Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
109. Keuntungan Yang Diperoleh



Lalu Kagami yang setelah semua mayat di pisahkan dengan armor dan senjata yang sudah di kumpulkan di satu tempat lalu kagami langsung menyimpan semua barang-barang tersebut ke dalam cincin penyimpanan yang hampir penuh lalu setelah selesai Kagami langsung membakar semua mayat dengan teratai api hitam yang langsung terbakar hingga menjadi debu.


Setelah semuanya selesai membakar semua mayat dari jangkauan kekacauan tambabahan dari para monster di hutan sudah di selesaikan Kagami bersama yang lainnya langsung berjalan kembali menuju Kerajaan Azteria.


"Guru apa aku saat menyerang anda akankah aku bisa melukaimu?” Igris yang ingin tau jika sebelumnya Kagami tidak membuat serangan balasan kepada Igris.


"Tentu saja tidak karena tubuh gurumu ini sudah sangatlah kuat namun seranganmu tadi tidak buruk kamu memang pantas jadi muridku” Kagami tersenyum bangga sekaligus menghibur Igris dengan memasang wajah kecewa karena Kagami yang langsung memberitahukannnya.


"Apa seorang Iblis sepertiku pantas menjadi murid seorang manusia seperti anda yang sangat kuat dan kenapa anda tidak keberatan saja saat aku memanggil anda sebagai guru, padahal guru belum pernah memutuskan aku di anggap sebagai muridmu selama ini” Igris yang langsung kembali murung lagi.


"Maaf dulu gurumu ini hanyalah orang bodoh yang tidak mengerti perasaan seseorang yang bersamaku selama ini namun saat aku melihat Liyana mengajarkan kepada Elaina aku baru menyadari betapa bodohnya diriku mengambil resiko membawa iblis sepertimu karena aku tidak bisa mengajarkan apapun yang berguna untukmu hanya bergantung pada Agares yang sebuah bayangan dengan sebuah jiwa di dalamnya karena itu maafkan gurumu yang bodoh ini Igris” Kagami berjalan sambil menundukkan wajahnya.


"...” Igris yang masih tidak bisa katakan apapun untuk menghibur Kagami.


"Hei meskipun tuan bersikap seperti itu seharusnya kamu itu memberitahukannya agar sadar meskipun tuan tidak bisa mengajarkan apapun padamu tapi tuan peduli padamu coba tanyakan kenapa nona Liyana menyelamatkanmu dan mengapa tuan Kagami mengambil resiko membunuh anak-anak iblis untuk menyelamatkanmu?” Hoaxen langsung muncul di sebelah Igris lalu mencoba menanyakan kepada Igris.


"Kenapa aku tidak mengetahui jawabannya?” Igris yang langsung bertanya kepada Hoaxen.


"Karena tuan tidak ingin melihat seseorang sepertimu hidup lebih buruk di satu tempat tersebut selamanya jadi karena itu seharusnya kamu senang bisa hidup bebas bersama tuan yang sudah berubah sehingga menerimamu sebagai muridnya karena itu kamu sangatlah beruntung di bandingkan diriku bersama dengan seseorang yang sudah aku anggap saudaraku karena aku hanyalah seorang bawahan tuan Kagami” Hoaxen yang langsung memberitahukan kepada Igris sehingga terdengar oleh Kagami.


"Sembarangan kamu bicara Hoaxen! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai bawahanku namun sebagai rekan berpetualang atau temanku tau!”


"Haha tuan saya bercanda kami sudah menyadari sejak awal anda sama persis seperti tuan kami hihi” Vortex bersama Tenebris muncul dari belakang Kagami lalu Hoaxen bicara bersamaan kepada Kagami.


"Kalian dasar!!” Kagami yang seketika marah.


Kagami yang langsung memukul ketiganya secara bersamaan dengan di perhatikan Liyana, Elaina, Zhiyu dengan Tuan Alexi yang semuanya hanya tersenyum tipis.


"Maaf tuan” Hoaxen bersama Tenebris yang langsung baru pertama kali di pukul dengan sangat keras oleh Kagami.


"Tuan saya saat ini saya tidak akan merahasiakan siapa diriku lagi yang sesungguhnya lagi” Vortex yang langsung mengubah penampilannya menjadi seorang Ras Vampir.


"Tunggu wujud itu adalah Vampir tapi kenapa aku tidak menyadarinya! Lalu apa kalian berdua mengetahuinya?” Kagami yang langsung bertanya kepada Hoaxen dan Tenebris.


"Kami sama sekali tidak mengetahuinya tuan dan dia hanya hanya memberitahukan identitas sebagai monster laut dari lautan darah” Tenebris langsung memberikan kepada Kagami dengan perasaan terkejut dengan wujud asli yang paling lemah di antara mereka adalah Seorang Vampir.


"Maaf kakak pertama, kedua sebenarnya diriku sudah hidup sangat lama hingga akhirnya bertemu kalian dengan menggunakan kemampuan ras Vampir yang bisa mengubah penampilan sekaligus auranya sendiri sebenarnya namaku adalah Vlade berasal dari pulau kematian” Vortex yang langsung kembali berjalan sambil mengubah penampilannya menjadi seorang manusia kembali.


"Tunggu Vlade putra dari Vampir Ellaria dengan Kaspia apa itu kamu?” Bayangan Leviathan langsung muncul dari pundak Kagami.


"Eh itu nama ayah, ibuku siapa itu yang bicara?” Vortex/Vlade yang langsung berteriak marah hingga yang berada disana terhenti berjalan.


"Apa kau tidak mengetahui diriku sama sekali teman lamamu yang sering mengobrol bersama?” Leviathan yang langsung berpisah bayangan dengan Kagami sambil menunjukkan diri di hadapan semua orang yang belum mengetahuinya.


"Tunggu perasaan ini bukankah Leviathan kamu sudah mati?” Vortex/Vlade yang langsung merasa mengenalnya.


"Ya oleh mereka berdua karena kesalahpahaman meskipun begitu saya senang bisa menemukan anda tuan Vlade” Leviathan yang langsung bergabung kembali ke tubuh Kagami lalu memunculkan versi tubuh kecil di pundak Kagami.


Wuu!


Rubah kecil yang tempatnya terganggu oleh Leviathan langsung memukul bayangan tersebut lalu bayangan Leviathan langsung berpindah ke pundak Kagami sebelah kirinya agar bisa mengobrol dengan Putra Vampir teman lamanya yaitu Vortex/Vlade.


"Kau matilah Leviathan!!” Zhiyu yang saat merasakan perasaan aura tidak asing milik Leviathan langsung melesat menyerang dengan mengeluarkan pedangnya yang terbuat dari Material Orichalcum.


Bam!


"Tenanglah! Aku tau masalah ayah dengan Leviathan di masa lalu karena aku sudah mengetahui semuanya” Kagami langsung menahan pedang tersebut dengan 1 jarinya dengan menahannya menggunakan kemampuan fisik Leviathan.


"Urusanku dengan Leviathan bukan denganmu nak jadi keluarkan sekarang juga!!” Zhiyu lalu merubah pola menyerang dengan pedangnya untuk memaksa putranya mengeluarkan Leviathan.


"Leviathan dalam bawah kendaliku sekarang jadi selesaikan masalah satu persatu dahulu” Kagami langsung menahan setiap tebasan pedang dengan kedua tangannya.


"Percuma saja!!, Biarkan ayahmu membalaskan dendam rivalku padanya!!” Zhiyu yang langsung menyerang Kagami terus menerus.


"Aku bilang hentikan atau aku tidak akan segan menyerangmu ayah!!” Kagami langsung memegang pedangnya agar membuat ayahnya mendengarkannya.


"TIDAK AKAN!!” Zhiyu yang mulai lepas kendali emosinya.


"Huh maaf aku harus melakukan ini padamu ayah” Kagami langsung menyiapkan sebuah pukulan dengan energi setengahnya yang bisa membuat pingsan.


Bam!


Zhiyu yang langsung terlempar ke belakang hingga berguling-guling kemudian pingsan lalu Kagami mulai terduduk lemas tenaganya hampir habis karena sudah beberapa kali bertarung.


"Hah..hah dasar menyusahkan aku sudah bilang tenang namun malah memaksaku untuk menghajarnya dengan sisa energi dalam tubuhku” Kagami yang langsung mengeluh sambil membuang nafas lega.


"Kagami apa kau baik-baik saja?” Liyana langsung berlari mendekati Kagami.


"Ya sepertinya aku akan pingsan” Kagami dengan tubuhnya yang masih terduduk lemas.


"Dasar jangan pingsan dong!” Liyana langsung membantu Kagami berdiri.


"Haha iya akan aku coba agar tidak pingsan deh” Kagami sambil tertawa pelan.


"Yasudah bertahanlah sebentar dan bawa ayahnya Kagami kembali siapapun!” Liyana yang langsung memberikan perintah kepada beberapa prajurit.


"Ba-baik” 4 prajurit langsung membawa Zhiyu pergi kembali dengan menggotongnya.


"Em Leviathan apa orangtuaku baik-baik saja?” Vortex/Vlade langsung bertanya sambil membantu Kagami berjalan bersama Liyana.


"Bagaimana ya sebenarnya dua ribu tahun lalu sebelum diriku di bunuh tuan Kagami pulau kematian di tutupi oleh sebuah penghalang sihir yang sangat kuat hingga saya berusaha menghancurkannya tidak berhasil di tambah lagi ada sebuah kabut di dalamnya namun saya hanya menebak itu sebuah kabut racun karena warnanya hijau tua” Leviathan langsung menjawab pertanyaan Vortex/Vlade.


"Kenapa rasanya diriku ingin kesana karena diriku merasa khawatir tiada batas setelah melarikan diri dari pulau kematian selama 4.000rb tahun lamanya” Vortex/Vlade langsung menyentuh dadanya sendiri sambil berharap semua baik-baik saja disana.


"Ya jika ada waktu aku juga akan kesana untuk menepati janjiku dengan Leviathan jadi sabar saja Vortex aku pasti akan mengajakmu” Kagami yang setengah sadar memberitahukan kepada Vortex.


"Terimakasih tuan” Vortex yang juga berterimakasih kepada Kagami yang ingin menerimanya.


"Kagami kuatlah sebentar saja” Liyana yang tidak ingin Kagami pingsan.


"Iya sedang aku coba menahannya agar tidak pingsan kepalaku mulai sakit sekali” Kagami tidak kuat mengangkat kepalanya.


"Guru maaf sudah berfikir tidak-tidak tentangmu guru dan aku mengerti perkataan kak Hoaxen yang katanya guru sangat peduli kepada seseorang yang kehidupannya buruk lalu guru ingin membuat seseorang itu merasa bebas dimana bisa melihat kehidupan yang bebas jadi kali ini biarkan aku membantu” Igris langsung berjalan di depannya lalu sebuah angin langsung berputar di bawah kaki Liyana, Vortex, Kagami dan Igris.


"Terimakasih” Kagami yang seluruh badannya sudah mulai lemas hingga tidak kuat membuka matanya karena sangat pusing.


Lalu setelah beberapa menit sampai lebih cepat berkat Igris dengan cepat Liyana dengan bantuan bayangan Orcs membantu membawa Kagami sambil di tunjukan arah kamar Kagami yang kira-kira masih di ingat jelas oleh Liyana.


"Kagami sekarang tidurlah lalu aku akan pergi untuk mandi” Liyana sambil mencium kening Kagami.


"Uh ugh iya” Kagami yang langsung menutup matanya karena seluruh penglihatannya sudah mulai gelap.


Wuu?


"Jangan di ganggu dahulu biarkan Kagami tidur Foxyel dan ikut bersamaku saja untuk mandi lihatlah tubuhmu terlihat kotor oleh tanah” Liyana sambil mengangkat tubuh Rubah kecil.


Wu!


"Bagaimana keadaannya? Apa perlu aku sembuhkan?” Elaina yang ingin membuat Kagami pulih kembali.


"Tidak apa-apa Kagami sudah mulai tertidur mau mandi air hangat sekarang?, Dimana Igris bersama Vortex?” Liyana yang tadi melihat Igris bersama Vortex tapi sekarang sudah tidak terlihat kembali.


"Boleh tapi barang-barangku ada di Dalam cincin penyimpanan Kagami lalu dua orang yang kamu katakan tadi aku lihat pergi keluar bersamaan” Elaina sambil mencoba mengingat ngingat kembali.


"Aku mengambil cincin penyimpanan milik Kagami sebentar nanti aku akan kembalikan jadi barang-barangmu ada di tanganku lalu biarkan mereka berdua pergi pastinya tidak akan pergi jauh dari sini lagi pula nanti juga akan kembali lagi”


"Yasudahlah apa tidak apa-apa cincin penyimpanan milik Kagami di ambil olehmu mungkin di dalamnya ada barang berharga milik Kagami?” Elaina tidak ingin terkena masalah.


"Tenang saja aku tidak berniat mengambil barang berharga milik Kagami sama sekali sudah jangan di pikirkan nanti jika Kagami sudah bangun aku akan kembalikan jadi ayo pergi mandi dahulu” Liyana langsung menarik tangan Elaina.


"Oh ya kamu mempunyai Cincin penyimpanan seperti milik Kagami dapat dari mana bukankah tidak mungkin kamu sama sepertiku hanyalah rakyat?” Elaina yang sungguh tidak mengerti.


"Awalnya aku tidak punya seperti ini yang aku punya sebuah penyimpanan Khusus petualang Hunter yang di jual belikan dengan harga 15 gold, 7 silver lumayan mahal tapi tidak ada pilihan lain untuk menyimpan pakaianku namun setelah 1 tahun berlalu bertarung dengan monster Minotaur dan bertemu dengan teman lamaku seorang pria mesum sekaligus menyebalkan..”


".. Saat Kagami tau aku tidak terlalu menyukai temanku seorang pria yang bersikap brengs*k menurut Kagami sehingga menghajarnya dengan sekali 2 kali hajar di lempar ke sebuah rumah hingga hancur setelah kejadian itu temanku itu tidak berani menunjukkan diri sebelum temanku menghilang memberikan ini untukku” Liyana berjalan bersama Elaina sambil memasang cincin penyimpanan milik Kagami.


"Apa Kagami tau?” Elaina sungguh aneh Kagami tidak cemburu.


"Tentu saja tidak dan Kagami hanya berkata ‘jika hanya memberikan sebuah barang seperti itu tidak apa-apa lagi pula aku melihat temanmu pergi tidak mempunyai niat buruk untuk melakukan hal mesum tapi temanmu itu sudah sadar ingin menjadi kuat sehingga mengalahkanku untuk merebutmu dariku’ Kagami dengan tersenyum ingin menghajarnya kembali” Liyana yang hanya menghela nafas panjang.


"Pfftt ternyata Kagami lebih peduli dengan niat Seseorang namun tidak peduli dengan barang pemberian ya?” Elaina yang langsung sedikit tertawa.


"Ya begitulah jika barang pemberian ada sesuatu sepertinya Kagami akan melarangku menyimpannya dan ngomong-ngomong mengingat kotak penyimpananku dari pada tidak terpakai ini untukmu saja” Liyana langsung mengeluarkan sebuah kotak penyimpanan yang sudah tidak di pakai kepada Elaina.


"Ehh terimakasih banyak Liyana” Elaina langsung menerima barang pemberian dari Liyana.


"Mungkin berguna untukmu jika suatu hari nanti ingin menjadi berpetualang tapi kamu harus daftar sebagai hunter dahulu agar dapat izin setiap memasuki kota di luar sana” Liyana yang langsung memberitahukan kepada Elaina agar tidak melupakannya.


"Eh iya aku belum tau ingin menjadi seorang petualang atau tidak karena ayahku sendiri tapi memangnya harus seperti itu setiap memasuki kota harus menunjukkan kartu identitas Petualang Hunter?” Elaina dengan wajah cukup terkejut karena baru mengetahuinya.


"Memang aku bersama Kagami selalu seperti itu apa lagi menyebrangi sebuah pulau dan disana ada yang berjaga harus menunjukkan kartu identitas memangnya kamu tidak tau?” Liyana yang langsung bertanya kepada Elaina.


"Tidak tau sama sekali” Elaina belum menentukan pilihannya.


"Yasudah pikirkan nanti saja ayo ganti pakaian dahulu” Liyana yang baru sampai di sebuah tempat pemandian air panas yang sebelumnya bertanya ke beberapa Pelayan.


"Eh sudah sampai” Elaina dengan terkejut dengan wajahnya yang memerah malu.


"Kenapa apa tiba-tiba kamu sakit?” Liyana yang melihat wajah Elaina memerah.


"Tidak itu a-aku ba-ru pertama kali mandi bersama seseorang” Elaina dengan malu sekaligus gugup.


"Oh santai saja kalau aku sudah biasa mandi bersama ibuku atau adikku di rumah tapi aku pernah mandi di pemandian umum khusus para gadis juga jadi aku sudah terbiasa ayo masuk” Liyana langsung menarik tangan Elaina lalu mengunci pintu pemandian air panas.


"O-oh be-begitu ya” Elaina langsung iku masuk ke dalam tempat pemandian air panas.


Wuu!


Rubah kecil yang melihat air hangat yang langsung mencoba memasukkan kakinya seketika membuat Rubah kecil terkejut langsung berlari menuju Liyana kembali.


"Kamu ini sudah terbiasa dingin tunggu nanti akan aku buatkan air yang tidak terlalu panas untukmu Foxyel” Liyana sambil membuka pakaiannya.


Lalu setelah mengganti pakaiannya dengan sebuah handuk yang menutupi tubuhnya lalu berjalan menuju air panas bersama Elaina dengan juga Rubah kecil yang mengikutinya namun tidak berani masuk ke dalam air.


"Ah segar sangat pas sambil membersihkan tubuh yang berkeringat sekaligus lelah dan sudah lama tidak mandi air panas seperti ini” Liyana langsung masuk ke dalam kolam air panas.


"I-iya benar sekali sebaiknya kamu lepas kalungmu Liyana nanti mudah berkarat” Elaina masih malu sambil berjalan masuk ke dalam kolam air panas.


"Oh ya maaf aku lupa” Liyana langsung menyimpannya di dekatnya agar tidak tertinggal.


Wu! Wu!


Rubah kecil yang mencoba memanggil Liyana namun tidak terdengar lalu saat Liyana menyimpan kalungnya kedua kaki Rubah kecil mencoba menggapai tangan Liyana yang basah.


"Eh aduh lupa kamu juga ingin ya Foxyel kasihan” Liyana lalu mengusap tubuh Rubah kecil.


"Pakai ini saja Liyana untuknya tapi tetap saja panas” Elaina langsung mengambil sebuah benda untuk mengambil sebuah barang untuk mengambil air.


"Ide bagus dan aku tau caranya membuat Foxyel agar bisa mandi dengan nyaman tanpa terlalu kepanasan” Liyana langsung mengambil barang tersebut lalu memasukkan setengah air kolam panas.


Lalu Liyana membuat beberapa buah balok es dari tangannya lalu memasukkan ke dalam sebuah barang yang sudah terisi air panas dan saat sudah semua es mencair hingga dalam wadah tersebut penuh oleh air Rubah kecil langsung mencoba memeriksa dengan kedua kaki depannya.


Wuu! Wuu!


Rubah kecil yang cukup menyukainya langsung melompat masuk ke dalam sebuah wadah yang terisi penuh air yang sudah hangat tidak terlalu panas sekali.


"Liyana apa kamu pernah mandi bersama Kagami?” Elaina sebenarnya hanya ingin tau saja.


"Be-belum pernah dasar Elaina bodoh!” Liyana seketika pipinya memerah lalu menutupi tubuhnya dengan sedikit lebih masuk ke dalam air.


"Aku hanya bertanya saja kenapa marah aku kira kamu pernah melakukannya karena aku saat itu melihat kalian tidur dalam satu tenda sih” Elaina yang benar-benar penasaran.


"Aku pernah tidur bersama satu tenda tapi aku juga bisa menjaga diri dan lagi Kagami juga berbeda dengan Pria yang aku kenal jika masalah tidur aku bisa percaya namun jika mandi bersama aku tidak berani karena tidak ingin orangtuaku mendapatkan masalah dariku lagi” Liyana bicara semakin pelan.


"Soalnya melihatmu sekarang saja tubuhmu memang seperti para pria inginkan” Elaina memperhatikan Liyana sangat cantik dan berbakat.


"Dasar Elaina bodoh! Jangan perhatikan diriku!!” Liyana yang langsung menyiram Elaina dengan air kolam.


"Akh maaf” Elaina tidak akan melihat ke arah Liyana.


"Sejujurnya sejak dulu aku berusaha memanfaatkan Kagami untuk menjadi kuat sekaligus mencari pedang Bloody Sfraksor namun saat aku baru mengenalnya selama 4 bulan aku tau Kagami tidak pernah keberatan hingga aku merasa bersalah dan ingin minta maaf tapi setiap kali Kagami bertarung demi melindungiku hingga hampir pingsan seperti sebelumnya selalu saja tersenyum kepadaku dengan percaya padaku” Liyana yang hanya menatap bayangannya di kolam tersebut.


"Apa kamu menyesali perbuatanmu sudah membohongi kekasihmu sendiri?” Elaina yang tidak pernah membohongi namun selalu memarahi ayahnya yang selalu mengenalkan pasangan untuk Elaina sendiri.


"Ya makanya setelah mengetahui hal tersebut aku tidak ingin kalah darinya yang selalu melindungiku hingga aku mengetahui rahasia aslinya yang selama ini di tanggung dirinya sendiri sampai membuatku menangis sekaligus menyesali perbuatan buruk sudah memanfaatkannya namun Kagami hanya berusaha kuat menjalaninya hingga aku ingin berada di sebelahnya untuk menemaninya di mana Kagami ingin bercerita padaku di situ” Liyana langsung mulai bersandar kembali sambil menyiram wajahnya dengan air kolam yang sedikit menjadi hangat.


"Pantas saja kamu sangat peduli padanya apa masalah dengan seseorang yang lebih kuat darinya?” Elaina hanya menebak-nebak saja.


"Hm iya musuhnya mempunyai kemampuan yang berlawanan dengan Kagami” Liyana yang ingin mencari tau keberadaan dewa Thanatos berada.


"Apakah Cahaya?” Elaina dengan sedikit tidak percaya.


"Ya benar” Liyana yang hanya diam lalu mengambil kembali kalungnya.


"Pantas kau terlihat begitu khawatir lalu apa kamu pernah bertemu dengan musuh Kagami?” Elaina langsung bertanya kepada Liyana.


"Pernah hanya satu kali dan dia punya kemampuan yang sangat kuat melebihi diriku dengan Kagami yang mencoba melindungiku dari serangan tersebut yang membuat Kagami terluka Fatal” Liyana merasa bersalah jika mengingat kembali.


"Begitu semoga masalah ini segera selesai dan kalian bisa hidup nyaman sesuai yang kalian inginkan ya?” Elaina langsung mencoba menghibur Liyana.


"Ya semoga saja” Liyana yang masih ingin bersama Kagami untuk mengelilingi dunia ini sekaligus teka-teki yang di sembunyikan di balik kebenaran dunianya sekarang.


Setelah beberapa lama berlalu berendam air panas yang langsung menyudahi berendam air panas lalu segera memakai pakaian yang bersih dan Liyana pergi menuju kamar Kagami untuk melihat kondisinya.