Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
88. Wilayah Bawah Sadar



Kagami yang sampai di suatu tempat yang sepi yaitu dekat ruangan Pribadi miliknya sendiri dan juga disana sudah ada mereka bertiga yaitu Hoaxen, Vortex dan Tenebris menunggu secara bersamaan.


"Kalian sudah semakin kuat dari sebelumnya dan bagaimana keadaan kalian?” Kagami yang sangat peduli kepada 3 monster bersaudara itu.


"Kami dalam keadaan baik baik saja tuan” Vortex dan Tenebris bicara bersama.


"Tuan siapa yang anda bawa itu?” Hoaxen yang tidak bisa melihat jelas wajah seseorang yang di bawa oleh Kagami.


"Ohh ini Igris yang baru selesai bertarung dan hasilnya memang namun Igris terluka tidak terlalu Fatal” Kagami sambil menurunkan Igris.


‘Darkness Recovery!’ Kagami yang membantu memulihkan luka luka Igris yang lumayan banyak di seluruh tubuhnya.


Kagami langsung menempatkan Igris di dalam ruangan Pribadinya untuk Istirahat memulihkan energinya kembali sampai kembali sadar dari Pingsan.


Lalu kagami yang melihat sebentar keadaan Liyana yang masih belum selesai menyerap kekuatan Blood Stone karena membutuhkan waktu yang sangat lama.


"Tuan nona dalam keadaan baik jangan khawatir” Vortex langsung bicara kepada kagami.


"Hah ya aku tau” Kagami yang langsung pergi menuju tempat yang lebih dalam.


"Tuan apa anda ingin menjelajah ruang lebih dalam?” Tenebris yang ingin mengikuti Kagami namun kekuatannya masih lemah.


"Ya beritahukan kepada Liyana dan Igris sadar aku pergi menjelajahi tempat lebih dalam” Kagami yang langsung melanjutkan langkahnya.


"Baiklah tuan" Hoaxen dan Vortex menjawab bersama.


Ketiga monster bersaudara itu mengetahuinya bahwa mereka masih lemah untuk berada di sisi Kagami sebagai tuan mereka dan tidak ingin mereka di gantikan oleh seseorang sebagai bawahan terkuatnya.


Kagami yang lupa tidak memberikan hasil pertandingan Igris menitipkannya karena sudah berjalan cukup jauh menjelajahi lebih dalam ruangan demi ruangan dengan energi sekitar yang tidak terlalu kuat.


Kagami terus berjalan hingga memasuki tempat yang terdapat energi sekeliling semakin kuat namun kagami terus berjalan hingga menemukan tempat yang membuat tubuh Kagami tidak kuat menahan kekuatan sekitarnya.


Setelah berjalan beberapa lama akhirnya sampai di tempat yang membuat Kagami tidak kuat lagi berjalan karena energi sekitar sangat kuat menahannya di sini.


"Hah akhirnya tempat seperti ini yang aku inginkan!” Kagami yang cukup senang dengan energi sekitarnya cukup kuat.


Lalu kagami langsung memasukkan 3 mutiara untuk membuka ruang Pribadi di tempat untuk cepat meningkatkan kekuatan lebih kuat lagi.


"Tunggu saja Bajing*n Zhigen akan aku bunuh kau!” Kagami yang berniat membunuhnya suatu hari nanti jika bertemu di suatu tempat.


Kagami yang memasuki ruangan pribadi barunya lalu fokus menyerap energi kuat sekitarnya yang membantu untuk meningkatkan kekuatan sendiri.


******


Setelah Kagami pergi menuju tempat lebih dalam untuk menemukan tempat meningkatkan kekuatannya dengan begitu cepat dan di saat bersamaan Igris baru sadar tersadar dari pingsannya karena tekanan energi sekitar sangat kuat bagi Igris sendiri.


"Dimana ini?” Igris yang melihat dirinya di dalam suatu ruangan.


"Akhirnya kau sadar juga dan ini di dalam ruangan Pribadi milik tuan Kagami” Agares yang bicara dari balik bayangan Igris.


"Ehh apa tuan mengetahui bahwa aku bertarung sebelumnya?” Igris yang tidak menyadarinya bahwa Kagami menolong saat detik terakhir pertarungan.


"Tentu saja jika tuan tidak datang mungkin kau sudah habis di bunuh oleh manusia yang menantangmu” Agares yang mengatakan sebenarnya.


"Begitu ya” Igris yang mendengar perkataan Agares merasa kecewa bahwa dirinya masih belum mampu untuk mengalahkan seseorang.


"Tidak perlu di pikirkan tapi kau sudah berjuang cukup hebat dan sekarang pakai tempat ini untuk fokus meningkatkan kemampuan itu” Agares yang mengetahui isi pikiran Igris penuh dengan kecewa.


"Terimakasih agares karena selalu ada untukku lain kali aku akan berjuang sekuat tenaga untuk layak berada di sisi tuan” Igris yang tidak boleh mengecewakan tuan Kagami yang sudah menyelamatkan hidupnya dahulu.


Agares yang senang dengan semangat Igris namun di sisi lain Liyana yang sedang kesulitan menyerap kekuatan darah di dalam Blood Stone karena energi kebencian yang sangat kuat di dalamnya.


Liyana yang sampai di suatu tempat yang sangat indah dan liyana sangat tidak mengerti dimana dirinya sekarang.


"Halo apakah ada seseorang disini?” liyana yang sangat kebingungan.


Lalu muncul sosok hitam menunjukkan diri sekaligus tempat itu berubah menjadi gelap dan ada rantai di sekeliling dengan tekanan sekitar yang berubah menjadi sangat kuat hingga membuat liyana terbungkuk oleh tekanan energi.


[Foto]


"Siapa yang mengizinkan seseorang sepertimu masuk ke wilayah alam bawah sadarku!” Sosok yang langsung mendekati Liyana.


"Aku juga tidak tau kenapa aku ada disini” Liyana yang sudah tidak kuat menahan energi kuat sekitar.


"Kalau begitu maafkan aku bagaimana kalau kita bicara berdua saja” Sosok itu mulai mengubah tempat sekaligus menyerap kembali energinya.


"Hah hah sebenarnya kau ini manusia atau bukan sih?” Liyana yang bisa berdiri berkat sosok itu menghilangkan sebagian energinya sekitar.


"Ikuti saya jika kau ingin tau lebih lengkapnya sambil mendengarkan cerita milikmu sendiri” Sosok itu langsung mengajak liyana menuju tempat pegunungan yang indah.


Lalu liyana yang tanpa pikir panjang langsung mengikutinya dari belakang sambil mengetahui siapa sosok di hadapannya sambil mencari cara keluar dari sana untuk kembali.


Setelah lama berjalan langsung sampai di pegunungan yang sangat tinggi dan terdapat kursi, meja sekaligus cemilan yang sudah ada disana dengan pemandangan indah di tambah oleh bunga dan kupu-kupu berterbangan.


"Wah indah sekali sebenarnya ini dimana?” Liyana yang tanpa sadar takjub dengan tempat liyana sekarang.


"Ini tempat yang sama apa kau menyukainya?” Sosok itu bicara kepada Liyana dengan sopan.


"Ahh iya aku menyukainya” liyana yang merasa sosok di hadapannya tidak mempunyai niat buruk.


"Silahkan duduk dahulu” Sosok itu mempersilahkan liyana duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Baiklah sebenarnya dimana aku sekarang?” Liyana yang tidak ingin bertele-tele lagi.


"Hahhh baiklah sebenarnya ini adalah wilayahku atau alam bawah sadarku dan sebelum itu perkenalkan namaku Thanatos sang dewa kematian sekarang perkenalkan namamu nona” Dewa Thanatos langsung bicara kepada Liyana.


"Ehh dewa! Ehem maaf aku terkejut perkenalkan namaku Liyana Nero seorang ras manusia dan aku tidak mengerti yang terjadi padaku sampai ada disini” Liyana yang bicara dengan penuh kegugupan.


"Aku juga tidak tau lebih tepatnya aku harus bicara bagaimana ta--” liyana yang langsung di hentikan bicara oleh Dewa Thanatos.


"Jangan gugup nikmati saja suasana sekitarmu dahulu baru bicara pelan-pelan” Dewa Thanatos mengerti pasti seorang manusia terkejut bisa bertemu dewa.


"Maaf ini baru pertama kalinya bagiku bisa bertemu dewa dan aku sebelumnnya aku merasa sedang menyerap kekuatan yang berada di dalam Blood Stone” Liyana yang mencoba mengingat kembali.


"Tunggu kau bilang Blood Stone apa itu?” Dewa Thanatos langsung bertanya kepada liyana.


"Blood Stone itu sebuah batu seperti biasa berbentuk seperti bulat namun panjang dan berisi kekuatan sama seperti namanya yaitu batu darah dan temanku di serang setelah itu aku mendengar beberapa kata yaitu Blood Stone adalah sebuah batu yang di anugrahi darah sang dewa kematian untuk balas dendam” liyana yang memberitahukan seingat mungkin.


"Apa bagaimana mungkin! Urgh apa yang sebenarnya terjadi padaku” Dewa Thanatos yang langsung menggebrak meja sambil memegang kepala yang mulai kesakitan.


"Dewa Thanatos apa yang terjadi?” Liyana yang sangat takut.


"Maaf beri waktu saya berfikir sebentar bisakah diam dahulu” Dewa Thanatos langsung mencoba mengingat kembali.


Setelah lewat mungkin 35 menit berlalu akhirnya dewa Thanatos langsung kembali melanjutkan pembicaraan kepada liyana.


"Jadi apa anda sudah baikan sekaligus mengingat apa yang terjadi pada anda?” Liyana yang mencoba bersimpati.


"Ya kurang lebih saya ingat dan saya bisa ada disini karena bawahanku yang bernama Hades mencoba membunuhku untuk mengajakku bekerja sama untuk membunuh seorang anak yang akan menjadi penyelamat alam semesta yang sudah di kendalikan oleh sebagian dewa”


"Namun saya menolaknya karena saya hanya punya hak untuk mengendalikan dunia kematian dan di saat itu juga 2 dewa yang ingin membantu hades datang yaitu Dewa Iblis yaitu Tartarus dan Dewa penghancur dan pencipta dunia yaitu Shiva setelah itu pertempuran besar hingga aku terjatuh ke dunia manusia”


"Kemudian Dewa Shiva menyegelku di sebuah batu besar yang kau katakan yaitu Blood Stone namun itu hanya sebagian kecil dari kekuatan sekaligus darahku yang di manfaatkan ketiga dewa untuk menguasai alam semesta” Dewa Thanatos langsung menceritakan yang masih teringat.


"Kenapa sesama dewa melakukan hal seperti itu?” Liyana yang tidak menyangka hal seperti itu di lakukan oleh para dewa sendiri.


"Ya pada dasarnya manusia maupun dewa sikapnya sama saja tidak ada yang beda namun ketika para dewa bosan dengan ciptaannya akan segera di buat lenyap yaitu salah satunya dewa Shiva” Dewa Thanatos yang memberikan pemahaman kepada Liyana agar mengerti.


"Ohh ya kenapa di sekitar Blood Stone itu aku merasa ada sedikit energi kebencian yang sangat kuat apa itu berasal dari anda? Dan apa kebencian itu tertuju kepada ketiga dewa itu?” liyana yang masih sedikit kesulitan dalam mengatasi energi kebencian yang kuat menyelimutinya.


"Ya sepertinya yang seperti kau pikirkan dan saya dewa Thanatos sang dewa kematian memperbolehkanmu untuk menggunakan kekuatan itu namun 1 syarat dariku yaitu temukan diriku dari sini dan bebaskan dari segel di dalam Blood Stone di suatu tempat” Dewa Thanatos yang meminta bantuan kepada Liyana.


"Bukankah itu hal memalukan jika seseorang dewa di selamatkan oleh manusia ciptaannya sendiri” Liyana yang sedikit ragu untuk menyetujuinya.


"Ugh saya pernah mengatakannya bahwa saya bukanlah yang menciptakan manusia tapi yang menciptakan semua makhluk hidup adalah Dewa Shiva kau mengerti!, Jadi itu tidak ada urusannya bagiku” Dewa Thanatos yang sangat kesal dengan perkataan Liyana namun dirinya sebagai dewa harus menerimanya.


"Baiklah sebelum aku menyetujuinya ada yang ingin aku katakan” Liyana yang ingin mengetahui lebih dalam.


"Silahkan tanyakan saja” Dewa Thanatos yang sangat senang ada yang mengajak mengobrol sekian lama sendirian.


"Ya aku tau siapa yang akan menjadi sasaran tiga dewa yaitu kekasihku sendiri” Liyana yang langsung memberitahukan kepada dewa Thanatos.


"Tidak mungkin!, Apa yang membuatmu yakin akan hal itu?” Dewa Thanatos yang masih tidak percaya perkataan Liyana.


"Karena dirinya pernah mengatakan bahwa dia adalah seseorang yang terlahir kembali dari dimensi atau dunia lain dimana tidak ada sihir dan juga belum lama ini dia bertemu dengan musuh lamanya di semasa hidupnya dulu”


"Aku juga bisa bisa melihat musuh dahulunya kekasihku yang lebih kuat darinya dan aku juga mendengar untuk mencari waktu dimana untuk menghancurkan semua yang dia milikki bersama ketiga dewa apa masih belum percaya akan hal itu?” liyana yang baru tau bahwa kagami dalam bahaya.


"Baiklah aku mengerti dan apakah kau akan menyetujuinya kesepakatan antara kita?” Dewa Thanatos yang meminta jawaban kepada Liyana.


"Baiklah aku menyetujuinya asalkan kau tidak boleh menyentuhnya sekaligus mempunyai niat untuk membunuhnya” Liyana yang mengajukan lagi syarat.


"Baiklah saya menyetujuinya asalkan dia tidak membunuh 3 para dewa maka saya tidak akan membunuhnya” Dewa Thanatos yang ingin ingin menghukum mereka ketiga para dewa.


"Bukankah dewa itu abadi tidak mungkin bagi kami berdua mengalahkan ketiga dewa secara bersamaan” Liyana yang merasa tidak percaya.


"Percayalah pada dirimu sendiri dan terimakasih sudah menemaniku mengobrol bersama sampai jumpa nanti” Dewa Thanatos langsung mengeluarkan liyana secara paksa dari wilayahnya sekarang berada.


Liyana yang dirinya secara tiba-tiba langsung pergi dari wilayah alam bawah sadar Dewa Thanatos oleh perbuatannya secara tidak langsung mengusirnya liyana pergi kembali.


Tiba tiba Liyana tersadar di dalam ruangan Pribadinya sendiri dengan posisi tubuhnya sedang bersandar pada badan kagami yang tertidur.


"Ka-kagami apa yang terjadi? Dan kenapa kau disini?” liyana yang langsung memukul badan kagami dengan keras.


"Sakit aku menjagamu semalaman karena kau merintih kesakitan Terus menerus dan apa yang terjadi pada matamu?” kagami langsung melihat mata liyana yang awalnya biru berubah menjadi ungu gelap.


"Ehh maafkan aku dan memangnya apa yang terjadi mataku?” liyana yang tidak menyadarinya.


"Nanti saja percuma saja kau ingin melihat karena disini tidak ada cermin dan apa kau sudah selesai belum ini sudah 1 bulan lho?” kagami yang mengajak Liyana berjalan jalan.


"Ehh satu bulan!!” liyana yang cukup terkejut mendengar perkataan kagami.


"Sstt pelankan suaramu ini masih pagi dan sepertinya kau sudah berhasil menyerap Blood Stone ini seperti terasa kosong” kagami yang langsung mengambil Blood Stone yang sudah kosong.


"Sepertinya begitu” liyana juga sepertinya merasa selesai menyerap setelah berbicara bersama dengan Dewa Thanatos.


"Ayo keluar kita berjalan jalan sebelum pulang kembali ke ibukota Azteria” kagami langsung mengulurkan tangannya untuk membantu liyana bangun.


"Sudah mau pulang ya tidak terasa juga dan kagami ada yang mau aku ceritakan tentang yang aku lakukan saat menyerap Blood Stone apa kamu mau mendengarkannya?” Liyana yang benar benar tidak mau seorangpun mati saat berhadapan dengan ketiga dewa.


"Katakan saja aku selalu ada untuk mendengarkan ceritamu liyana” kagami yang tidak akan kalah dengan bahaya yang menunggunya.


"Terimakasih sudah selalu ada untukku kagami” liyana langsung menggapai tangan kagami lalu pergi berjalan jalan.


"Tidak masalah karena aku dari awal hanya melihat dirimu yang dulu sama seperti diriku di masa lalu maka dari itu aku ingin membuatmu berubah agar bisa melindungi dirimu sendiri jika diriku suatu saat menghilang hanya itu yang aku inginkan darimu dan tidak tenggelam dalam keputusasaan” Kagami yang sangat peduli kepada siapapun yang ada disisinya selama ini untuk merubah diri.


Liyana yang cukup terkejut dengan perkataan Kagami yang sangat peduli dengan dirinya sama seperti orangtua Liyana dan sangat berbeda dengan seseorang yang sudah di bertemu sebanyak apapun.


"Baiklah kalau begitu aku akan berjuang untuk melindungimu juga kagami sebagai balas budi kepadamu” Liyana yang ingin sekali berguna sekaligus membalas kebaikan kagami.


"Baiklah itu terserah padamu” kagami langsung melanjutkan perjalanan berkeliling.


Liyana yang langsung tersenyum manis sambil mendekati kagami untuk melanjutkan berkeliling untuk terakhir kalinya.