
"Tika! Bitna! Kenapa kalian terlambat?" tegur Pak Guru yang sedang menjelaskan materi di depan kelas.
Kedua gadis itu baru memasuki kelas, setelah lima belas menit bel masuk berbunyi.
"Emm.. Itu, Pak. Anu..." Tika tak bisa merangkai kata-kata mutiara untuk berbohong.
"Anu apa? Asrama kalian kayaknya jauh banget yah dari sini? Angkotnya ngetem?" sindir Pak Guru. Beberapa siswa tertawa mendengarnya.
Duh! Mana bisa mereka jujur, kalau bangun kesiangan gara-gara nungguin penjaga malam lengah dan membiarkan Alva keluar dari asrama mereka dengan aman dan terkendali.
"Alva sialan! Awas aja nanti kalau jumpa. Ku bikin sate!" omel Tika dalam hati. Bola matanya mencari-cari sang biang kerok.
"Ya sudah, kalian berdua duduklah. Tapi lain kali jangan terlambat," kata Pak Guru kemudian. Ia melihat kedua kelopak mata murid perempuan itu bengkak.
"Baik, Pak Guru."
"Pasti karena kejadian kemarin." Pak Guru menyangka, Bitna dan Tika tidak bisa tidur karena kejadian yang menimpa Bitna kemarin.
"Kalau begitu kita lanjutkan, suhu yang berada di dalam ruang tertutup dengan variabel..."
Tok! Tok! Tok!
"Maaf, Pak. Saya terlambat."
Seorang cowok tampan bagai karakter utama dua dimensi pun berdiri tegak di depan pintu. Rambutnya terlihat tidak disisir rapi dan bajunya...
"Pfffttt..." Para siswa menertawakan penampilannya yang sangat berantakan seperti bangun tidur.
"Alva, kamu ketua kelas dan wakil ketua OSIS tapi malah terlambat. Dan apa-apaan bajumu itu? Sekarang kan masih seragam batik, bukan pramuka," marah Pak Guru.
"Kamu pengen cepat-cepat malam mingguan?" lanjut guru Fisika itu lagi.
Cowok itu menurunkan kepalanya, untuk melihat penampilannya sendiri.
"Astaga! Ini kan baru hari kamis," gumam Alva menyesali kecerobohannya.
"Berdiri di depan. Letakkan tasmu di sana," perintah Pak Guru. Alva terpaksa mematuhinya.
"Bantu Bapak jelaskan materi ini!" perintah Pak Guru lagi sambil menyerahkan spidol dan pointer untuk presentasi.
"Ap-apa? Pak, saya belum mempelajarinya. Gimana saya bisa menjelaskannya?" kata Alva.
"Ya saya nggak mau tahu. Bapak pikir kamu lambat masuk kelas karena sudah paham materi ini," kata Pak Guru.
"Duh, mampus gua. Apes mulu dari semalam?" gumam Alva dalam hati.
...🍎🍎🍎...
Dua jam pelajaran telah berlalu. Kini saatnya pergantian pelajaran. Para siswa memiliki waktu lima menit saja untuk mengendurkan syaraf kepala yang tegang.
"Bitna, kalian tadi sempat sarapan, nggak? Ini ganjel dulu perutmu dengan biskuit," bisik Flora sambil memberikan sebungkus biskuit kelapa yang harum.
"Ni anak abis ngerampok siapa lagi? Kalo ketahuan bawa makanan dalam kelas, abis lo," kata Zay alias Zaenuddin yang duduk tak jauh dari Flora.
"Yeee... sembarangan aja. Aku beli lah di koperasi," kata Flora dengan logat Batak yang khas.
"Aku ambil, ya," kata Bitna. Kebetulan Tika dsn dirinya memang kehabisan sarapan tadi pagi. Mereka hanya mendapatkan sisa kuah soto ayam dan sedikit bihun saja.
"Ambil aja. Aku mendengar suara perutmu berdemo sejak tadi," kata Flora.
Zay terus memandang Bitna yang sedang lahap memakan biskuit. Sesekali ia menelan kembali salivanya yang mengalir deras.
*Saliva: air liur.
"Kenapa? Kamu mau juga? Nanti kalau ketahuan makan di kelas bisa kena hukum, lho," kata Flora.
"Ih, siapa bilang? Aku cuma lihat wanita cantik yang bagaikan dewi kahyangan itu," kata Zay.
"Ambil aja. Masih ada banyak, kok." Flora membuka tasnya. Bukan main, lebih dari separuh isi tasnya adalah makanan.
"Buset, Flo! Kamu mau pindahin koperasi ke dalam kelas?" tanya Tika.
"Heeei... mana mungkin. Ini masih sedikit, dibandingkan simpananku di tempat rahasia. Kalian kan tahu sendiri, aku nggak bisa mikir kalo perutku kosong," kata Flo bangga. "Bitna masih mau?"
Bitna menggeleng, "Terima kasih, perutku sudah kenyang," katanya. "Emm... Tapi 'buset' itu apa, ya?" tanya Bitna polos.
Burrrr... Tika menyemburkan biskuit coklat yang sedang di makannya. Sedangkan Flora dan Zay tertawa ngakak sampe ngik-ngik mendengarnya.
"Tanggung jawab, Tik. Teman sekamar Lo, tuh," kata Zay sambil memegangi perutnya yang sakit.
...🍎🍎🍎...
Kegiatan sekolah hari ini berjalan dengan lancar. Di hari ketiganya di SMA Hastana Nagara, remaja yang lahir di Kote Seoul itu mulai bisa beradaptasi.
Sambutan yang hangat dari teman-teman sekelasnya, serta guru-guru yang ramah dan sabar dalam membimbingnya, membuatnya mulai betah di tanah asing ini.
Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal. Akankah misinya untuk membawa pulang sang ayah ke Korea akan berhasil?
"Haah... Kenapa sih wajahmu murung terus?" ujar Sri Devi, gadis Bali yang jago memainkan beragam alat musik.
"Nggak apa-apa," kata Bitna seraya memaksakan senyum palsu di wajahnya.
"Kamu tuh jelek kalau senyumnya maksa gitu," kata Flora. "Abis ini kamu nggak ada kegiatan, kan? Ikut kami, yuk."
"Kalian mau ke mana?" tanya Tika yang baru aja nimbrung.
"Biasa... Jalan-jalan sebentar sambil cari jajan. Udah lama kan kita nggak refreshing," kata Flora.
"Wah... Asyik, tuh. Aku ikut, dong. Tika ikut juga, kan?" ujar Sri.
"Hmmm... Aku..." Tika bergumam ragu.
"Ikut aja, sekalian ngenalin Bitna sama cilok, cilor, cireng... Bitna juga belum pernah jalan ke luar sekolah selama di sini, kan?" bujuk Flora.
"Memang kita boleh pergi ke luar sekolah?" kata Bitna. Yang ia tahu selama ini, sekolah asrama memiliki peraturan yang sangat ketat.
"Boleh aja. Asal nggak ketahuan," bisik Flo.
"Hah, sesat kalian!" ujar Tika.
Beberapa puluh menit kemudian mereka berempat pun telah sampai di jalanan Kota Bogor yang banyak menjajakan makanan. Tentu saja perjuangan ke luar sekolah itu tidak mudah. Mereka harus kucing-kucingan dengan satpam yang berjaga.
"Eh, ke sana, yuk. Ada batagor. Udah lama nggak beli," kata Tika.
Keempat anak SMA itu pun berjalan mendekati gerobak yang ditunjuk Tika. Di saat yang sama, sekelompak anak-anak dengan pakaian compang-camping pun mendekati pedagang yang sama.
"Hei lihat, mereka membeli lima ribu untuk makan sama-sama," kata Tika.
"Hah? Memangnya cukup? Mereka berenam, sementara batagor itu cuma sedikit," komentar Flora.
Flora, Tika dan Sri Devi saling bertukar pandang. Beberapa detik kemudian mereka pun mengangguk sambil tersenyum.
"Heh, adik-adik!" seru Flora dengan logat Bataknya.
"Hah, mau ngapain mereka?" gumam Bitna cemas.
Pikirannya langsung menuju ke tindakan bully yang sering dialaminya selama ini. Para orang kaya menindas yang lemah. Memangnya apa salah mereka?
Bitna hanya terpaku di tempatnya, melihat ketiga temannya semakin mendekati bocah-bocah ingusan itu. Dia ingin mencegahnya, tapi ia juga takut.
(Bersambung)