Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 37 - Min Ji vs Seon Wooil



"Hmmmmpplhhh... Hmmmppphh..."


Bitna beringsut di atas tanah pasir. Para pembully itu telah meninggalkannya dalam keadaan terikat dan bermandikan sampah.


Seragam Bitna telah berubah warna. Aroma tak sedap menguar dari tubuhnya.


Gadis malang itu memandang ke sekeliling.


Ini aneh. Padahal mereka tidak membawa Bitna jauh dari halte sekolah. Mobil hanya bergerak sekitar sepuluh hingga lima belas menit, sampai akhirnya berhenti di tempat asing ini.


Tidak ada keramaian. Tidak ada satu pun yang melihat dan menegur aksi perundungan para siswa itu. Padahal ini tempat terbuka.


Seoul adalah salah satu kota terpadat dan tersibuk di Asia. Rasanya tidak mungkin jika ada tempat sesepi ini. Kecuali...


"Kalau ini dekat pantai, apa mungkin lokasi ini gudang distribusi barang milik keluarga Min Ji di dekat dermaga?" pikir Bitna.


"Aku harus pergi dari sini sebelum mereka datang lagi," pikir Bitna.


Bitna tidak menyerah. Meski pun gerakannya sangat terbatas, tetapi ia tidak ingin menyerahkan nasib pada seseorang yang entah kapan akan datang.


Tubuhnya terus beringsut di pasir. Sedikit demi sedikit ia bergerak ke arah tepi lapangan itu.


Kaki dan tangan remaja cantik itu terus bergerak, menggesekkan tali itu ke sebuah batu yang mencuat dari tanah.


Kulitnya mulai lecet dan berdarah, Bitna tetap tidak menyerah. Baginya kebebasan adalah hal yang mutlak ia dapatkan.


"Dasar cewek-cewek sialan! Aku sudah mengingat identitas kalian semua, meski pun kalian menggunakan masker dan topi," umpat gadis remaja itu dalam hati.


"Kalau aku lolos dari sini, jangan harap hidup kalian akan tenang. Akan aku pastikan kalian mempertanggungjawabkan perbuatan ini," gumam Bitna dalam hati.


Belasan menit kemudian, usahanya tak kunjung berhasil. Kulit di kakinya semakin lecet dan terkelupas. Rasa perih ketika luka itu bersentuhan dengan pasir, membuat air mata Bitna mengalir tanpa izin.


"Emmhhh..."


Otot wajahnya berusaha menggerakkan pipi dan tulang rahang, agar lakban yang melekat erat bisa terlepas.


Beberapa deburan ombak, telah terlewati. Perlahan-lahan lakban yang menempel pun mulai merenggang. Bitna semakin bersemangat menggerakkan seluruh otot wajahnya.


Pluk! Lakban akhirnya terlepas.


Seo Bitna sedikit bernapas lega. Tetapi ia tidak mau gegabah. Berteriak mencari pertolongan di tempat asing ini bisa saja semakin membahayakan nyawanya.


Tempat asing itu masih membuat Bitna waspada tingkat tinggi.


Gadis cerdas itu pun mencari cara lain. Ia menekuk kakinya, hingga lututnya menyentuh perut. Tubuhnya yang ramping, memudahkannya untuk melipat tubuhnya, hingga ia bisa menggigit tali dengan giginya.


Perlahan-lahan, ikatan tali itu pun longgar. Kaki Bitna menjadi sedikit leluasa untuk bergerak. Kali ini dengan satu hentakan, tali yang membelenggu pun terlepas.


Tunggu, jangan senang dulu. Tangannya masih belum bebas.


...🍎🍎🍎...


"Kenapa kau peduli padanya, sih? Dia itu siapa?" protes Min Ji melihat pria di depannya terus menerus membela Seo Bitna.


Napas Min Ji terdengar memburu. Bahunya naik turun. Matanya terbelalak, menatap Wooil dengan tajam.


"Kau sama saja seperti ayahmu, yang begitu perhatian dengan gadis dari kampung, sampai tak peduli pada istrinya yang hampir mati," kata Min Ji kemudian.


"Apa katamu?" Wooil mencengkeram kerah jaket yang dipakai gadis itu.


"Kau tahu apa tentang ayahku?" seru Wooil.


Beberapa petugas keamanan pun datang, untuk memisahkan kedua remaja tersebut. Tapi Min Ji kemudian mengusir mereka semua.


"Katakan sekali lagi, apa yang kau tahu tentang ayahku?" teriak Wooil.


"Oh... Jadi kau penasaran juga? Ku pikir kau nggak akan peduli," ucap Min Ji sambil tersenyum sinis.


"Sederhananya, aku tak sengaja melihat berkas-berkas milik Bitna di tangan ayahmu.Ia juga menyelipkan sebuah foto gadis itu bersama ibunya," kata Min Ji.


Wooil merasa kesal. Bagaimana gadis ini tahu lebih banyak tentang hubungan rahasia ayahnya dengan ibu Bitna, dari pada dirinya sendiri?


"Kau bongkar saja ruang kerja ayahmu di kantor. Ku rasa kau akan menemukan bukti lebih banyak lagi," ujar Min Ji dengan sangat yakin.


Sesaat Wooil ragu, apakah ia menuruti egonya yang memiliki hubungan misterius dengan sang ayah, atau mengutamakan hati nuraninya untuk menolong Bitna?


Wooil sendiri pun tak tahu, apakah ia membenci gadis itu, atau sekedar iri dengan prestasinya?


"Gimana? Percuma kan, menolong gadis itu? Mungkin saja dia nanti malah menjadi parasit dalam hidupmu." Min Ji terus menghasut Seon Wooil.


"Setidaknya dengan menolongnya, aku bisa membayar dosaku yang telah membullynya. Nggak seperti kamu yang membuatnya seperti gajah sirkus," kata Wooil.


"Kau hanya gadis manja yang bisa merengek dan menumpahkan kesalahan pada orang lain," lanjut Wooil lagi.


Entahlah. Mungkin Wooil sudah lupa, kalau selama ini ia membantu Bitna, hanya untuk mengusirnya jauh-jauh dari ia dan ayahnya.


"Apa kau bilang? Kau menghinaku?" Min Ji mengepalkan kedua tangannya. Hatinya terbakar mendengar kalimat pria di hadapannya itu.


"Kau pikir untuk apa diciptakan kaya dan miskin? Cantik dan jelek? Mereka itu sudah ditakdirkan untuk tempat berpijak kaki kita," teriak Min Ji.


Suara gadis itu menggema ke seluruh ruangan.


"Kau salah Min Ji. Kau saja yang kurang bergaul dengan dunia luar. Betapa banyaknya orang miskin yang menjadi miliarder dan orang kaya yang jatuh miskin dalam semalam," balas Wooil.


"Ah, tidak. Kau cuma gadia yang haus perhatian. Makanya kau sangat marah padaku karena memperhatikan Bitna," kata Wooil.


Min Ji semakin menggeretakkan giginya. Tangannya sudah siap untuk meninju Wooil kapan saja.


Ddrrrrttt...


Wooil mengambil HPnya dari saku celana.


"Halo?"


"Wooil, kami telah menemukan lokasi HP tadi. IPnya baru saja terlacak di daerah Hannam-dong sepuluh menit yang lalu," ucap detektif bayaran memberikan laporan.


Wooil mengernyit tajam ke arah Min Ji. Gadis itu pucat pasi. Ia curiga dan penasaran dengan isi telepon tersebut.


"Tapi, sinyal HP itu tadi sempat mati. Setelah berada di sekitar dermaga barang," lapor detektif itu lagi.


"Baik," kata Wooil.


Dalam waktu kurang dari satu detik, Wooil pun meringkus Min Ji, sebelum gadis itu bergerak kabur.


"Keamanan..." Seru Min Ji.


Beberapa orang pria pun datang menghampiri mereka berdua.


"Jangan halangi aku, atau kalian semua akan berurusan dengan polisi," ancam Wooil.


"Kau pikir mereka takut pada ancamanmu?" seru Min Ji dengan angkuh.


"Kalau sampai ayahku tahu soal ini, mungkin bukan hanya kamu yang hancur, Min Ji. Tapi juga keluargamu."


Min Ji mulai ciut. Ayahnya Seon Wooil bukanlah orang yang sembarangan.


Tuan Seon adalah salah satu pejabat tinggi di Kota Seoul. Dengan satu kalimat saja, ia bisa membuat seseorang bangkrut.


Ddrrrttt... Ponsel Wooil kembali berbunyi.


Cowok remaja itu meronta, melepaskan cengkeraman para penjaga dari tubuhnya. Lalu ia mengangkat telepon.


"Kami sudah sampai di lokasi bersama beberapa orang polisi." Seorang pria menelepon Wooil dengan napas terengah-engah.


"Gadis itu ada di sini. Tapi dia sudah..."


(Bersambung)