
Setelah selesai pertandingan antara Vernon dan Kagami dengan melakukan pertarungan jarak dekat hingga pada akhirnya pemenangnya adalah Kagami.
Vernon yang langsung siap menerima hukuman dari ayahnya sendiri di dalam ruang bawah tanah selama 1 minggu sesuai dengan janji yang di buat oleh Vernon sendiri Sedangkan Kagami langsung sedang membicarakan suatu hal bersama Tuan Alexi.
Kagami bersama Tuan Alexi yang membicarakan tentang mencari sumber masalah dari binatang serigala yang menyerang kota Gradeuz dan Tuan Alexi langsung mengeluarkan peta kota Gradeuz yang sangat luas sambil membicarakan untuk mempersiapkan hal besok.
"Tuan Alexi apakah anak anda akan baik baik saja?” Kagami yang hanya ingin memastikan keadaan Vernon tidak bertambah buruk.
"Sepertinya akan baik-baik” Tuan Alexi yang tidak khawatir karena melihat wajah anaknya yang serius untuk menerima hukuman yang sudah di buatnya.
"Kalau begitu besok akan pergi menuju arah selatan dahulu untuk memeriksa jika anda bicara ada beberapa orang yang di kirim untuk memeriksa belum kembali jadi sebaiknya kesana dahulu saja” Kagami yang langsung memberikan keputusan.
"Baik besok saya akan siapkan bersama barang yang anda minta untuk tambahan perlengkapan bertarung untuk prajurit yang anda bawa” Tuan Alexi yang menghargai keputusan Kagami.
"Kalau begitu sudah saatnya aku kembali” Kagami langsung meregangkan otot tubuhnya karena terlalu lama duduk sambil membicarakan untuk besok.
"Apakah perlu di antar?” Tuan Alexi langsung berdiri mengikuti Kagami.
"Tidak perlu dan sampai jumpa besok” Kagami langsung menghilang dengan cepat.
"Anak ini memang mirip seperti ayahnya pergi dalam sekejap namun saat mengajaknya datang sangatlah sulit” Tuan Alexi sambil mengeluh.
Lalu Tuan Alexi langsung pergi menuju ruang bawah tanah sambil memberikan perintah kepada Pelayannya untuk menyiapkan makanan kemudian bawa ke tempat anaknya menerima hukuman yaitu ruang bawah tanah.
Kagami yang sampai di dalam Domain milik Liyana yang masih belum selesai mengajari Elaina.
"Yo ternyata belum selesai kalian berdua?” Kagami dengan wajah santainya bicara kepada Liyana dan Elaina.
"Ka-kagami! Sejak kapan kau disini?” Liyana yang langsung terkejut karena tiba-tiba ada di belakangnya.
"Baru saja kok dan aku kira kalian sedang ada penginapan karena aku malas berjalan jadi sengaja teleportasi akhirnya sampai di sini” Kagami langsung menjelaskan kepada Liyana.
"A-ah begitu ya jadi bagaimana keputusannya?” Liyana yang ingin tau keputusan tuan Alexi.
"Besok kita akan pergi dan memeriksa ke arah selatan karena Tuan Alexi sudah sejak lama mengirim beberapa prajurit tapi belum kembali” Kagami yang langsung memberitahukan kepada Liyana.
"Ehh kalian berdua akan pergi?” Elaina yang baru saja ingin mengenal Liyana bersama Kagami.
"Tidak akan lama jadi berlatihlah sesuai apa yang aku katakan sebelumnya” Liyana langsung menepuk pundak Elaina.
"Padahal aku baru saja ingin mengenal kalian berdua lebih dekat tapi jika kalian berdua pergi bisakah aku ikut bersama kalian dan aku akan berusaha tidak merepotkan kalian berdua” Elaina yang langsung bicara serius kepada kagami bersama Liyana.
"Aku butuh alasan untuk membiarkanmu ikut katakan?” Kagami yang langsung ingin mengetahui alasannya sendiri.
"Karena aku ingin mendapatkan pengalaman bertarung sendiri karena Liyana sudah mengajariku jadi aku ingin mencobanya sendiri” Elaina sambil menunduk wajahnya karena malu mengakuinya.
"Jika itulah yang memang di inginkan olehmu aku akan mengizinkan tapi selesaikan tes dariku” Kagami langsung mengeluarkan 20 Orcs di belakangnya.
Kemudian Kagami langsung melemparkan sebuah benda yang bisa membantu untuk mengontrol kemampuannya sendiri karena bayangan Monster Leviathan memberitahukan kepada kagami sebelumnnya.
Lalu 20 bayangan monster Orcs langsung menyerang Elaina dengan cepat sedangkan Kagami menahan Liyana untuk membantunya.
Elaina langsung dengan cepat mengambil yang Kagami berikan lalu fokus seperti Liyana ajarkan sebelumnya.
Elaina langsung sekejap langsung berhasil membangkitkan kemampuannya sendiri yaitu kekuatan alam dan Elaina langsung memunculkan tanaman rambat dari bawahnya sehingga mengikat sebagian monster Orcs lalu menghancurkannya.
Tidak berselang lama semua monster Orcs lenyap dan kagami sengaja tidak mengeluarkannya kembali karena Liyana memasang wajah marah sekaligus kesal.
"Bagaimana keadaanmu Elaina?” Liyana yang langsung mendekati Elaina.
"Hah hah tiba tiba badanku bergerak sendiri dan sekarang aku lemas sekali” Elaina sambil menarik nafas pelan karena merasa sangat lelah.
"Itu adalah keberanianmu untuk bertahan hidup dan sekarang istirahatlah dahulu” Kagami langsung menyentuh kepala Elaina untuk memulihkan staminanya kembali.
"Tubuhku kembali merasa segar kembali” Elaina yang merasakan tubuhnya tidak lemas kembali.
"Itu adalah sebagai permintaan maaf karena sudah memaksamu untuk membangkitkan kemampuanmu sendiri” Kagami yang langsung bicara kepada Elaina.
"Terimakasih bagaimana dengan ini?” Elaina menunjukkan kepada tongkat sihir.
"Untuk sementara berguna untuk mengontrol energi sekaligus mengendalikan kemampuan jadi simpanlah” Kagami yang langsung berjalan menjauh.
Liyana langsung membuka portal kembali karena Kagami meminta Liyana diam lebih lama di Domain miliknya sendiri sambil melatih Elaina sedikit lebih keras jika besok ingin mengikutinya.
Setelah keluar dari Domain milik Liyana melihat Pria tua yaitu ayah Elaina yang baru saja mengurus semua yang selama ini di kerjakan oleh Elaina.
Karena Kagami tidak mau menggangu langsung menghilang agar tidak mengganggunya dan pergi menuju kamarnya sendiri untuk istirahat.
Kagami memutuskan untuk istirahat karena harus memulihkan kondisinya yang sedang tidak bagus untuk hari besok mencari informasi ke arah selatan.
Di sisi lain tempat Liyana bersama Elaina yang mencoba mengajarkannya untuk mengendalikan kemampuannya sendiri dan setelah sekitar 3 jam berada di dalam Domain milik Liyana berada.
"Liyana latihannya sudah cukup ya?” Elaina yang memohon untuk berhenti.
"Ya sudah kok sekarang waktunya kembali karena sudah terlalu lama disini” Liyana yang mengerti yang di rasakan oleh Elaina sama seperti diri Liyana dahulu sebelum bertemu kagami oleh seseorang yang di kenalnya dahulu.
"Jadi besok aku boleh pergi bersama kalian berdua?” Elaina yang bertanya kembali kepada Liyana.
"Iya aku mengizinkanmu ikut karena aku mengakuinya bahwa kemampuanmu hebat Elaina” Liyana langsung memuji Elaina.
"Ehh aku tidak hebat sepertimu Liyana dan ayahku pernah berkata kemampuanku sebenarnya tidak terlalu berguna namun aku belum mengetahui kemampuan apa yang aku punya” Elaina sambil menundukkan wajahnya.
"Tidak perlu murung nanti dirimu akan mengetahuinya sendiri” Liyana langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Elaina pergi.
"Iya dan aku ingin menjadi hebat seperti orang yang aku kagumi selama ini” Elaina yang bicara dengan semangat yang membara.
Liyana yang hanya bisa senang melihat Elaina yang cukup bersemangat menantikan latihan selanjutnya.
Liyana langsung membuka portal kembali dari dalam Domain milik Liyana melihat banyak sekali pelanggan di setiap kursi dan hanya ayah Elaina saja yang mengurusinya semua pelanggan penginapannya.
"Ehh jam berapa sekarang kenapa ramai sekali?” Elaina yang merasa kasihan kepada ayahnya.
"Hm jam 14:25 bagaimana kalau aku bantu saja?” Liyana yang langsung ingin menolong Elaina.
"Boleh saja” Elaina pergi membantu ayahnya dan Liyana menunggu di dalam untuk menyiapkan yang akan di minta pelanggan.
Lalu Liyana langsung membantu Elaina karena sangat menyukai pekerjaannya sekaligus mengurangi beban pekerjaan Elaina bersama ayahnya.
Waktu yang terus berjalan penginapan semakin lama semakin sepi karena hari sudah malam dan semua orang sudah mulai tidur ada di dalam penginapan.
Liyana yang berjalan menuju kamarnya sendiri sambil mengecek kamar Kagami yang sudah tertidur atau pergi berlatih dan setelah melihat ke dalam kamar Kagami terlihat Kagami sedang tertidur pulas lalu Liyana yang langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.
*****
Di pagi hari yang mulai kembali dingin karena badai semalam dan Tuan Alexi sudah datang sejak pagi bersama dengan beberapa Prajurit yang sudah di bawa tidak terlalu banyak.
Kagami bersama Liyana yang sudah bangun sejak tadi pagi juga sudah siap dengan kondisi stabil dengan memakai pakaian cukup tebal dan tidak lupa juga Elaina yang sangat ingin ikut bersama Liyana dan Kagami mengecek ke arah selatan bersama-sama.
Saat berjalan menuju arah pengunungan selatan Kagami bersama Liyana merasakan seperti sebelumnya yaitu Hawa kebencian yang berasal Dari Blood Stone sendiri dari arah selatan pegunungan.
"Kagami kau merasakannya juga bukan?” Liyana langsung mendekati kagami.
"Ya ini sama seperti sebelumnya berasal dari Blood Stone Sebaiknya hati hati jika ada yang muncul menyerang” Kagami langsung mengeluarkan senjata Lexalicus.
"Iya aku tau” Liyana juga langsung mengeluarkan pedang Bloody Sfraksor.
"Ehh ada apa ini?” Elaina yang melihat Kagami bersama Liyana mengeluarkan sebuah senjata.
"Apa kalian semua tidak merasakannya?” Liyana langsung bertanya kepada Elaina, Tuan Alexi bersama para prajurit yang di bawanya.
"Memangnya apa yang Anda rasakan?” Tuan Alexi yang benar-benar tidak merasakan apapun.
"Percuma saja hanya kita berdua yang merasakannya Liyana” Kagami yang langsung berhenti berjalan sambil mengeluarkan bola api hitam berukuran sedang di tangannya.
"Oh aku kira mereka juga merasakannya” Liyana yang langsung bicara kepada Kagami yang sedang menyalakan api.
Semua orang tidak bisa merasakan apapun hanya bisa diam karena Kagami sebagai pemimpin memutuskan untuk berhenti dahulu setelah lama berjalan ke arah selatan dengan angin kencang.
"Keluarlah jangan bersembunyi atau akan aku bunuh kau!!” Kagami yang merasakan sesuatu yang bersembunyi di balik salju.
"...” sesuatu yang bersembunyi sengaja tidak mendengarkan perkataan Kagami.
"Apa yang sebenarnya terjadi?” Elaina yang merasa takut.
"Ada sesuatu yang bersembunyi sebaiknya percaya saja kepada Kagami dahulu” Liyana yang masih percaya.
‘Fire Lotus : Flare Eksplosion..!!’ Kagami yang langsung melemparkan Api hitam ke depannya.
Bam!
Dentuman serangan Kagami yang di tahan oleh sesuatu sesuatu yang muncul menahan serangan Kagami.
"Manusia kau sangat hebat bisa mengetahui keberadaanku, padahal sudah banyak manusia yang kubunuh tingga sedikit lagi kalian semua mati dan keluarlah anak anakku” Monster itu mulai terlihat asap terhapus terbawa angin.
"Dasar pecundang bersembunyi di balik salju” Kagami masih menahan diri untuk mengubah senjatanya.
"Dasar Brengs*k bunuh dia untukku sekarang!!” Pemimpin serigala langsung memberikan perintah kepada anak anaknya untuk menyerang Kagami.
‘Hunting Ground Of Darkness..!!’ Kagami langsung membuka portal dari tanah yang di injaknya.
Roarr? Grr!
Tiba tiba semua anak anak serigala yang ingin menyerang Kagami langsung terjebak oleh banyak tangan menahannya.
"Apa itu kemampuan milik kagami?” Elaina yang terkejut masih di tahan oleh Liyana untuk tidak bergerak kemanapun.
"Ya untuk sekarang semuanya diam dahulu” Liyana yang berusaha melindungi semua sebisanya sendiri.
‘Bentuk pertama Lexalicus : Death Scyte!’ Kagami langsung menebas semua serigala dari kepala satu persatu.
"Sekarang katakan kenapa kau memangsa manusia?” Kagami yang langsung bertanya dan bayangan Leviathan langsung muncul di pundak Kagami dengan ukuran kecil.
"Hanya perintah jadi jangan bunuh dan biarkan hidup” Serigala yang sudah hampir berevolusi menjadi manusia namun hanya tubuhnya saja.
"Setelah mencoba membunuhku dengan berapa orang yang sudah kau bunuh lalu kau baru takut terlambat! Jawabannya tidak akan kubiarkan hidup” Kagami langsung mengangkat sabit di tangannya.
"Bunuh saja tuan dia hanya tidak berguna” Bayangan Leviathan langsung bicara kepada kagami.
"Itulah yang aku inginkan Mati!” Kagami langsung menebasnya hingga kepalanya terputus.
Kemudian bayangan Leviathan langsung menghilang dari pundak Kagami sambil memberitahukan apa yang sudah di lihatnya dari ingatan monster Serigala.
"Maaf tidak banyak informasi dari monster tersebut mereka hanyalah serigala yang membunuh manusia yang mendatangi wilayahnya termasuk prajurit yang anda kirim Tuan Alexi” Kagami sambil berjalan kembali sambil mengubah senjata Lexalicus ke bentuk semula.
"Begitu ya tidak apa” Tuan Alexi yang langsung menghargai Kagami sebagai pemimpin.
"Apa mendapatkan informasi lain Kagami?” Liyana yang ingin mengetahuinya.
"Tidak banyak namun sangat berbahaya” Kagami yang langsung mengatakan sesuai dengan ingatan yang dk lihat oleh Bayangan Leviathan sendiri.
"Katakan saja semua” Liyana ingin mengetahuinya.
"Baiklah dirikan tenda dahulu dan setelah itu baru aku akan mengatakannya” Kagami yang langsung memberikan perintah kepada para prajurit untuk memasang tenda karena angin sudah tidak kencang.
Setelah beberapa menit mendirikan beberapa tenda selesai lalu semuanya langsung berkumpul di satu tempat sambil menyalakan api unggun.
"Jadi informasi seperti apa yang di dapatkan?” Elaina sebenarnya ingin tau banyak tentang kemampuan Kagami sendiri.
"Informasi pertama di sebelah barat Ras Serigala semuanya sudah berevolusi menjadi hampir seluruh tubuh namun hanya kepalanya saja seperti serigala tapi masalah ketahanan tubuh tidak beda jauh seperti manusia”
"Informasi kedua semua Ras serigala bisa berevolusi karena mendapatkan kekuatan tambahan dari energi berasal dari Blood Stone sebenarnya Ras serigala menginginkan lebih besar lagi dan disini juga ada Blood Stone namun di jaga oleh 1 ekor Rubah berekor 3 yaitu seekor betina yang baru saja mempunyai anak rubah berekor 2 dan induk Rubah berusaha melindungi Blood Stone dari jangkauan manusia dan Ras serigala namun gagal karena induk Rubah semakin melemah”
"Ketiga aku bersama Liyana akan mengambil kedua Blood Stone bukan untuk hal buruk namun untuk meningkatkan kekuatan namun hanya Liyana orang yang terpilih jadi aku memilih membawa kalian pulang karena aku tidak ingin ada yang mati karena ini berbahaya” Kagami yang langsung mengatakan kepada semuanya yang Kagami ketahui.
"Saya pernah dengar keberadaan Blood Stone namun kenapa hanya bisa di gunakan oleh nona Liyana saja?” Tanya prajurit yang di bawa kagami.
"Karena Liyana yang telah di pilih oleh Dewa Thanatos untuk mendapatkan kekuatan dari Blood Stone karena Dewa Thanatos di segel di suatu tempat oleh para dewa dan memanfaatkan Blood Stone untuk melenyapkan dunia ini” Kagami yang tidak bisa menghindari lagi.
"Jika tuan muda Kagami menginginkan kami semua pulang maka kami semua akan kembali” Semua prajurit percaya kepada Kagami dan Liyana.
"Terima kasih karena aku hanya ingin kalian semua hidup” Kagami yang menghormati keputusan Para prajuritnya.
Lalu Semua prajurit yang di bawa oleh Kagami maupun Tuan Alexi kembali menuju kota kembali bersamaan dengan tenda yang di rapikan kembali tinggal tersisa sedikit dan yang tersisa hanya ada Tuan Alexi bersama Elaina.
"Kalian berdua benar-benar ingin ikut?” Kagami yang langsung bertanya kepada Elaina dan Tuan Alexi.
"Saya meminta bantuan kepada anda jadi saya juga harus menjaga anda hingga kembali” Tuan Alexi yang hanya harus menjaga agar Kagami baik baik saja hingga kembali.
"Aku hanya ingin mencari pengalaman bertarung jadi bawalah aku bersama kalian berdua” Elaina yang langsung mengatakan kepada Kagami.
"Jika alasan kalian berdua seperti itu maka kalian berdua tanggung jawabku sendiri” Kagami yang hanya bisa menghargainya sambil menyebarkan para prajurit bayangan miliknya kepada Tuan Alexi dan Elaina yang masih perlu di jaga.
"Jadi sekarang kita akan kemana dahulu senior Kagami?” Elaina langsung memanggil panggilan buatan Elaina sendiri.
"Untuk saat ini tidak perlu khawatir jadi tidak perlu bertarung hanya perlu manyakinkannya saja Karena Induk Rubah ini menunggu orang yang tepat” Kagami langsung mengatakannya kepada Elaina.
"Baiklah aku masih bisa tenang” Elaina sambil membuang nafas lega.
"Kalau mau istirahat atau langsung pergi lagi?” kagami langsung bertanya kepada Liyana, Elaina dan Tuan Alexi.
"Lanjut saja aku tidak sabar ingin lihat bentuk asli rubah ekor 3 itu” Elaina penuh semangat.
"Baiklah ayo pergi tapi sebelum itu bereskan tenda masing-masing dahulu” Kagami yang langsung memeriksa tempat sekitar.
Setelah beberapa menit membereskan tenda milik masing-masing lalu tidak lupa Liyana langsung mengisi menyerap semua darah ke dalam pedang Bloody Sfraksor dan setelah selesai langsung pergi menuju arah gunung di sebelah selatan.
Lalu badai salju kembali lagi datang dengan lebih besar lalu Kagami langsung membuat Barier api hitam melindungi dari terbawa badai salju bersama Elaina, Liyana dan Tuan Alexi.
Semuanya langsung pergi dengan karena merasakan Hawa keberadaan yang sangat banyak sekali di pegunungan utara sedang merebutka6 sesuatu.
"LEVIATHAN!” Kagami yang langsung mencoba memanggil Bayangan Leviathan.
"Saya mengerti tuan” Bayangan Leviathan langsung muncul dengan ukuran sangat besar langsung muncul dari bawah kaki Kagami.
Liyana yang sudah tau Kagami akan memanggil salah satu bayangan miliknya keluar namun Tuan Alexi bersama Elaina terkejut dengan sosok aneh yang Kagami panggil dengan cepat.
"Semuanya bersiap bertarung karena jika Blood Stone ada yang menggunakannya ini akan sangat bahaya” Kagami yang tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya karena kondisi dirinya sendiri tidak seperti sebelumnya.
"Baik” Liyana, Elaina dan Tuan Alexi mengerti apa yang ingin Kagami lakukan.
"Tutup telinga kalian dan Leviathan mengaunglah dengan keras!” Kagami yang langsung langsung memberikan perintah kepada bayangan Leviathan.
"GGRROOAARRGGHH!!” Aungan Leviathan yang setara bisa menghancurkan alat pendengaran manusia jarak dekat hingga bisa membuat takut semua hewan maupun monster di dekatnya.
‘Lexalicus Bentuk ke-2 : Spear Star!’ Kagami langsung melemparkan kedua bintang dari tombak dari kejauhan untuk mengamankan Blood Stone.
‘Bloodlust..!!’ Liyana langsung mengubah pandangannya lagi menjadi 2 bagian untuk membatasi jumlah darah dewa dan darah di dalam pedang Bloody Sfraksor yang sudah di kumpulkan sejak lama.
‘Teknik Darah Dewa ke-5 : Rain Sword Of Blood..!!’ Liyana yang langsung mengalirkan mana ke langit lalu membuat hujan darah berbentuk pedang secara beruntun.
"Gila mereka berdua benar benar melakukannya dengan sangat hebat kalau begitu ayo lakukan bersama Tuan Alexi” Elaina juga tidak ingin kalah.
"Tch dasar! Ayo lakukan” Tuan Alexi langsung menggunakan kemampuannya juga.
Lalu saat sampai Elaina langsung mengarahkan tongkatnya kepada semua yang ada atas gunung dari dalam tanah mengeluarkan sejumlah akar pohon berduri hingga menangkap sebagian orang hingga membunuhnya tanpa sadar.
‘Lexalicus bentuk ke-3 : Pandarus Spengler!!’ Kagami langsung mengubah ke bentuk akhir sambil mengeluarkan pedang Guardians juga.
‘Lightning Step..!!’ Kagami yang langsung melesat untuk pergi dengan cepat.
Saat sampai di atas gunung banyak sekali ras Serigala bersama manusia yang memperebutkan Blood Stone hingga Kagami kesal dan marah.
Dan melihat Induk Rubah yang di lihat dari sudah terluka parah karena sebuah luka fatal di tubuhnya tertancap pedang namun bukan serangan dari pedang yang Liyana yang muncul dari langit tapi di tusuk oleh seorang manusia yang sudah di bunuh oleh anak seekor Rubah kecil berekor 2.
"Ggrrr!” Anak Rubah yang tau mengetahui rasa ancaman.
Riziel langsung menyembuhkan lukanya namun gagal kemudian Bayangan Leviathan langsung bicara dari kejauhan kepada Kagami.
"Tuan dia sudah mati tidak berguna penyembuhan anda harus menghidupkan kembali untuk mempunyai kesempatan merebut 1 Blood Stone” Bayangan Leviathan bicara melalui telepati kepada Kagami.
Lalu kagami yang penuh bimbang masih belum bisa menentukannya sambil menyimpan pedangnya.