
Lalu Kagami bersama yang lainnya pergi menuju bagian lain dalam istana pembuatan pandai besi yang salah satu orang pandai besi tersebut orang yang suka bermain hingga bermainnya dulu dan mengajarkan tentang pembuatan senjata itu sendiri.
"Eh tempat ini rasanya gak asing untukku?” Liyana yang merasa pernah datang ke tempat yang baru di kunjungi lagi oleh Kagami.
"Kamu pernah kesini Liyana?” Kagami dengan penasaran.
"Entahlah rasanya samar-samar kenal tapi lupakan saja aku sama sekali tidak bisa mengingatnya kembali” Liyana sambil memukul kepalanya pelan sambil tersenyum.
"Yasudah jangan paksakan nanti juga ingat” Kagami juga ingin lebih jauh mengenal Liyana.
"Hehe oke” Liyana yang senang Kagami mengerti dirinya.
Setelah sampai disana terdapat 4 orang pandai besi dalam satu tempat yang dulu Kagami sering datangi hingga sekarang mereka masih melakukan pekerjaan yang sama sampai sekarang.
Klang! Klang!
Suara penempaan besi dan pembentukannya sangat berisik dalam ruangan tersebut lalu mereka bertiga langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Sepertinya kalian sangat sibuk ya?” Kagami bicara dengan santai.
"Sia---, Tuan muda ada perlu apa sampai datang kesini?” Rudis yang langsung bertanya kepada Kagami sambil menundukkan wajahnya.
"Hanya ingin memastikan kondisi kalian berempat saja” Kagami langsung bicara kepada Rudis, Robert, Pattin dan Dorfi yang sedang bekerja.
"Tuan muda pertumbuhan anda sangat cepat dan sangat mirip dengan ayahmu sekali” Pattin yang langsung memuji Kagami.
"Anda saja terlalu sibuk dan fokus jadi tidak tau perkembangan diriku” Kagami yang tertawa sambil menepuk pundak Pattin.
"Hm.. hm.. mi..rip” Dorfi yang lahir dengan sulit bicara hanya bisa memberikan pujian berupa salam dan senyum.
"Ahaha” Kagami hanya bisa tertawa dengan canggung.
"Eh anda bukankah pak Robert ternyata anda bekerja disini?” Liyana dengan terkejut bertemu seseorang yang suka bermainnya saat kecil.
"Haha saya kira siapa ternyata anda nona Liyana sudah lama tidak melihatmu ternyata sudah tumbuh menjadi gadis sangat cantik” orang yang sering membuat cetak biru dalam pembuatan senjata dan lain-lain adalah Robert memakai kacamata menutupi matanya.
"Terimakasih atas pujiannya” Liyana yang merasa malu di puji seseorang yang sudah lama tidak di temuinya.
"Lalu bagaimana kabar keluarga anda baik-baik saja bukan? Dan sepertinya anda sudah tidak ragu mengambil keputusan lagi bukan?” Robert yang menganalisis perbedaan Liyana yang dulu dengan sekarang jauh berbeda.
"Ya berkat seseorang aku bisa tumbuh menjadi gadis kuat seperti sekarang kalau tidak ada dia pasti aku akan terus menjadi gadis penakut dan pemalu selamanya” Liyana langsung memberitahukan kepada Robert.
"Syukurlah jika anda sudah sadar akan tujuan anda lalu siapa seseorang yang merubah anda?” Robert dengan rasa penasarannya.
"Nanti juga paman akan tau” Liyana yang tidak mau memberitahukannya.
"Liyana sedang ngapain?” Kagami bersama Igris langsung mendatangi Liyana yang sedang mengobrol dengan seseorang.
"Ehh! K-kagami bukan apa-apa hanya mengobrol dengan pamanku pak Robert saja haha” Liyana dengan gugup takut terdengar oleh Kagami yang tadi di bicarakan.
Kemudian Robert dengan intuisi petarung langsung mengetahui bahwa anak kecil di sebelahnya adalah iblis membuat seketika mengambil pisau tajam untuk langsung membunuh iblis kecil tersebut.
Brak!
Robert yang seketika gerakannya terhenti tubuhnya di pegangi banyak bayangan gelap dari bagian belakangnya.
"Siapa yang suruh kau mau menyerang muridku!” Membuat kagami kesal.
"Saya kalah, maaf atas kelancangan saya” Robert yang langsung meminta maaf sambil melepaskan pisau dari tangannya.
"Hahh.. ternyata dendammu masih ada dalam hatimu terhadap ras iblis tapi apa kamu baik-baik saja Igris?” Kagami langsung menghilangkan bayangan yang menangkap Robert.
"Aku baik-baik saja guru” Igris dengan bersikap kuat meskipun tubuhnya terlihat gemetar ketakutan.
"Tadinya aku ingin memperlihatkan ini padamu sekaligus buatkan aku sebuah senjata terakhir kalinya tapi aku berubah pikiran karena itu ayo pergi Liyana” Kagami kembali berbalik arah.
"Tuan muda maafkan saya dan biarkan saya melakukan pekerjaan ini untuk anda sebagai permintaan maaf saya” Robert yang langsung sujud meminta maaf penuh menyesal karena sudah melakukan perbuatan karena dendam pribadi di masa lalu.
"Haahh.. lakukan sebisamu saja dan bekerja samalah sama yang lain lalu ini untuk bahan pembuatan senjata yang baru aku dapat terkumpulkan pakailah” Kagami langsung pergi bersama Igris sambil memberikan cincin penyimpanan kepada Rudis.
"Terimakasih tuan muda” Robert dengan menangis menyesali perbuatannya.
"Sudah ayo lakukan bersama-sama seperti biasanya jangan menangis seperti anak kecil!” Rudis dengan Pattin bicara bersamaan.
"Be.. nar... a..yo.. la.. ku.. kan.. ber..sa.. ma” Dorfi juga mencoba menyemangati Robert lagi.
"Paman tidak usah khawatir lakukan saja karena Kagami itu memang begitu jadi maklumi saja karena itu semangat paman Robert” Liyana yang langsung pergi keluar ruangan tersebut untuk mengejar Kagami.
.....
Liyana yang keluar dari sana melihat Kagami yang menunggu di sebelah pintu persis bersama Igris dan Liyana sadar melihat wajah Igris yang ketakutan akan kematian karena hampir terbunuh jika tidak di halangi Kagami.
"Apa kamu baik-baik saja?” Liyana yang langsung bertanya kepada Igris.
"Aku baik-baik saja kok” Igris mencoba mengendalikan rasa takutnya sendiri.
"Aku karena Leviathan memberitahukan sesuatu kejadian yang terjadi padanya” Kagami langsung memberitahukan kepada Liyana.
"Apa itu?” Liyana langsung mendekati Kagami.
"Jangan disini ayo pindah tempat” Dari balik bayangan langsung seketika langsung bayangan hitam menutupi seluruh tubuhnya.
"Kita akan kemana?, Aku tidak bisa melihat sama sekali?” Liyana yang hanya bisa memegangi tangan Kagami.
"Kita sampai” Seketika bayangan gelap mulai menghilang dan menunjukkan tempat taman belakang istana dengan cuaca cerah.
Kemudian suara burung juga berkicau disana terasa tempat yang panas namun mereka muncul di bawah pohon yang besar membuat tidak kepanasan.
"Guru boleh aku latihan tapi aku punya permintaan yaitu berikan latihan lebih susah dari pada kemarin apa boleh?” Igris ingin mencoba mengatasi ketakutannya sendiri.
"Tentu saja boleh” Kagami hanya bisa mengizinkannya.
"Makasih guru” Igris yang langsung menghilangkan dari hadapan Kagami.
Kemudian yang hanya tersisa ada Liyana dengan Kagami saja berdua disana setelah Igris pergi meminta latihan sendiri tanpa mau di perhatikan seperti biasanya.
"Liyana aku ingin tanya sesuatu padamu sebelum membicarakan hal yang baru aku ketahui dan apa boleh?” Kagami langsung bersandar pada pohon besar di belakangnya.
"Tentu saja boleh kok memangnya mau tanya apa?” Liyana juga ikut menyandarkan kepalanya pada pundak Kagami.
"Selama ini kamu pasti mengetahui banyak tentang diriku karena itu aku mau tanya menurut sudut pandangmu aku orang seperti apa?” Kagami yang ingin mendengarkan pendapat seseorang terdekatnya untuk berusaha memperbaiki sikap buruk dirinya sendiri.
"Ya jika mau tau aku akan memberitahukannya menurutku dirimu sangat peduli dengan orang yang ada di sekitarmu, terkadang bersikap egois, selalu memaksakan diri sendiri saat ingin mendapatkan atau melindungi sesuatu yang kamu ingin dan selalu bersikap kuat ingin terus menerus berusaha hingga terlihat hasilnya, tegas lalu baik hati yang aku sangat aku suka darimu” Liyana yang langsung mengeluarkan pendapatnya kepada Kagami.
"Hm.. begitu yah” Kagami sedikit tersenyum sejenak mendengar pendapat Liyana.
"Mau tanya apa lagi padaku?, Akan aku jawab lagi sebisaku” Liyana langsung melihat ke wajah Kagami yang kelihatan memikirkan hal-hal lain.
"Apa menurutmu aku bisa mengatasi ketakutanku baru-baru ini muncul dalam pikiranku?, Apa aku bisa melindungi semuanya dari bahaya yang menungguku seperti dalam mimpi itu?” Kagami seketika raut wajahnya berubah menjadi penuh takut, khawatir dan penyesalan.
"Kamu bisa kok mengatasinya dan jadilah dirimu yang kuat seperti sekarang jangan samakan dirimu di masa lalu yang dulu kamu ceritakan karena aku menyukaimu yang sekarang Kagami” Liyana yang kemudian mengubah posisinya lalu memeluk Kagami dengan lembut.
"Karena aku percaya pada dirimu dan kekuatan kita berdua untuk melindungi yang kamu ingin lindungi selama ini” Liyana berbisik pelan kepada telinga Kagami.
"Terimakasih Liyana” Kagami mulai tenang oleh Liyana.
Hingga tanpa sadar mereka berdua tidur di bawah pohon besar belakang istana dan di sadari oleh Zhiru ayah Kagami di dunia tersebut yang sedang berjalan-jalan bosan secara tidak sengaja melihatnya hanya bisa tersenyum lalu tertawa pelan agar tidak terdengar.
Ketika langit yang sudah agak gelap atau sore hari Kagami terbangun duluan di bandingkan Liyana yang masih tidur.
"Ahh! Apa aku tertidur disini?” Kagami yang melihat Liyana tertidur di hadapannya membuatnya sangat terkejut.
"Uh Kagami sudah bangun?” Liyana yang terbangun karena suara Kagami terkejut.
"Maaf aku tidak bermaksud membangunkanmu” Kagami yang langsung meminta maaf kepada Liyana.
"Tidak apa-apa dan Kagami apa sekarang sudah bisa berfikir dengan tenang?” Liyana yang langsung mencoba duduk agar tidak pusing.
"Ah iya terimakasih, berkatmu telah mengingatkanku bahwa diriku yang sekarang bukanlah aku yang seperti di masa laluku sebagai seorang pengecut lagi” Kagami yang percaya dirinya kembali lagi.
"Aku tidak melakukan apapun aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan untuk membantumu berdiri lagi” Liyana yang kemudian berdiri sambil mengikat rambut panjangnya dengan tali rambutnya.
"Ya ya sebagai tanda terimakasihku aku akan membuat makanan untukmu dengan Igris buatanku bagaimana?” Kagami yang ingin balas niat baik dari Liyana.
"Ehh ti-tidak usah repot-repot” Liyana dengan terkejut mendengar perkataan Kagami karena tidak pernah melihat Kagami memasak sama sekali.
"Aku hanya ingin mencoba menerapkan skill memasakku di masa laluku di sini maka dari itu jangan memasang wajah khawatir karena diriku nanti gagal begitu Liyana” Kagami yang kemudian tertawa untuk mengubah suasana hatinya.
"Ah baiklah aku percaya padamu tapi ingat jika ada sesuatu tidak mengerti bertanya saja padaku maka aku akan membantumu” Liyana yang selesai mengikat rambut panjangnya langsung mengingatkan kepada Kagami.
"Aku tau - aku tau, serahkan padaku bukankah iya Foxyel?” Kagami sadar Rubah kecil yang bepergian saat dirinya tidur dan sekarang ada di dekat sekitarnya.
Wuu! Wuu!
Foxyel yang kemudian muncul dari atas pohon langsung melompat dari atas pohon ke bawah namun Kagami langsung menangkapnya sehingga agar tidak terjatuh ke tanah dengan keras.
"Dia ini muncul tiba-tiba dari mana saja”
"Tapi baru kali ini aku melihat dia bepergian biasanya juga selalu bersembunyi di sakumu” Liyana langsung mengusap-usap Rubah kecil tersebut.
"Itu tandanya dia ini sudah beradaptasi dengan lingkungan disini tidak ada hal negatif yang mengincarnya meskipun untungnya udara disini agak sejuk jadi dia bisa bepergian bebas jika cuaca panas pasti akan bersembunyi terus” Kagami yang cukup senang melihat peliharaan kecilnya cepat beradaptasi.
"Iya juga ya dan ayo kita masuk Kagami mungkin ayahmu sedang mencarimu sejak tadi atau kalau tidak buat makan malam saja sekarang?” Liyana yang langsung mengajak kagami.
"Baiklah ayo lakukan!” Kagami dengan wajah serius.
Kagami bersama Liyana yang langsung pergi menuju tempat memasak para pelayan yang bagiannya memasak untuk keluarganya tanpa memberitahu kepada ayahnya sendiri yang mungkin sedang mengerjakan tugasnya sendiri sebagai seorang raja.