Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
110. Mimpi Adalah Sebuah Pertanda



Disisi lain Kagami yang sedang tidur mengalami mimpi buruk dimana wajahnya mulai berkeringat dengan seluruh tubuhnya bergetar ketakutan hebat tidak bisa berhenti.


***** [ Mimpi Kagami POV ] *******


Kagami yang membuka matanya dengan melihat seketika semuanya yang saat awal lihat gelap gulita kemudian memperlihatkan sebuah kejadian yang akan terjadi oleh Kagami selanjutnya.


Kagami disana melihat ketiga seorang dewa tidak mengenalnya namun memanggil satu sama lain dengan sebuah nama yaitu Hades, Shiva, Tartarus dengan Zhigen bersama 1 orang terakhir tidak di kenalnya karena wajahnya di tutup oleh sebuah kain biasa.


Lalu mereka semua seketika langsung turun ke dunia manusia sambil berkata ‘Waktunya penghancuran’ dengan sangat cepat seketika langsung menghancurkan lingkungan sekelilingnya yaitu sebuah hutan seketika menjadi rata oleh kekuatan dari Zhigen.


Mereka pun terus menerus menghancurkan setiap kota sekaligus membunuh semua manusia tanpa ampun dengan sangat cepat hingga Kagami yang melihatnya ingin mencoba menolong semuanya namun tidak bisa pergi.


Sesaat mereka pun langsung pergi lagi menuju arah timur yaitu Ibukota Azteria penghalang sihir pun di hancurkan mudah oleh seorang yang bernama Shiva disana kota Aztazia di hancurkan oleh 2 orang yaitu Zhigen bersama 1 orang tidak terlihat wajahnya.


Saat mereka membantai semua manusia yang ada di kota Aztazia yang hanya tersisa Keluarga Liyana yang masih bersembunyi di suatu tempat berkat bayangan Kagami yang langsung mengambil keputusan cepat.


Kemudian di saat itu juga Kagami bersama Liyana baru saja datang disana mengalami pertarungan besar besaran kedua orang tersebut melawan Kagami bersama Liyana.


Sedangkan ketiga dewa hanya menunggu hasil dari pembantaian untuk mengatur ulang dunia sesuai keinginan dewa Shiva sendiri.


Di akhir mimpi tersebut Semuanya hancur dengan semua orang yang berada di ibukota Azteria semuanya mati terbantai oleh perbuatan kedua orang tersebut.


Kagami yang baru saja melihat sebuah mimpi buruk tersebut seketika semuanya yang baru saja terlihat langsung gelap kembali membuat Kagami langsung dari dunia mimpinya.


"Ahh!! Maafkan aku!, Maafkan aku!” Kagami yang seketika terbangun langsung merasa ketakutan oleh mimpinya yang terlihat nyata.


Brak! Drak!


Liyana bersama Elaina yang baru saja ingin melihat keadaan Kagami lalu terdengar suara teriakan ketakutan dari dalam kamar Kagami langsung bergegas berlari menuju kamar Kagami.


"Kagami apa yang terjadi padamu?” Liyana yang langsung membuka pintunya.


"Maafkan aku, maafkan aku, bunuh saja diriku” Kagami yang terbangun langsung menundukkan wajahnya sambil meletakkan tangannya kepada kepalanya.


Liyana langsung berjalan mendekati tempat tidur Kagami lalu mencoba menenangkan Kagami sedangkan Elaina yang kurang mengerti yang terjadi dengan Liyana yang menyuruhnya pergi biarkan Liyana bersama Kagami.


"Kagami katakan padaku apa kamu mimpi buruk?” Liyana sambil mengusap kepala Kagami.


"...” Kagami hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tubuh yang bergetar ketakutan.


"Lihat aku sekarang dan katakan apa yang kamu lihat dalam mimpi burukmu?” Liyana mencoba memegang wajah Kagami dengan kedua tangannya.


"Aku kalah melawan Zhigen dan semua orang yang berada di dunia ini mati karena aku tidak bisa melindungi semuanya” Kagami bicara pelan.


"Jadikan mimpi burukmu itu sebagai dorongan menjadi lebih kuat lagi untuk menghadapi masalah yang akan datang padamu bukankah itu yang pernah kamu katakan padaku Kagami saat dulu?” Liyana sambil mengusap kepala Kagami dengan lembut.


"Iya maafkan aku karena sudah berusaha namun gagal tapi aku ingin mengubah masa depan yang aku lihat sebelumnya” Kagami dengan cukup masih syok berat karena mimpinya.


"Iya untuk sekarang Jangan di pikirkan dahulu ya? Aku akan selalu menemanimu jadi ayo menjadi lebih kuat bersama” Liyana yang langsung mencoba menenangkan Kagami.


"Terimakasih sudah selalu ada untukku Liyana” Kagami mulai melihat wajah Liyana yang sudah merasa agak lebih baik.


"Iya apa kamu masih mengantuk aku akan menemanimu tidur” Liyana yang langsung menawarkan kepada Kagami.


"Aku masih takut oleh mimpinya sepertinya aku tidak akan bisa tidur” Kagami yang langsung memberitahukan kepada Liyana sambil sedikit bersandar pada sisi tempat tidur.


"Yasudah biarkan aku menemanimu sampai kamu merasa lebih baik” Liyana mulai bersandar kepada Kagami.


"Liyana sebenarnya dalam mimpi yang aku lihat keluargamu di bunuh oleh kakekmu sendiri yang berada di pihak ketiga dewa bersama Zhigen” Kagami yang sebenarnya tidak ingin memberitahukan namun juga tidak mau melihat Liyana mati tanpa perlawanan.


"Jadi nanti yang aku lawan adalah kakekku sendiri?” Liyana yang cukup terkejut namun mencoba memendamnya.


"Iya hingga kamu di bunuh olehnya sedangkan diriku hampir di bunuh namun di jadikan sebuah boneka yang di kendalikan oleh dewa yang bernama hades mengendalikanku untuk membantai semua orang yang berada di sini makanya aku menyesali perbuatanku” Kagami yang mulai memberikan sedikit penglihatan dari mimpinya.


"Jika perkataanmu seperti aku ingin mewujudkan keinginanmu Kagami jadi bertahanlah” Liyana yang berhenti bersandar pada Kagami.


"Apa yang kamu mau lakukan?” Kagami yang Melihat wajah Liyana mendekatinya.


"Mmm aku mencintaimu Kagami jadi jangan sedih lagi aku selalu bersamamu” Liyana langsung mencium bibir Kagami di dekatnya.


"Hah..Aku juga mencintaimu Liyana tapi jangan melakukan hal itu” Kagami yang benar-benar tidak percaya Liyana melakukannya.


"Aku tau tidak akan kok dan tubuhmu terasa hangat terasa dari pakaianmu” Liyana yang langsung tiduran di atas tempat tidur Kagami.


Kagami yang mengerti Liyana khawatir lalu Liyana yang langsung mengajak tidur bersamanya di satu tempat tidur dan Kagami ikut tidur langsung menghadap satu sama lain dengan Liyana.


"Dadamu hangat dengan jantungmu berdegub kencang Kagami” Liyana yang langsung melihat kepada Kagami.


"Karena wajahmu sangat dekat denganku” Kagami sambil ingin menatap arah lain tapi tangan Liyana tidak memperbolehkannya.


"Aku baru pertama kali melihat wajahmu dari dekat ternyata tidak tampan hihi” Liyana yang tersenyum kepada Kagami.


"Dasar kamu juga sama” Kagami membalas ejekan dari Liyana.


Kemudian Liyana langsung mencium Kagami yang terlihat masih khawatir akan ketakutan mimpinya hingga tertidur pulas bersama di atas tempat tidur tersebut berdua.


Rubah kecil yang mencari Kagami bersama Liyana langsung masuk ke dalam kamar lalu mencoba menutup pintunya dengan mendorong dengan tubuh kecilnya namun sebuah bayangan langsung membantu menutup pintu lalu naik ke atas tempat tidur dan diam ikut tidur di bagian tengah.


Satu hari berlalu di pagi hari Kagami yang terbangun terlebih dahulu terkejut dengan pakaian Liyana yang terbuka lebar Kagami langsung memberanikan diri menutupnya dengan selimut dan Kagami baru sadar di atas tempat tidur tersebut ada Rubah kecil yang ikut tidur bersamanya semalam dengan Liyana.


"Haah sejak kapan Foxyel tidur bersamaku dengan Liyana semalam?” Kagami benar-benar tidak menyadarinya.


Kemudian Kagami mandi sekaligus mengganti pakaian di dalam kamar mandi pribadinya yang lebih pantas namun juga tidak terlihat mencolok perhatian beberapa orang di sekitarnya saat keluar.


Saat sudah beres mengganti pakaian Kagami melihat Liyana masih tidur bersama dengan Rubah kecil di hadapannya.


"Terimakasih sudah menyemangati sekaligus menghibur diriku kemarin Liyana” Kagami yang langsung mendekati Liyana lalu mencium kening Liyana lalu pergi.


"Uh tetap bersamaku” Liyana yang masih tidur berbicara beberapa kata.


"Fyuh iya tidurlah” Kagami langsung mengusap kepala Liyana lalu berjalan pergi.


Kagami yang langsung berjalan mendekati pintu yang tertutup lalu pergi menuju tempat ibunya berada yang sebelumnya Kagami.


"Hm kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaan Hoaxen, Vortex, Tenebris, Igris dimana mereka?” Kagami yang berjalan di sekeliling pelayan yang berkeliling.


Lalu saat sudah sampai di tempat tersembunyi yang disana ada tubuh ibunya yang sudah membeku dan juga Kagami sudah bisa merasakan di dalam situ ada seseorang yaitu Zhiyu.


"Ayah ada disini juga? Dan maaf masalah kemarin aku memukul ayah terlalu keras” Kagami langsung bicara kepada Zhiyu.


"Itu sudah berlalu jadi kita lupakan kejadian kemarin” Zhiyu sambil menyentuh peti es berisi tubuh istrinya.


"Iya ayah” Kagami yang tidak tau harus bicara apa soal mimpinya.


"Sebenarnya diriku ingin berterimakasih tentang semua yang kamu lakukan untuk ayahmu ini sebelumnya tentang menyelesaikan masalah semuanya dengan bijak tapi diriku tidak pintar memuji Seseorang termasuk putraku satu-satunya termasuk kamu sengaja menyembunyikan tubuh ibumu di suatu tempat yang tersembunyi” Zhiyu sambil ingin mencari obat untuk membangunkan istrinya sendiri.


"Maaf aku hanya sengaja melakukannya untuk menyembunyikan tubuh ibu yang di bekukan oleh Liyana karena semua orang disini bisa saja mempunyai niat buruk kepada ayah, ibu sendiri” Kagami yang tidak ingin kehilangan orangtuanya lagi untuk kedua kalinya.


"Ini buku yang di dalamnya ada cara untuk menyembuhkan penyakit Eternal Sleep yaitu dengan Holy Water yang sangat sulit di dapatkan di suatu tempat yang sulit di jangkau oleh manusia biasa tapi mungkin saja kamu bisa mendapatkannya” Zhiyu langsung mengeluarkan sebuah buku dari balik bajunya dan memberikannya kepada Kagami.


"Terimakasih ayah Kalau begitu aku akan pergi membacanya” Kagami dengan cukup senang bisa mendapatkan informasi yang langka.


Kagami langsung pergi keluar dari ruangan tersebut untuk mencari tempat membaca buku yang di berikan ayahnya untuk mencari cara menyembuhkan penyakit ibunya sendiri.


"Tuan ini saya menemukannya saat membersihkan tempat mandi air hangat apa ini milik anda?” Pelayan langsung memberitahukan kepada Kagami.


"Iya makasih dan tolong siapkan sebuah ruangan pribadi untukku dengan beberapa Kertas, tinta dengan alat untuk menulisnya” Kagami yang ingin mencoba membuat senjata untuk Igris inginkan dengan tujuan awal membuat cetak birunya dahulu agar pembuat senjata mengerti membuatnya.


"Iya jika sudah selesai beritahukan aku” Kagami langsung mengambil kalung milik Liyana yang di temukan oleh pelayan tersebut.


"Iya tuan” Pelayan tersebut langsung pergi dari hadapan Kagami.


Kagami langsung pergi menuju Perpustakaan karena sudah bisa kembali merasakan semua keberadaan orang di sekitarnya jadi Kagami mudah mencari Igris yang berada di perpustakaan untuk mengubah bentuk senjata yang cocok dengan Igris untuk mencatatnya di atas kertas.


"Guru anda datang kemari ada urusan apa?” Igris yang sedang berjalan-jalan melihat-lihat buku lain.


"Hanya ingin mencoba beberapa hal padamu” Kagami langsung mengeluarkan pedang pedang yang yang terbuat dari Material Orichalcum dengan Obsidian.


"Untuk apa guru mengeluarkan 2 pedang berbeda dengan meletakkannya di lantai?” Igris yang tidak mengerti.


"Hanya mengetes apa kekuatanmu bisa menggunakan salah satu dari material Obsidian atau Orichalcum saja sekarang coba pegang” Kagami yang ingin tau saja.


"Akan aku coba guru” Igris pertama kali langsung mengambil pedang yang terbuat dari Material Orichalcum dahulu.


Setelah beberapa lama mengetes Kekuatan Igris hanya bisa bertahan di pedang yang terbuat dari material Orichalcum sedangkan yang pedang terbuat dari Material Obsidian seluruh energinya seperti terserap sangat cepat ke dalam pedang.


"Maaf guru sepertinya aku belum mampu menggunakan pedang yang terbuat dari material Obsidian sangatlah kuat hingga aku hampir kehilangan kesadaranku karena kehabisan Energiku paling tidak aku harus menjadi kuat hingga berevolusi menjadi Greater Demon karena aku sekarang baru di tingkatan High Demon masih sangat jauh” Igris dengan sedikit murung.


"Semua membutuhkan Proses jadi aku akan melatihmu mulai sekarang dan temukan cara bertarungmu sendiri” Kagami langsung menepuk kepala Igris lalu mengusapnya.


"Benarkah apa sekarang mulai latihan?” Igris dengan cukup bersemangat.


"Belum aku akan membuat cetak biru untuk membuat senjatamu dahulu baru mulai latihan dan ubahlah ini menjadi senjata yang kamu pakai sebelumnya” Kagami langsung memberikan senjata Lexalicus kepada Igris.


"Eeeh aku kira sekarang tapi yasudahlah tidak apa-apa lalu aku akan mengikuti perintah guru saja dan apa itu cetak biru guru?, Apa aku boleh melihatnya saat guru membuatnya?” Igris yang langsung mengambil Senjata Lexalicus sambil mencoba membujuk Kagami.


"Iya nanti akan aku perlihatkan” Kagami sebenarnya tidak ingin di ganggu oleh seorangpun.


Igris langsung mencoba mengubah kembali senjata Lexalicus mengubahnya ke bentuk Chain Twin Scythe lalu saat telah selesai langsung memberikan kepada gurunya yaitu Kagami bersamaan dari itu Seorang pelayan berbeda melihat Kagami langsung berjalan mendekati Kagami yang sedang bersama Igris.


"Tuan muda ruangan pribadi yang anda minta sudah selesai di siapkan” Pelayan Seorang Demi-human langsung memberitahukan kepada Kagami.


"Bagus sekarang kamu silahkan istirahat bersama yang lainnya pasti lelah” Kagami yang melihat keringat di keningnya.


"Iya terimakasih atas kebaikan anda tuan muda dan ikuti saya akan saya tunjukkan jalannya” Pelayan Demi-human langsung memandu menuju tempat yang sudah di minta oleh Kagami.


Lalu setelah berjalan beberapa lama akhirnya sampai dan terlihat sebuah ruangan yang tertutup untuk pribadi seperti yang Kagami inginkan.


"Ini seperti awalnya tempat gudang tempat menyimpan sesuatu namun ini sangat pas dengan yang diriku inginkan kerja bagus” Kagami yang langsung memuji Pelayan Demi-human tersebut.


"Iya benar ini bekas gudang namun barang-barang sudah di pindahkan ke suatu tempat dan semoga tuan muda nyaman dan apakah saya boleh pergi tuan muda?” Pelayan Demi-human bersyukur Kagami menyukainya.


"Oh ya boleh saja tapi jika ada seseorang yang mencariku beritahukan diriku ada disini” Kagami yang sudah menebak pasti akan ada yang mencarinya.


"Baik nanti saya akan beritahukan kepada beberapa teman saya jika ada seseorang yang mencari anda dan saya permisi” Pelayan Demi-human langsung pergi dari hadapan Kagami.


"Guru enak ya bisa memberikan perintah kepada seorang pelayan jika guru inginkan sesuatu akan tinggal di kerjakan” Igris yang merasa iri.


"Haah sebenarnya aku sangat tidak tega melakukannya tapi harus di lakukan dan kamu boleh menggunakan wujud aslimu sekarang pasti lelah harus selalu berubah berpura-pura menjadi manusia” Kagami yang langsung segera duduk di sebuah kursi sambil menyimpan buku yang ayahnya berikan dengan senjata Lexalicus dalam bentuk Chains Twins Scythe di sisi mejanya.


"Huu begitulah tapi pelayan sebelumnya bukan manusia guru tapi bisa akrab dengan manusia?” Igris yang merasa iri sambil memperlihatkan wujud aslinya di hadapan Kagami.


"Karena dia ras Demi-human atau setengah manusia dengan binatang makanya bisa akrab dengan manusia” Kagami yang langsung memberitahukan kepada Igris.


"Begitu pantas saja dan kedua tandukku sedikit bertambah besar, tinggi apa ini baik?” Igris yang sebenarnya tidak terlalu banyak tau.


"Hm kalau tidak salah tanduk iblis bertambah tinggi, besar yang pernah aku baca itu belarti kemampuanmu sudah cukup meningkatkan di bandingkan sebelumnya jadi terus tingkatkan dan pertahanan” Kagami sambil baru mulai mencatat yang sesuai di hadapannya.


"Hebat banyak yang guru ketahui aku saja tidak tau tentang itu sendiri” Igris bangga mempunyai guru hebat seperti Kagami.


"Sejak kecil gurumu ini sering diam di perpustakaan untuk membaca buku setiap hari sampai lupa makan dan di marahi ibuku sendiri namun sekarang ibuku terkena penyakit Eternal Sleep jadi gurumu ini harus mencoba mendapatkannya juga” Kagami langsung mencoba mencatat sekaligus menggambarkan dengan detail agar pembuat senjata mengerti.


"Hup apa ini berhubungan dengan penyakit yang guru sebutkan?” Igris yang langsung mengambil dari atas meja.


"Iya jika ingin membacanya boleh saja” Kagami yang mengizinkan agar Igris tidak mengganggunya saat membuat cetak biru senjata.


"Kalau begitu aku akan baca karena aku sudah bisa membaca seperti Lucia ajarkan padaku dan apa aku boleh membantu guru untuk mendapatkan obat untuk menyembuhkan penyakit ibu guru sebagai balas budi sudah menyelamatkan hidupku?” Igris yang sungguh ingin membalas kebaikan gurunya.


"Boleh saja aku tidak akan melarangnya” Kagami yang lanjut membuat cetak birunya.


Igris dengan senang mendengar gurunya berkata tidak melarang niat baiknya dengan penuh semangat langsung membaca buku yang di ambil di atas meja lalu duduk di lantai sambil bersandar pada dinding sambil membaca bukunya sedangkan Kagami fokus membuat cetak biru senjata untuk Igris.


Di sisi lain Liyana yang baru saja bangun dari tidurnya saat membuka kedua matanya tidak melihat Kagami di sisinya hingga terpikir dalam pikirannya bahwa Kagami pergi melarikan diri jadi Liyana langsung buru-buru ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Wuu!


Rubah kecil yang terbangunkan oleh Liyana dan saat mengganti pakaian baru sadar bahwa kalungnya tidak ada menghilang lalu setelah selesai mengganti baju langsung segera pergi sambil bertanya kepada beberapa pelayan di sana dengan di ikuti oleh Rubah kecil yang merasakan keberadaan Kagami.


Liyana yang melihat Rubah kecil pergi menuju arah lain langsung mengejarnya dan sampai di sebuah depan tempat kecil seperti gudang.


Brak!


"Kagami kamu disini ternyata!” Liyana langsung membuka pintu.


"Oh ternyata kau Liyana sudah bangun dari tidurmu?” Kagami yang sudah menyadari Liyana datang mendekati tempatnya namun Kagami tidak terkejut hanya mencoba fokus.


Wu?


Rubah kecil yang langsung naik ke atas meja lalu melihat Kagami yang sedang mencoba menulis sesuatu yang tidak di mengerti Rubah kecil bersamaaan dengan Igris selesai membaca buku yang Kagami pinjamkan.


"Guru ternyata dalam buku ini cara mendapatkan Holy Water itu sangat mustahil karena sangat sulit kemungkinan berada di dunia para dewa yang tidak di ketahui cara kesananya” Igris dengan kembali murung karena akan sulit.


"Selesai juga!, Begitukah kemungkinan hanya 1,5% bisa mendapatkannya tapi akan aku coba mendapatkannya” Kagami yang langsung bersandar pada kursinya.


"Kalian bicara apa sih Holy Water?, Lalu apa yang kamu sedang tulis di sebuah kertas itu?” Liyana yang benar-benar tidak mengerti.


"Ayahku memberikan buku dimana cara mendapatkan Holy Water untuk Seseorang yang terkena penyakit Eternal Sleep sekarang sedang di baca oleh Igris dan aku baru saja membuat cetak biru senjata untuk Igris lihatlah” Kagami sambil mengusap Rubah kecil.


Prr! Wuu!


Liyana dengan Igris dengan cepat langsung ingin melihat tulisan tangan Kagami sekaligus yang telah di buatnya sambil Kagami mengambil senjata Lexalicus lalu mengubahnya ke bentuk awal.


"Hebat guru membuat penjelasannya secara detail?” Igris yang tidak menyangka gurunya membuat dengan sangat cepat, rapih dan detail membuat lebih kagum kepada gurunya.


"Hebat aku tidak menyangka kau bisa membuat cetak biru secara detail seperti ini” Liyana juga ikut terkagum-kagum.


"Ya sekarang ayo keluar dari ruangan dan pergi menuju tempat pembuatan senjata” Kagami langsung mengajak semuanya keluar dari ruangannya.


"Iya guru dan ini terimakasih aku sudah membaca secara keseluruhan” Igris sambil memberikan buku tersebut kepada gurunya lalu mengubah wujudnya menjadi manusia kembali.


"Ta-tapi aku kehilangan sesu---” Kagami langsung mengeluarkan sebuah kalung dari saku bajunya.


"Ini bukan yang kamu cari Liyana?” Kagami langsung memberikan kepada Liyana.


"Ehh bagaimana ada padamu?” Liyana dengan terkejut sambil menerimanya kembali kalungnya sendiri.


"Tadi pagi seorang pelayan yang bersih-bersih melihat kalung tertinggal dan tadi pagi sebelum kamu bangun maka dari itu jaga baik-baik jangan sampai hilang lagi” Kagami langsung merapikan mejanya.


"Hm akan aku jaga” Liyana langsung memakai kalung berharganya.


Wuu!


Rubah kecil langsung naik ke tangan Kagami lalu berhenti di pundak Kagami langsung melipat kertas cetak birunya dan pergi bersama Liyana, Igris menuju tempat pengrajin besi.