
Kagami yang langsung mencoba mencari keberadaan suara yang terus bergema dari langit yang membuat kagami penasaran lalu Kagami langsung mencoba kemampuan sebelumnya yaitu ‘Eyes Of Fire : Invisibility Vision’ yang bisa melihat semuanya dengan tembus pandang.
"Hei tua bangka keluarlah jika tidak akan aku buat hangus anakmu atau cucukmu aku tidak peduli mau dia penerus karena dia telah mengganggu wilayahku” Kagami langsung menyalakan di satu jarinya sebuah api gelap.
"Hohoho cobalah jika kau melakukannya lihat apa yang akan menimpa masalah lebih besar kepadamu nak” Suara yang kembali bergema.
"Dasar tua bangka masih saja menggertak tidak ada gunanya untukku jadi ini pilihanmu ok!” Kagami langsung melemparkan sebuah api hitam ke arah mayat Jenderal Cazim.
Wissh! Blarr!
Tidak membutuhkan waktu lama mayat tersebut yang terbakar api hitam langsung seketika hangus hingga menyulut amarah Seseorang yang sangat kuat masih bersembunyi.
"DASAR BOCAH BRENGS*K TIDAK TAU DIRI!!” Sebuah Pria tua yang muncul dari balik gunung memperlihatkan wajahnya.
"Ohh keluar juga ya pak tua bangka!” Kagami langsung bersiap lagi.
"BOCAH NYAWA HARUS DI BAYAR NYAWA JADI COBALAH BERTAHAN HIDUP DARI SETIAP SERANGANKU INI !!” Pak tua tersebut langsung mengeluarkan sebuah tongkat dari tangannya.
"Tch selanjutnya adalah nyawamu yang harus aku ambil” Kagami yang langsung menarik nafas dalam-dalam kemudian membuang nafas panjang.
Mata Kagami langsung berubah menjadi hitam dengan pupil mata merah yang sudah siap bertarung dengan musuh di hadapannya dengan kemampuan yang belum di ketahui.
*****
Disisi lain dengan semua pasukan musuh yang masih tersisa sekitar 7.000 pasukan yang masih banyak Liyana bersama Elaina.
‘Blood Control Techniques: Killer Nets..!’ Liyana yang datang langsung memunculkan sebuah benang darah yang langsung mengikat beberapa pasukan hingga membunuh dengan anggota badan terpisah.
‘Roots Of The Vine..!’ Elaina juga mulai memunculkan akar dari bawah tanah lalu mengikat hampir 20 prajurit lalu muncul duri dan akhirnya mati terbunuh.
"Ah nona Liyana” Igris yang senang melihat Liyana kembali.
Wuu!
Rubah kecil yang langsung melihat Liyana berlari mendekati Liyana sambil memanggilnya agar Liyana melihatnya.
"Foxyel kenapa tidak bersama Kagami?” Liyana langsung mendarat ke daratan tanah luas.
Wuu!
Rubah kecil yang langsung mengangkat salah satu kakinya ke arah barat lalu Liyana langsung mengambil Rubah kecil dan membiarkannya berdiri di atas pundaknya.
"Kalau begitu selesaikan semua kekacauan ini dahulu karena Kagami sedang menikmati pertarungannya saat ini” Liyana yang langsung ingin menyelesaikan masalah kali ini.
"Baik aku mengerti” Igris langsung pergi melanjutkannya pertarungan kali ini.
‘Demon Blood Art : Thunderstorm Arrows.!!’ Langit yang kembali berhembus angin kencang sambil menciptakan ratusan anak panah yang sudah siap menghujani daratan.
Bam! Bam!
Seketika semua pasukan Kagami langsung terlindungi oleh sebuah Barier kegelapan yang langsung melindungi semuanya untuk beberapa menit berlalu dari serangan Terbaik Igris.
"Huu aku akan membantu deh” Elaina dengan merasa malas.
‘Blood God’s Art : Heavenly Murderer’s Body - First level..!’ Rambut Liyana langsung seketika berubah menjadi hitam dengan mata sekaligus aura membunuh keluar dari dalam tubuhnya dengan begitu kuat.
Liyana langsung melesat dengan kecepatan yang juga meningkatkan pesat sambil menggunakan pedang Bloody Sfraksor Liyana yang sudah di rubah menjadi lebih ringan, tipis dan tajam.
"Kalau begini aku juga tidak akan kalah lagi” Elaina langsung langsung menyerang dari jarak jauh untuk mengurangi musuh di hadapannya dahulu.
Disisi lain kedua orang yang memperhatikan Perang tersebut benar-benar hasil yang tidak masuk akal kalah jumlah namun beberapa kekuatan yang sangatlah kuat hingga Zhiyu tidak bisa berkata apapun.
"Ini tidak mungkin apa lagi kemampuan bertarung gadis yang sebelumnya berambut merah mempunyai kekuatan cukup menakutkan melebihi Kakeknya sendiri” Zhiyu yang merasa tidak percaya sama sekali dengan kemampuan milik Liyana yang tunjukan sekarang.
"Gadis tersebut tidak ada bedanya dengan putramu sendiri lihatlah arah Barat sana anakmu baru saja bertarung lagi oleh seorang yang terkenal” Tuan Alexi langsung menunjuk ke arah barat tabrakan kedua energi kegelapan dengan aura membunuh beracun.
"Itu adalah Lauzika Gilbert sang ahli Racun kita harus membantu putraku!” Zhiyu yang benar-benar tidak percaya putranya akan melawan musuh yang sangat terkenal kejam.
"Tidak perlu perhatikan baik-baik apa putramu takut melawannya?” Tuan Alexi yang masih percaya banyak kemampuan yang masih di sembunyikan oleh Kagami.
"Ehh ini aura perasaan yang sangat tenang tapi kenapa dia sangat tenang?” Zhiyu yang benar-benar tidak mengerti.
"Lihat lalu perhatikan saja dahulu jika ada yang salah baru kita akan membantu dan tujuan kita kesini untuk melihat masalah ini berhasil di tangani atau tidak?” Tuan Alexi langsung menepuk pundak Zhiyu.
"Haah yasudah maafkan diriku melupakan tujuan awal kita karena diriku terlalu khawatir kalah untuk perang kali ini” Zhiyu sambil mengeluh.
"Hahaha mari perhatikan saja dahulu” Tuan Alexi yang sedang percaya pada kemampuan Kagami bersama yang lainnya.
Liyana yang melesat begitu cepat menebas setiap musuh mengikuti naluri bertarung untuk membedakan mana musuh dan teman sendiri.
Liyana langsung melemparkan beberapa api darah ke setiap nalurinya memberikan arahan kepada Liyana sambil memanfaatkan kecepatan bergeraknya sekarang untuk menghabisi semua musuh yang jumlahnya masih sangat banyak.
‘Teknik Kematian : Absolute Domain Eternity.!!’ Liyana langsung menebas tanpa ragu sedikitpun hingga musuh di hadapannya mati terbelah menjadi beberapa bagian.
Pasukan musuh mulai berkurang cukup drastis yang awalnya tersisa 7.000 pasukan sekarang sudah tersisa sekitar 4.000 pasukan yang tersisa karena sudah kalah oleh beberapa orang yang mempunyai kekuatan besar atau hampir setara seorang komandan atau Jenderal.
Duaarr! Blam!
Suara pertarungan yang sangatlah berbahaya di mana Kagami melawan seorang ahli ledakan Racun yang sangat di takuti oleh semua pemimpin kota karena kemampuan manipulasi racun yang sangat mematikan hingga Liyana pun merasa Sedikit Khawatir kepada keadaan Kagami.
Kagami yang sedang bertarung sambil membawa menjauh karena kemampuannya yang baru di ketahui baru tau di berikan informasi oleh bayangan Leviathan yang langsung muncul kembali di pundak Kagami.
"Hei bocah tidak ada gunanya terus melarikan diri dari kematianmu sendiri haha” Gilbert yang terus mengejar Kagami.
"Sudah cukup untuk menjauh jadi sekarang waktunya aku mencabut nyawamu!!” Kagami yang berhenti terbang lalu mendarat yang di bawahnya hanyalah sebuah Laut.
"Jadi sekarang sudah menyerah?!” Gilbert yang melihat Kagami sudah berhenti berlari.
‘Half-Body Killer : Death Sentence..!!’
Kagami yang memaksa menggunakan tingkatan kemampuan yang masih belum sepenuhnya sempurna.
"Berisik!!” Kagami dengan aura hukuman Kematian yang meluap-luap keluar dari tubuhnya.
‘Hand Of Poison.!’ Gilbert yang bertujuan untuk menangkap Kagami dengan kemampuan manipulasi racunnya.
‘Teknik terlarang ke-5: Heavenly Perfected Judgement Cut End..!!’ Kagami yang langsung menyerang karena ingin mengakhiri cepat semua masalah ini sekaligus menghancurkan serangan yang baru di keluarkan oleh Gilbert.
Duaarrr!
"Hmp bocah kau pantas menjadi lawanku tapi sangat di sayangkan orang sepertimu bertindak ceroboh karena sudah menyinggungku” Gilbert yang terdiam melihat serangan pertamanya di hancurkan dengan mudah.
"Karena itu kau tidak akan aku biarkan hidup karena mempunyai niat busuk untuk merebut sekaligus menghancurkan ibukota Azteria milik ayahku!” Kagami juga kembali menjawabnya.
"Pantas saja kemampuanmu mirip seperti ayahmu yang sama-sama bren---”
Seketika tubuh Gilbert yang tidak bisa di gerakkan oleh sebuah tatapan yang cukup membuatnya terdiam sementara waktu.
"AARRGGHH!!” Gilbert yang langsung mencoba bergerak untuk melawan dengan menggerakkan tubuhnya.
‘Poison Eksplosion : Transcendence..!’ Gilbert langsung meledakkan diri hingga mengeluarkan sekumpulan asap racun hitam di sekelilingnya.
[‘Lightning Step + Divine Punch Flare Eksplosion’]
Kagami langsung melesat ke arah sekumpulan asap beracun sambil mendaratkan pukulannya yang sudah di selimuti 2 energi api hitam dengan petir hitam.
JDUAARR! BAM!
Gilbert yang tidak menyangka seorang bocah berani menembus sekumpulan asap beracun dengan kondisi tubuh Gilbert yang tidak bisa bergerak membuat dirinya terlempar kembali ke arah Pasukan Jenderal Cazim yang sudah mati mayatnya menjadi abu oleh Kagami.
Gilbert yang terlempar hingga daratan mengalami retakan tanah dan berakhir menabrak gunung di sebelah selatan melewati semua pasukan yang sedang berperang.
"Uhuk uhuk sial!” Gilbert yang sudah terluka cukup fatal dengan batuk darah segar keluar dari mulutnya sendiri.
Krak! Blam!
"Kau yang memaksaku seperti ini jadi rasakan ini untuk mengakhiri pertarungan ini!!” Gilbert yang mulai berdiri kembali.
"Ya aku juga sudah lelah mengurus orang tua bau tanah sepertimu jadi temui ajalmu!!” Kagami langsung mengumpulkan energi kegelapan hingga langit berubah menjadi gelap.
‘POISON CREATION : THOUSAND METEOR SHOWER..!!’
‘TEKNIK GERBANG KEMATIAN : DEATHLY SWORD OF CRIMSON SPIRITS..!!’
"HAA..!!”
Kedua serangan tersebut saling bertabrakan hingga sekeliling mengalami ledakan-ledakan di karenakan tabrakan 2 energi yang sangat besar menghasilkan ledakan setiap sisi sekelilingnya.
KRAK! BAM! JDUAARR!
Semua pasukan yang sedang berperang satu sama lain saat melihat kedua kekuatan saling bertabrakan membuat mereka terdiam untuk melihat siapa yang akan menang dan akhirnya serangan milik Gilbert hancur oleh serangan dari tebasan pedang Kagami yang hingga menghancurkan gunung di arah selatan hancur.
Lalu Kagami langsung kembali ke tempat semua Pasukannya berada bersama seluruh teman-temannya yang sudah menang berkat Kagami.
"Kagami syukurlah kamu baik-baik saja” Liyana yang melihat Kagami langsung berlari mendekati Kagami lalu memeluknya erat.
"Ya aku baik-baik saja meskipun hanya sedikit lelah” Kagami dengan senang melihat Liyana baik-baik saja.
"Aku kira akan kehilanganmu saat melihat tabrakan dua energi besar menyebalkan!” Liyana langsung memukul tubuh Kagami.
"Dasar selalu saja seperti ini wajah cantikmu itu terhapus oleh air matamu nanti” Kagami sambil menghapus air mata Liyana.
"Em maaf selama ini aku membohongimu Kagami tentang aku sejak dulu memanfaafkanmu” Liyana yang langsung berkata jujur.
"Ah tentang itu tidak perlu di pikirkan aku tidak keberatan tapi sebelum itu keluarlah!” Kagami langsung melemparkan pedang Guardians ke atas langit.
"Apa masih ada musuh?” Liyana yang benar-benar tidak menyadarinya.
"Haha ternyata ketahuan lagi maaf” Tuan Alexi bersama Zhiyu Langsung menunjukkan diri.
"Ehh pakai baju dahulu” Liyana yang langsung mendorong Kagami.
"Ya ya aku tau” Kagami langsung mengeluarkan sebuah baju dari cincin penyimpanannya.
Pedang Guardians langsung terbang kembali lalu masuk ke dalam sarung pedang lalu setelah selesai memakai baju yang berbeda bersamaan dengan Zhiyu atau ayahnya langsung berjalan mendekatinya Kagami bersama Liyana.
"Terimakasih atas bantuan dirimu kali ini dan saya tidak tau harus berkata apa tentang tentang hubungan kalian berdua” Zhiyu yang langsung menepuk pundak Putranya.
"Itu ceritanya panjang jika mau mendengarkan nanti aku akan ceritakan” Kagami yang langsung memberitahukan kepada ayahnya.
"Tunggu jangan katakan yang tidak-tidak awas saja jika mengatakannya kamu akan tau nanti yang¹ terjadi padamu” Liyana yang langsung menahan Kagami pergi sambil wajahnya sedikit merah yang belarti malu.
"Ok tidak akan” Kagami langsung berjalan pergi.
Liyana yang kesal melihat respon Kagami yang tidak melihatnya sama sekali Liyana langsung mengepalkan tangannya karena kesal lalu langsung menyerang Kagami dari belakang untuk mendaratkan pukulannya pada wajah Kagami.
"Lumayan tapi masih mudah di ketahui dari niatmu sendiri Liyana” Kagami yang berhasil menangkap tangan Liyana.
"Tch Menyebalkan! selalu saja kamu bisa mengetahuinya!” Liyana dengan kesal.
"Mudah saja karena aku lebih peka terhadap lingkungan sekitarku jadi aku mudah mengetahuinya” Kagami yang langsung melepaskan tangan Liyana.
"Hmph pergilah!” Liyana langsung mendorong Kagami agar cepat pergi.
Wuu! Wuu!
Rubah kecil yang berada di pundak Liyana langsung berpindah saat melihat tangan Liyana mendorong Kagami pergi.
"Aku sangat ingin mandi air hangat sepertinya menyegarkan setelah perang begini iya tidak Liyana?” Elaina langsung berjalan mendekati Liyana yang sedang melihat semua mayat sekitarnya sekaligus tanah yang hancur oleh pertarungan 2 orang.
"Hm ya sepertinya” Liyana sambil menyimpan pedangnya kembali.
"Sebagai tanda terimakasih dari saya bagaimana jika saya tawarkan untuk mandi hangat di tempatku biasa jika kalian mau?” Zhiyu yang kembali mendekati Liyana bersama Elaina.
"Eh bolehkah tapi nanti merepotkan anda” Elaina langsung berbicara kembali.
"Tidak apa karena kalian juga sudah membantu menyelesaikan masalah saya juga jadi tidak ada salahnya menawarkan kepada kalian” Zhiyu yang mencoba berbaik hati.
"Boleh saja tapi aku ingin mengurus masalah ini dahulu” Liyana langsung berjalan mendekati semua mayat pasukan musuh.
‘Blood Control : Blood Gathering!’ Liyana langsung menarik keluar semua darah yang ada di sekitarnya sekaligus yang berada di mayat.
Wossh!
"Control yang benar jangan sampai darah makhluk hidup terserap juga” Kagami yang menyadarinya juga Liyana langsung melakukan mengumpulkan semua darah dalam jumlah banyak.
"Ck aku tau!” Liyana yang mulai kembali fokus.
"Menakjubkan Liyana bisa melakukan hal ini” Elaina yang tidak menyangkanya.
"Diamlah dahulu karena Liyana sedang fokus jadi pikirannya kapan saja terganggu” Kagami yang langsung memberitahukan kepada Elaina.
"Eh maaf kenapa kamu masih disini?” Elaina langsung bertanya tentang Kagami yang berada di sebelahnya tadi ingin pergi.
"Ya itu tempat luas seperti ini seharusnya di rapihkan agar tidak ada monster yang tertarik datang kesini karena mencium bau darah jadi aku masih disini karena setelah aku harus mengurus semua mayat tersebut” Kagami dengan wajah malas menjelaskannya lagi.
"Caranya?” Elaina yang benar-benar tidak mengetahui hal tersebut.
"Lihat saja nanti kamu akan mengerti” Kagami yang malas menjelaskannya.
Setelah semua pasukan musuh yang tersisa sudah di bawa menuju kerajaan Azteria untuk menerima hukuman sekaligus interogasi untuk informasi yang kenapa menyerang ibukota Azteria.
Swossh!
Liyana yang baru saja menyerap semua darah untuk menghilangkan bau darah dari para binatang sekaligus monster dan rambut Liyana yang mulai kembali menjadi merah gelap.
"Sekarang urusanmu Kagami karena urusanku sudah selesai” Liyana langsung berjalan pergi.
"Serahkan padaku” Kagami yang langsung mengeluarkan di tangannya sebuah bunga teratai api hitam.
Lalu saat Kagami ingin membakar semua mayat pasukan musuh yang sudah mati seketika ada sebuah pantulan cahaya dari sebuah armor yang berharga atau sulit di dapatkan.
"Ehh ini armor sekaligus senjata yang di buat dari material Orichalcum dengan Obsidian ini tidak bisa di sia sia kan kalau begitu keluarlah semuanya bantu diriku mengumpulkannya” Kagami langsung mengeluarkan begitu banyak para Orcs.
"Ini memang benar material berharga yang sangat sulit di temukan yaitu Orichalcum dengan Obsidian apa anda pernah menggunakan senjata terbuat dari kedua material ini hingga anda mengenalnya?” Tuan Alexi langsung bertanya kepada Kagami sambil memeriksa ke asliannya.
"Hm kalau tidak salah ingat saat aku umur 12 tahun hampir menginjak umur 13 aku pernah berlatih bersama mikhaile dan mikhaile memberikan pinjam kepadaku setelah itu aku memberikannya lagi lalu untuk pedang yang terbuat dari material Obsidian aku pernah membelinya dengan harga cukup mahal hingga sekarang masih ada tapi ada retakan di bagian tengah pedang masih aku simpan hingga saat ini” Kagami yang langsung memberitahukan kepada Tuan Alexi.
"Boleh saya lihat pedang yang terbuat dari Material Obsidian milik anda?” Tuan Alexi yang langsung ingin melihatnya langsung.
"Em tunggu aku coba lihat dahulu” Kagami langsung mencari pedang miliknya di dalam cincin penyimpanan miliknya.
Tidak lama mencari pedang tersebut masih utuh belum patah meskipun retakannya sedikit lebih membesar sudah bersiap ingin patah kemudian Kagami langsung memberikan pedang tersebut kepada Tuan Alexi.
"Hm ini benar seperti anda katakan menggunakan energi terlalu banyak bisa memberatkan kepada senjata anda dan retakan ini karena selalu menggunakan pedang dengan memberikan energi cukup besar jadi ini tidak akan tahan lama bisa saja sewaktu-waktu patah” Tuan Alexi langsung menjelaskan kepada Kagami.
"Ya aku tau” Kagami yang sudah mengetahui karena sejak lama sudah mengerti untuk tidak memaksa pedang menerima energi cukup besar.
Lalu beberapa Orcs langsung membawa beberapa mayat lalu menumpuknya di hadapan Kagami sedangkan Kagami yang baru melihatnya saja sudah marah bersamaan dari itu Igris sedang berjalan mendekati Kagami untuk memberikan senjata peminjamannya.
"Kalian!!, Harusnya ambil saja armor sekaligus senjatanya saja jangan dengan mayatnya bodoh!!” Kagami yang langsung memarahi semua bayangan yang bertindak bodoh.
Gwaa!
Semua Orcs yang takut langsung bekerja dengan benar lalu berkumpul mengelilingi semua mayat yang sudah di kumpulkan dengan murung karena di marahi tuannya sendiri.
"Em guru ini terimakasih atas senjata yang sudah di pinjamkan padaku dan aku tidak bisa mengubah kembali bentuk senjata anda tapi bisakah buatkan aku senjata bentuknya seperti ini?” Igris langsung memberikan senjata Lexalicus dalam bentuk Twins Scythe.
"Mudah saja mengubahnya apa bentuk senjata seperti ini cocok denganmu?” Kagami yang belum pernah melihat Igris sebelumnya melihat menggunakan pedang namun tidak cocok dan belum menemukan senjata yang cocok untuknya.
"Iya guru apa mau aku perlihatkan agar percaya senjata seperti ini cocok denganku?” Igris yang langsung bertanya sambil memegang senjata Lexalicus.
"Serang diriku dengan serangan terbaikmu Igris!” Kagami juga ingin melihat kemampuannya.
"Hm baiklah guru” Igris yang langsung bersiap menggunakan senjatanya lagi.
"Hei!, Kondisimu baru saja bert--”
"Sudah biarkan saja lagi pula ini akan berakhir cepat” Tuan Alexi langsung menghentikan Liyana saat mendekati Kagami.
Igris yang langsung melesat dengan cepat seperti angin dalam pergerakannya Lalu Kagami langsung menarik keluar pedang Guardians untuk menahan setiap serangan dari senjata Lexalicus bentuk yang tidak pernah di pikirkan.
‘Teknik terlarang ke-5: Perfect Judgement Cut End!’ Igris yang langsung menyerang dengan dua bilah sabit kembar di tangannya dengan ada rantai yang mudah melakukan kombinasi serangannya.
‘Teknik Pengendalian Pedang Guardians : God Guardians..!’ Kagami yang langsung menancapkan pedang Guardians ke tanah hingga muncul sebuah penghalang sebuah bayangan besar.
Duar! Trang! Blam!
Senjata Lexalicus yang langsung terpental ke belakang tidak cukup jauh bersama dengan Igris yang langsung terjatuh ke belakang.
"Akh aku kalah lagi guru” Igris yang langsung terduduk diam di atas tanah.
"Hm tidak apa tapi serangan sebelumnya hampir membuat luka di tubuhku kalau begitu akan aku buatkan senjata yang sama persis” Kagami langsung mencabut kembali pedang di tanahnya dan memasukkan ke dalam sarung pedang lagi lalu bayangan tersebut mulai menghilang.
"Terimakasih guru” Igris yang langsung berdiri kembali.
Gwaa! Gwaa!
"Hmp kerja bagus sekarang kembalilah” Kagami yang langsung mendekati semua armor sekaligus senjata yang sudah di yang sudah di pisahkan dari mayat dan di kumpulkan di satu tempat.
kemudian setelah semua kekacauan perang tersebut yang telah selesai meskipun masih ada masalah yang akan menunggu selanjutnya.