
Musim semi terus bergulir. Bunga-bunga aneka warna, kini mulai berganti dengan buah-buahan khas negara ginseng.
Udara yang sejuk pun mulai menghangat.
Sayangnya, kehidupan Bitna masih belum mengalami perubahan.
Dia dan Go Eunjo, sedang menyusun rencana untuk membalas kejahatan Kim Min Ji dan komplotannya.
Rencana mereka harus benar-benar matang, karena yang mereka lawan bukan hanya teman seumuran, tetapi juga orang-orang besar di negeri itu.
"Jadi mereka memintamu untuk mengerjakan tugas-tugas anak mereka?" gerutu Go Eunjo beberapa hari yang lalu.
Masalah Bitna tidak hanya dari sekolah. Gadis itu, masih belum mendapatkan tanda tangan paman dan bibinya di formulir pendaftaran.
"Gimana ini? Pendaftaran tinggal dua minggu lagi."
Ujung sepatu Bitna menendang-nendang kerikil yang menghalangi langkahnya. Jalanan mandaki menuju ke rumahnya, terasa lebih melelahkan dari dari biasanya.
Matahari mulai beranjak dari singgasananya di langit. Lampu-lampu aneka warna mulai menyala, menerangi jalanan yang dilalui Bitna. Dan lukisan biru yang indah di langit perlahan berubah menjadi warna jingga yang eksotis.
Sayang sekali, Bitna tetap tidak bisa menikmati keindahan tersebut. Pikirannya masih bergelut dengan hatinya.
Beberapa orang yang berlalu lalang di jalan yang sama, menyipitkan mata melihat Bitna menggerutu sendirian.
"Meskipun aku sudah diizinkan ikut kursus Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris , tidak ada gunanya jika aku gagal mendapatkan izin dari mereka," keluh Bitna.
Memang, Bitna sudah beberapa kali membujuk paman dan bibinya tersebut, agar memberinya izin. Tetapi sampai detik ini, sang bibi masih juga belum mengubah pikirannya.
Sementara pamannya, Chae Dohyuk, sudah mulai berubah haluan.
"Apa aku diam-diam minta tanda tangan paman saja, ya?" Bitna membulatkan matanya ketika ide tersebut terlintas di kepalanya.
"Ah, tidak." Bitna mengibaskan tangan kanannya di depan wajah.
"Tetap saja aku tidak akan bisa menutupinya dari bibi. Kalau bibi mengajukan protes pada sekolah ketika aku akan berangkat bagaimana?"
Bitna buru-buru menghapus ide cemerlang tersebut dari kepalanya.
Langkah Bitna mulai melambat. Ia telah sampai di rumah.
"Aku pu-"
"Sayang, kamu beneran mengizinkan Bitna pergi?"
Terdengar suara bibi Dami dengan agak tinggi. Bitna pun mengurungkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Gadis remaja itu penasaran dengan apa yang akan ia dengar selanjutnya.
"Suamiku, kamu nggak akan diam-diam memberi tanda tangan di formulir itu, kan?" ulang bibi.
"Kenapa enggak? Semua persyaratan sudah dia penuhi. Tinggal menunggu jadwal tesnya saja. Apa yang kamu khawatirkan?" ucap paman.
"Jadi Bitna beneran sudah meminta tanda tangan itu diam-diam?" tanya bibi penuh curiga.
"Nggak, Dami. Itu hanya perumpamaan. Bitna tidak akan berani memintanya padaku. Ia sangat menghormati bibinya, adik ayahnya," jelas paman.
"Tapi kenapa kau bersikeras melarangnya?" lanjut pria itu lagi.
"Duh, kamu nggak berpikir ke sana, ya? Uang. Itu lho... Uang." Bibi menjentikkan jarinya di depan paman.
"Uang apa? Dia kan dibiayai penuh oleh pemerintah," paman semakin bingung.
"Astaga, suamiku! Kamu ini benar-benar nggak tahu, atau hanya pura-pura saja, sih?" bibi semakin kesal.
"Aku tidak tahu. Makanya kau jelaskan yang benar," kata paman.
"Uang asuransi. Selama Bitna tinggal di sini kan uang asuransi Bitna kita yang mengelolanya. Nah, kalau Bitna pergi bagaimana?" jelas bibi.
"Ah... Kamu mengkhawatirkan itu," ucap paman. "Ya berikan saja padanya. Kenapa kau harus pusing?"
Bitna semakin mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah. Percakapan yang sedang dibicarakan paman dan bibi, sepertinya bukanlah hal yang boleh ia dengar.
"Dia pergi hanya satu tahun, lalu kembali lagi. Dan kita kan tidak bisa memberikan uangnya begitu saja, karena dia di bawah umur."
"Duh, sayang. Kau tak mengerti juga? Apakah kita harus memberikan uang itu padanya? Sedangkan kita, kan.. Ah, sudahlah. Nanti kau pasti mengerti," bibi mengakhiri obrolan tersebut.
Bitna menggenggam ujung roknya. Air matanya menggantung di pelupuk mata. Garis wajahnya melengkung ke bawah.
Selama ini ia tahu, jika paman dan bibinya lah yang mengatur semua uang asuransi yang ditinggalkan mendiang ibunya.
Akan tetapi, Bitna tidak pernah tahu berapa jumlah total yang ia terima, berapa keperluannya setiap bulan, berapa sisa uangnya sekarang. Bitna bahkan harus ekstra berhemat dari bulan ke bulan.
Bitna bukan tidak peduli dengan uang tersebut. Dia hanya tidak punya nyali untuk menanyakan hal itu. Masih baik ia diterima tinggal di rumah itu dan bisa tetap lanjut bersekolah.
"Ah, tidak bisa begini." Bitna menghembuskan dalam-dalam.
"Aku pulang," ucap Bitna sambil memasuki rumah.
"O-oh. Kau tumben sudah pulang?" ucap bibi terbata-bata.
"Ya," jawab Bitna datar. Ia bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.
Tepat satu langkah sebelum sampai di kamar, Bitna menghentikan langkahnya.
"Oh ya, sepertinya aku harus mengatakan hal ini. Aku tidak akan berubah pikiran. Aku akan tetap mengikuti program ke Indonesia itu," ujar Bitna.
Ekspresi wajah sang bibi pun berubah.
"Semua biaya sudah ditanggung pemerintah, termasuk uang jajan. Jika aku bisa menyelesaikan studiku dengan baik, maka akan mendapat beasiswa penuh ketika kembali ke Korea." Bitna menjeda kalimatnya sejenak.
"Dan aku juga akan mendapatkan rekomendasi untuk kuliah. Jadi paman dan bibi tidak usah khawatir. Aku tidak akan memberatkan kalian," ucap Bitna mengakhiri kalimatnya.
Seo Dami dan Chae Dohyuk saling bertukar pandang. Apakah Bitna mendengar semua obrolan mereka tadi?
...🍎🍎🍎...
"Hei, lihat. Mau ke mana anak kucing itu pergi? Ayo kita ikuti?" ucap Min Ji melihat Bitna berjalan berlawanan arah dengan bus yang menuju rumahnya.
Grep! Wooil menarik tas Min Ji.
"Ngapain mengikuti dia? Paling juga kerja paruh waktu kayak anak-anak lainnya. Mendingan kita pergi main aja deh sama anak-anak," kata Wooil.
"Ih, apaan sih? Aku kan pengen tahu." Min Ji merasa sebel dengan sikap Wooil yang seakan membela Bitna.
"Hari ini aku traktir deh, kalian. Mau main ke mana kita?"
Kim Min Ji menatap Wooil dengan curiga.
"Kau ada hubungan apa dengan wanita itu? Aku merasa belakangan ini kau selalu menghalangi kami untuk mengerjai dia?" tanya Min Ji penuh selidik.
"Kau pikir level wanitaku seperti apa? Aku hanya lelah dikaitkan dengan masalah yang kalian buat. Apa kalian ingin kena skors lagi?" kilah Wooil.
"Kenapa nggak? Skors itu enak. Kita nggak perlu duduk seharian di kelas. Lagian, aku kan sudah punya babu untuk mengerjakan tugas-tugasku," jawab Min ji semangat.
"Maksudmu? Bitna sudah bersedia membantumu mengerjakan semua tugas sekolah?" tanya Wooil.
"Tidak ada alasannya untuk menolak, selama ia masih bersekolah di sini. Sekolah yang dibangun oleh keluarga kami."
"Brengsek. Gadis manja ini hanya membuang-buang waktu Bitna saja dengan mengerjakan PRnya. Kalau begini bisa-bisa rencanaku gagal," bisik Wooil dalam hati.
Tapi Wooil hanya bisa diam. Dia tidak ingin membuat cewek itu semakin curiga.
"Hei, kau membuatku hampir kehilangan kucing kampung itu," seru Min Ji.
Wooil menghadang Min Ji.
"Kau ngapain sih ngikutin dia? Mending kita senang-senang, deh. Aku traktir," ajak Wooil memaksa.
"Nah, kalau gitu aku ikut, deh. Beneran di traktir, kan...?" seru Chae Rin yang sedari tadi diam.
"Iya..." ucap Wooil sambil memaksakan senyum di wajahnya.
"Duh, biarin deh korban uang jajan lagi hari ini. Yang penting Bitna bisa pergi les Bahasa dengan aman dan lulus tes," ucap Wooil dalam hati.
(Bersambung)