Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
114. Pertarungan Sengit Sesama Teman Membawa Kematian



Di pagi hari yang Kagami yang sudah pulih sepenuhnya tubuhnya sendiri dan dari dalam tanah mulai terasa getaran-getaran hebat yang belarti Zhigen berhasil menghancurkan tempat Realms Of Darkness ciptaannya sendiri kali ini telah hancur.


Boom! Boom!


"Ada apa ini?” Beberapa orang yang berada dalam kota dengan gelisah.


"Apa ini akhir dari kehidupan?” Seorang Pria berkata.


Lalu Pasukan Shadow Army langsung dengan sekejap memindahkan ke tempat yang aman bersama orang-orang yang ada di dalam kota semuanya berupaya di pindahkan dengan cepat.


"Mama..!!” Seorang anak kecil yang mencari ibunya.


Lalu sekejap anak tersebut langsung di bawa oleh pasukan bayangan ke tempat yang sangat aman.


"Anakku? Dimana anakku?”


Sraakk!


"Mama..! Seketika bayangan langsung muncul di hadapan orangtuanya.


"Diamlah disini karena di luar akan terjadi pertarungan besar dan tetap diam disini” Bayangan tersebut langsung bicara.


"Te-terimakasih” orang tersebut dengan sedikit takut karena tidak tau apa yang akan terjadi di luar.


[Situasi di luar POV]


Disisi lain tanah yang masih bergetar seperti akan ada sesuatu yang keluar dari dalam tanah Kagami sudah berhasil mengamankan 50% orang yang berada dalam 3 kota dengan lumayan cepat.


"Kagami apa kamu benar-benar yakin ingin mengalahkan dia sendiri?” Liyana dengan Khawatir.


"Tentu saja jangan khawatir seperti itu Liyana” Kagami dengan membuang nafas panjang.


"Kagami semoga berhasil” Liyana yang langsung mendekati Kagami.


Liyana yang langsung memberikan satu ciuman terakhir kepada kekasihnya yang sangat di sayangi oleh Liyana dan di saat tersebut juga Zhigen berhasil menghancurkan tanah dari bawah.


"Terimakasih banyak Liyana do'akan aku bisa bertahan hidup dan aku serahkan urusan lain mengganggu pertarunganku” Kagami yang langsung memeluknya sebagai balasan Liyana telah menciumnya.


DUARR! BAM!


Lalu Kagami langsung melesat dengan cepat ke arah ledakan sebelumnya yang sangat besar hingga terdengar sampai jauh.


'Fist Of Thunder : OverCloking...!!’


"Fanzi keluarlah! Tunjukan dirimu Sekar--..!!” Zhigen yang langsung meminta Kagami muncul.


Kagami yang melesat dengan cepat langsung memberikan Pukulan pertama telak langsung mengenai wajah Zhigen Langsung.


DUAARR! BLAM! BLAM!


Zhigen yang menyebabkan terlempar hingga menabrak gunung besar hingga gunung tersebut berlubang karena Zhigen terpukul menjauh keluar dari dalam Ibukota Azteria.


"Uhuk! Bajing*n Fanzi!!” Zhigen dengan terlihat tubuhnya penuh luka lagi.


"Apa enak salam selamat datang dariku?” Kagami yang langsung menunjukkan diri di hadapan Zhigen.


"Bajing*n kau harusnya mati lebih cepat Fanzi..!” Zhigen yang kesal melihat Kagami.


"Zhigen sadarlah! Apa alasanmu sangat ingin membunuhku padahal aku tidak punya masalah denganmu?” Kagami langsung bertanya kepada Zhigen.


"Ha.. kau ingin tau! Atau kau benar-benar bego? Sampai tidak menyadarinya?” Zhigen dengen tersenyum menghina kepada Kagami.


"Apa maksudmu aku tidak mengerti perkataanmu?” Kagami dengan belum mengerti apa yang di rasakan oleh Zhigen dulu.


"Kau sudah merebut semuanya dariku dulu sekaligus telah membunuhku Fanzi!! Apa kau ingat itu?” Zhigen dengan berteriak kepada Kagami.


"Aku tau aku mengaku salah sudah membunuhmu tapi bukankah kau yang sudah merencanakannya dahulu dan lagi aku tidak mengerti dari maksudmu 'sudah merebut semuanya dariku?' aku sungguh tidak mengerti” Kagami dengan bicara baik-baik.


"Berisik! Kau memang bego tidak mengerti apa yang aku rasakan selama ini..!!” Zhigen dengan mengatai Kagami dengan kata kasar.


Zhigen yang langsung menyerang Riziel dengan menggunakan kemampuan cahaya atau lawan kebalikannya dari Kemampuan yang di miliki oleh Kagami sangat berlawanan.


"Lakukanlah semaumu saja” Kagami dengan mengeluarkan senjata Lexalicus.


Disisi lain Liyana yang memperhatikan pertarungan antara Kagami dengan Zhigen dari kejauhan bersama rekannya dulu meskipun Liyana yang merasa bersalah karena tidak memberitahukan tentang kondisi kakeknya sekarang menjadi lebih memburuk.


Kagami dengan Zhigen yang saling beradu kekuatannya dengan sangat sengit hingga tidak memperhatikan sekitarnya yang hancur karena pertarungan mereka tidak adanya mengontrol emosi, kekuatan milik Zhigen yang sangat ingin mengalahkan Fanzi.


"Nona apa tuan akan baik-baik saja?” Tenebris dengan menghawatirkan keadaan tuannya sendiri.


"Semoga saja baik-baik saja” Liyana yang juga kurang yakin bahwa Kagami akan bertahan hingga bisa menang dari Zhigen.


Disisi lain Kagami yang menyerang sekaligus bertahan dengan menggunakan senjata Lexalicus yang cukup membantunya meskipun di mata Zhigen senjata yang di pakai oleh Kagami sungguh membuat merepotkannya.


"Hah.. hah.. kau sungguh kuat juga masih bertahan Zhigen” Kagami dengan sejenak tersenyum kagum.


"Hahh... Kau juga sama Fanzi apa lagi dengan senjata yang sangat merepotkanmu itu” Zhigen dengan menarik nafas dalam-dalam.


"Heh.. ini senjata yang sangat langka maka dari itu akulah yang akan berhasil membunuhmu!” Kagami dengan dengan melompat ke lebih tinggi.


"Tch..! Maaf saja kali ini aku tidak akan kalah darimu hari ini!!” Zhigen juga langsung pergi mengikuti Kagami sambil mengumpulkan energi cahaya di tangannya.


Saat Zhigen yang mengikuti Fanzi tanpa mengetahui apa yang di rencanakan oleh Fanzi/Kagami yang tiba-tiba menjauh pergi ke arah langit.


Saat Zhigen mengikuti Fanzi agar bisa cepat-cepat membunuhnya tanpa di sadari langit yang awalnya cerah berubah manjadi hitam dengan angin berhembus kencang.


"Matilah dengan tenang Kawan!” Kagami yang bicara pelan.


‘Blazing Thunder Destruction..!!”


"SIAL---!!!”


BAM! BOOM!


Lalu Kagami dengan keadaan luka-luka kemarin mulai terbuka kembali membuat tubuhnya menjadi melemah karena lukanya yang belum sembuh total.


"Ugh.. sial luka-lukaku kemarin mulai terbuka lag-!”


Tiba-tiba sebuah energi cahaya sangat tipis namun mematikan langsung mengarah kepada Kagami yang sedang kesakitan.


"OI KAU KIRA DIRIKU AKAN KALAH DENGAN MUDAH HAHH!!” Seseorang berbicara dari bawah Kagami.


Kemudian angin berhembus kembali membuat debu-debu bekas pertarungan sebelumnya terlihat dengan keaadaan Zhigen yang tubuhnya hancur namun semua anggota tubuhnya meregenerasi dalam hitungan detik.


"Ternyata memang mustahil bagiku mengalahkanmu saat ini ya Zhigen” Kagami dengan merasa putus asa.


"Memang benar!! Tidak ada guna bagi hidup disana maupun disini karena kau sama-sama tidak berguna hanya beban! terus menerus memberontak memberontam akhirnya kau akan mati! Jadi matilah dengan tanpa perl---” Zhigen dengan perasaan senang melihat Fanzi putus asa sambil mendekatinya.


Jleebb! Crat!


Kagami yang memang sudah putus asa tapi sangat kesal dengan perkataan Zhigen yang telah di katakannya kepada Fanzi atau Kagami saat ini jadi Kagami menusuk Zhigen dengan pedang kuno terkutuk di tangannya.


"Aku tau bahwa aku tidak punya tujuan hidup saat di masa laluku dan aku setuju jika kau mengatakan bahwa aku adalah beban tapi berbeda dengan saat ini aku tidak ingin mati sebelum memusnahkan KALIAN...!!” Kagami sambil mencabut kembali pedangnya dari tubuh Zhigen.


"Karena aku benci orang yang punya segalanya yaitu kekuatan, kekuasaan dan keinginan untuk mengendalikan semuanya di bawah kendali kalian!” Kagami sambil mencengkram pedang kuno terkutuk di tangannya.


"Uhuk..! Kenapa luka ini tidak pulih lagi!” Zhigen dengan kesal.


"Karena pedang yang aku tusuk ke pada tubuhmu bukanlah pedang biasa yang bahkan bisa menghentikan tubuhmu pulih kembali seperti sekarang bukankah ini hebat!” Kagami dengan bertanya kepada Zhigen.


Lalu Kagami kembali diam sambil mengarahkan pedang misterius tersebut kepada Zhigen kemudian Kagami dengan menarik sudut bibirnya sambil melihat kepada Zhigen yang bisa merasakan kesakitan.


"Untungnya dalam sehari penuh bisa menggunakannya jika tidak pasti aku akan mati dengan mudah Zhigen” Kagami langsung menebas tangan kanan Zhigen hingga terputus.


Lalu Zhigen yang menyadari tubuhnya menjadi sangat lemah dan tidak bisa di gerakan seperti ada racun mengalir masuk ke dalam tubuhnya dan Zhigen mengetahui Fanzi ingin menebas tangannya langsung melindungi tangan kanannya dengan energi cahayanya.


"Percuma saja....!!”


Srak! Slash! Crat!


Tangan kanan Zhigen yang telah di tebas menjadi 2 bagian terpisah dengan darah yang mengalir keluar dari tangannya darah segar dari tubuh Zhigen.


"ARGH..!! Sial*n Dasar Psikopat!!” Zhigen dengan kesakitan ingin menahan darahnya keluar namun tubuhnya sulit di gerakan.


"Terserah kau mau menyebutku apa karena bukankah sejak dulu aku memang pembunuh atau psikopat mana yang cocok ya?” Kagami dengan sedikit muncul perasaan senang dengan melihat Zhigen hancur.


Di saat Kagami lengah karena perasaan senang membunuh yang sama seperti di masa lalunya, Zhigen mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya langsung memuntahkan sebuah Blood Stone yang sengaja menyimpannya.


Srak! Jlebb!


Lalu Blood Stone tersebut langsung di tancapkan oleh Zhigen sendiri di tubuhnya dan seketika kekuatan Zhigen langsung bertambah berkali-kali lipat hingga muncul di tubuhnya urat sarafnya terlihat.


"KAGAMI HATI-HATI...!!” Liyana yang langsung memanggil Kagami dari kejauhan.


"Ap-” Kagami yang langsung berbalik.


KLANG! BAM!


Untungnya Kagami langsung bisa mengendalikan emosinya membuatnya bisa menahan serangan langsung dari Zhigen dengan sangat cepat dan kuat.


"HEBAT FANZI! HIBURLAH DIRIKU LEBIH LAGI..!!” Zhigen yang sudah menggila.


"Dasar BAJING*N GILA!” Kagami langsung melihat tangan kanan Zhigen pulih kembali.


BLAM!


"Ugh..!!” Kagami yang langsung terdorong sejauh 15 meter dari keadaan awal.


Kagami yang seketika melihat Zhigen menggunakan Blood Stone untuk meningkatkan lagi kemampuan bertarungnya menjadi jauh lebih kuat lagi.


‘LIVING CORPSE...!!’


Seketika dari dalam tanah dalam hitungan detik langsung muncul ribuan Undead di sekeliling Kagami yang seperti dalam mimpinya terjadi.


"Ini adalah pertarungan kita berdua jadi tidak ada yang boleh mengganggu PERTARUNGANKU..!!’


‘HELL'S PUNISHMENT : RAIN OF ATONEMENT..!!’


Gruung! Gruung!


Seketika Kagami menarik keluar aura yang sangat kuat menekan segalanya yang berada di sekitar Kagami sejauh 50 meter di dekatnya.


"UGGHH...! APA-APAAN INI!!” Zhigen yang bahkan di tekan tidak bisa bergerak sama sekali karena tekanan tersebut.


"Musnahkan mereka semua..!!” Kagami yang berkata.


Seketika muncul ratusan ('Shadow Army!') yang bermacam-macam makhluk bayangan yang langsung bergerak memusnahkan para Ribuan Undead dan juga setelah Aura menekan kekuatan menghilang muncul juga bantuan yang di persiapkan oleh Kagami sejak lama yaitu semua rekan Tim, Murid sekaligus kekasihnya sendiri.


"Fokuslah pada pertarunganmu” Tenebris, Hoaxen dengan Vortex dengan penampilan Vampir.


"Guru berhati-hatilah” Igris dengan berani sekaligus menggunakan senjata barunya.


"Kau baik-baik saja Kagami?” Liyana dengan bicara melalui telepati.


"Untuk sekarang aku baik-baik saja” Kagami dengan bersiap berjaga-jaga dengan serangan kejutan Zhigen.


"Jangan mati oleh lawanmu Kagami!” Liyana dengan langsung mengatakan kepada Kagami.


"Aku tau, kau juga jangan kalah Liyana!” Kagami dengan tersenyum sejenak.


Lalu Kagami yang berfikir langsung mengakhirinya pertarungan saat ini dengan Zhigen karena kondisinya sudah sangat lemah.


"KENAPA DIAM? APA KAU MULAI TAKUT DENGANKU FANZI..!!?” Zhigen dengan memprovokasi Kagami kembali.


Namun Kagami yang hanya menanggapinya dengan diam dan Zhigen pun merasa harus hati-hati jadi memutuskan untuk menjauhi Musuhnya Yaitu Fanzi atau Kagami.


[Thunder : Break Boundaries + OverCloking Detone..!!]


Kagami dengan kecepatan yang sangat tinggi baru pertama kali di capai olehnya sendiri langsung menyerang Zhigen dengan kecepatan penuh sambil memegang dua senjata andalan yang di milikinya.


BZZTT! BAM!! DUAARR!!


"TIDAAAKKK MUN---!!!” Suara Zhigen yang ikut menghilang dengan ledakan besar.


Saat Zhigen telah berhasil di musnahkan oleh Kagami Bersamaan dari itu Ribuan Undead juga menghilang dari hadapan rekan-rekan petualang Kagami.


"Apa ini sudah selesai?” Liyana melihat ribuan Undead telah menghilang.


"Guru telah menang!” Igris yang dapat informasi dari agares.


Lalu setelah pertarungan tersebut seketika muncul lagi musuh yang lebih kuat dari pada Zhigen dengan Raimond namun lawannya bukanlah manusia melainkan dewa yang mengendalikan kedua boneka tersebut muncul di hadapan Liyana dengan rekan-rekan yang lain.