
"Bitna, kau masih berhutang cerita sama aku. Ada apa sebenarnya sama Jun?" bisik Eunjo ketika di kantin.
Bitna memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. Kemudian ia berbisik, "Di sini nggak aman. Kita pindah tempat aja."
Setelah berkeliling sekolah, akhirnya mereka pun memilih lapangan olahraga out door untuk tempat mengobrol.
Suasana di sana cukup ramai. Sebagian siswa mengisi jam istirahat dengan bermain volly, sambil menikmati sinar matahari yang mulai bersinar.
Tapi meski pun ramai, para siswa sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bitna dan Eunjo pun bisa bebas bercerita tanpa dicurigai.
Kedua sahabat itu duduk di salah satu tangga, di bawah naungan atap. Kursi penonton lainnya masih cukup basah karena guyuran hujan tadi pagi.
"Coba kau lihat foto ini, terus bandingkan dengan jaket dan sepatu milik Jun Hyeon." Bitna menunjukkan sebuah foto sambil berbisik.
Eunjo melebarkan kelopak matanya. Pandangannya fokus pada seorang pria berjaket, yang tengah berdiri sambil membawa kamera di depan rumah paman dan bibi Bitna.
"Ah, jadi maksudmu?" Eunjo ternganga melihat foto itu.
"Ya, Ara sudah beberapa kali lihat seorang penguntit di depan rumah kami. Tapi itu masih dugaanku. Aku masih harus menemukan bukti lainnya," gumam Bitna.
"Ih creepy banget. Tapi apa tujuannya, ya?"
Bitna hanya mengangkat kedua bahu ketika mendengar pertanyaan Eunjo.
"Entahlah.." gumamnya beberapa saat kemudian.
"Apa kau dengar yang dia bilang waktu kita mau pergi?" tanya Bitna beberapa saat kemudian.
"Emang dia bilang apa?" Eunjo balik bertanya.
"Apa kau takut karena susah menyadari keberadaanku?" ucap Bitna mengulang kalimat Jun Hyeon tadi.
"Wah, gila! Bikin merinding aja. Kenapa kau ditempeli cowok aneh kayak gitu, sih?" Gadis berambut pendek itu bergidik ngeri.
...🍎🍎🍎...
Rintik hujan kembali mewarnai cuaca sore ini. Sinar matahari tertahan oleh tetesan air yang turun dengan intensitas tinggi. Suasana pun tampak lebih gelap.
Bitna berjalan mengitari lorong kelas. Gadis itu masih sibuk dengan kegiatan klub sastra, sementara para siswa mulai meninggalkan sekolah. Ia juga masih harus mengumpulkan berkas untuk keberangkatannya.
"Heh, cewek kampung!"
Beberapa orang siswi terdengar berseru di belakang.
Bitna mempercepat langkahnya. Ia tidak mau mempedulikan mereka, meski tahu bahwa dirinya lah yang mereka panggil. Tidak ada siswa lain yang sedang berjalan di lorong itu.
"Hei, kau bukan cuma miskin. Tapi nggak punya telinga juga rupanya."
Seseorang menarik rambut panjang Bitna yang diikat kucir kuda.
"Kalian memanggilku? Tapi aku punya nama? Seo Bitna, itu namaku. Bukan cewek kampung!" balas Bitna dengan berani.
"Ah, ternyata para siswi kelasnya Jun Hyeon. Mau ngapain mereka?" pikir Bitna dalam hati.
"Oh, sudah pandai melawan kau sekarang, ya? Kau itu cuma siswa rendahan di sini. Jangan berlagak hebat!"
Para siswi itu semakin panas dengan sikap Bitna yang tidak mau tunduk.
"Siapa yang rendahan? Aku peringkat satu sekolah. Aku juga murid beasiswa. Sedangkan kalian?" balas Bitna tak menyerah.
"Dasar cewek kampung, gak tahu sopan santun."
"Kau juga dengan beraninya menggoda Jun Hyeon kami dengan cara rendahan seperti tadi."
"Kau juga tega membuatnya mengantarkan seragam dan handuk untukmu."
"Jun Hyeon kami? Ah.. Ternyata kalian itu fans clubnya Jun Hyeon? Tapi maaf, ya. Aku nggak pernah menggoda cowok itu. Dia sendiri yang datang kepadaku," ucap Bitna.
"Omong kosong! Mana mungkin cewek sepertimu di dekati cowok keren kayak dia?"
"Memangnya aku kenapa? Aku kan nggak cuma cantik, tapi juga pintar. Memangnya kalian sendiri pernah dilirik dia?" balas Bitna dengan sengit.
"Wah, kata-katamu pedas juga, ya!"
"Hentikan!"
Seon Wooil datang tepat sebelum siswi tersebut melayangkan sebuah tamparan di pipi Bitna.
"Wooil?" Mereka buru-buru mundur.
"Jangan ada yang pergi dari sini. Atau kutandai wajah dan nama kalian," ancam Wooil.
"Ja-jangan! Kami cuma mau mengajaknya berbicara. Tapi dia malah berbicara kasar sama kami," ucap salah seorang siswi.
"Aku sudah melihat semua tingkah kalian. Hanya aku yang boleh membullynya," ujar Wooil dengan nada sangat tinggi.
"What?" para siswa itu hanya melongo mendengar kalimat cowok itu. Dia sebenarnya mau menolong apa gimana, sih?
"Bitna, kau ini bodoh apa gimana? Sudah jelas kau ini sasaran empuk untuk dibully, tapi malah berkeliaran sendirian jam segini?" marah Wooil.
"Kok kau malah marah denganku? Aku masih banyak kegiatan di sini," protes Bitna.
"Kau harusnya fokus saja sama pelajaranmu untuk ujian ke luar negeri! Jangan menyusahkan diri sendiri," marah Wooil lagi.
"Kau kenapa, sih?" gumam Bitna.
Para siswi itu melihat pertengkaran antara Bitna dan Wooil dengan tatapan iri tapi juga bingung. Mengapa Bitna bisa jadi rebutan dua cowok populer di sekolah?
"Ayo pergi dari sini. Aku temani kau sampai selesai kegiatan klub."
Wooil menarik tangan Bitna dan memaksanya pergi.
"Hei, apa sih? Kok malah kau yang heboh?" protes Bitna.
Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Wooil. Tetapi rupanya cengkeraman pria itu sangat kuat.
"Sudahlah, ikuti saja apa kataku kalau kau mau selamat," ujar Wooil.
"Hei kalian, aku udah hapal dengan wajah kalian! Kalau masih mengganggu gadis kucel ini, maka besok nggak akan bisa pulang dengan selamat," ancam Wooil.
Para siswi itu meringis ketakutan mendengar ancaman yang tidak main-main itu.
...🍎🍎🍎...
"Hei, bung. Kau sudah bisa melepaskan tanganku," kata Bitna setelah mereka berjalan cukup jauh.
"Ah, maaf."
Wooil segera melepaskan genggamannya. Pergelangan tangan Bitna terlihat memerah karena cengkeraman dari cowok itu.
"Kau ketempelan hantu di mana, sih? Biasanya kan kau ikut membullyku?" ucap Bitna.
"Sekarang nggak ada orang lain yang boleh membullymu selain aku. Kau harus fokus sama pertukaran pelajar itu saja.
Bitna bengong mendengar kalimat Wooil. Ia harus senang atau takut?
"Aku punya kenalan, seorang mahasiswi asal Indonesia. Dia bisa mengajarimu semua hal tentang negara itu. Kau nggak perlu lagi kursus di tempat yang jauh," ucap Wooil.
Nada suaranya mulai melunak, tidak seperti tadi. Wajahnya juga terlihat bersahabat.
"Kenapa kau harus peduli soal itu? Apa tujuanmu sebenarnya? Aku takut nggak bisa membayar semua itu," kata Bitna curiga.
"Kau hanya perlu membayarnya dengan pergi jauh dari negara ini. Aku nggak mau melihatmu lagi di sekolah ini, setidaknya untuk satu tahun ke depan," kata Wooil.
"Aku bahkan sudah menyuruh seseorang untuk membuatkan paspormu, agar bisa berangkat lebih cepat," kata Wooil lagi.
"Kau serius mau membantuku sebanyak itu?" tanya Bitna tak percaya.
Gadis itu sama sekali nggak bisa memahami sifat cowok di depannya. Sesaat dia terlihat jahat. Tapi beberapa detik kemudian berubah seratus delalan puluh derajat.
"Aku harus rela berkorban, demi membuang rivalku jauh-jauh. Kalau perlu dia nggak usah kembali lagi ke Korea," bisik Wooil di telinga Bitna.
"Wooil, kau itu mengerikan," ujar Bitna.
(Bersambung)