
Beberapa menit berlalu di dalam dapur besar Liyana yang melihat Kagami memasak makanan sambil memperhatikannya terus hingga akhirnya masakan yang di buat oleh Kagami selesai sampai wangi harum enak sekali.
"Ternyata kau selain bertarung pintar memasak juga ternyata ya Kagami?” Liyana yang langsung langsung angkat bicara.
"Ahaha begitulah, sebenarnya aku sejak dulu tidak pernah tertarik pada memasak hanya saja pada saat ayahku telah lama mati dan ibuku stres berat hingga selalu membawa laki-laki ke rumah membuat aku sendiri mencoba melakukan kewajibanku sendiri” Kagami sambil menyusun makanannya ke setiap tempat makanan.
"Eh maaf membuatmu harus mengingat masa lalumu itu Kagami” Liyana dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa dan jangan khawatir karena mulai hari ini aku tidak akan bimbang atau ragu lagi pada tujuanku saat ini” Kagami tersenyum sejenak karena pikirannya sedang tenang bisa berfikir dengan lancar.
"Apa benar tidak apa-apa?” Liyana yang benar-benar menyesal menanyakan hal tersebut.
"Santai saja dan ayo makan bersama karena masakan buatanku sudah jadi” Kagami dengan menunjukan beberapa piring terisi makanan di atas mejanya.
"Iya akan bantu membawakannya” Liyana yang merasa lebih tenang saat melihat Kagami cukup bahagia.
Lalu beberapa makanan yang sudah jadi itu langsung di bawa ke suatu tempat dimana ayahnya berada sambil di bantu oleh beberapa makhluk bayangan milik Kagami.
"Harum sekali, ada apa ini?” Tanya Zhiyu yaitu ayah Kagami yang terkejut beberapa bayangan membawa meja langsung menyimpan masakannya di atas meja.
"Bukan apa-apa tapi ayah belum makankan?” Kagami langsung bertanya kepada ayahnya.
"...” Zhiyu yang malu mengakuinya karena semenjak kesehatannya pulih kembali mulai jarang memperhatikan tentang makannya sendiri.
"Ayah itu ya! Harusnya memikirkan kesehatan sendiri jangan terlalu memikirkan kerjaan karena yang pertama di perhatikan adalah pola kesehatan yaitu dari makan karena itu malam ini mari makan bersama karna besok adalah hari yang akan cukup sibuk” Kagami dengan memarahi sebentar ayahnya sendiri lalu mengajaknya makan bersama.
"A-ah iya maafkan ayahmu ini” Zhiyu yang melihat Kagami mirip dengan istrinya.
"Kagami kau melupakan sesuatu” Liyana mengingatkan kepada Kagami.
"Ahaha benar lupa” Kagami langsung mengeluarkan secara paksa Igris dari tempat latihannya.
Wuss! Tuk! Tuk!
Kagami juga langsung membangunkan juga peliharaan kecilnya yang ketiduran lagi karena mengantuk.
"Guru ada apa sampai memaksaku keluar?” Igris langsung bertanya kepada Kagami.
"Makanlah dahulu sambil istirahat jangan terus menerus mamaksakan dirimu selalu” Kagami yang langsung mengatakannya kepada Igris.
"Maaf guru aku tidak akan mengulanginya lagi” Igris mencoba berjanji.
"Bagus karena semua itu ada proses untuk menjadi kuat” Kagami langsung duduk di ikuti Igris duduk di kursi sebelahnya.
Wuu!
"Ini makanan bagianmu sudah aku pisahkan” Kagami langsung memberikan bagian makanan untuk peliharaan kecilnya.
"Guru ini enak sampai aku tidak bisa berhenti makan” Igris yang menyukai masakannya.
"Makanlah yang banyak” Kagami yang senang melihat Igris dengan ayahnya menyukainya.
"Iya enak tidak kalah enaknya dengan masakanku ternyata kamu memang berbakat juga memasak Kagami” Liyana langsung memuji Kagami.
"Ehh ayah kenapa menangis?” Kagami melihat ayahnya sendiri dengan matanya menangis terharu.
"Hah..bukan apa-apa lanjutkan saja” Zhiyu yang tidak ingin putranya khawatir.
Di malam hari tersebut yang sangat tenang bisa makan bersama-sama sangatlah menyenangkan membuat Kagami mempunyai kenangan yang sangat berharga di dunia ini sampai jika nanti dirinya mati tidak akan membawa sebuah penyesalannya lagi.
Lalu di pagi selanjutnya semua orang melakukan pekerjaannya masing-masing yang harus di kerjakan tapi di pagi hari Kagami yang sudah melakukan duel di ruangan terbuka bersama Liyana dan Igris hanya memperhatikan saja karena tadinya Igris ingin mencobanya tapi karena perbandingannya sangat jauh jadi mengurungkan kembali niat keinginannya sendiri.
"Jangan-jangan kamu sudah mulai lelah atau masih kurang pukulan dariku!” Liyana dengan mengejek Kagami.
"Lelah maaf saja tidak untuk saat ini belum karena duel ini aku baru mulai serius” Kagami yang memasuki mode buas karena terlihat dari matanya menjadi hitam kemerahan seperti iblis lepas kenali.
"Oh begitu ya!” Liyana juga seketika rambutnya yang merah menjadi berwarna hitam tandanya sudah memasuki Heavenly Munderer's Body mode balas dendam.
Kagami yang menggunakan kedua senjata andalannya di antara Lexalicus dengan Sword Guardian's di kedua tangannya lalu saling beradu pedang dengan milik Liyana.
"Woah ini pertarungan sangat hebat” Igris baru melihat pertama kalinya pertarungan serius antara Liyana dengan Kagami.
‘Heavenly Munderer's Body : tingkat 3!’ Liyana yang merasa belum cukup untuk mengalahkan Kagami.
"Hoh..!’ Kagami dengan tersenyum sejenak.
‘Domain Hell : Death Sentence's!’ Kagami menambah kekuatannya dengan membuat wilayah di dekatnya menjadi miliknya dan memberikan hukuman berupa serangan mental lebih banyak yang di terima lebih sakit pula hukumannya.
‘Demonic Sky Destruktif! + Blood Trap!’ Liyana langsung membuat kombinasi serangan untuk mengalahkan Kagami langsung.
"Bagus sekali tapi terlalu lambat” Kagami langsung yang mencari cara untuk menahannya.
‘Heavenly Guardian's Thunder Destruktif!’
Blam! Duar!
Seketika petir langsung menyambar bersamaan saat Kagami menancapkan pedang ke arena hingga membuat Barier di sekelilingi aura petir hitam lalu semua serangan Liyana juga berhasil di tahan oleh Kagami.
"Hah... hah... Kali ini akan aku selesaikan dengan satu serangan terakhir” Liyana masih belum menyerah.
‘Sequential Perfect Judgment Cut End....!’
"Baiklah jika ingin begitu” Kagami langsung menunjukkan skill pamungkasnya.
‘Extremination Hell Death : Over Drive...!’
Blam! Duarr!
Kedua serangan bertabrakan hingga menghancurkan arena dengan pembatas ikut terbawa hancur lebur dan tidak bisa melihat siapa yang menang karena keduanya seri.
"Haha ternyata hasilnya seri lagi ya?” Liyana berkata dengan badannya lemas.
"Benar padahal aku masih menahan diri dan kekuatan yang aku keluarkan hanyalah 50 persen saja tapi menyebabkan kehancuran seperti ini” Kagami dengan cukup terkejut.
"Dasar curang padahal aku sudah mengeluarkan kemampuanku sebesar 75 persen” Liyana yang langsung marah kepada Kagami.
"Aku-akui kau pemenangnya Kagami” Liyana yang seketika tubuhnya sangat lemas.
Karena efek dari [Death Sentence's] langsung menyerangnya langsung ke mental yang masih aktif dan membuat Liyana juga menjadi terasa lebih cepat lelah.
"Istirahatlah dahulu” Kagami langsung membereskan bekas pertarungan.
Lalu setelah selesai membereskan bekas kekacauan duel tadi antara Kagami dengan Liyana yang sangat bersemangat bertarung di antara mereka berdua.
"Kagami apa kamu tidak akan beristirahat sejenak?” Liyana yang sudah beristirahat cukup lama lalu segera mendekati Kagami.
"Iya setelah ini aku akan istirahat kok” Kagami dengan bicara cukup santai.
"Baiklah kalau begitu aku ingin pulang ke rumah dahulu ya?” Liyana yang langsung memberitahukannya kepada Kagami.
"Iya berhati-hatilah” Kagami yang langsung mengirim satu satu makhluk bayangan bersama Liyana untuk berjaga-jaga.
Setelah Liyana pergi lalu Kagami mulai istirahat sejenak sambil memberikan latihan lanjutan kepada Igris yang kelihatannya semangatnya meningkat karena melihat pertarungan antara Kagami dengan Liyana.
[Disisi Tempat lain POV]
"Huah.. sungguh membosankan dan apa kalian tidak bosan?” Seorang dewa merasa ingin mengacaukan sesuatu yang di masukkan sebagai hobi dewa.
"Tentu diriku disini benar-benar bosan karena keadaan kita semua saat ini tidak bisa pergi jauh karena sudah membuat tuan penguasa bawah tanah di segel lalu di buang menuju dunia manusia”
"Jika bertindak lebih lagi bisa-bisa kita di ketahui oleh dewa lebih kuat dari kita semua disini bisa saja mati atau terkena hukuman dari penguasa alam dewa” Dewa yang berpenampilan seperti iblis sambil mengeluh.
"Apa yang di katakan oleh Tartarus ada benarnya tapi ada yang lebih penting dari itu adalah tidak boleh membiarkan anak dalam takdir itu membunuh kita dan menggagalkan menaklukkan atau mengacaukan alam para dewa” salah satu dewa terkuat dari mereka ketiganya.
"Dan orang itu adalah musuhku dulu yang sudah merebut semuanya dariku yaitu Fanzi Yora tunggu saja sebentar lagi diriku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!!” Zhigen yang sangat berambisius ingin membunuh teman lamanya.
"Dasar anak ber*nd*l ini mengertilah situasinya!!” Dewa yang di antaranya paling lemah langsung marah kepada Zhigen.
Bam!
"Sakitt!!” Zhigen Langsung merasa sakit.
"Kau harusnya tau kondisi kami yang belum pulih sepenuhnya karena sudah menghabiskan banyak kekuatan untuk menyegel Tuan Thanatos hingga terjatuh ke dunia manusia apa lagi kalian berdua manusia mencari keuntungan dariku dengan membuat kesepakatan ke abadian jadi kekuatanku lebih lama pulihnya” Dewa tersebut dengan perasaan kesal, marah dan semua bercampur menjadi satu.
"Tenangkan dirimu hades biarkan saja 2 manusia itu mengurus anak dalam takdir tersebut jadi serahkan saja pada mereka, lagi pula dengan keabadian mereka pasti akan ada sedikit peluang untuk menang” Dewa tersebut mencoba menenangkan suasananya.
"Hahh.. baiklah pergilah kalian berdua, sekarang turunlah ke dunia manusia lalu bunuh anak dalam takdir itu dan untukmu tua diriku pinjamkan pedangku ini” Dewa tersebut langsung melemparkan senjatanya kepada pria misterius.
Kemudian Pria misterius tersebut langsung berterimakasih sambil menundukkan kepalanya lalu pergi terlebih dahulu meninggalkan Zhigen.
"Baiklah terimakasih sudah mempercayai diriku dan akan melaksanakan tugasnya sampai tuntas” Zhigen dengan merasa cukup senang tidak sabar bertemu sekaligus membunuh temannya dahulu.
Zhigen juga langsung pergi ke arah yang sama dengan pria misterius yang sudah pergi terlebih dahulu meninggalkannya sedangkan ketiga dewa tersebut sebenarnya tidak pernah memperdulikan nyawa 2 manusia tersebut karena selagi berguna masih bisa di gunakan jika tidak maka lenyapkan saja.
Lalu dimana Kagami yang sedang membuat rencana yang lebih matang lagi sambil mempersiapkan segala yang bisa di usahakannya untuk melindungi tempat asal lahirnya berada dari kehancuran yang akan muncul dari mimpi buruknya saat itu.
"Nak beristirahatlah sejenak dirimu belum istirahat sama sekali sejak tadi pagi berduel?” Zhiyu yang muncul dari belakang Kagami.
"Ahaha ketahuan ya?, Sebentar lagi persiapanku selesai kok ayah dan setelah ini aku akan beristirahat” Kagami yang masih harus menyempurnakan persiapannya sendiri.
"Yasudah jangan paksakan dirimu” Zhiyu sambil membuang nafas panjang melihat anaknya yang bekerja keras dan tidak tau apa yang sebenarnya putranya sendiri rencanakan.
Ayahnya Kagami sendiri langsung kembali pergi dan tidak lama dari itu persiapan yang Kagami rencanakan selesai seperti keinginannya lalu setelah itu Kagami langsung membersihkan badannya dari kotoran badannya sendiri sekaligus debu.
Lalu tidak lupa juga mendatangi tempat dimana Kagami menyembunyikan tubuh ibunya yang tertidur sementara waktu tempat yang lumayan tidak terlalu sempit.
"Ibu akan aku pastikan selanjutnya aku akan berhasil mencegah kehancuran disini dan aku akan membuktikan bahwa mimpi yang aku alami tidak akan terjadi!” Kagami langsung berjanji di hadapan ibunya yang tertidur.
Lalu Kagami langsung pergi menuju tempat Liyana berada yaitu rumah keluarganya sendiri yang mungkin sudah menunggunya disana dan saat sampai disana melihat satu keluarga Liyana yang sedang berkumpul untuk makan.
"Kagami aku tau kamu akan datang” Liyana yang baru saja menyimpan masakannya di atas meja.
"Ah.. itu berfikir harus kesini sih” Kagami sambil memalingkan wajahnya.
"Oh untunglah jika kamu terpikirkan seperti itu karena aku juga memasak lebih untukmu juga jadi ikutlah makan bersamaku, pasti kamu sudah bekerja keras bukan pada saat aku pergi ya kan?” Liyana yang langsung menarik Kagami masuk ke dalam rumah.
"Ya-ya begitulah dan maaf atas kedatanganku yang datang secara tiba-tiba” Kagami langsung meminta maaf kepada orangtua Liyana.
"Tidak perlu minta maaf karena kamu tidak melakukan kesalahan apapun meskipun begitu harusnya saya sendiri yang berterimakasih kepadamu selama ini haha!” Ayah Liyana yang langsung berdiri lalu mendekati Kagami.
Bugh! Bugh!
Ayah Liyana yang benar-benar senang sampai memukul punggung Kagami beberapa kali karena bisa melihat keluarganya bisa bahagia lagi seperti dulu setelah beberapa tahun hidup dalam ketakutan akan kematian, penyesalan dan lain-lain namun berubah sejak dirinya mengenal seorang anak yang membantu keluarganya bangkit dari keterpurukan.
"Jika bukan karena dirimu pasti keluargaku tidak akan bisa berubah menjadi seperti saat ini hanya karena dendam pribadi dan diriku sebagai pengecut ini tapi itu sudah berlalu lalu dirimu juga sudah saya anggap bagian dari keluargaku jadi makanlah bersamaku hari ini!” Ayah Liyana yang langsung mengajaknya duduk di dekatnya.
"Baiklah” Kagami dengan cukup senang kehadirannya tidak menjadi pengganggu namun terasa dirinya di anggap sebagai tamu atau keluarganya sendiri.
Lalu Kagami yang makan bersama sambil sesekali mengobrol bersama orangtua Liyana atau adiknya Liyana yaitu Lucia yang bercerita tentang teman-temannya yang suka bermain dengannya.
"Oh ya bagaimana tentang pembangunan academic untuk anak-anak apa berjalan lancar?” Kagami lupa tidak mengawasi sampai ke tempat tersebut.
"Berjalan lancar bahkan sudah hampir selesai berkat bantuan suamiku juga yang ingin membantu pekerjaan tersebut” Bu Sherina yang langsung memberitahukan kepada Kagami.
"Hehh.. cepat juga ternyata pembangunannya lalu terimakasih sudah membantu pembangunannya pak Rizen” Kagami merasa sangat terbantu tentang urusan ayahnya sendiri.
"Saya hanya membantu yang bisa di bantu saja sambil melatih tubuhku ini yang sudah lama berdiam diri ini harus di asah menjadi lebih kuat lagi” Pak Rizen dengan semangatnya yang membara.
"Begitu ya syukurlah dan Liyana masakanmu hari ini sangat enak terimakasih” Kagami sampai terlalu banyak berterimakasih kepada keluarga Liyana.
"Ini tidak ada apa-apanya dengan masakanmu tadi malam lebih enak dari padaku” Liyana yang sangat ingin meningkatkan kemampuan memasaknya.
"Eehh apa kamu juga pintar memasak nak Kagami?” Kedua orangtua Liyana dengan terkejut.
"Haha ya begitulah” Kagami tertawa dengan canggung.
"Aku ingin mencoba masakan Kak gami juga!” Lucia langsung berbicara kepada Kagami.
"Iya nanti akan aku masakkan jika ada waktu luang lagi ya?” Kagami yang masih ada beberapa pekerjaan yang harus di bereskan lagi.
"Kak gami janji?” Lucia yang sangat ingin Kagami berjanji untuknya.
"Iya janji” Kagami yang mencoba untuk berjanji untuk keluarga Liyana.
Keluarga Liyana yang sangat menantikannya masakan dari buatan Kagami meskipun di sisi lain Liyana yang merasa bersalah karena membuat Kagami harus menuruti kemauan dari keluarganya.
"Maaf ya Kagami harus membuat janji kepada keluargaku tentang masakanmu” Liyana dengan merasa bersalah.
"Tidak perlu di pikirkan lagi pula aku tidak keberatan kok” Kagami dengan santainya.
"Kenapa kamu merasa tidak keberatan atas permintaan keluargaku?” Liyana yang ingin mengetahui alasannya.
"Aku hanya ingin memperbaiki hubungan keluarga kita berdua dan aku tidak ingin keluargamu berfikir yang buruk tentangku seperti penyesalanku di masa lalu jadi aku ingin berhubungan baik dengan semua orang” Kagami sambil melihat ke arah langit.
"Harusnya bukan kamu yang harus memperbaiki hubungan keluarga kita tapi harusnya ayahmu sendiri tapi hingga saat ini aku senang bisa bersamamu jadi bisakah berjanji sesuatu padaku Kagami?” Liyana dengan berbicara serius kepada Kagami.
"Ya ada benarnya sih tapi tidak salah juga kan aku membantu memperbaiki hubungan keluarga kita bukan?, Aku akan mencoba melakukan yang aku bisa untuk menepati janjimu” Kagami dengan kembali melihat langit yang cerah.
"Aku ingin terus bersamamu selalu meskipun aku tidak tau kapan mimpimu itu akan terjadi padamu karena itulah teruslah bertahan hidup meskipun kita berdua berpisah hingga bisa bertemu lagi satu sama lain apa bisa?” Liyana yang merasa tidak ingin memisahkannya.
"Baiklah akan aku coba sebisaku untuk bertahan hidup dengan sekuat tenaga” Kagami dengan menunjukkan semangat bertahan hidup kepada Liyana.
"Terimakasih sudah mau mendengarkannya Kagami” Liyana dengan merasa malu mengatakannya kepada Kagami.
"Tidak apa-apa bukankah wajar meskipun kamu sangat mirip dengannya saat sekarang” Kagami langsung mendekati Liyana.
"A-apanya yang sama?” Liyana dengan terkejut Kagami mendekatinya.
"Sama-sama takut kehilangan diriku yang padahal yang tidak berguna hanya membawa masalah” Kagami kemudian melihat ke bawahnya dimana banyak orang bekerja melakukan kegiatannya masing-masing.
"Tidak kamu salah! Kagami dirimu sangat baik bahkan ketika seseorang berbuat jahat padamu dan karena itu di sisi kehidupan yang menyenangkan pasti selalu ada masalah menunggu semua orang jadi bukan kamu saja!” Liyana yang langsung memberitahukan kepada Kagami.
"Terimakasih Liyana selama ini kamu selalu menghiburku saat begini” Kagami dengan merasa harus selalu berterimakasih kepada Liyana.
"Tidak apa-apa dan ayo antar aku untuk jalan-jalan di kota” Liyana yang langsung memegang satu tangan Kagami.
"Ah baiklah” Kagami langsung setuju dengan ajakan Liyana.
Kemudian Liyana dengan Kagami langsung melompat dari atas atap rumah keluarga Liyana lalu bersamaan dengan perginya Kagami bersama Liyana berjalan-jalan di kota Aztec, Seorang Pria misterius yang di kirim oleh dewa Hades mulai masuk ke dalam gerbang kota sambil menyembunyikan niatnya karena melihat ada penghalang yang di buat sangat kuat.