Ia juga menjawabnya dengan Bahasa Korea.


"Maksudmu di sekolah ini cuma pacaran?" Sindir Jun Hyeon sambil memandang sinis ke arah Alva.


"Jangan mengganggu Seo Bitna. Tetaplah fokus pada perlombaanmu," jawab Alva sambil menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Bitna berlindung di belakangnya.


"Loh, Alva bisa Bahasa Korea dengan lancar?" pikir Bitna terkejut. Satu lagi keunikan pria itu ia ketahui.


"Itu bukan urusanmu. Segera lah pergi dari sini, sebelum aku panggilkan keamanan," ancam Alva tanpa rasa takut.


"Huh, kau salah paham. Dia itu teman sekolahku di Korea. Kami cukup akrab," kata Jun Hyeon tidak menyerah.


"Aku nggak akan tertipu dengan ucapanmu. Bitna tidak akan ketakutan kalau hubungan kalian dengan baik," balas Alva lagi.


"Tinggalkan kami berdua. Aku ingin bicara dengannya," ucap Jun Hyeon dengan nada memerintah.


"Bicara di sini saja. Aku akan mengawasimu dari dekat, agar tidak bisa menyakiti Bitna," balas Alva tak mau mengalah.


"Ini privat. Apa di sini tidak ada yang namanya ruang pribadi?" kata Park Jun Hyeon.


"Bicara di sini saja. Ini menjadi urusannya juga," kata Bitna.


"Jadi aku boleh bicara, kalau kau dulu hampir membunuh seseorang?" kata Jun Hyeon dengan mata melotot. Gerahamnya begitu rapat, sampai terdengar suara gemeretak.


"Itu bohong, kan?" ucap Alva tak percaya.


"Itu nyata. Bahkan ada banyak saksinya juga," kata Jun Hyeon.


"Kita balik ke kelas aja, yuk. HPnya dikembalikan nanti saja." Bitna menarik tangan Alva untuk mengajaknya pergi. Alva pun patuh, karena melihat Bitna sudah sangat ketakutan.


"Dasar Bitna. Ngapain dia menggandeng cowok itu? Apa dia sengaja memanasiku?" gumam Jun Hyeon kesal.


Remaja cowok itu hanya bisa memandang punggung Bitna dan teman prianya, yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan.


"Aku tahu, kedatangan cewek-cewek tadi pagi di asrama juga karena ulahnya," ucap Jun Hyeon.


...🍎🍎🍎...


"Sampai kapan kau mau memegang tanganku? Aku sih senang-senang aja kita bergandenan tangan."


"Eh, maaf!" Bitna melepaskan genggamannya. Tanpa disadari Bitna, ternyata mereka telah berjalan cukup jauh, hampir mendekati kelas.


"Nggak apa-apa. Gandengan tangan sampai di kelas juga nggak masalah," ujar Alva sambil tersenyum jahil.


"Yeee... Kamu ambil kesempatan, ya?" kata Bitna. Alva bernapas lega, melihat Bitna kembali ceria.


"Al, kamu nggak bertanya padaku?" tanya Bitna. Langkahnya sedikit melambat. Ia sepertinya tidak ingin cepat-cepat masuk ke kelas.


"Bertanya soal apa?" Alva balik bertanya. Ia terlihat sangat santai, tanpa ada rasa penasaran.


"Kalimat yang dibilang Park Jun Hyeon tadi," ucap Bitna.


"Ooo.. Soal pembunuhan itu? Aku sih nggak perlu bertanya. Kalau kamu udah siap, pasti bakalan cerita tanpa diminta," kata Alva.


Bitna memandang pria dihadapannya dengan tatapan aneh. Siapa pun pasti akan penasaran dengan cerita seperti itu, kan?


"Yang penting sekarang, mental kamu kembali stabil. Aku tadi khawatir banget lihat kamu pucat dan gemetar. Aku pikir bakalan pingsan lagi," lanjut Alva.


"Kalau yang dikatakannya benar, gimana? Apa kamu nggak takut?" tanya Bitna semakin penasaran.


"Kenapa harus takut? Memangnya kamu pegang death note? Yang harus membunuh orang setiap hari?" kata Alva.


Pria itu mendekatkan tubuhnya pada Bitna. Bau harum segar dari parfum yang dipakai pria itu, membuat syaraf penciuman Bitna terasa rileks.


"Kamu tuh tetap cantik apa adanya, jangan khawatir," bisik Alva di telinga Bitna.


"Cieeee.... Yang lagi kasmaran. Udah jadian apa belum?" Terdengar sorak sorai di belakang mereka. Ternyata anak-anak di kelas sudah waktunya istirahat.


(Bersambung)