Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 29 - Latar Belakangnya



"Ehem! Yang tadi senyum terus? Happy banget kayaknya, seharian sama Alva. "Tika menarik sebuah kursi, lalu duduk disamping Bitna.


" Ngomong apa, sih? Aku tuh happy karena bebas ulangan," bantah Bitna.


"Ah, masa? Tapi mata kamu kok ke arah meja sebelah kanan terus?" goda Tika lagi. "Lho, kamu nggak makan?" tanya Tika.


"Nggak. Masih kenyang." Bitna mengalihkan pandangannya dari meja sebelaj kanan, tempat Alva dan teman-temannya duduk.


"Emang kamu tadi makan apa di uks? Bukannya cuma sepotong bolu sama teh anget aja, ya?" ujar Tika.


"Aku tadi makan nasi, kok."


"Oh, ya? Tumben di UKS dikasih nasi?" tanya Julia yang baru saja bergabung. Ia memang berbeda kelas dengan Tika dan Bitna. Jadi cukup jarang ketemu saat jam sekolah.


"Bitna hanya tersenyum rahasia."


"Apa mungkin perlakuan siswa lokal dan siswa pertukaran pelajar, beda kali ya?" celetuk Tika.


"Wah, diskriminasi, tuh. Besok-besok kita minta sate atau bakso gitu, untuk konsumsi siswa sakit," ucap Julia penuh harap.


"Dih, percuma. Cewek-cewek bertenaga kuli kayak Lu gak bakal pernah pingsan. Mending minta ganti menu sarapan pagi, deh. Masa soto, nasi goreng, dan bubur ayam mulu. Sesekali ada pecel juga, sih," ujar Flo yang juga baru bergabung.


"Ngomong-ngomong Bitna, gimana rasanya dibopong sama Alva sampai UKS? Semua siswa di sekolah ini berharap di gendong semua, lho," tanya Sri Devi.


"Hah? Dibopong sama Alva?" tanya Bitna dengan muka merah padam. Ia sama sekali tidak percaya. Karena Alva sedang bertugas upacara tadi.


"Eh, iya tuh. Waktu kamu pingsan, dia gercep banget lari, trus bawa kamu ke UKS. Padahal kan dia pemimpin upacara?" tambah Tika setelah menelan ayam balado


"Gentle banget nggak, sih? Selama ini kan yang kita lihat sisi somplaknya aja?" timpal Sri Devi dwngan menggebu-gebu.


"Hei, coba kalian diem dulu. Tuh lihat, wajah Bitna udah kayak merah kepiting rebus. Lama-lama bisa meleleh, tuh," ucap Flora.


"Cieee... Ada yang salting rupanya..." Tika, Julia dan Devi justru semakin rame menggoda Bitna.


"Kalian tuh lancar banget ya kalau bikin gosip?" Bitna akhirnya membuka suara. "Aku tuh nggak ada apa-apa dengan Alva," bantahnya.


"Ada apa-apanya juga nggak apa-apa, kok. Kami sangat mendukung," kata Tika sambil tertawa jahil.


"Tapi guys, kalian tahu latar belakangnya Alva nggak? Dia itu..."


"Ehem! Katanya nggak ada apa-apa? Tapi latar belakangnya dicari juga?" ujar Julia memotong ucapan Bitna.


"Dengerin dulu sampe abis... Maksudku, kalian tahu nggak, kalau Alva ternyata bisa Bahasa Korea? Apa dia pernah tinggal di Korea?" ujar Bitna menyelesaikan pertanyaannya.


"Hah? Yang benar, kamu?" tanya keempat teman Bitna tersebut tidak percaya.


"Iya. Aku mendengarnya langsung. Lancar banget," kata Bitna meyakinkan.


"Aku sih tahu kalau Alva itu polyglot*. Tapi nggak pernah dengar dia ngomong pake bahasa Korea, tuh?" kata Tika.


*Polyglot: orang yang menguasai lebih dari empat Bahasa Asing.


"Iya, tuh. Aku pernah dengar dia berbahasa Arab dan Belanda. Dia juga nggak terlihat maniak Korea?" tambah Julia.


"Hmm... Aku kok jadi ikut penasaran, ya? Makin lama dia terlihat sangat misterius," gumam Flora. Ujung matanya menatap pria muda yang menjadi topik utama pembicaraan mereka.


"Memangnya dia ngomong apa sama kamu? Kok pakai bahasa Korea?" tanya Julia kepo.


"Dia nggak ngomong sama aku. Tapi sama Park Jun Hyeon. Orang yang ketemu sama aku dan Tika kemarin," sahut Bitna.


"Cowok jahanam itu?" tanya Flora dengan mata berapi-api.


"Iya."


"Siapa sih yang bisa menolak ketampanan dia?" kata Bitna. "Aku juga nggak akan bisa menolaknya, kalau nggak tahu dia itu cowok pecundang dan psikopat," lanjut gadis bermata sipit itu penuh misteri.


"Hah? Maksudmu?" tanya teman-temannya.


Bitna terdiam sejenak. Untuk beberapa waktu, gadis itu memang cukup terlena dengan hadiah-hadiah kecil pemberian Jun Hyeon. Ditambah lagi dengan perhatian manis yang selalu diberikan cowok tampan itu.


Tetapi setelah Go Eunjo membantunya mencari latar belakang Park Jun Hyeon, semuanya berubah. Bitna mengingat semua hubungannya dengan Park Jun Hyeon. Kecurigaan Bitna selama ini pun menjadi kenyataan.


"Park Jun Hyeon itu hanya cowok pecundang, yang cuma bisa melemparkan masalah pada orang lain. Lalu dia membuat orang hancur perlahan-lahan, dengan situasi yang ia buat," kata Bitna.


"Bisa dipersingkat, nggak? Kepalaku mau meleduk nih mencernanya," ujar Flo.


"Singkatnya, dia itu pernah celaka dan hampir mati. Lalu menganggapku sebagai penyebabnya," kata Bitna. "Lalu dia pura-pura mencintaiku. Agar aku dibully dan merasakan posisi dia dulu," lanjutnya.


Gadis cerdas itu bisa menebak dengan tepat semua rencana dari Jun Hyeon, tanpa cela sedikit pun.


"Pria yang mengerikan. Mending kamu sama Alva aja, deh," kata Devi.


"Jadi itu sebabnya, kamu memperlakukan Jun Hyeon seperti ini sekarang?" tanya Julia.


"Iya."


...🍎🍎🍎...


"Ehem! Cewek behel!"


Suara pria yang terdengar berat dan lembut itu, terdengar dari balik komputer. Risa yang sedang asyik menulis fanfiction di laman pribadinya pun, menghentikan kegiatannya.


"Kau? Kenapa bisa sampai di sini?"


Risa melongo melihat pria tampan yang duduk dihadapannya. Ia tidak menyangka, cowok Asia Timur yang ia kejar selama beberapa hari ini, justru muncul dengan sendirinya, di hadapannya.


"Seo Bitna yang menyuruhmu, kan?" ucap Park Jun Hyeon dengan Bahasa Inggris yang sangat fasih.


"Maksudmu?" Risa pura-pura tidak mengerti.


"Aku tahu, kau bukanlah pecinta ullzang Korea. Kau adalah fans berat para sugar daddy asal negara kami. Jadi, apa alasanmu mendekatiku kalau bukan karena permintaan Bitna?" ucap Jun Hyeon dengan tatapan mengintimidasi.


Nurma Harisa tersentak mendengar perkataan pria jenius tersebut. Seluruh tubuhnya merinding. Dari mana pria itu tahu semua latar belakangnya?


"Siapa bilang aku cuma suka sugar daddy?" balas Risa.


"Coba kita tes, kamu pasti nggak begitu tahu nama boyband dan aktor pendatang baru, kan?" tebak Jun Hyeon.


"Mengerikan! Cowok ini sangat mengerikan!" pikir Risa. Gadis asal Sumatera Barat itu menggenggam mousenya erat-erat. Ia tidak ingin pria di hadapannya melihatnya menggigil ketakuran.


"Sebenarnya apa alasanmu ke sini? Ini kan bukan area yang bisa dimasuki oleh sembarang tamu?" tanya Risa.


"Aku mau menawarkan sesuatu yang menarik padamu. Aku bisa memberimu akses untuk bertemu para idolamu, terutama Kim Hyun Seung," kata Jun Hyeon dengan tatapan licik.


"Ternyata yang dibilang Bitna benar. Pria ini membuka pintu yang lebar untukku," gumam Risa dalam hati.


"Jadi, apa yang perlu aku lakukan?" ucap Risa.


Jun Hyeon pun tersenyum puas. Ia membisikkan sebuah rencana untuk melawan Bitna dengan telak.


(Bersambung)