Metamorphosis

Metamorphosis
Bab 43 - Cowok Berbahaya



"Jadi Bitna tetap mau ke luar negeri? Namanya bakal semakin di kenal, dong?"


Seorang pemuda, mengenakan kacamata dan topi, memperhatikan Bitna sejak tadi. Wajahnya yang tampan seperti idol, membuatnya menjadi perhatian para wanita. Walau pun ia hanya mengenakan kemeja sederhana.


Tatapan pria itu begitu tajam. Siapa pun yang melihatnya pasti tahu, kalau ia sangat membenci gadis berbaju biru muda itu.


Beberapa kali ia juga memfoto gadis itu diam-diam, menggunakan kamera HPnya.


Tapi meski pun begitu, beberapa remaja perempuan malah merasa cemburu, karena cowok tampan itu tak pernah melepaskan pandangannya sedikit pun dari Bitna.


"Nggak bisa di biarkan! Dia nggak boleh meraih prestasi lebih tinggi dari pada aku," gumam Jun Hyeon.


"Dia harus membayar semua perlakuannya padaku dulu, lalu hancur secara perlahan."


"Aku nggak akan membiarkan hidupnya bahagia, sebelum ia merasakan yang ku alami dulu," gumamnya lagi.


Park Jun Hyeon buru-buru menyimpan HPnya ke saku celana, dan menggunakan maskernya. Cowok itu melihat Bitna dan temannya beranjak meninggalkan kafe.


"Aku harus mengikuti Bitna." Pemuda itu beranjak dari kursinya, dan bergegas pergi.


Grep!


"Mau ke mana kamu? Biarkan dia pergi dengan tenang," kata seorang pemuda lainnya, yang sedari tadi juga memperhatikan Bitna.


"Kau siapa?" tanya Jun Hyeon kesal. Ekor matanya mencari-cari gadis mungil yang mulai menghilanggkan jejaknya.


"Kau nggak perlu tahu! Yang jelas kamu jangan mengikuti gadis itu, kalau masih mau jalan dengan kedua kakimu," kata cowok misterius itu.


"Jangan halangi aku! Kau siapa, sih? Suruhannya Seon Wooil, ya?" teriak Jun Hyeon.


"Halo pengunjung, kalau mau berantem di luar aja, ya. Jangan di sini," usir salah seorang pelayan toko.


"Ckk! Gara-gara kamu, aku jadi kehilangan dia," gerutu Jun Hyeon sambil berlalu pergi.


Chae Yeon Woo tersenyum tipis, "Setidaknya dia sudah kehilangan jejak Bitna untuk sementara," ucapnya.


Tling!


Bitna mengeluarkan HPnya dari dalam tas yang ia sandang.


"Ada apa?" tanya Ningsih dengan bahasa Indonesia.


"Sepertinya dari Oppa-ku. Tadi dia mengikutiku dari belakang," jawab Bitna dengan bahasa Korea.


Bitna lalu membuka pesan yang baru saja masuk.


"Ah, benar. Ternyata pesan dari Oppa," gumam Bitna.


Sedetik kemudian Bitna terpaku di tempatnya.


"Hati-hati sama cowok ini. Dia dari tadi mengikutimu dan berniat jahat padamu," tulis Yeon Woo sambil mengirimkan foto Park Jun Hyeon.


"Ada apa lagi?" tanya Ningsih khawatir. Wajah cewek SMA itu terlihat sangat pucat.


"I-ini..." Bitna menunjukkan pesan dari Yeon Woo.


"Astaga! Ini siapa?" tanya Ningsih.


"D-dia teman sekolahku," ucap Bitna.


Tling! Yeon Woo mengirimkan pesan lagi.


"Kamu langsung pulang, ya. Jangan ke mana-mana. Pakai taksi aja. Nanti bayar di rumah. Oppa udah bilang sama Ara," tulis Yeon Woo.


"Y-yaudah. Kita pulang sekarang. Perlu ku antar?" ajak Ningsih memahami situasi.


"Lho, Bitna? Tumben kita ketemu di sini?"


Seorang cowok menyapa Bitna dari belakang.


"Ya, aku baru pulang les. Kau udah makan belum? Ku traktir hotteok, yuk? Kau suka, kan?" ajak Jun Hyeon.


"Kamu nggak lihat, dia lagi sama aku? Kami masih ada kegiatan berdua," kata Ningsih dengan lantang.


"Anda siapa? Sepertinya bukan orang Korea?" tanya Jun Hyeon pura-pura nggak tahu.


"Dia guru les sekaligus guide ku selama di Korea. Dan malam ini kami masih ada janji," jawab Ningsih dengan sangat lancar.


"Begitu, ya? Maaf aku mengganggu." Jun Hyeon membiarkan kedua cewek itu pergi.


"Sial! Kenapa banyak banget sih penganggu hari ini," gerutu Jun Hyeon dalam hati.


...🍎🍎🍎...


"Loh, Seon Wooil? Sedang apa di sini?"


"Papa ada di dalam?" tanya Wooil pada salah satu ajudan ayahnya.


"Tuan Seon sedang ada kunjungan di pasar tradisional bersama Pak Walikota," jawab ajudan tadi.


"Ini kesempatanku," pikir Wooil.


"Pak, saya boleh kan masuk ke ruang kerja papa sebentar?" tanya Wooil.


"Boleh saja. Tapi mungkin Tuan Seon bakal lama pulangnya. Karena tempat yang akan dikunjungi nggak cuma satu orang."


"Oh, nggak apa-apa. Aku cuma mau numpang istirahat sebentar," kata Wooil.


Ceklek!


Wooil membuka pintu kayu itu berukiran unik itu. Aroma kopi yang lembut, langsung tercium.


Tanpa membuang waktu, Wooil lalu membuka satu per satu laci ruang kerja ayahnya.


Karena ucapan Kim Min Ji kemarin, rasa penasaran akan ayahnya semakin tidak tertahankan.


"Apa benar ayah menyimpan foto-foto perempuan itu di sini? Tapi kenapa aku nggak menemukan sstu pun?" gumam Wooil.


"Apa aku terlalu gegabah, karena mengikuti kata-kata cewek itu?"


Wooil masih belum menyerah. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan itu. Matanya pun terpaku pada sebuah lemari kecil di sudut ruangan.


Ah, sial! Lemarinya memang tidak terkunci. Tapi malah ada berankas di dalamnyan


Cukup lama Wooil menebak-nebak kunci berangkas itu. Hembusan pendingin udara yang sejuk, nggak mampu menahan peluhnya mengalir deras.


Cklak!


Berhasil! Ada perasaan lega ketika berankas itu terbuka. Tapi di hati kecilnya, ia merasa kecewa.


Bagaimana tidak. Kunci berangkas itu tidak menggunakan tanggal-tanggal penting ia, ibunya dan juga kakak lelakinya.


Ayahnya justru mengginakan kombinasi nomor, yang tak lain adalah ulang tahun Bitna.


Wooil segera mengecek isi berankas itu. Hatinya menjerit. Apa yang di katakan Min Ji benar. Ia menemukan lebih banyak foto-foto mendiang ibu Bitna dan Bitna kecil di sana.


Tidak hanya itu. Ayahnya juga menyimpan beberpaa foto wanita lain. Satu di antaranya masih sangat muda.


"Siapa mereka semua?" geram Wooil.


Cowok itu teringat kata-kata Min Ji kemarin, sebelum mereka berpisah.


"Apa kau tahu? Alasan ayahmu untuk jadi pejabat itu gara-gara ibunya Bitna," ujar Min Ji.


"Apa maksud gadis itu, ya?" pikir Wooil.


(Bersambung)