Metamorphosis

Metamorphosis
S.2 Bab 40 - Mantan Trainee Idol



"Hei, cantik! Aku cemburu dengan kalung itu. Setiap saat selalu kau pandangi," kata Alva seraya duduk di hadapan Bitna.


"Kenapa begitu? Aku merasa dekat dengan ayah dan ibuku, kalau melihat kalung ini," jawab Bitna.


"Apa aku perlu memberimu kalung bintang juga?" ucap Alva.


"Biar apa? Kan aku udah punya?" tanya Bitna bingung.


"Biar aku selalu dekat denganmu," ucap Alva.


"Kau juaranya menggombal, ya?" kata Bitna.


"Kau juga bikin orang bingung. Kalau orang melihatmu seperti itu, pasti mereka menyangka kalian pacaran," ujar Alva.


"Pacaran? Aku dengan Park Jun Hyeon? Nggak lah. Aku nggak bakal menyukai pria bedebah kayak dia," bantah Bitna dengan tegas.


"Hati-hati kualat, lho. Katanya terlalu benci bisa jadi cinta," bisik Alva.


"Ooohh... Nggak! Maafkan aku, Tuhan. Aku nggak membencinya, tapi juga nggak menyukainya. Carikan aku jodoh selain dia, Tuhan," ucap Bitna sambil menengadahkan kedua tangannya.


"Pfftt... Kau ngapain, sih? Segitu nggak sukanya sama dia, ya?" Alva terkekeh melihat tingkah aneh cewek itu.


"Kalau aku, kau bakalan suka, nggak?" tanya Alva tiba-tiba.


"Ha? Entah, ya?" jawab Bitna dengan wajah datar.


"Entah? Berarti aku ada harapan, dong," sahut Alva dengan senyum lebar di wajahnya.


"Bukan begitu, Al. Kalau kata Tika sih, nggak mau takabur," ujar Bitna.


"Cih, kau nggak mengizinkanku senang sebentar aja, ya?" kata Alva memasang wajah berkerut.


"Hehehe... Membuat orang kesal itu adalah hobiku," balas Bitna.


"Oh, btw selamat, ya. Nilai-nilaimu sudah jauh membaik. Kau bahkan jadi duta kampanye anti bully," ujar Alva.


"Thanks. Itu semua berkat kalian, yang selalu mendukungku," kata Bitna. "Tapi ucapan selamat aja nggak cukup, Al," lanjut gadis itu.


"Maksudmu?"


"Harus ada rewardnya, dong. Kapan kita makan ke warmindo lagi. Mi instannya enak," kata Bitna.


"Nah, kan... Kau ketagihan mi instan juga. Apa ku bilang, micin itu enak," kata Alva.


"Ehem! Maaf mengganggu kencannya. Kau dipanggil ke ruangan Bu Elya, Al. Katanya ada tamu yang mencarimu," ucap Ipung yang baru aja datang.


"Oke."


...🍎🍎🍎...


"Kalian dari mana aja, sih? Aku nyariin lho dari tadi," kata Bitna ketika melihat Tika dan Flo datang.


"Kami dari tadi di sini aja, kok. Cuma nggak mau ganggu momen kamu sama Alva aja."


"Ih, apaan sih kalian? Aku sama Alva nggak ada apa-apa, kok," sahut Bitna salah tingkah.


"Iya... Kami bisa aja percaya, kalau wajahmu nggak memerah gitu," kata Flo sambil tersenyum jahil.


"Btw udah lihat daftar remidial sejarah, belum? Nama kamu ada di tempel, tuh," kata Tika.


"Hah? Masa? Kalau sampai nilaiku rendah lagi, aku beneran di-kick dari sekolah ini," kata Bitna cemas.


Remaja yang sebentar lagi berusia enam belas tahun itu segera berlari menuju papan pengumuman di depan ruang guru.


"Hah?"


Bitna benar-benar tercengang. Air matanya mengalir deras. Namanya memang tertempel di sana, tetapi bukan dalam daftar yang disebutkan Tika tadi.


Semua usahanya terbayar. Semua perjuangannya tidak sia-sia. Baru kali ini Bitna merasakan hasil jerih payah yang dilakukannya bertahun-tahun. Tidak disangka, ia justru semakin bersinar di Indonesia, yang sangat jauh dari Tanah kelahirannya.


"Apa kamu tetap tidak mau melakukannya?" Bitna mendengar beberapa orang berbahasa Indonesia dengan dialek Korea yang kental.


"Wah, ada tamu dari Korea lagi rupanya," kata Bitna. Ia tidak begitu tertarik.


"Saya tidak mau, Tuan. Sudah saya katakan berulang kali, saya tidak tertarik menjadi idol," ucap seorang pria.


"Alva! Itu suara Alva." Bitna menjadi tertarik untuk menyimak.


"Kamu kan dulu sudah pernah ikut pelatihan? Kenapa malah mundur?" tanya pria lainnya yang juga memiliki dialek Korea.


"Sayang sekali bakatmu itu. Kamu punya visual yang menarik. Kamu juga memiliki kemampuan bermusik yang bagus. Ditambah lagi kemampuan berbahasa asing yang lebih dari satu. Modal itu sudah lebih dari cukup untuk debut!" Pria pertama yang bicara tadi terus membujuk Alva tanpa lelah.


"Maafkan saya. Tetapi jawaban saya tetap sama. Saya menolaknya," jawab Alva.


"Cobalah pikir-pikir lagi. Kami memberimu waktu dua minggu. Tidak, satu bulan. Pekerjaan ini sangat meyakinkan."


"Tetapi saya sudah memutuskan untuk berkarir di bidang sains dan akademis," kata Alva.


"Kenapa kau sulit begini? Apa karena kasus temanmu yang dulu hampir tewas di tempat latihan dan harus membayar denda? Sekarang manajemen sudah berubah," kata salah seorang pria dengan nada agak tinggi.


"Tidak, Tuan. Memang dari awal saya tidak berminat untuk menjadi idol. Passion saya di bidang akademis." Alva tetap tidak tergoyahkan.


"Kau tak usah takut, sekarang sudah banyak kok para idol dari Asia Tenggara. Coba lihat Lalinda Manopan dari Hitam Merah Jambu. Lalu Vita *g*arang dari Nomer Rahasia. Mereka semua sukses!" Para pencari bakat itu terlihat mulai emosi.


"Saya tidak mengatakan, kalau industri entertaimen itu tidak bagus. Tapi saya tidak mau menjalankan sesuatu hal dengan terpaksa. Saya tetap menolaknya," jawab Alva.


"Ingatlah, suatu hari nanti kau akan menyesali keputusanmu ini."


"Begini Bapak-bapak sekalian, saya senang sekali ada yang melirik bakat anak-anak kami. Tetapi sebagai seorang guru, kami hanya bisa mengarahkan, tanpa memaksanya. Keputusan tetap ada di tangan mereka," ujar Bu Elya menengahi pembicaraan.


Setelah itu tidak terjadi perdebatan yang begitu berarti.


Tap! Tap! Tap!


"Astaga! Mereka akan keluar!" Bitna yang sedari tadi menguping, langsung mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.


Beberapa menit pun berlalu. Suara hentakan sepatu tersebut telah menjauh.


"Hh... Sepertinya udah aman." Bitna pun keluar dari persembunyiannya di balik pilar besar.


"Kyaa...! Astaga!" Seo Bitna terpekik ketika melihat seseorang yang berdiri di belakangnya, hanya berjarak sekitar dua jengkal.


"Mau ke kelas, kan? Yuk, bareng," ajak Alva. Dengan santai pria itu menggandeng lengan Bitna.


"Oh, iya. Masalah pembicaraan tadi jangan sampai ada yang tahu, ya. Cukup kamu aja yang mendengarnya," kata Alva sedikit mengeratkan genggamannya di tangan Bitna.


"Oh, eh, kamu tahu aku mendengarnya?" tanya Bitna gugup.


"Kalau nggak, untuk apa kamu sembunyi?" kata Alva sambil melirik tajam pada gadis itu. "Aku akan mentraktir kamu sepuluh kali di warmindo. Apa pun yang kamu inginkan juga katakan saja," kata Alva.


"Hahaha... Nggak perlu segitunya kali, Al. Aku emang terkejut, waktu tahu kamu mantan trainee idol. Tapi aku juga nggak perlu di sogok untuk bungkam," kata Bitna.


"Eh, tapi kalau sepuluh kali warmindo dan sepuluh kali batagor juga nggak apa-apa, sih?" lanjut gadis itu dengan wajah tak berdosa.


"Ngelunjak, ya?" kata Alva.


"Jadi nggak mau, nih. Oke, nanti malam bakal tersebar kalau kamu mantan trainee idol," ancam Bitna.


"Yaudah, tiga puluh kali kencan. Menunya terserah kamu," kata Alva tanpa melepaskan genggamannya.


(Bersambung)