Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
116. Kembalinya Ingatan Memori Masa lalu Yang Hilang



Kagami yang masih belum sadarkan diri untuk beberapa hari di sebuah rumah berukuran sedang dan Liyana selalu tidur di satu kamar yang sama dengan Kagami beristirahat.


Disisi lain Kagami yang tersadar melihat sekelilingnya gelap gulita tidak bisa melihat apapun di sekitarnya membuat Kagami merasa dirinya sudah mati.


"Jadi aku sudah mati...”


"Bahkan aku tidak bisa mendengar suara Liyana lagi...”


"Benar-benar menyedihkan sekali diriku....”


Kagami yang benar-benar merasa sedih dan kesepian lalu seketika muncul sebuah cahaya kecil seperti kunang-kunang yang terus mengelilingi kepala Kagami.


[TL : Kunang-kunang adalah hewan yang sering muncul di malam hari dan bercahaya]


"Apa sih ini!?” Kagami dengan kesal sambil mencoba mengusirnya namun malah sebaliknya yaitu lebih banyak kunang-kunang datang kepada Kagami.


Karena Kagami penasaran langsung berdiri dan kunang-kunang tersebut juga langsung seperti menuntunnya ke sebuah arah di mana di sekitarnya masih gelap gulita.


"Kalian mau mengajakku kemana?” Kagami mencoba berbicara pada kunang-kunang tersebut.


"....” kunang-kunang sama sekali tidak ada jawaban hanya menunjukkan jalan kepada Kagami.


"Dasar apa aku sudah gila ya? Malah mengajak bicara kunang-kunang!” Kagami bicara sendiri.


Whuss!


Dalam sekejap semua kunang-kunang yang menunjukkan arah kepada Kagami langsung menghilang secara tiba-tiba membuat Kagami cukup terkejut.


"K-kok menghilang?” Kagami dengan gelisah.


Lalu tiba-tiba muncul sebuah warna atau layar seperti TV di hadapannya namun yang ada di hadapannya memunculkan sebuah gambar keluarga dan keluarga tersebut sangat familiar seperti Kagami mengenalnya.


"Ini ingatanku yang hilang?” Kagami benar-benar baru menyadarinya sampai-sampai air matanya keluar tanpa henti ketika bisa mengingatnya.


Cekrek!


"Woah! Ayah apa itu?” Seorang anak kecil bertanya kepada ayahnya.


"Ini Camera apa kamu baru pertama kalinya melihat Fanzi?” Ayahnya yang dengan senang sambil bertanya kepada putranya.


"Iya ayah dan apa boleh aku mencobanya juga?” Fanzi dengan para penasarannya.


"Baiklah untuk putra ayah yang sekarang umur 9 tahun akan ayah ajarkan cara menggunakan Camera milik ayahmu ini!” Ucap Ayahnya dengan bangga memperbolehkan putranya belajar cara menggunakan Camera.


"Horee! Terimakasih ayah!” Fanzi dengan sangat senang.


"Ada apa ini kok rame sekali pagi-pagi begini?” Ibu Fanzi yang keluar sambil membawa teh dengan susu.


"Mama ayah mau mengajarkanku memakai ini” Fanzi langsung berkata kepada ibunya sambil menunjukan Camera kepada Ibunya.


"Oh Camera tapi kan itu akan untukmu nanti kerja memangnya gak apa-apa?” Ibu Kagami bertanya kepada suaminya.


"Tidak apa-apa santai saja lagi pula jadwal kerjaku tidak padat malah sebaliknya punya waktu santai lebih banyak untuk mengajarkan putra kita belajar jadi fotografer profesional seperti ayahnya ini” Ayahnya Fanzi dengan mengatakan kepada istrinya.


"Terserahmu saja tapi jangan lupa belajar juga agar pintar jangan seperti ayahnya bodoh dalam matematika! Sampai sekarang!” Istrinya dengan mengingatkan kepada suaminya.


"Iya iya aku tau tapi sebelum pergi sini dulu kita foto bertiga!” Ayahnya Fanzi dengan mengajak istrinya berfoto.


Cekrek!


Lalu ingatan tersebut berganti dimana ayahnya yang sudah mati di karenakan saat bekerja menjadi Fotografer di sebuah perusahaan besar yang baru saja di buka tiba-tiba ada seseorang misterius membawa senjata tajam ingin membunuh pemimpin perusahaan tersebut langsung menerobos masuk dan saat sedikit lagi mau menusuk pemimpin perusahaan tersebut ayah Fanzi langsung menghalanginya hingga dirinya tertusuk senjata tajam hingga akhirnya meninggal gagal di selamatkan.


Dan di setelah beberapa hari kejadian tersebut seorang polisi datang ke rumah memberitahukan informasi sekaligus memberikan barang-barang peninggalan ayahnya kepada keluarganya.


Lalu di tunjukan lagi ingatan milik Kagami/Fanzi di umur 13 tahun kelas 1 SMP dimana Fanzi sudah kehilangan ayahnya dan hubungan keluarganya sendiri sudah hampir hancur.


"Selamat pagi Fanzi!” Siswi teman satu kelasnya Fanzi dulu.


"Pagi” Fanzi dengan tidak melihatnya.


"Hei Fanzi apa kamu baik-baik saja? Aku khawatir nih” Siswi tersebut bicara kepada Fanzi.


"Hahh.. iya aku baik-baik saja Diva dan jangan dekati aku terus atau aku akan terkena masalah lagi karena dirimu” Fanzi dengan mengatakannya kepada Diva teman masa kecilnya.


"Huu... Aku tidak peduli lagi pula kita sekelas jika ada yang mengganggumu aku akan melaporkannya!” Diva dengan mengatakannya dengan cukup tegas.


"Terserah saja” Fanzi dengan menanggapinya cuek.


"Oh ya apa kamu sudah sarapan pagi? Atau jangan-jangan kamu belum sarapan karena di marahi lagi?” Diva dengan perhatian kepada Fanzi.


"Kau pasti sudah tau jawabannya sendiri” Fanzi dengan langsung berjalan lagi mencoba menjaga jarak.


"Ini untukmu sarapanmu Fanzi” Diva memberikan 2 roti yang di belinya.


"Terimakasih dan ini untukmu” Fanzi langsung memberikan uang bayarannya.


Diva yang melihat Fanzi memberikan uang bayarannya sudah menjadi kebiasaan jadi hanya memakluminya saja dan Fanzi juga langsung masuk kelas lalu setelah itu mengeluarkan Camera peninggalan ayahnya yang kaca belakangnya sudah pecah karena di bantingkan ibunya.


Cekrek!


Fanzi yang langsung memotret pemandangan sekolahannya dari dalam jendela di sebelah tempat duduknya saat Diva mendengar bunyi suara Camera sedang memotret sesuatu langsung mendekati Fanzi.


"Apa teman sebangkumu belum datang Fanzi?” Tanya Diva kepada Fanzi.


"Sepertinya begitu lagi pula aku tidak peduli dengannya”


"Kalau begitu boleh aku duduk di sebelahmu selagi menunggu guru datang?”


"Huh.. terserah saja” Fanzi dengan perasaan gelisah akan di ganggu oleh murid lain.


"Apa kehadiranku disini membuatmu terganggu?” Diva yang melihat Fanzi seperti kurang nyaman jika dekat dengannya.


"Tidak juga duduk saja” Fanzi dengan mencoba tidak merasa gelisah dan tidak memikirkan murid satu kelasnya akan mengganggunya lagi.


"Baiklah jika Fanzi berkata seperti itu”


"Ya”


"Oh ya Fanzi apa setelah pulang sekolah sibuk tidak?” Diva dengan melihat kepada Fanzi.


"Ti-tidak ada, memangnya kenapa?” Fanzi dengan gugup karena wajah Diva terlalu dekat dengannya.


"Begini setelah pulang sekolah antarkan aku ke suatu tempat setelah ini?” Diva dengan langsung memohon kepada Fanzi agar mau mengantarkannya.


"(Kata bos hari ini libur jika aku pulang ke rumah nanti bisa jadi diriku terkena masalah dan tidak ada salahnya jika ikut dengan Diva bukan? Sekalian sambil mencari tema dengan foto bangus malam-malam)” Fanzi dengan bicara dalam hatinya.


"Bagaimana mau tidak?”


"Baiklah akan aku temani”


"Terimakasih Fanzi dan janji jangan tinggalkan aku lagi karena ini janji harus di tepati ya?” Diva dengan menegaskan kepada Fanzi.


"Iya janji kelingking” Fanzi dengan mengangkat tangannya.


"Janji kelingking” Diva dengan cukup senang.


Lalu Diva langsung kembali ke tempat duduknya sendiri dimana beberapa teman-temannya langsung dengan cepat mendekati Diva sedangkan Fanzi kembali sendiri namun karena sudah terbiasa langsung mengeluarkan sebuah buku novel sekaligus kacamata untuk baca untuk membaca lalu memasukkan kembali Camera ke dalam tasnya sendiri.


"Diva apa kamu menyukai Fanzi sepertinya kalian berdua cukup dekat belakangan ini?”


"Ehh aku sendiri tidak tau karena aku dengan Fanzi hanyalah temanku sejak kecil”


"Jadi apa maksudmu hubungan kalian hanya teman saja tidak lebih?”


"I-iya benar haha” Diva dengan tertawa pelan.


"Tuh kan benar kataku Diva tidak akan mungkin menyukai Fanzi karena perbedaannya jauh sekali Fanzi itu anak yang culun, miskin dan tidak akan cocok dengan Diva yang cantik, pintar dan berbakat” Seseorang yang sering mengganggu Fanzi.


"Kau mengerti ucapanku bukan Fanzi bahwa kau tidak ada kesempatan mendekatinya” Murid tersebut sambil mendekati Fanzi.


"...” Fanzi yang hanya mengabaikannya sambil fokus membaca buku.


"Hei beraninya mengabaikanku!” Siswa tersebut langsung mengambil buku yang sedang di baca oleh Fanzi dari tangannya.


"Cukup! Jangan ganggu Fanzi dan kembalikan bukunya pada Fanzi!” Diva yang langsung menghentikannya karena sudah berjanji pada dirinya sendiri.


"Baiklah-baiklah lain kali siap-siap saja kau Fanzi!” Murid tersebut langsung menyimpan buku milik Fanzi di atas meja lalu pergi keluar kelas.


"Harusnya biarkan saja agar aku bisa memukulnya nanti sampai puas!” Fanzi dengan bicara pelan sambil tersenyum tipis sejenak.


Lalu Fanzi langsung mencoba menahan hawa nafsu amarahnya sendiri dengan menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri dan tidak lama guru masuk ke dalam kelas untuk mengajar pelajaran.


Di saat jam pelajaran Diva yang terus memperhatikan Fanzi dari meja tempat belajarnya sendiri dan di saat pulang sekolah langsung bertanya kepada Fanzi tentang keadaannya sekarang.


"Fanzi tidak apa-apa? Kamu lesu sekali?”


"Ah.. tidak apa-apa”


Fanzi dengan mencoba menahan diri untuk memendam amarahnya sendiri dan bersikap baik-baik saja agar semuanya baik-baik saja.


"Bagaimana kabar ibumu sekarang? Apa sudah berbaikan dengan ibumu?” Diva bertanya kepada Fanzi.


"Entahlah” Fanzi sudah hampir 1 minggu meninggalkan rumah.


"Ah.. tumben hari ini kamu tidak membawa motormu?” Diva dengan kurang mengerti jawaban dari Fanzi.


"Aku parkirkan di tempat lain lalu bukankah kau juga harus pulang berganti pakaian bukan Diva?”


"Ehh, um i-iya tapi bukankah Fanzi satu arah pulang denganku?” Diva dengan gugup.


"Memang tapi aku sudah lama tidak pulang ke rumah jadi pulanglah saja sendiri” Fanzi membalasnya wajah masam.


"Ka-kalau begitu aku pulang dahulu dan kita bertemu lagi disini ya?”


"Baiklah” Fanzi bicara dengan wajah datarnya.


Lalu saat sudah selesai berbicara satu sama lain di depan halte busway sudah datang membuat Diva langsung berlari masuk ke dalam bus tersebut.


Sedangkan Fanzi langsung mengganti pakaiannya di Wc umum terdekat dengan lokasi memarkirkan motornya sendiri dan menyimpan pakaian sekolahnya di jok motor.


......


"Hah.. hah.. maaf membuatmu lama menunggu Fanzi” Orang tersebut adalah Diva dengan pakaian yang sangat cantik.


"Tidak perlu minta maaf aku juga baru sampai kok dan duduklah dulu sambil mengembalikan staminamu lagi” Fanzi dengan sikapnya yang berubah 360 derajat.


"Eh.., makasih” Diva dengan cukup terkejut.


"Ini minumlah mungkin kau haus sudah berlari sampai kesini” Fanzi dengan memberikan air minum yang sengaja di beli sebelumnya.


"(Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba cara bicara dengan sikapnya berbeda sekali di bandingkan sebelumnya?)” Diva sambil mengambil air minum yang di berikan oleh Fanzi.


Cekrek!


Suara kamera digital yang langsung menfoto Diva dengan sengaja Fanzi ingin menfotonya namun Diva tidak menyadarinya.


"Diva mau mengajakku kemana hari ini?” Fanzi dengan bertanya terlebih dahulu.


"Itu T-taman kota katanya akan di adakan acara Festival kembang api malam ini mau kah kesana Fanzi?” Diva dengan wajahnya sedikit tersipu malu.


"Boleh juga kali ini akan aku dapatkan foto terbaikku malam ini!” Fanzi dengan penuh semangat.


Diva yang kemudian mengerti ternyata Fanzi sengaja menciptakan 2 sisi kehidupan sehari-hari yang jarang di ketahui oleh beberapa orang terdekatnya.


"Kalau begitu ayo pergi kesana kah?” Diva dengan tersenyum lembut.


"Oh ya sebelum itu ini untukmu Diva” Fanzi langsung memberikan sebuah kertas foto hasil menfoto Diva.


"Ehh.. I-ini fotoku kapan kamu memotretku dasar nakal!?” Diva dengan terkejut sekaligus marah pada Fanzi sampai mencubit pinggul Fanzi cukup kuat.


"Ahaha maaf soalnya Kau sangat Cantik jadi aku ingin memotretnya” Fanzi dengan mencoba mengatakannya kepada Diva.


"Be-begitu ya, terimakasih” Seketika mendengar perkataan Fanzi membuatnya langsung sangat malu.


Setengah itu mereka tanpa bicara lagi satu sama lain dalam perjalanan berdua di motor terdiam hingga sampai akhirnya sampai di taman kota sekitar jam 17:56 atau hampir jam 6 malam.


Fanzi yang melihat banyak sekali pedagang jalanan di dekat sana membuatnya setelah parkir langsung pergi sebentar saat melihat gula kapas kesukaan Diva sejak kecil.


"Fanzi kamu dimana?” Diva dengan terkejut tidak melihat Fanzi menghilang lagi.


"Aku disini dan lihat aku membawakan apa untukmu?” Fanzi langsung menunjukkan gula kapas berukuran sedang.


"Eee G-gula kapas kenapa repot-repot membelikannya untukku?” Diva dengan terkejut sekali lagi.


"Tidak ada hal spesial karena aku hanya ingin memberikannya saja untukmu Diva bukankah sangat menyukainya jadi ini untukmu” Fanzi langsung memberikan kepada Diva.


"Makasih Fanzi atas gula kapasnya”


"Ya” Fanzi dengan tersenyum tanpa terpaksa.


Lalu Fanzi dengan Diva langsung mencari tempat untuk beristirahat di taman kota yang luas sekali.


"Fanzi aku saat ini senang sekali bisa mengobrol berdua denganmu lagi seperti ini” Diva dengan berkata jujur.


"Hahh... Iya juga”


"Kenapa kamu kabur dari rumah? dan tidak mengabariku bahwa kamu pergi dari rumah? Sekarang kamu tinggal dimana Fanzi?”


"Aku hanya pergi sesaat dari rumah sekaligus mencari jati diriku sebenarnya seperti saat ini dan juga aku tidak mengabari siapapun termasuk dirimu aku ingin mandiri tanpa bantuan siapapun sekaligus tidak mau orang yang udah membantuku akan terseret masuk ke dalam masalahku sendiri”


"Jika kamu bertanya dimana aku tinggal? Aku tinggal di sebuah apartemen biasa lumayan jauh dengan harga murah disana aku bisa hidup sendiri dengan tenang” Fanzi mengatakan bohong kebalikannya adalah dirinya kesepian.


"Begitu ya, aku senang mendengarnya lalu bagaimana dengan kabar ibumu apa kamu tidak khawatir?” Diva terus mengajukan pertanyaan kepada Fanzi.


"Tentu saja khawatir mungkin besok aku akan pulang ke rumah” Fanzi dengan mencoba ingin memberanikan diri untuk pulang.


"F-fanzi ada yang ingin aku katakan padamu selama ini aku sangat ingin mengatakannya?” Diva dengan wajah sangat-sangat malu mengatakannya.


"Apa itu?” Fanzi dengan tenang.


"S-sebenarnya aku menyukaimu Fanzi!” Diva dengan mengatakannya suara sedang.


"Aku tau kok karena aku sudah sadar sejak dulu namun maaf aku tidak bisa menerimanya” Fanzi yang menundukkan wajahnya.


"K-kenapa apa karena aku tidak bisa melindungi diriku sendiri dan merepotkanmu selalu?” Diva dengan menjatuhkan Gula kapas lalu menangis sambil memegang tangan Fanzi.


"Aku merasa suka sendiri dan tidak yakin bisa membahagiakanmu seperti orang lain” Fanzi dengan mencoba membohongi diri sendiri.


"Karena aku bukanlah orang yang baik dan tidak mau menyakitimu dengan tanganku sendiri” Fanzi selalu memendam rasa dendam dalam dirinya hingga menciptakan kepribadian buruknya yang sering terjadi namun Fanzi tetap menahan diri.


Diva yang kehilangan kata-kata sendiri yang berusaha menahan tangisannya agar tidak keluar dan membuat Fanzi sekaligus keluarganya Khawatir.


"Lupakan saja yang aku katakan dan anggap saja yang tadi tidak pernah terjadi” Diva dengan sigap menghapus air matanya sendiri.


"Aku benar-benar minta maaf Diva sampai membuatmu menangis karena aku bukan bermaksud menyakitimu” Fanzi dengan perasaan bersalah.


"Tidak kok, akulah yang bodoh tidak menyadari situasimu” Diva dengan kembali tersenyum terpaksa.


"Maaf Diva”


secara refleks tangan Fanzi sangat ingin memeluk sekaligus menenangkan Diva dan di malam hari yang panjang hingga sampai pulang ke rumah Diva di antar oleh Fanzi ke rumahnya sampai Diva tertidur sekaligus makan malam bersama dengan Fanzi yang di rencanakan oleh Diva akhirnya gagal.


.........


Di hari selanjutnya pagi hari Fanzi yang gagal mendapatkan foto bagus di malam hari taman kota karena pikirannya kacau sudah menolak perasaan Diva.


Dan di saat memasuki gerbang sekolah dengan pakaian seragam agak kusut seseorang langsung mendekatinya sekaligus menyapanya.


"Selamat pagi Fanzi” orang tersebut adalah Diva sahabat kecilnya.


"Pagi juga Diva dan apa kau baik-baik saja?” Fanzi masih kepikiran dengan Diva.


"Tentu saja kenapa memangnya?” Diva kembali bertanya.


"Bu-bukan apa-apa” Fanzi dengan memalingkan wajahnya.


"Oh ya aku minta maaf soal tadi malam tadinya mau mengajakmu makan malam bersama karena diriku ketiduran tidak jadi deh” Diva dengan menyesal.


"Tidak harusnya yang minta maaf aku sendiri dan maaf karena membuatmu sedih tadi malam aku menyesal” Fanzi dengan perasaan menyesal sudah menolaknya.


"Tidak usah di pikirkan lagi pula aku juga sudah melupakannya kok lalu apa kau sudah sarapan pagi?” Diva bertanya kepada Fanzi.


"Sudah sarapan pagi” Fanzi dengan mengatakan jujur.


"Oh gitu ya dan hari ini kamu akan pulang ke rumahmu ya kan?” Tanya Diva lagi kepada Fanzi.


"Iya aku akan pulang” Fanzi mencoba memberanikan diri untuk pulang.


Lalu Fanzi yang langsung pergi menuju kelasnya sendiri sambil meninggalkan Diva karena perasaannya kurang enak melihat tatapan mata penuh kebencian melihat kepada Fanzi hingga sampai masuk ke dalam kelas.


Tiga jam mata pelajaran di jam awal benar-benar melelahkan pikiran dan juga jam istirahat Fanzi yang langsung pergi menuju sebuah kantin tempat makan di jam istirahat.


"Sepertinya disana tempat duduk kosong” Fanzi yang bicara sendiri langsung segera duduk disana.


Setelah duduk di sana sambil menyantap makanan yang di belinya menggunakan uang yang di dapatnya dari menjual potretan Camera miliknya lalu saat Fanzi yang sedang makan tiba-tiba seseorang mendatanginya.


"Fanzi apa aku boleh duduk disini?” Orang tersebut adalah Diva.


"Hm boleh saja, duduklah dimana pun kau suka” Fanzi sambil melihat sekeliling semua tempat duduk penuh di tempati.


"Terimakasih dan aku cukup kaget biasanya kamu jarang pergi dari kelas ternyata kau datang ke kantin lho” Diva dengan mengatakannya cukup terkejut.


"Ya sekali-sekali karena aku sedang punya uang karena foto-foto yang aku jual di website akhirnya terjual” Fanzi dengan suasana hati cukup bagus.


"Oh begitukah itu cukup bagus” Diva juga merasa ikut senang.


"Ya ben---”


Prak!


Seorang siswa yang duduk tidak jauh duduk dari Fanzi dengan tidak sengaja melempar satu botol sebuah minuman kepada Fanzi hingga berhasil mengenai pakaian Fanzi hingga basah.


"Fa-fanzi apa baik-baik saja?” Diva dengan dengan sangat terkejut Seseorang mencari masalah lagi dengan Fanzi.


"Tidak apa-apa dan kamu tidak kebasahan karena botol air minum kan?” Fanzi dengan bertanya kepada Diva.


"Tidak tapi pakaianmu basah Fanzi dan ganti pakaianmu ke kamar man---”


"Tidak akan!” Fanzi dengan mengambil botol tersebut lalu meremasnya hingga kering.


"Haahhh.... tunggulah sebentar aku akan membereskan para hama Sial*n itu!” Nada bicara Fanzi berubah menjadi berbeda dari biasanya.


"Fanzi berhenti jangan buat masal--”


Pra! Pra!


Siswa lain di dekat orang yang melemparkan botol minuman kepada Fanzi melemparkan juga sebuah kertas dan buah dari kantin yang menjual buah-buahan.


"Oy! Oy! Lihat dia mendekati kita” Ucap David dengan mengejek Fanzi.


"Takutnya! Ha-ha-ha!”


"Kemarilah!” Fanzi dengan bicara tegas.


"Oh mau jadi sok hebat! Sini akan aku layani!!”


David langsung mendekati Fanzi dengan langsung dengan melayangkan pukulan ke arah Fanzi.


"Lambat!” Fanzi dengan sekuat tenaga menahan pukulan tersebut.


"Ap--” Pukulannya berhasil di tahY gbb an.


Lalu Fanzi setelah berhasil menahan pukulan langsung memegang tangan David lalu membantingkannya ke lantai hingga meja ikut hancur.


Buagh! Brak!


"Hei benar-benar sudah mulai Gila! Hingga melawan pada kami!” Teman dekat David dengan kesal melihat temannya di bantingkan.


Disisi lain disisi lain Diva dengan sangat terkejut dengan perbuatan Fanzi dan siswa yang ada di kantin pun ricuh hingga ada yang pergi untuk melaporkan ke guru.


Sedangkan para pedagang yang ada disana ingin memisahkan anak-anak yang bertengkar namun para pedagang tersebut di larang oleh para siswa lain juga sambil merekamnya.