Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
89. Kesedihan Sekaligus Kemarahan



Liyana bersama Kagami yang masih berjalan mengelilingi tempat di dalam menara berdua sambil dengan perhatian dari semua orang yang memperhatikan.


"Kagami apa kau tidak takut jika yang sudah kukatakan itu menjadi kenyataan?” Liyana yang masih takut akan hal itu terjadi.


"Tidak karena yang aku lebih takutkan adalah tanpa mengatasi ketakutanku dan berdiam hanya memperhatikan semuanya hancur itu tidak akan aku lakukan untuk kedua kalinya disini karena aku masih menyukai tempat ini” Kagami yang tau bahaya menunggu hanyalah kematian untuk melawan seorang dewa.


"Kagami kenapa kau tidak takut dan dari mana datangnya keberanian itu?” Liyana yang sangat ingin mengubah dirinya menjadi seperti kagami.


"Entahlah mungkin keberanian itu datang dari masa lalu untuk mengatasi traumaku disini dan seseorang mempunyai masa lalu yang buruk bukan jadi anggaplah masa lalu itu dorongan dirimu manjadi lebih baik” kagami yang masih belum menemukan arti jadi dirinya.


"Kalau begitu ayo berjuang bersama-sama” Liyana yang tidak boleh untuk cepat menyerah karena hanya satu satunya Pria yang membuat dirinya kuat selama ini hanyalah kagami.


"Baiklah menjadi kuat bersama” Kagami juga tidak akan kalah akan bertahan hidup apapun caranya.


Kagami bersama liyana yang sudah berkeliling dan berpamitan dengan para penjaga sekaligus Luzy, Alisha yang masih ada disana juga berpisah untuk kembali menuju Ibukota Azteria.


"Tuan anda baik baik saja kelihatannya tuan sedikit cemas?” Agares yang bicara kepada kagami dari balik bayangan.


"Entahlah dan bagaimana Igris bersama Hoaxen disana?” Kagami yang tidak mengerti dirinya merasa gelisah.


"Mereka berdua sedang berlatih berdua di dalam celah bayangan” Agares yang merasa dirinya terhubung dengan pikiran kagami.


"Ahh begitu baiklah” kagami yang langsung kembali menatap langit.


Kagami yang langsung tertidur karena angin yang melewati kagami karena kecepatan Tenebris untuk kembali ke ibukota Azteria yang masih sangat jauh.


Liyana yang melihat kagami tertidur kembali namun liyana hanya melihat langit yang cerah sambil berharap kagami bersama yang lainnya hidup lebih lama.


"Tenebris apa kau takut jika suatu saat kau mati di tangan musuh di masa lalu jika kau bertemu?” Liyana yang ingin tau pendapat Tenebris.


"Ya itu sudah pasti sangat membuatku takut apa lagi orang itu sudah membantai seluruh Ras naga dan hanya dirikulah yang selamat itu sangat menyakitkan”


"Namun saat saya mengenal tuan Kagami membuat diriku ingin berubah untuk mengubah diriku seorang naga pengecut ini untuk berani menghadapi masa lalu yang buruk” Tenebris juga merasa juga ikut terinspirasi oleh tuannya sendiri.


"Begitu ya” Liyana yang kembali murung entah harus berbuat apa lagi.


Tenebris yang mengerti perasaan Liyana yang juga sama seperti Tenebris namun tidak bisa melakukan apapun lagi untuk mencoba karena masih ada ketakutan di dalam dirinya yang masih belum bisa di hadapinya.


Kemudian cuaca yang sangat tidak bagus hujan besar lalu mereka langsung mencari tempat berteduh di dalam hutan dan liyana sambil membangun tenda sendiri yang dari awal liyana sudah siapkan.


"Kagami sepertinya sampai disana akan lama karena tertunda oleh hujan” Kagami bersama Liyana berada di dalam tenda.


"Tidak apa-apa dan liyana apa kau takut?” kagami sambil berbaring.


"Ya aku takut tapi ketika mendengar alasan darimu dan Tenebris membuat diriku berfikir tidak ada gunanya untuk takut” liyana yang merasa dirinya harus kuat menjalani hidup.


"Itulah yang aku ingin dengar darimu liyana” Kagami yang senang melihat liyana yang sekarang.


"Kagami apa aku pantas bisa bersamamu? Apalagi dirimu adalah calon menjadi Raja Ibukota Azteria” liyana yang dirinya hanyalah masyarakat saja dan merasa tidak pantas.


"Bukankah aku pernah bilang aku tidak pernah mengganggap diriku sebagai calon raja namun aku hanyalah seorang yang terlahir untuk memperbaiki diriku yang dulu dan aku sangat senang ada seorang Gadis yang ingin bersamaku” Kagami bicara dengan seius kepada liyana.


"Lalu apa jika sampai disana akan mengatakan pada orangtuamu sekarang tentang yang selalu kamu bicarakan kepadaku?” liyana yang ingin kagami jujur tentang rahasia yang sudah di sembunyikannya.


"Ya aku berjanji akan mengatakannya” kagami yang akan mengatakannya meskipun itu ada konsekuensi dari awal mula pembicaraan ini.


"Aku hanya pernah mendengar dari ayahku seorang bangsawan biasanya memiliki pasangan yaitu bangsawan namun jika bangsawan menikah bersama orang sepertiku banyak bangsawan yang tidak akan menyukaimu sebagai raja aku hanya takut membuat namamu menjadi buruk” Liyana yang masih merasa dirinya tidak pantas.


"Aku selalu ada dan hal itu akan saja terjadi namun aku akan mencoba menjalaninya bersama” kagami yang tidak mau kembali menjadi pengecut seperti dimasa lalunya.


Kemudian Liyana mendengar perkataan Kagami semakin membuat Liyana yakin untuk memberanikan diri untuk menjalani hidupnya meskipun akan sulit untuk kedepannya.


"Hari ini sangat dingin karena hujan” Liyana yang merasa rindu kepada keluarganya.


"Tidurlah saja nanti jika tidak sudah hujan kita lanjutkan perjalanan” Kagami yang mengerti kepada Liyana yang merindukan keluarganya.


"Baiklah dan kagami kemarikan satu tanganmu” Liyana meminta satu tangan Kagami.


"Huh ini” Kagami langsung mengulurkan tangan kiri.


Kemudian liyana langsung berbaring sambil memegangi tangan kagami yang sangat hangat tidak lama Liyana tidur dengan pulas.


"Kenapa aku harus berurusan dengan Liyana sambil berbagi masalah satu sama lain? Apa tujuan sebenarnya aku ada berada disini?” Kagami yang sangat bimbang karena perjalanan selanjutnya adalah antara hidup dan mati atau perjalanan terakhir Kagami.


Kagami yang terus berfikir sendiri tidak bisa mendapatkan jawaban dari dirinya dari masa lalu yang sudah terlupakan.


Kemudian Kagami menatap Liyana yang tertidur sambil memegangi tangannya yang belum pernah terpikirkan hal itu akan terjadi dan Kagami yang hanya ingin melindungi Liyana bersama yang ada di sekitarnya.


Langit yang berganti menjadi pagi dengan di cuaca yang tidak menentu antara akan hujan kembali dengan udara juga yang sangat dingin.


Kagami yang terbangun melihat Liyana yang masih tidur namun Liyana dengan Posisi memeluk kagami kemudian kagami mencoba melepaskan diri setelah itu pergi menuju luar tenda.


Kemudian kagami yang melihat tanah ada darah dan Kagami langsung memunculkan Agares untuk meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi semalam.


"Agares apa ini perbuatanmu?” Kagami yang merasa bercak darah ini adalah hewan buas.


"Ya tuan tadi malam banyak hewan buas yang mendatangi tempat tuan berada tapi saya sudah mengurusnya dan maaf jika saya membuat tuan terganggu” Agares yang langsung memberitahukan kepada kagami yang sudah melindunginya dari hewan buas selama semalaman.


"Baiklah Igris kenapa jarang sekali menunjukkan diri?” Kagami yang langsung melihat banyak sekali pepohonan.


"Tuan Igris memutuskan untuk terus berlatih sendirian untuk ingin mengetahui batas kekuatannya sekarang sekaligus memperdalam pengetahuan tentang kemampuan di dalam dirinya yang baru di ketahui” Agares sambil memberitahukan kondisi Igris yang semakin mahir mengendalikan kekuatannya.


"Fyuh baguslah terus pantau saja dan kenapa diriku merasa beberapa pohon ini mengeluarkan energi yang jahat?” Kagami yang mengeluarkan pedang Guardians untuk memeriksa.


"Oh ya tuan saya lupa mengatakan tadi malam juga pohon pohon ini bergerak dan saling menyerang” Agares yang merasa aneh seperti ada sesuatu yang membuat pohon sekitarnya bergerak.


"Baiklah kembali saja biarkan diriku memeriksa sendiri” Kagami yang berjalan untuk memastikan perkataan Agares.


"Hati hati tuan ada monster kuat juga sebaiknya hati hati” Agares yang kemudian kembali masuk ke dalam bayangan Kagami.


"Pohon ini benar ada sedikit energi namun dari mana asalnya” Kagami yang menyentuh satu pohon besar.


Kemudian akar pohon keluar dari dalam tanah bersiap menyerang Kagami secara tiba tiba namun Kagami sudah menyadarinya.


Bam!


"Tidak semudah itu membunuhku” kagami yang berhasil di hindari dengan mudah.


"Hrgg” monster Pohon itu yang kesal.


‘Teknik terlarang ke-3 : Heavy Spinning Strike..!!’ Kagami langsung menebas pohon itu dengan cepat mengalahkannya.


Kagami yang hanya ingin menebas satu pohon namun yang terkena tebasan pedang Kagami sejauh 4 kilometer pohon tumbang.


"Waduh apa aku kurang mengontrol kekuatan?” Kagami yang merasa kekuatannya sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Setelah pohon pohon itu tumbang karena tebasan pedang Riziel kemudian sesuatu batu besar dari dalam tanah keluar untuk menunjukkan diri.


Ternyata pertarungan baru saja di mulai banyak sekali Monster Batu atau Sering di sebut adalah Monster Gigantes yang terbangun karena Kagami secara tidak sengaja membangunkannya karena telah menumbangkan banyak pepohonan.


"Baiklah sekarang aku tidak akan menahan diri akan aku hancurkan sampai menjadi debu kemudian mengambil yang kalian lindungi” kagami yang tersenyum bersemangat.


****


Liyana yang terbangun karena suara Berisik karena kagami yang telah menumbangkan banyak pepohonan sejauh 4 kilometer jauhnya.


"Uh dimana kagami kenapa tidak ada disini?” liyana yang bangun dan berjalan keluar tenda.


Liyana pun terkejutkan dengan melihat pepohonan yang di hadapannya tumbang semua.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini yang terjadi pada kagami?” Liyana yang langsung pergi mencari Kagami karena khawatir.


**** Normal POV ****


Kagami yang menghancurkan semua Gigantes tanpa menahan diri sedikitpun membuat semua monster batu Gigantes hancur tidak tersisa terbakar oleh api hitam yang membara.


Bam! Bam! Duaarr!


"Phew selesai juga dan mari lihat apa yang sebenarnya di sembunyikan” Kagami yang merasakan sesuatu yang bersembunyi di dalam tanah.


Kemudian kagami menghancurkan tanah dengan menancapkan pedangnya ke tanah dan terlihat Blood Stone yang tertanam ke dalam tanah.


Kemudian Kagami merasakan kehadiran seseorang yang mendekatinya yaitu Liyana datang langsung mendekati kagami meminta penjelasan apa yang telah terjadi saat liyana tertidur.


"Kagami sedang apa disitu?” liyana yang langsung bertanya kepada kagami.


"Ahh Liyana apa aku membangunkanmu?” Kagami yang langsung melihat kepada Liyana.


"Ya begitulah dan apa ini semua ulahmu?” liyana yang sangat ingin mengetahui.


"Ya benar dan kemari ambil ini untukmu” kagami langsung mencabut Blood Stone yang ada di dalam tanah dan memberikannya kepada Liyana.


"Ini Blood Stone dari mana mendapatkannya?” Liyana yang masih tidak mengerti.


"Tadi malam agares berkata sebagian pohon bergerak menyerang tenda dan monster juga ada yang menyerang namun agares melindungi kita saat tidur dan aku memeriksa itu ternyata Blood Stone yang mempengaruhi benda mati menjadi hidup” kagami yang langsung menjelaskan kepada Liyana.


"Pantas saja beberapa pepohonan tumbang aku kira kamu di serang makanya aku langsung mencarimu” Liyana yang benar khawatir.


"Gunakan Blood Stone untukmu dan hari ini lanjut perjalanan pulang ke rumah” Kagami yang langsung menggendong Liyana kembali menuju tenda.


"Kagami turunkan aku sekarang! Aku bisa sendiri” Liyana yang kesal tidak mau di gendong oleh Kagami.


"Baiklah baiklah” Kagami langsung berhenti dan menurunkan Liyana.


Kemudian kagami bersama Liyana yang sudah membereskan tenda lalu langsung melanjutkan kembali perjalanan pulang menuju rumah.


Kagami bersama Liyana yang berada di atas punggung Tenebris pergi menuju kembali ibukota Azteria.


Kagami yang memperhatikan Liyana yang masih gugup untuk menyerap Blood Stone akan sangat lama.


"Gunakanlah nanti jika sudah sampai aku akan menyadarkanmu” Kagami yang mencoba meyakinkan Liyana.


"Baiklah terimakasih Kagami” Liyana langsung melakukan sudah yakin.


Kemudian Liyana langsung Fokus untuk menyerap kekuatan dari Blood Stone sambil di jaga oleh Kagami.


Wuss! Wung!


Kemudian kagami langsung mengeluarkan Igris secara paksa dari dunia bayangan milik kagami.


"Tuan ada apa mengeluarkanku?” Igris dengan wajah polos tidak mengerti.


"Tidak ada tapi istirahatlah sebentar jangan paksakan dirimu karena semua butuh waktu” Kagami yang tidak boleh terlalu tegas kepada Igris yang hanya seorang Iblis kecil sepertinya.


"Huh baiklah aku akan istirahat kalau tuan memang menginginkan aku istirahat” Igris yang menuruti perkataan Kagami yang pernah menyelamatkan hidupnya.


"Jangan panggil diriku dengan tuan cukup Kagami saja mengerti!” Kagami dengan wajah mengancam kepada Igris.


"Baiklah” Igris yang takut dengan wajah mengancam Kagami.


"Kalau begitu dari awal bertemu denganmu ada yang ingin aku tanyakan jadi jawab dengan jujur” Kagami yang angat ingin tau dari mana asal Igris dari lama.


"Akan aku usahakan menjawabnya” Igris yang sangat gugup menunggu Kagami bertanya.


"Dari mana asalmu? Dan kenapa kamu bisa ada disini saat anak anak Iblis itu menyiksamu?” Kagami yang sangat ingin tau jelas dunia ini.


"Em sebenarnya aku terlahir dunia bawah atau yang di kenal manusia itu adalah abbyss dimana Iblis hidup disana sekaligus dewa Iblis Tartarus berada disana dan lagi agares juga berasal dari sana sejak kecil”


"Diriku terlahir oleh dewa Iblis Tartarus tapi diriku sering di sebut tidak berguna dan di siksa oleh iblis kuat hingga sampai ke dunia manusia namun aku tidak mengerti bisa sampai kemari bersama iblis lain” Igris yang mengatakan rahasianya Kepada Kagami.


"Kenapa kau sangat berusaha keras berlatih?” Kagami yang langsung bertanya kepada Igris.


"Karena tidak mau menjadi tidak berguna lagi dan ingin membunuh dewa Iblis yaitu ayahku sendiri” Igris mempunyai alasan untuk ingin terus menerus meningkatkan kekuatan dan melampaui batasannya.


"Itu pasti sulit tapi berusahalah aku akan memperhatikanmu dan jangan terlalu memaksa dirimu untuk berkembang lebih cepat karena itu lebih beresiko kecuali dalam waktu yang sama dirimu harus melampaui batasanmu karena dirimu terpojok oleh lawan yang kuat” Riziel sambil menepuk pundak Igris dengan bangga untuk peningkatan sekarang.


"Baiklah akan aku coba” Igris yang sadar bahwa dirinya terlalu memaksa diri saat latihan di dunia bayangan.


"Tapi ada yang tidak mengerti ketika seseorang terlahir pasti adanya sepasang wanita dan Pria tapi kenapa aku mendengar perkataanmu hanya bicara tentang ayah saja?” Kagami langsung bertanya kepada Igris yang sama terkejut baru menyadarinya.


"Ibu apa itu maksud anda?” Igris dengan wajah cukup terkejut.


"Tuan hentikan bertanya tentang itu” Agares yang mengetahui sikap asli dewa Iblis Tartarus.


"Agares jelaskan padaku dimana ibuku?” Igris dengan wajah ingin tau.


"Katakan saja kenyataan untuk Igris jangan di sembunyikan terus menerus” Kagami yang perasaannya terhubung dengan agares jadi mengerti ada yang Agares sembunyikan dari Igris.


"Baiklah tuan jadi dewa Iblis Tartarus adalah seseorang yang kejam dimana dia akan membawa wanita dari dunia manusia menuju dunia para Iblis berada yaitu Abbyss demi ingin mendapatkan keturunan yang kuat untuk menguasai dunia manusia”


"Kemudian membuat wanita ras manusia hamil hingga lahir kemudian di bunuh dan di buang ke dalam lava sangat panas” Agares sambil sangat merasa bersalah.


"Itu tidak mungkin bukan agares dan katakan itu bohong ya kan?” Igris yang muncul perasaan kesal dan marah kepada agares yang berbohong.


"Sayangnya itu memang benar dan maafkan saya baru memberitahukan kenyataan yang harus kamu percaya” Agares kemudian memalingkan karena menganggap diri agares berdosa.


"Huuaa ibu!!” Igris yang langsung menangis tidak bisa menerima kenyataan pahit sebagai iblis.


"Hidup memang menyakitkan tapi kau harus kuat mengakuinya dan balas dendamlah kepada ayahmu untuk menebus dosanya sendiri” Kagami yang langsung memeluk Igris sambil mengusap tubuhnya dengan pelan.


"Hiks hiks” Igris yang masih menangis tanpa henti hingga akhirnya tertidur di sebelah Kagami.


As


"Agares kembalilah untuk sekarang biarkan aku akan urus Igris untuk sementara” Kagami yang baru mengetahui hal menyakitkan untuk Igris.


"Baik tuan” Agares yang menghilang dari hadapan kagami dan kembali di balik bayangan kagami.


Kagami melihat Liyana yang masih terfokus menyerap kekuatan dari Blood Stone dan juga Igris yang tertidur karena harus mengetahui kenyataan yang sangat pahit untuk seorang Iblis kecil seperti Igris sekarang harus menanggungnya sendiri.