Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
42. Ujian Kelayakan Untuk Menggunakannya



Sakura yang masuk ke dalam dunia buatan kagami hanya penuh dengan kegelapan tetapi disana di terangi oleh pedang Bloody Sfraksor dengan cahaya merah dan disana liyana melihat seseorang disana lalu liyana mendekatinya dan ternyata disana adalah tenebris.


"Tenebris sedang apa disini?" Liyana yang aneh adanya tenebris.


"Aku istirahat disini dan melihat berwarna merah masuk kesini jadi ingin melihatnya" Tenebris yang berbicara kepada liyana.


"Oh iya lupa dan aku disini untuk kagami menyuruhku untuk bisa mengendalikan pedang Bloody Sfraksor di dalam sini karena di luar banyak musuh yang datang" liyana yang memberitahukan tujuannya masuk ke dalam dunia buatan kagami.


"Baiklah dan kekuatan pedang ini sama kuatnya seperti yang tuan kagami pegang sekarang dan silahkan saya akan membantu anda" tenebris mempersilahkan liyana memulai mengendalikan pedang Bloody Sfraksor.


"Ya terimakasih" liyana langsung mendekati pedang Bloody Sfraksor yang masih mengapung di udara.


Liyana langsung menyerap kekuatan yang terpancar di luar pedang Bloody Sfraksor sehingga pikiran liyana langsung pindah menuju alam bawah sadarnya.


"Kakek apakah itu kau?" Liyana yang melihat bayangan kakeknya dulu waktu liyana kecil.


"Saya bukan kakekmu tapi saya penjaga pedang ini yang layak untuk mendapatkannya apakah kau yang mencoba mengendalikan pedang ini?" Penjaga itu bertanya kepada liyana.


"Ya betul itu adalah aku dan aku penerus selanjutnya dari kakekku dengan marga keluarga Nero" liyana yang langsung ke intinya karena tidak ingin lama lama.


"Ahh dia ya aku mengingatnya dan sekian lama baru bisa bertemu lagi dengan penerusnya" penjaga itu tersenyum kepada liyana.


"Ja-jadi bagaimana?" Liyana yang sangat gugup.


"Hmm apa tujuanmu ingin mengendalikan pedang warisan keluargamu ini apakah seperti raja iblis di luar sana yang ingin menjadi raja dunia?" Penjaga itu bertanya kembali kepada liyana untuk tujuannya.


"Tidak aku hanya ingin melindungi seseorang yang selalu melindungiku di depanku dan melindungi keluargakuagar bisa hidup lebih lama bersamaku dan darah bukan belarti keburukan bisa saja itu kebaikan untuk menghalangi adanya kejahatan yang buruk" liyana yang berbicara dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kata kata terakhirmu begitu sama dengan kakekmu yang belarti kau adalah keturunannya selamat tes pertama selesai dan tes selanjutnya adalah tekad hidup" penjaga itu berbicara dengan bangga kepada keturunan marga Nero selanjutnya.


"Tu-tunggu apakah yang sebelumnya termasuk tes? dan bolehkah aku tau namamu?" Liyana yang bertanya kepada penjaga tersebut.


"Ya itu termasuk tes dan nama tesnya adalah keyakinan apakah pantas menerima kekuatan besar ini dan namaku adalah kenzo sang penjaga pedang ini" kenzo nama asli penjaga pedang Bloody Sfraksor.


"Tu-tunggu apakah lucifer gagal dalam tes pertama?" Liyana yang bertanya karena tidak percaya.


"Ya karena kekuatan bukan untuk mengatur segala di bawah kita tetapi harus menjaga semuanya menjadi damai itu yang aku suka dari tekad hidup seseorang" kenzo berbicara kepada liyana.


"Baiklah aku akan menyelesaikannya secepat mungkin karena ada yang menggu di luar sana" liyana langsung memasuki tes kedua yaitu tekad hidup.


"Baiklah hati hati jangan sampai tekadmu hancur disana" kenzo mengngatkan kepada liyana.


Liyana langsung memasuki tes ke-2 dimana ketika masuk langsung dan ketika sudah masuk yaitu dimana seseorang tidak boleh terpangaruh oleh ilusi dan tekadnya harus bertambah kuat juga.


Liyana yang memasuki di dalam sana belum sadar itu adalah ilusi saja dan liyana melihat keluarganya yang dulu sampai sekarang masih hidup dengan damai hingga liyana terbawa suasana hingga melupakan tekadnya sementara.


Liyana yang sangat menginginkan kehidupan yang liyana mau seperti ini sehingga suara kagami yang berbicara 'liyana bangun jangan terbawa suasana' di dalam pikirannya.


"Maaf ini sebenarnya yang aku inginkan tapi aku sudah mempunyai tujuan bersama seseorang" liyana yang pergi sambil mengeluarkan air mata karena sangat sedih dengan mimpi yang terasa nyata.


"Nak jangan tinggalkan kami dan ibu tidak ingin kamu terluka lagi" ibu liyana yang berbicara kepada liyana yang hanya berhenti dan diam tidak melirik ke belakang.


"Kakak jangan pergi jangan tinggalkan aku" adik liyana yang berbicara juga hingga menangis tapi liyana tidak menanggapinya.


"Nak kau tidak usah berjuang kami ada disini jangan tinggalkan kami begitu" kakeknya liyana berbicara.


"Maaf semuanya itu sudah ada janji dan hidup baru maafkan aku semuanya" liyana yang berlari sambil menangis.


Liyana pun terbakar dengan api darah hingga menghancurkan ilusi tersebut membuat kenzo terkagetkan oleh itu.


Liyana pun membuka matanya lalu melihat kembali semua menjadi semula dan kenzo hanya terkagetkan akibat kemampuan liyana yang sangat spesial bagi keluarganya sendiri yaitu api darah.


"Apakah itu energi api darah?" Kenzo yang tidak percaya dengan kemampuan yang berbeda dengan kakeknya.


"Ya memangnya ada apa?" Liyana yang bertanya kepada kenzo yang terlihat terkejut.


"Kenapa kemampuanmu berbeda dengan kakekmu? dan sejak kapan kau mendapatkan kemampuan api darah itu?" Kenzo yang tidak percaya dengan kemampuan cucu nya yang sangat berbeda.


"Sejak sebelum masuk ke kerajaan demons ini kekasihku mempunyai kemampuan api hitam yang bisa melihat tembus pandang jika mengalirkan energi api hitam ke dalam mata dan dia memberikan sedikit energi api hitam kepadaku tapi pada saat masuk ke dalam tubuhku energi itu berubah dan bergabung dengan kemampuan darahku dan juga kerajaan demons ini berada di atas langit lalu di lindungi oleh sihir tidak terlihat atau kamuflase menyebabkan tidak terlihat" liyana yang menceritakan kepada kenzo yang mendengarkannnya tambah tidak percaya.


"Aku kira kerajaan ini ada di tanah dan lagi kekasihmu juga punya kemampuan yang sangat unik yaitu api hitam dan kendali ruang yang akan sangat berguna dan baiklah karena sudah selesai tesnya itu belarti pedang ini bisa di gunakan olehmu lalu jangan kalah oleh lucifer" kenzo yang memberikan semangat kepada liyana.


"Ya terimakasih kenzo" lalu liyana oleh kenzo di usir dari alam bawah sadarnya yang lalu liyana terbangun di dimensi kegelapan kagami.


"Ugh ternyata masih saja gelap disini" liyana yang terbangun dengan energinya di dalam tubuh yang mengalami peningkatan.


"Liyana ternyata kau sudah bangun sepertinya sudah berhasil menaklukan pedangnya yah?" Vortex yang sedang ada di sebelahnya memperhatikan pedang Bloody Sfraksor.


"Begitulah berjalan dengan baik" liyana sambil mengangkat pedang Bloody Sfraksor dengan tangannya sendiri sangat ringan.


"Ohh ya apakah kau ingin mempelajari teknik pedang yang hebat tuan menyuruh memberikannya padamu" Tenebris memberikan buku teknik pedang kepada liyana.


"Baiklah terimakasih Tenebris dan akan aku coba di pelajarinya" liyana yang berterimakasih kepada tenebris karena memberikan teknik pedang yang cukup berguna.


"Ya sama sama saya hanya menjaganya saja dan juga saya tidak bisa bermain pedang karena itu saya berikan kepada tuan kagami lalu tuan kagami memberikannya kepada nona liyana" Tenebris yang memberitahukannya kepada liyana.


"Dan juga gunakan energimu sebaik mungkin jangan buat tuan kagami kecewa cobalah buatlah tuan kagami senang bersamamu" vortex memberikan semangat kepada liyana.


"Ya akan aku coba vortex" liyana lalu menyimpan pedangnya di pinggangnya bersebelahan dengan pedang biasanya.


Liyana lalu mempelajari buku teknik menggunakan pedang lalu di luar dimensi buatan.


Kagami sedang membantu hoaxen keluar dari reruntuhan bangunan yang hancur bekas pertarungan dan hoaxen keluar dari bebatuan yang menimpanya lalu kagami dan hoaxen pergi ke arah Mikhaile berada.