Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 23 - Cemburu Sama Cowok Gembel



"Ckk! Apa sih hubungan Bitna dengan cewek gembel itu?"


"Kalau sampai Bitna gagal pergi pertukaran pelajar gara-gara Jun, aku pastikan dia nggak akan bisa jalan dengan kedua kakinya lagi."


Wooil melangkah tanpa arah, sambil terus menggerutu.


Hatinya panas melihat kedekatan antara Park Jun Hyeon dengan Seo Bitna.


"Padahal kan aku yang sekelas dengan cewek itu. Harusnya cuma aku yang boleh mengganggunya," gumam Wooil tidak terima.


Kalau aja ada yang mendengar semua ocehan cowok itu, pasti mereka menyangka kalau Wooil sedang merasa cemburu.


Langkah kaki Wooil melambat. Tanpa disadari, Wooil telah sampai di halaman belakang sekolah, tepatnya di belakang gedung olahraga.


Tempat itu sangat jarang dikunjungi oleh para siswa. Selain karena banyak pohon besar yang menjadi sarang nyamuk. Di sana juga terkenal dengan angkernya.


Banyak desas desus yang bilang, kalau di sana sering tercium bau darah. Sesekali juga terdengar tawa dan tangisan perempuan.


Bahkan cleaning service sekolah pun jarang sekali menyentuh tempat ini.


"Ngapain sih aku ke sini? Baunya aneh," pikir Wooil mendadak mundur ke belakang.


"Hahahaha"


Sekilas, terdengar suara tawa perempuan dari bawah pohon paling besar.


"Eh, aku nggak salah dengar, kan?" gumam Wooil.


Cowok penakut itu pun memasang telinganya baik-baik. Rasa penasarannya jauh lebih besar, dibandingkan dengan rasa takutnya.


Nggak salah lagi, dia memang mendengar suara tawa perempuan. Kali ini malah diselingi dengan suara isak tangis.


Bulu kuduk Wooil pun berdiri.


Tepat sebelum cowok itu melangkah pergi, ia mendengar suara obrolan perempuan.


"Kayaknya aku kenal dengan suara ini, deh," pikir Wooil.


Ia pun berjalan mengendap-endap, mendekati rimbunan pohon tersebut.


"Kalian masih mau belanja murah di butikku, kan? Kalau gitu, kalian harus ikut kata-kataku."


Terdengar suara Kim Min Ji.


"Oh, jadi dia menghilang dari tadi pergi ke sini?" gumam Wooil. "Apa lagi yang sedang dia rencanakan?"


"Tapi Min Ji, gimana kalau kita ketahuan?" tanya seseorang.


"Ya makanya kita lalukan jauh dari sini. Mikir dikit lah. Masa aku terus yang berpikir," marah Min Ji.


"Ini nggak bener. Aku harus tahu apa rencana mereka," pikir Wooil.


Tiba-tiba Wooil merasa kantong celananya bergetar.


"Ayah? Ngapain dia nelpon jam segini?" pikir Wooil.


Dengan langkah super hati-hati, Wooil pergi dari belakang sekolah dan mengangkat telepon dari ayahnya.


"Kenapa lama sekali kau angkat telepon?" Marah sang ayah di seberang sana.


"Aku tadi lagi di perpustakaan," jawab Wooil.


"Perpustakaan? Kau di perpus? Omong kosong," ucap Tuan Seon nggak percaya.


"Tuh, kan... Serba salah, deh. Padahal aku tadi beneran dari perpus," batin Wooil sebal.


"Sudahlah, ada apa Ayah meneleponku jam segini?"


"Ayah sudah tahu kau pasti akan mengambil HPmu sebelum ayah izinkan. Nanri segera pulang, Ayah ingin bicara."


"Baik, Tuan Seon," jawab Wooil dengan nada sebal.


"Duh, ayah mengganggu aja. Aku jadi nggak bisa mendengarkan obrolan Min Ji tadi," keluh Wooil.


...🍎🍎🍎...


Seo Dami, kemarilah."


Seorang wanita tua berseru memanggil Seo Dami dari kejauhan.


"Astaga, Nyonya Han. Ada apa?" sahut bibi.


Wanita paruh baya itu menghentikan kayuhan sepedanya. Ia lalu mendekati Nyonya Han yang berdiri di depan sebuah toko buah segar.


"Ini adalah bonus untukmu," ucap Nyonya Han sambil memberikan sekantung buah apel pada bibi. Mungkin beratnya lebih dari dua kilogram.


"Mujigae-ttok dan baekseolgi-ttok buatanmu sangat enak. Semua tamu menyukainya. Aku senang sekali acaranya berjalan dengan lancar," ujar Nyonya Han.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Semoga cucumu juga sehat selalu dan menjadi orang sukses, ya," sahut bibi.


"Makanya, aku memberikan ini sebagai balasan. Rencananya aku akan mengantarnya ke rumahmu. Tapi kebetulan kita bertemu di sini," lanjut nyonya Han.


"Apa tidak berlebihan memberikanku bonus sebanyak ini? Nyonya kemarin kan sudah membayar kuenya juga," tolak bibi. Ia sungkan menerima pemberian itu.


"Tentu saja itu sepadan dengan kebaikanmu, Dami. Ku dengar kamu sekarang juga merawat anak dari kakakmu, kan? Anggap saja ini hadiah untuk anak dan keponakanmu," kata Nyonya Han.


"Duh, aku jadi semakin sungkan menerimanya."


"Ambillah, kau pantas mendapatkan ini," ujar Nyonya Han.


"Terima kasih banyak, Nyonya," ucap bibi.


"Eh, apa itu ribut-ribut? Sepertinya anak SMA," seru Nyonya Han tiba-tiba.


Bibi melihat ke arah yang ditunjuk oleh Nyonya Han. Sekelompok siswi SMA terlihat sedang membuat keributan di seberang jalan.


"Eh, itu bukannya seragam sekolah Bitna?" pikir bibi.


"Hah... Anak zaman sekarang. Malah lebih suka tawuran, daripada belajar dengan baik di sekolah." Nyonya Han berdecak kesal.


"Beruntung kamu memiliki anak-anak yang baik, Dami," lanjutnya Nyonya Han sambil memilih buah pir dan melon.


"Aku juga nggak ngerti pergaulan anak zaman sekarang. Mereka sepertinya lebih banyak tawuran dan foya-foya dibandingkan belajar," kata bibi.


Seo Dami berusaha memfokuskan pandangannya untuk melihat apa yang terjadi. Sayangnya, lalu lalang kendaraan dan lokasi yang berada dekat gang kecil, membuatnya tak dapat melihat jelas kejadian di seberang sana.


Seo Dami hanya mampu melihat, beberapa anak menumpahkan beberapa botol kecap ikan di atas kepala siswi yang dipaksa berjongkok.


"Duh, kenapa aku jadi kesal ya, lihat mereka membuang kecap seperti itu? Apa mereka nggak tahu harga kecap ikan itu sangat mahal?" ucap bibi dalam hati.


Pembullyan itu terus berlanjut hingga beberapa lama. Tapi tidak seorang pun yang berani melerai mereka.


Para orang dewasa yang melintas, hanya membuang muka pura-pura tidak tahu. Miris sekali.


...🍎🍎🍎...


Bibi meletakkan barang bawaannya ke atas sebuah dipan yang terletak di depan rumah.


Perutnya yang sudah minta diisi, membuatnya bergegas menyimpan sepedanya dalam gudang dan masuk melalui pintu belakang.


Wanita itu harus segera menyiapkan makan malam sebelum anggota keluarga lainnya pulang.


"Loh, Bitna merendam pakaian sekolahnya lagi?" pikir bibi heran.


Di saat yang bersamaan, Bitna pun muncul dari dalam.


"Bitna..?"


"Bibi, maafkan aku. Nanti aku akan memasukkan semua seragamku ke dalam cucian lainnya," ucap Bitna buru-buru.


Ia takut bibinya marah lagi padanya.


"Haaah.. Ya sudah. Sekarang bantu bibi siapkan makan malam," ujar bibi.


Sepanjang memasak dan makan malam, Seo Dami lebih banyak diam. Hal itu semakin membuat Bitna resah. Kesalahan apa lagi yang sudah dilakukannya?


"Bitna, sini duduk!" perintah bibi setelah makan malam.


"Ya, Bi."


"Apa kamu nggak ada hal yang ingin dibicarakan pada Paman dan Bibi?" tanya Seo Dami pada keponakannya.


"Y-ya?" Bitna masih belum mengerti pertanyaan sang bibi.


"Tentang sekolahmu," jelas bibi.


"Sekolahku baik-baik saja, Bi," sahut Bitna dengan wajah penuh tanda tanya.


"Nggak usah bohong! Bibi sudah melihat semuanya. Kau menyembunyikan sesuatu dari kami, kan? Dasar anak nakal," ucap bibi.


"Eh, apa maksudmu, Dami?" tanya paman pula.


"Aku sudah melihat sikapnya di luar sekolah. Dia itu..."


(Bersambung)


Hei, jangan buru-buru pergi. Ada bonus gambar nih untuk kalian.