Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
107. Pertarungan Penghancuran



Setelah semua evakuasi rakyat yang berada di Kota Aztasia dengan Semua pasukan sudah berkumpul di depan Kota Aztasia yang siap menunggu perintah.


Kagami yang langsung turun menunjukkan diri di hadapan para prajurit dengan Komandan ARihon yang berada disana menunggu musuh datang.


"Lapor Tuan muda Kagami saya sudah siapkan sekitar 3.000 prajurit untuk bertarung yang kita miliki sementara dan sisanya sedang berusaha datang kemari” Komandan ARihon langsung memberi hormat kepada Kagami sambil memberitahukan sedikit laporan.


"Itu lebih dari cukup tapi diriku tidak akan terlalu banyak bicara karena aku hanya ingin kalian percaya diri dengan kemampuan yang kalian miliki yang sudah ingin melindungi kota ini sejak diriku kecil dan tidak perlu takut kalian mati di medan pertarungan ini karena aku akan selalu memperhatikan kalian semua jadi hanya itu saja yang aku katakan” Kagami langsung menghilang kembali berpindah di atas bangunan tinggi bersama Igris yang menunggunya.


Di saat bersamaan juga beberapa beberapa prajurit yang mulai gaduh berfikir bahwa tidak akan membantunya namun Kagami yang hanya tersenyum tipis melihat sikapnya yang betapa bodohnya hingga tidak menyadari berapa banyak bayangan yang Kagami kerahkan sebelumnya untuk bersembunyi di seluruh meskipun tidak setimpal dengan jumlah para prajurit yang ada.


Namun suasana yang kacau Komandan ARihon bersama beberapa prajurit yang baru mengetahui sikap asli Kagami saat berada di pengunungan kota Gradeuz membuat kondisi para bawahannya untuk menjadi tenang sambil menanti musuh yang datang menunjukkan diri.


Karena sudah setengah jam berlalu musuh tidak menunjukkan diri mereka semua di bawah komando ARihon langsung maju dan Kagami juga sudah mengetahuinya sekaligus niat buruk musuh sendiri karena ada beberapa bayangan yang bergerak terlebih dahulu.


"Guru apa kita akan terus memperhatikan terus?” Igris yang benar-benar tidak mengerti yang Kagami ingin lakukan.


"Sebentar lagi kita akan bergerak menunjukkan diri” Kagami dengan tidak sabar.


****


Di sisi lain beberapa prajurit yang sengaja memancing para prajurit yang berasal dari kota Aztasia untuk mendekati wilayahnya yang sudah disiapkan ribuan anak panah api yang siap di lemparkan.


"Tuan mereka sedang bergerak kemari seperti yang anda perkirakan” Seorang komandan memberitahukan kepada Jendral yang mengatur rencananya.


"Bagus seperti yang ayah katakan bahwa mereka hanya berada dalam komandani yang mudah di tipu” Jendral Cazim yang begitu bersemangat ingin menguasai kota Aztasia.


"Berikan serangan kejutan akan di pastikan mereka mati dengan mudah haha” Komandan Esfand salah satu komandan perang terkuat milik kota Alagadda.


Mereka semua yang berada di dalam tenda benar-benar tidak menyadari keberadaan bayangan kagami yang berada bersembunyi di balik bayangan milik komandan Esfand.


Disisi lain 5.000 pasukan yang Kagami pimpin sekedang sudah memperlihatkan diri di wilayah musuh dengan keberadaan Kagami yang berada di atas langit berkat bantuan Igris menciptakan sebuah angin di bawah kakinya.


"Tembakkan panah sekarang!!” Sebuah Suara langsung memerintahkan bawahannya menembakkan panah api.


Pyung! Pyung! Pyung!


"Buat Barier untuk melindungi diri” Komandan ARihon langsung memberikan perintah.


"Igris lakukan sekarang” Kagami yang sudah menyusun rencana dengan matang.


"Aku tau guru” Igris langsung membuat angin sekitar berkumpul di satu tempat.


Wussh! Wuss!


"Bertahan semuanya!” Komandan ARihon yang langsung berbicara untuk memperkuat Barier karena angin kencang dekatnya.


Namun seketika muncul melindungi sebuah Barier kendali ruang yang melindungi 5.000 pasukan yang Kagami pimpin.


Bam!


Kagami yang turun dari langit langsung muncul di hadapan semua pasukan yang Komandan ARihon pimpin disana.


"Tuan muda!” Semua pasukan senang melihat Kagami kembali.


Semua panah yang sudah mulai lenyap yang terbang ke arahnya berkat badai angin topan dari kemampuan dari Igris yang masih berada di atas langit menunggu tanda dari gurunya untuk ikut bertarung dengan menggunakan senjata Lexalicus yang Gurunya pinjamkan padanya.


"Maju serang musuh lalu rebut kembali wilayah pertambangan!” Komandan ARihon yang langsung memberikan perintah kepada pasukannya.


"Yaa!!” Semua pasukan bersorak bersama dengan penuh semangat.


"Maju! Gunakan kemampuan kalian masing-masing dan jangan beri mereka ampun sedikit pun!!” Kagami juga memberikan semangatnya agar semua Pasukannya tidak kembali ragu.


"Yaa! Serang!!” Pasukan yang mulai bergerak maju dengan mengeluarkan berbagai macam jenis kemampuan masing-masing.


"Kalian ikutlah bertarung” Kagami langsung mengeluarkan ketiga monster bersaudara di hadapannya.


"Baik tuan kami akan lakukan yang terbaik” Ketiga monster bersaudara langsung melesat pergi menyerang musuh.


Semua pasukan langsung bergerak menyerang musuh yang berada di hadapannya lalu Kagami juga tidak lupa memberikan tanda kepada Igris untuk mulai menyerang.


Bam! Blarr! Duar!


Kagami langsung bergerak menuju tempat pimpinan dari pasukan musuh sambil menebas menggunakan pedang Guardians.


"Aku pasti bisa, aku ingin membantu guru tidak ingin menjadi penakut lagi seperti dulu!” Igris yang langsung memejamkan matanya sambil berharap senjata Lexalicus mau meminjamkan kekuatannya.


Wossh!


Kemudian senjata Lexalicus yang mengizinkan Igris memakainya lalu berubah menjadi senjata yang cocok dengan yang Igris ingin gunakan yaitu sebuah senjata Mace dengan tambahan rantai di sebelahnya yang di gunakan untuk memanjang untuk mengikat atau menebas sesuatu.


"Baiklah aku akan maju!” Igris dengan semangat mencoba bentuk senjata barunya.


Disisi lain semua pasukan musuh yang sedang sibuk melawan pasukan yang Komandan ARihon dengan tambahan Igris yang baru saja muncul untuk datang membantu.


"Lapor jendral serangan anak panah kita gagal karena tiba-tiba muncul sebuah angin membentuk Topan dan sekarang musuh sudah mulai menyerang balik” Komandan Esfand yang langsung melaporkan kepada Jendral Cazim.


"Sial! Pertahankan sekarang dan kerahkan semua pasukan untuk menyerang kembali untuk mempertahankan agar pertambangan yang sudah kita rebut tidak di rebut kembali!” Jendral Cazim langsung memberikan perintah cepat.


"Baik akan saya lak---”


Jleeb! Sreek!


Seketika Komandan Esfand langsung di tusuk lalu tubuhnya mulai terbelah menjadi bagian dan terjatuh ke tanah hingga mengalir keluar dari dalam mayat tersebut.


"SIAPA ITU! KELUARLAH SEKARANG!!” Jendral Cazim yang begitu murka melihat bawahannya langsung mati terbelah dua.


"Dasar hama baru aku pancing begitu saja sudah marah hahaha” Kagami yang langsung muncul dari kegelapan tanpa menutupi wajahnya sambil memegang pedang Guardians dengan ada bekas darahnya yang belarti Kagami pembunuhnya.


"APA MAUMU! HINGGA MEMBUNUH BAWAHANKU!?” Jenderal Cazim yang langsung bertanya kepada Kagami.


"Aku datang untuk merebut semua yang sudah kau rampas sekaligus nyawamu sendiri!!” Kagami mengeluarkan aura membunuh dari efek ‘Devils Sentence’ Miliknya.


"KAU BERADA DI PIHAK SI BRENGS*K ITU! MATILAH!!” Cazim yang langsung mengamuk hingga menghancurkan tenda tempatnya.


Blarr!


Beberapa para penjaga yang berjaga di dalam tenda hingga terbakar oleh ledakan api yang di sebabkan oleh Jenderal Cazim hingga mati di tempat.


Kagami hingga terlempar keluar tenda yang sudah hancur oleh ledakan berasal dari tubuh Jenderal Cazim sendiri hingga membuat baju Kagami sendiri robek namun tubuhnya terlindungi oleh kemampuan tubuh Leviathan yang sisiknya menahan ledakan sebelumnya.


"SEKARANG WAKTUNYA KAU HARUS MATI!!” Jenderal Cazim langsung menunjukan diri dengan penampilan pakaiannya hancur terbakar.


"Oh kata itu seharusnya untukmu bukan untukku tapi yasudahlah apa yang aku perkataanku hanyalah sia sia untukmu jadi yang lebih penting aku harus membunuhmu sekarang juga!” Kagami dengan menyeringai bersemangat tidak sabar membunuhnya.


"Tuan lawan anda berada di bawah level anda apa aku harus mengurusnya?” Leviathan yang muncul dari pundak Kagami.


"Tidak perlu sebaiknya diam dan perhatikan saja” Kagami sedang mood ingin bertarung.


"Baiklah” Bayangan Leviathan hanya diam memperhatikan pertarungan dari pundak Kagami dengen wujud Bayangan kecil sambil mencari informasi lebih lengkap melalui Jenderal Cazim.


Lalu Jenderal Cazim yang kesal dengan musuh di hadapannya dengan sikap yang tidak ketakutan sama sekali malah sebaliknya yang dirinya sendiri tubuhnya bergetar ketakutan dan di sisi lain juga ada dua orang yang baru saja datang ke tempat perang yang berada di depan kota Aztasia yaitu Zhiyu bersama Tuan Alexi.


****


Disisi lain Liyana bersama Elaina yang sedang berjalan-jalan hingga baru saja sampai di kota Aztazia yaitu tempat keluarga Liyana berada dan Elaina yang ingin mengunjungi Tempat tinggal Keluarga Liyana.


"Liyana apa rumah keluargamu masih jauh?” Elaina yang merasa tidak sabar.


"Lumayan jauh tapi kenapa kamu sangat ingin bertemu keluargaku?” Liyana sambil mengeluarkan Kalung yang saat pertama kali di berikan Kagami.


"Itu hanya aku sejak dulu mengagumi keluargamu sejak mengenal kedua orang yang berani menyebrangi lautan luas berasal dari kota jauh apa lagi kakekmu terlihat tua namun cukup kuat untuk bertarung dan lagi keluarga Nero itu di kenal dengan bisa hidup lebih lama” Elaina langsung menjelaskan alasannya.


"Ya tapi semenjak kakekku menghilang sejak itu keluarga memburuk lalu ayahku mencoba mencari kebenarannya namun gagal dan saat kembali ayahku terluka hingga salah satu titik Merdiannya hancur dan keluargaku tidak berani menggunakan kemampuannya lagi untuk bertahan hidup dan saat aku berumur 12 tahun aku meminta izin pergi menjadi petualang hunter keluargaku..”


"..Mengizinkanku tapi saat mengenal dunia luar itu seperti neraka untukku dimana sekeliling Pria tertarik padaku dan beberapa minggu dari situ aku melihat Sekaligus mengenal salah satu petualang baru yaitu Sosok anak Raja Zhiyu yang tidak pernah memperlihatkan wajahnya dan dari saat itu aku memutuskan untuk mengikutinya hingga aku semenjak menyadari hidupku berubah” Liyana berjalan mengikuti Elaina sambil memegangi kalung pemberian Kagami.


"Maafkan aku tidak tau tentang kondisi keluargamu memburuk seperti itu tapi apa saat kamu sudah memutuskan mengikuti Kagami kamu mulai menyukainya?” Elaina yang langsung berbalik melihat kepada Liyana sambil tersenyum.


"Ehh em i-iya karena aku menganggap Kagami adalah Pria yang baik berbeda dengan beberapa Pria yang aku kenal dulu” Liyana dengan malu hingga wajahnya memerah.


"Meskipun begitu kamu beruntung Liyana tidak seperti diriku karena dialah juga yang akan memperbaiki masalah antara ayahnya Kagami dengan Kakekmu di masa lalu jadi semangat semoga hubungan kalian akan bertahan hingga kalian menikah dan saat itu jangan lupa mengundangku hihi” Elaina langsung menggoda Liyana.


"Haha Liyana benar-benar belum siap menerima perkataan seperti itu rupanya maafkan aku hehe” Elaina langsung mencoba menenangkan Liyana dengan menepuk pundaknya beberapa kali.


"Hmph!, Masa bodoh!” Liyana langsung berjalan terlebih dahulu meninggalkan Elaina.


"Hei Liyana tunggu!” Elaina langsung mengejar Liyana.


Lalu setelah lama kejar kejaran antara Liyana dengan Elaina karena Elaina yang bercanda kepada Liyana membuat malu hingga sampai ke rumahnya keluarga Liyana.


Bersamaan dengan datangnya adik Liyana yaitu Lucia sambil menunggangi bayangan Induk Rubah yang sudah mempunyai 5 ekor.


"Lucia apa yang terjadi dengan rambutmu?” Liyana yang langsung melihat datangnya lucia dengan rambutnya berubah menjadi merah.


"Aku baik-baik saja ini hanya karena latihan saja tapi kak g--” seketika perkataan Lucia terhenti oleh ibu Liyana yang memeriksa keluar rumah dengan wajah pucat.


"Syukurlah kalian sudah pulang dan nak tolong buat pulih kembali ayahmu terlalu banyak berlatih karena memaksakan diri” Ibu Liyana langsung bicara kepada Liyana dengan rambut yang hitam dengen sedikit merah.


"Iya bu” Liyana langsung dengan cepat masuk ke dalam rumahnya.


Di saat itu Elaina baru saja sampai di depan rumah Liyana namun tidak melihat Liyana hanya ada seorang anak kecil berambut merah yaitu Lucia sedang berterimakasih kepada Bayangan Rubah sambil mengusap kepalanya.


"Em apa kamu melihat seorang gadis berambut merah panjang kesini?” Elaina langsung bertanya kepada lucia.


"Ah mungkin maksud anda kakakku itu sudah masuk ke dalam rumah” Lucia dengan wajah polosnya tidak mengenal siapa gadis di hadapannya.


"Terimakasih kalau begitu aku masuk dahulu” Elaina langsung masuk namun masih di halangi oleh anak kecil itu.


"Apa kakak teman kakak Liyana?” Lucia bertanya kembali.


"Ya ada apa memangnya?” Elaina yang ingin meminta maaf kepada Liyana.


"Em itu bagaimana masuk bersamaku saja karena ibuku sering marah jika ada orang asing masuk ke dalam rumah” Lucia yang langsung memberitahukan kepada Elaina.


"Ah begitu ya baiklah masuk bersama saja” Elaina yang merasa merasa bersalah kepada Liyana.


"Ayo masuk Rubah bersama dengan teman kakakku” Lucia yang tidak ingin bayangan Rubah pergi jadi mencoba membawanya bersama.


"Baik” Bayangan Rubah yang ingin membantu tuannya namun ini perintah menjaga Lucia.


Lucia bersama Elaina langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan Liyana yang baru saja sampai ke kamar ayahnya yang sudah terbaring di atas tempat tidur dengan penuh keringat.


Liyana kemudian menyentuh tangan ayahnya sambil mengeluarkan pedang Bloody Sfraksor lalu menyentuhkannya ke tangannya untuk memulihkan kondisi ayahnya kembali semula.


"Uh Liyana putriku” Ayah Liyana yang membuka matanya melihat putri satu-satunya.


"Ayah syukurlah ayah sadar” Liyana yang langsung memeluk erat ayahnya.


"Maafkan ayah yang terlalu berfikir untuk ingin menguji pria sebelumnya yang bersamamu tapi sekarang ayah mengerti karena semua ini kamu rencanakan bukan?” Ayah Liyana yang baru saja menebaknya.


"Uh maafkan aku ayah, ibu karena aku hanya ingin kalian tetap hidup makanya aku memilih mengikuti Kagami untuk mendapatkan yang aku rencanakan” Liyana langsung mengakuinya kepada orang tuanya hingga menangis.


"Saat ini ayah sudah mengerti lalu putriku yang satu ini sudah besar jadi ayah sudah memaafkanmu dan saat bertemu dengan Raja Zhiyu kembali saya akan memaafkannya lalu mendukung hubungan kalian berdua” Ayah Liyana yang sudah berusaha memaafkan yang bukan kesalahannya.


"Ibu juga tau bukan yang aku rencanakan ini?” Liyana yang langsung bertanya kepada Ibunya.


"Huft ya ibu tau karena itu ibu membantumu Menyembunyikan rencana kecilmu itu karena ibu hanya ingin yang terbaik saja untukmu nak” Ibu Liyana langsung mengusap kepala Liyana dengan lembut.


Lalu dua orang datang baru saja sampai bersama dengan satu bayangan Rubah Kagami lalu Lucia juga ingin memeriksa keadaan ayahnya yang di katakan oleh ibunya sebelumnya.


"Ibu apa ayah baik-baik saja?” Lucia langsung berjalan mendekati ibunya sambil bertanya langsung keadaan ayahnya.


"Ah iya kenapa kamu membawa orang asing masuk nak?” Ibu Liyana yang sedikit marah sambil menghapus air matanya.


"Bu jangan marah dia temanku dari kota Gradeuz namanya Elaina” Liyana yang langsung melihat orang di sebelah adiknya lalu memberitahukan kepada Ibu Liyana.


"Iya bu temannya kakak jadi jangan marah” Lucia yang tidak mau terkena marah ibunya lagi.


"Maafkan atas sikap saya” Ibu Liyana langsung meminta maaf.


"Tidak perlu minta maaf tadi juga sudah di beritahukan tapi aku ingin memastikan ada Liyana atau tidak” Elaina dengan merasa sedikit bersalah.


"Maaf mengganggu apakah saya boleh pergi tuan membutuhkan saya” Bayangan Rubah langsung bicara.


"Apa yang terjadi pada Kagami?” Liyana langsung dengan cepat bertanya kembali.


"Itu kak gami tadi aku dengar ada pasukan menyerang kota” Lucia langsung memberitahukan kepada Liyana.


"Pergilah bantu dia berperang disana” Ayah Liyana langsung menyarankan putrinya membantu Kagami.


"Ya benar pergilah dan kembalilah dengan aman” Ibu Liyana langsung memberitahukan kepada Putrinya juga.


"Baik ayo pergi Elaina” Liyana langsung berjalan pergi sambil mengajak Elaina.


"Ehh baru saja aku sampai!” Elaina yang merasa keberatan karena masih lelah.


"Dasar apa kamu tidak keberatan jika menunjukkan jalan padaku sambil bawa Elaina bersamamu Rubah Salju?” Liyana langsung bertanya kepada Bayangan induk Rubah.


"Saya tidak keberatan untuk melakukannya” Bayangan Rubah langsung menghilang lalu muncul dari bawah Elaina agar langsung menungganginya.


"Ayo berangkat” Liyana langsung pergi keluar rumahnya.


Induk Rubah langsung menunjukan arah Menuju Kota Aztasia yang jaraknya lumayan jauh Liyana yang sudah berjanji untuk membantu Kagami jadi Liyana harus membantunya juga.


***** [ Normal POV ] ******


Semua pasukan yang bertarung satu sama lain 5.000 berbanding dengan 12.000 pasukan musuh namun pasukan yang berasal dari Kagami pimpin ada beberapa tambahan bantuan dari Igris, Hoaxen, Vortex, Tenebris, Liyana bersama Elaina yang dalam perjalanan dan sisanya sekitar 1.300 Bayangan milik Kagami.


Semua pasukan Kagami yang terluka seketika langsung berpindah ke barisan belakang yang di jaga oleh satu King Orcs yang menjaga yang terluka dan seketika pasukan yang terluka di garis depan langsung di gantikan oleh Para Bayangan Orcs yang penuh semangat.


JDuaarr! Bam


Kagami sedang bertarung melawan Jenderal Cazim yang masih berada di bawah level Kagami sekarang atau Kagami masih mampu melawannya Sekaligus membunuhnya untuk mengakhiri pedang tersebut.


Cazim yang kesal setiap hasil ledakannya selalu tidak mengenai musuh di hadapannya karena sangat cepat hingga tidak bisa menyerang mengenai tubuh Kagami sedikit pun.


"Lambat sekali apa segini saja kemampuanmu?” Kagami sambil menahan beberapa ledakannya dengan pedang Guardians yang bisa menahan ledakannya.


"SIAL!! MATI KAU!!” Jenderal Cazim yang begitu kesal tidak mampu menyerang dekat.


‘Fire Eksplosif : Thousand Ball Eksplosion..!’


Bam! Bam! Bam!


"Hah..hah..hah sial siapa dia seharusnya ibukota Azteria tidak mempunyai monster sepertinya” Jenderal Cazim yang langsung terengah-engah kelelahan.


"Hanya segini saja kemampuanmu!” Asap yang di sebabkan oleh ledakan di atas langit mulai terbawa angin Hingga Kagami terlihat dengan pakaian yang mulai hancur terbakar oleh ledakan sebelumnnya.


"Apa! Bagaimana mungkin masih bisa selamat dari serangan terbaikku!” Jenderal Cazim yang benar-benar tidak mempercayainya.


"Sejujurnya kau berhasil menghancurkan pakaian yang baru saja aku beli dengan ini akan aku tunjukkan yang pantas untuk seseorang yang sudah merusak pakaianku” Kagami langsung mengeluarkan sebuah kelopak bunga api hitam di tangannya membara.


"Jangan bunuh diriku akan saya berikan yang anda mau asalkan biarkan diriku hidup karena jika dirimu membunuhku ayahku tidak akan memaafkanmu” Jenderal Cazim merasakan sebuah tekanan kematian dari Kagami.


"Hm akan aku pertimbangkan tapi akan aku tunjukkan neraka untuk orang gila yang sudah mencoba mengancamku!” Kagami langsung menurunkan suhu panas kelopak api merah gelap.


‘Red Fire Lotus : Inferno Phoenix..!!’


Blarr! Blarrr!


Lalu kelopak bunga api langsung mulai membara membakar sekitar Kagami hingga membakar tubuh Kagami namun hanya pakaian Kagami yang mulai terbakar namun tubuhnya masih tahan api lalu api tersebut membakar semua yang berada di sekitarnya hingga menciptakan burung api Phoenix yang langsung melahap Jenderal Cazim.


"AARRGGHH AKU TIDAK TERIMA AKHIR INI!!” Jenderal Cazim yang mulai membakar semua tubuhnya.


Lalu tidak lama neraka tersebut mulai lenyap dan juga Burung api Phoenix yang mulai menghilang bersamaan dengan apinya sehingga menjatuhkan dari langit sebuah tubuh yang terbakar hidup-hidup yang sekarang sudah mati.


"Bocah beraninya membunuh putraku! Kau memang mempunyai keberanian untuk membunuh penerus Kerajaan Alagadda!” Sebuah suara yang bergema di atas langit.


Semua orang yang berada di sekitar sana mendengar suara tersebut yang bergema di atas langit membuat Kagami sedikit penasaran dengan orang tersebut.