Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
101. Pengakhiran Atas Semua Kesalahanmu



Liyana yang juga setuju dengan perkataan Kagami untuk mengakhiri masalah kali ini lalu Liyana langsung mengeluarkan pedang Bloody Sfraksor dari Sarung pedangnya sambil menyelimuti pedang Bloody Sfraksor dengan energi api darah.


"Hewan sepertimu memang pantas untuk mati! Karena sudah membuat temanku ketakutan oleh saudara Serigala bodohmu jadi sekarang kau pantas untuk mati” Liyana yang langsung sedikit memprovokasi musuh di hadapannya.


"Jika kalian berdua ingin cepat semua ini berakhir saya juga akan membantu karena musim dingin ini sudah menyusahkan rakyatku juga maka dari itu saya akan bertarung disini demi kota yang sudah diriku bangun sejak lama” Tuan Alexi langsung menciptakan puluhan Pedang Tulang yang siap menghujani daratan.


"Hahaha manusia kalian sungguh menarik kalau begitu majulah akan diriku layani sepuas kalian” Ketua Serigala yang langsung mengeluarkan cakarnya.


Lalu musuhnya sekarang ada seorang Serigala yang kemampuan fisiknya melebihi manusia rata-rata yang sangat kuat di tambah dengan Blood Stone yang sudah di pasangkan ke dalam tubuhnya.


Leviathan bersama Rubah langsung kembali bersembunyi di balik bayangan Kagami untuk membantu bertarung jarak dekat.


Serigala itu langsung melancarkan serangannya berupa tebasan dari cakarnya yang cukup kuat mengarah langsung kepada kagami, Liyana bersama Tuan Alexi sendiri.


‘Teknik pedang Darah ke-4 : Heavy Judgement Cut End.!’ Liyana yang langsung menghancurkan serangan milik musuh di hadapannya sekaligus menembus pertahanan ketua Human-Wolf yang tangannya putus.


Lalu Tuan Alexi langsung menurunkan hujan tulang tajam dari atas langit yang sangat banyak mengarah langsung kepada musuhnya yaitu Ketua Human-Wolf.


Bam! Bam! Bam!


"Tidak mungkin selesai secepat ini bukan?” Liyana langsung mundur ke belakang berjaga-jaga serangan kejutan.


"Tidaklah dasar bodoh!, memangnya kau sudah bertarung berapa kali hingga lupa bagaimana cara bekerja Blood Stone” kagami sambil mengeluarkan satu senjatanya kembali yaitu senjata Lexalicus.


"Hehe jangan marah” Liyana yang langsung sedikit mencairkan suasana.


Secara tiba-tiba langsung ada serangan kejutan dalam debu yang menghalangi penglihatan sebuah sebuah serangan langsung yaitu cakar asli kepada Liyana.


"Akh ugh Enyahlah dari hadapanku!!”


Blood God Art : Heavenly Murderer’s Body.!!’ Liyana langsung mengubah rambutnya menjadi hitam sekaligus meningkatkan kekuatan tubuhnya sekaligus matanya mengeluarkan hawa haus darah cukup menakutkan.


‘Teknik Darah Kematian : Perfect Absolute Domain Eternity..!’ Liyana yang berhasil menyempurnakan teknik ciptaannya.


Liyana berhasil menebas hingga tubuh terputus namun dalam waktu singkat tubuhnya kembali meregenerasi kembali lalu Liyana langsung menjauh bergabung bersama Kagami dan Tuan Alexi.


"Liyana kau baik-baik saja?” Kagami langsung memegang tubuh Liyana agar tidak jatuh.


"Aku masih baik-baik saja dan jangan khawatirkan diriku” Liyana yang kembali menguatkan diri untuk berdiri.


"Kamu terlalu membebani tubuhmu sekarang istirahatlah dahulu dan akan aku bersama Tuan Alexi akan mengurusnya” Kagami yang langsung menyuruh Liyana istirahat memulihkan kondisi kembali.


"Tunggu Aku sangat tidak suka jika aku tidak berguna tapi bawalah senjataku mungkin akan membantu untukmu bertarung” Liyana langsung memberikan pinjam kepada Kagami sebuah pedang Bloody Sfraksor.


"Baiklah pinjamkan aku kekuatanmu Liyana” Kagami yang langsung mengambil pedang Bloody Sfraksor yang Liyana beri pinjam sambil menyimpan kembali senjata Lexalicus.


Pedang Bloody Sfraksor langsung mengeluarkan cahaya gelap yang membuat pedang Bloody Sfraksor berubah menjadi hitam bergabung sementara bersama Kagami karena Tuan pemilik pedang mengizinkannya.


"Apa yang terjadi!” Kagami yang cukup terkejut.


"Pergilah pedang Bloody Sfraksor akan membantumu manjadi kekuatanmu yang kamu butuhkan” Liyana yang langsung mencoba istirahat.


‘Half-Body God Killer..!’ Kagami yang langsung meningkatkan kemampuan fisik yang setara dengan dewa.


Kagami yang langsung melesat menyerang Ketua Human-Wolf bersama dengan Tuan Alexi.


"MANUSIA MATI KAU BAJING*N!!”


Ketua Human-Wolf langsung menyerang seseorang yang sangat kuat pertama kali yaitu Kagami secara langsung menahan kedua Cakarnya dengan menggunakan kedua pedangnya.


Ketua Human-Wolf yang langsung menyerang lagi tubuhnya tidak bisa bergerak seperti sesuatu menahannya yaitu pebuatan Bayangan Leviathan yang muncul di pundak kagami mengendalikan pikirannya.


‘Teknik pertama : Demonic Cruiser Sky Blades..!’


Duar! Blarr!


"GRROOAARRHH!!!” Sosok asli dari Energi kebencian yang bersembunyi dari dalam Blood Stone langsung menunjukan diri di hadapan Kagami, Elaina bersama Tuan Alexi yang lebih kuat dari pada sebelumnya.


"Masuklah sana!” Kagami langsung melemparkan Pedang Bloody Sfraksor ke dalam tubuh Monster besar di hadapannya.


Huft!


‘Hunting Ground Of Darkness : Transcendent..!’ Kagami yang langsung mencoba menarik Monster besar di hadapannya ke Domain miliknya.


JDuar! Duar! Bam!


Setelah 2 menit berlalu akhirnya monster di hadapan benar benar musnah oleh ledakan yang cukup besar atau hampir bisa menghancurkan wilayah sekitar.


Lalu sebuah bayangan tangan langsung memberikan kepada Kagami sebuah pedang Bloody Sfraksor bersama Blood Stone.


"Hah hah akhirnya berhasil juga” Kagami yang langsung terjatuh di atas salju.


"Kerja bagus Tuan Kagami” Tuan Alexi yang cukup senang dengan hasil akhir pertarungannya.


"Iya Terima kasih anda juga sangat bagus sebelumnya bertarung” Kagami sedikit mengagumi sikap Tuan Alexi.


"Sebaiknya sekarang saya akan membantu mendirikan tenda untuk kalian istirahat karena hanya saya saja sepertinya yang tidak terlalu kelelahan” Tuan Alexi dengan sungkan membantu mendirikan tenda untuk seseorang yang bersamanya.


Lalu Liyana yang memaksa berjalan mendekati kegami dengan kondisi yang sudah sedikit stabil dan saat sampai dekat Kagami Liyana tiba-tiba terjatuh menimpa Kagami di bawahnya.


Bruk!


"Akh Liyana kenapa menimpaku” Kagami yang langsung merasa kesakitan.


Kemudian Kagami langsung mencoba memaksa tangannya bergerak untuk melihat wajah Liyana yang tertutup rambut merahnya.


Ternyata saat melihat wajah Liyana yang tertutup rambut Liyana yang kelelahan hingga tertidur dengan terlihat sangat cantik di lihat dekat tertidur di badan kagami sendiri.


Setelah Tuan Alexi mencoba membantu dengan mendirikan sebuah tenda untuknya bersama Liyana dan milik tuan Alexi untuk beristirahat sejenak.


Setelah tenda selesai didirikan kagami langsung berterimakasih kepada Tuan Alexi lalu Kagami langsung menggendong Liyana ke dalam tenda dengan tidak lupa membawa pedang Guardians yang langsung di simpan sedangkan pedang Bloody Sfraksor bersama Blood Stone langsung di simpan di dalam tenda miliknya sambil di jaga oleh Leviathan.


Kagami yang tidur dengan nyaman seperti biasanya meskipun hanya satu orang di sebelahnya tidur tidak mau diam dan berbicara sesuatu sambil memegang erat tangannya Kagami seperti takut akan sesuatu namun setelah beberapa menit Liyana tidur dengan pulas entah apa Liyana mimpikan membuat kagami penasaran.


Tiba-tiba dari luar tenda ada sesuatu yang ingin masuk namun tenda sengaja oleh Kagami di tutup lalu Kagami mencoba bangun dan membuka penutup tenda.


Wuuu! Wwuu!


"Ternyata kamu kukira siapa yang tiba-tiba menerobos mencoba masuk tenda” Kagami sambil menutup kembali tenda untuk tidur lagi.


Wuu!


Kagami yang kembali tidur namun Rubah kecil yang langsung melompat ke badan Kagami dan langsung tidur membuat Kagami tidak bisa melakukan apapun hanya bisa langsung tidur saja.


Langit yang awalnya cerah berubah menjadi gelap karena sudah malam dengan udara dingin yang sangat terasa oleh kulit manusia sendiri namun di malam hari ini udaranya sudah stabil dan tidak terjadi badai salju seperti hari sebelumnya.


Malam hari yang terasa lama dan damai tanpa gangguan angin badai salju lagi lalu hari yang berganti menjadi pagi hari yang mulai terlihat matahari untuk pertama kalinya dengan salju di sekitar tenda berubah menjadi tanah dengan banyak sekali rumput hijau dimanapun.


Elaina yang baru saja tersadar dari pingsannya yang di sebabkan oleh Kagami dan sekarang Elaina berada di Domain atau tempat latihan Liyana.


Sedangkan Kagami bersama Liyana yang masih tidur karena kelelahan karena pertarungan sebelumnya yang cukup menguras tenaga.


Saat langit yang mulai menyinari seluruh tempat Kagami bersama Liyana terbangun secara bersamaan dan langsung merapikan pakaian yang berantakan.


"Selamat pagi Liyana” Kagami masih tiduran di dalam tenda.


"Aku sudah pulih sepenuhnya sedangkan dirimu bagaimana?, Bukannya kamu pingsan karena memaksakan menggunakan kemampuan yang terlalu membenani tubuhmu” Kagami yang masih menghawatirkan kondisi Liyana.


"Ah aku sekarang baik-baik saja kok lalu ini Blood Stone yang kemarin sudah kamu berhasil dapatkan?” Liyana yang tidak sengaja melihat ke kanan terdapat Blood Stone tergeletak lalu segera mengambilnya dengan cepat.


"Iya itu untukmu karena bayangan Leviathan menjaga Blood Stone semalaman untuk berjaga-jaga agar tidak di curi seseorang” Kagami langsung mencoba duduk sambil memindahkan Rubah kecil yang masih tidur.


"Terimakasih Leviathan sudah menjaga Blood Stone semalaman untukku dan juga untukmu Kagami karena sudah tidak melakukan hal mesum padaku saat tidur” Liyana langsung mencubit pipi Kagami sambil tersenyum.


"Hmph jangan samakan diriku dengan Pria lain meskipun diriku belum pernah mempunyai pacar sebelum aku mati namun aku masih bisa menahan nafsuku sendiri tau” Kagami langsung memberitahukan kepada Liyana.


"Iya aku juga sadar kok dan karena itu aku menyukai dirimu berbeda dengan seorang Pria yang aku kenal lalu apakah ayahmu akan menyukai hubungan kita sebenarnya kagami?” Liyana yang langsung menyentuh kedua pipi kagami dengan tangan Liyana.


"Entahlah semoga saja ayahku menyukai hubungan kita sebagai kekasihku dan ayahmh bisa memaafkan ayahku tentang masa lalunya” Kagami hanya bisa berharap berjalan baik.


"Kagami katakan padaku sebenarnya bagaimana caramu bisa mendapatkan informasi yang tidak kamu ketahui tentang masalah disini?!” Liyana langsung mencubit pipi Kagami untuk mengintimidasinya.


"Sakit akan aku katakan” Kagami yang tangannya langsung bergerak mencoba melepaskan tangan Liyana dari pipinya.


"Iya akan katakanlah” Liyana yang masih merasa curiga kemampuan Kagami sambil Liyana melepaskan tangannya dari pipi Kagami.


"Sejak aku membangkitkan Leviathan menjadi bayanganku sebenarnya Leviathan sama seperti Agares yang bisa bicara dan mempunyai kemampuan Mind dalam kendali penuh yang selalu membantuku saat mencari informasi” Kagami yang langsung memberitahukan kepada Liyana yang ada di hadapannya.


"Lalu apa lagi sepertinya masih ada yang kamu sembunyikan Kagami?” Liyana langsung mengambil pedang Bloody Sfraksor.


"Sebenarnya aku sengaja menyembunyikan ini darimu karena aku tidak tau kamu akan mendengarkannya atau tidak, yaitu tentang kakekmu yang masih hidup karena aku melihat di ingatan Leviathan ada seseorang yang menyelamatkannya hingga membuat Leviathan takut atas kehadirannya” Kagami langsung memberitahukan kepada Liyana tentang informasi yang di ketahuinya.


"Syukurlah pasti orangtuaku senang jika mengetahui tentang ini terima kasih Kagami” Liyana yang langsung memeluk Kagami dengan perasaan senang.


"Iya aku juga ikut senang jika informasi ini membuatmu senang dan merasa lebih baik namun keberadaan kakekmu belum di ketahui bahkan di lihat dalam ingatan Leviathan pun tidak terlihat kembali” kagami langsung mendorong Liyana untuk berhenti memeluknya.


"Tidak apa-apa lalu kenapa kamu mencoba melepaskan diri dari pelukanku biasanya tidak akan menolak?” Liyana langsung mendekati wajah Kagami dengan sedikit menggodanya.


"Itu hanya sepertinya aku merasa ada yang kamu lupakan Liyana?” Kagami yang langsung sedikit menjauh karena seperti ada yang janggal.


"Eh yang aku lupakan apa ya?, Tunggu coba aku ingat dahulu”


"Ahh Elaina sudah sadar sekarang ada di dalam Domain tempat Latihanku” Liyana yang baru teringat sekaligus merasakan keberadaan Elaina yang sudah tersadar.


Dengan cepat Liyana langsung mengeluarkan Elaina dari dari Domain tempat latihan Pribadinya.


"Akhirnya aku keluar juga dan kenapa tiba-tiba aku ada di dalam tempat latihanmu Liyana?” Elaina langsung melihat ada Kagami bersama Liyana di dalam tenda di tambah dirinya sendiri.


"Itu kamu terluka saat bertarung jadi aku sengaja memasukkanmu ke tempat latihan pribadiku dan tadi kamu tidak dengar apapun kan?” Liyana yang langsung bertanya dengan wajah malu.


"Em tidak ada tuh dan jika benar begitu makasih sudah menyembuhkan lukaku Liyana” Elaina langsung mencoba membuka penutup tenda Liyana.


"I-iya ti-tidak usah di pikirkan” Liyana dengan gugup.


"Wuah dimana ini kenapa banyak sekali rumput hijau di mana-mana dan ada beberapa burung beterbangan sangat indah” Elaina langsung berjalan keluar tenda.


"Memangnya apa yang sedang kamu lihat Elai--”


"Ini sejak kapan berubah dalam semalam lalu apakah kamu mengetahui sesuatu kagami?” Liyana yang langsung mengecek keluar tenda lalu kembali masuk untuk bertanya kepada Kagami mungkin mengetahui sesuatu.


"Iya aku tau udara dingin disini sudah berakhir sebenarnya disini selalu terjadi badai salju di sebabkan oleh Induk Rubah ini yang mencoba naik tingkat untuk menjadi kuat dengan mengubah cuaca disini menjadi bersalju dan saat Blood Stone sudah keduanya ada di tanganmu Liyana kota ini akan kembali semula” Kagami langsung mengikuti berjalan keluar tenda sambil membawa Rubah kecil yang masih tidur lalu menyimpannya di pundaknya.


"Jadi ini bukanlah mimpi sejak kecil sangat ingin melihat pemandangan seperti ini tapi hanyalah mimpi sekarang menjadi kenyataan” Elaina cukup bahagia bisa melihat pemandangan yang sangat suka di impikannya menjadi kenyataan.


Wuu!


Rubah kecil yang baru saja bangun dari tidurnya dan saat melihat banyak kupu-kupu berterbangan dengan banyak warna langsung mencoba mengejarnya.


"Haha dasar baru pertama kali melihat pemandangan ini sekarang langsung kabur bermain menangkap kupu-kupu” Liyana yang hanya tertawa melihat tingkah Rubah kecil yang bersama Kagami.


"Biarkan saja untuk menikmati pemandangan ini sebentar saja” Kagami langsung merangkul Liyana.


"Lepaskan tanganmu dan lihat bukankah itu Tuan Alexi cobalah sapa sana” Liyana yang langsung mencoba melepaskan tangan Kagami yang merangkulnya lalu mendorong pergi ke tempat Tuan Alexi yang sedang memperhatikan bunga yang baru saja tumbuh.


"Iya iya aku akan pergi” Kagami langsung berjalan mendekati Tuan Alexi.


Saat berjalan mendekati Tuan Alexi yang sepertinya sedang merasa dirinya bermimpi bisa melihat pemandangan yabg sangat indah untuk beberapa tahun lamanya.


"Tuan Alexi apa aku mengganggumu?” Kagami langsung menepuk pundak Tuan Alexi.


"Ah maaf saya melamun dan tidak terlalu mengganggu hanya saja saya melihat semua ini terasa mimpi setelah 11 tahun berlalu selalu di landa badai salju” Tuan Alexi sambil memperhatikan beberapa bunga beterbangan.


"Sepertinya sudah sangat lama pasti mengatasi masalah selama 11 tahun di landa badai salju bukan?” Kagami sambil memandangi langit.


"Ya begitulah jika bukan karena anda masalah ini tidak akan berakhir hingga sekarang dan saya berterima kasih kepada anda lalu akan segera memberikan balasan sebagaimana perjanjianku sebelumnya” Tuan Alexi langsung memperhatikan kepada Kagami sosok anak yang sangat mengerti situasi masalah yang sedang melandanya.


"Terkadang hidup adalah hal yang paling sulit apa lagi bangsawan sebagai anak yang harus siap menggantikan posisi ayahnya sebagai raja namun sebelum itu jika seseorang ingin mengerti bagaimana hidup harus bisa merasakan kesulitan dalam hidup yang sebenarnya kejam di mana semua orang tidak mudah untuk di percaya karena bisa saja menusuk dari belakang seperti teman lamaku” Kagami yang berharap bisa hidup lebih lama sambil menikmati kehidupan keduanya.


"Memangnya siapa teman anda yang berusaha membunuh anda? Lalu apa alasannya membenci anda?” Tuan Alexi penasaran tentang cerita petualangan Kagami.


"Ya sebenarnya dia dulu temanku yang sangat baik dan jauh lebih tampan dariku sehingga mempunyai banyak teman sehingga melupakan masalah kehidupannya sendiri namun saat diriku mencoba membantunya dia menolak dan mengusirku karena temanku tau bahwa tau diriku mempunyai kehidupan yang lebih baik darinya sehingga mencoba ingin merusak merusak kehidupanku untuk agar bisa merasakan juga hidup yang sulit dan mencoba tidak mencoba merendahkannya”


"Padahal diriku tidak pernah mencoba merendahkannya karena aku hanya mencoba membantu atau mungkin dia iri karena aku selalu mendapat suatu penghargaan lalu sebaliknya dia selalu terkena masalah hingga di tertawakan oleh orang lain hingga suatu hari temanku mencoba membunuhku tapi akhirnya aku yang lepas kendali hingga membunuhnya lalu di situ kehidupanku mulai hancur”


"Lalu muncul Liyana memberikan kehidupan yang lebih menyenangkan dan membawaku keluar dari kegelapan sendiri hingga membuatku melupakan masa lalu buruk itu” Kagami yang merasa menyesal sudah mempercayai seseorang sebagai temannya.


"Saat saya mendengar badanku merasa bergetar ketakutan tapi sebenarnya itu bukanlah salah anda seharusnya anda lebih pintar memilih teman dan maafkan saya sudah membuat anda mengingat kembali masa lalu anda yang buruk” Tuan Alexi sambil mengusap punggung Kagami untuk memberikan semangat.


"Iya aku tau dan terimakasih sudah ingin mendengarkan ceritaku Tuan Alexi” Kagami yang kembali ada sedikit semangat menjadi lebih kuat.


"Tidak masalah dan panggil saja Alexi karena saya merasa melihat anda seperti seseorang yang umurnya sama denganku haha” Tuan Alexi yang langsung tertawa pelan di sisi Kagami.


"Huh terserah saja” Kagami yang langsung melihat ke atas langit kembali.


"Dalam setiap perkataan anda ada sesuatu yang saya mengerti yang anda sebutkan sebagai prestasi itu maksud anda adalah sesuatu masalah yang bisa di selesaikan dengan mudah oleh seseorang benar bukan?” Tuan Alexi yang hanya sekedar ingin memastikan saja.


"Hm benar sekali dan aku sebenarnya tidak pintar mengatasi masalah lalu aku sendiri tidak mengerti kenapa seseorang bisa iri kepada seseorang sepertiku haha” Kagami yang tertawa kecil.


"Memang benar anda tidak punya bakat dalam mengatasi masalah namun menurutku anda mempunyai banyak Potensi untuk bisa mengerti mengatasi masalah dengan dengan lebih pintar dariku sekaligus sangat pantas untuk menjadi pengganti raja selanjutnya di ibukota Azteria” Tuan Alexi yang langsung memuji Kagami.


"Aku masih belum pandai apapun jadi pujian itu belum pantas untukku” Kagami yang memang belum bisa melakukan tentang mengatur kehidupan rakyatnya sekaligus kehidupan sendiri.


"Yasudah tapi menurutku pujian itu pantas untukmu lalu apakah hari ini mau saya antar kembali ke rumah anda?” Tuan Alexi yang menghibur Kagami.


"Boleh saja jika kontribusi kembalian atas bantuanku sudah di bayar” Kagami yang tiba-tiba mengingatkan tentang uang perjanjiannya.


"Haha iya saya tau jadi tidak perlu di ingatkan kembali pasti akan saya bayar” Tuan Alexi yang melihat Kagami benar-benar ingin membantu masalah ayahnya sendiri bukan menginginkan uang untuk berfoya-foya.


Setelah selesai mengobrol sebentar setelah itu langsung membereskan 2 tenda lalu pergi kembali menuju kota Gradeuz yang jaraknya yang lumayan jauh.


"Bagaimana keadaanmu Elaina sekarang?” Kagami yang langsung bertanya kepada Elaina.


"Tentu saja baik-baik saja dan maaf sebelumnya aku membuat khawatir sebelumnya” Elaina yang baru mengingat kembali kejadian sebelumnya yang membuat khawatir padanya.


"Tidak perlu khawatir karena sekarang kamu sudah mengetahui kemampuan terakhirmu jadi mulai sekarang berlatihlah sendiri” Liyana langsung menepuk pundak Elaina.


Wuu! Wu!


Mereka langsung berjalan kembali menuju kota Gradeuz sambil mengobrol satu sama lain tentang pengalaman barunya.