Fight In The Trash Game

Fight In The Trash Game
113. Munculnya Masalah Satu-Persatu



Pria misterius yang berhasil masuk ke dalam gerbang masuk ibukota Azteria sambil menyembunyikan niat dari tujuan sebenarnya untuk datang ke dalam kota tersebut.


"Sudah lama sekali ternyata tempat ini sudah banyak berubah ya, semoga saja keluargaku masih hidup dengan aman” Pria misterius tersebut dengan tersenyum sejenak.


Pria misterius tersebut langsung segera pergi untuk mencoba memeriksa keluarganya yang sudah di tinggalkan olehnya sangat lama.


Saat Pria misterius itu masuk ke dalam tempat tersebut Zhigen yang ternyata Zhigen mengikutinya dari kejauhan dan masuk ke dalam tempat tersebut tanpa menyembunyikan niat jahatnya demi tujuan untuk membunuh temannya di masa lalu yang sudah membunuh dirinya sendiri yaitu Fanzi/ Kagami.


"Oh jadi Fanzi di tempat seperti ini aku benar-benar iri sekali” Zhigen dengan muncul dengan perasaan iri kepada Fanzi yang lahir di sana.


Lalu beberapa bayangan langsung muncul dari setiap sisi bayangan rumah dan orang yang melesat dan bayangan tersebut langsung menangkap Zhigen.


"Apa-apaan ini mencoba menyergapku dengan bayangan seperti ini jangan bercanda!!” Zhigen yang langsung membuat ledakan Cahaya.


Blam!


Ledakan tersebut berhasil di redam oleh Makhluk bayangan berbentuk pemimpin King Orc yang ahli dalam sihir dengan bekerja sama dengan Agares sang bawahan pertama Kagami.


Sedangkan orang-orang yang sedang berjalan-jalan berhasil di amankan oleh para Prajurit Bayangan untuk menjaga keamanan orang-orang di dalam kota.


"Apa! Bagaimana mungkin??” Zhigen dengan terkejut sedangannya telah di tahan oleh sebuah bayangan


Clap! Clap!


"Apa ini lepaskan dasar Bajingan!!” Zhigen yang tertangkap oleh Makhluk bayangan Kagami dengan cukup mudah.


Kemudian para Prajurit Bayangan yang sudah melakukan tugasnya langsung bergerak menempel pada tubuh Zhigen hingga tidak bisa lepas dan berhenti bergerak lalu Bayangan King Orc juga langsung menghubungkan ke tempat penyiksaan Atau kata lain Dark Prison Hunting Ground!’ tempat yang di ciptakan oleh Kagami sendiri.


Pria misterius yang melihat Zhigen tertangkap dengan mudah hanya tertawa pelan dan bersikap tidak peduli pada Zhigen tanpa membantunya namun meninggalkannya dari sana karena tujuannya adalah untuk memeriksa keadaan keluarganya bukan untuk melakukan misi.


"Dasar bocah bego kau terlalu meremehkan dia” Pria misterius dengan pergi dari sana.


Pria misterius tersebut akhirnya sampai di depan rumah keluarganya yang cukup ada perubahannya dan di saat itu juga seorang anak kecil yang bermain dengan teman-temannya hingga menabrak Pria misterius tersebut.


Duakh!


"Ugh! Sakit” Ternyata anak tersebut memiliki rambut berwarna merah yaitu Lucia atau adiknya Liyana yang langsung terjatuh ke tanah saat kejar-kejaran.


"Apa baik-baik saja? Ada yang sakit?” Pria miterius tersebut langsung membantu anak kecil tersebut berdiri kembali.


"Terimakasih paman dan tidak ada yang sakit kok” Lucia dengan kuat menahan sakit.


"Lucia tanganmu berdarah loh” Seorang temannya melihat tangan Lucia berdarah.


"Eh tidak terasa sakit hehe” Lucia masih belum belajar cara untuk menyembuhkan lukanya.


"Lain kali hati-hati dalam bermain” Pria misterius tersebut langsung menyembuhkan luka bekas jatuhnya.


"Hebat lukaku langsung hilang! Terimakasih banyak paman hehe” Lucia yang langsung berterimakasih sekali lagi.


"Oh ya dimana orangtuamu kenapa sendirian saja?” Pria misterius tersebut langsung bertanya kepada Lucia.


"Um ibu sedang beristirahat lalu kalau ayah sedang kesana” Lucia langsung menunjukkan ke arah Istana.


"Bisakah tunjukan arahnya?” Pria misterius tersebut memintanya untuk mengantarkannya.


"Ah bisa kok!” Lucia dengan baik hati.


Lalu angin berhembus pelan memperlihatkan penampilan pria misterius tersebut dengan rambut berwarna merah namun pria misterius tersebut langsung menutupnya lagi dan Lucia langsung mengantarkannya ke istana bersama Pria misterius tersebut.


[Disisi lain Kagami POV]


Kagami yang bersama Liyana sambil berkeliling seketika Kagami bisa merasakan seseorang menyusup masuk ke dalam Ibukota Azteria.


"Ugh!” Kagami seketika bisa melihat ada beberapa orang masuk ke dalam kota.


"Kagami ada apa?” Liyana yang melihat Kagami seperti merasa kesakitan.


"Ada 2 orang yang msnyusup masuk ke dalam Ibukota” Kagami langsung memberitahukan kepada Liyana.


"Apa 2 orang tersebut yang di dalam mimpimu itu Kagami?” Liyana yang langsung mencoba memastikannya kepada Kagami.


"Iya yang satu orang telah tertangkap namun yang satu lagi sedang bersama Lucia pergi menuju Istana dimana ayahmu dengan ayahku berada” Kagami yang langsung penglihatan pengintaiannya selesai sampai di situ.


"Kalau gitu kita harus buru-buru kesana Kagami sebelum terlambat!” Liyana dengan perasaan Khawatir.


"Tentu saja” Kagami langsung memegang tangan Liyana.


Kagami langsung melakukan perpindahan antar bayangan miliknya secepat mungkin untuk menghindari kekacauan lebih besar seperti dalam mimpinya tersebut.


Sebelum Kagami dengan Liyana sampai disana yang sampai lebih cepat adalah Lucia bersama Pria misterius tersebut hingga bertemu dengan kedua orang yang ingin di temuinya.


"Ayah!” Lucia yang melihat ayahnya langsung segera memanggilnya.


"Kenapa kesini lalu siapa yang bersamamu?” Ayah Liyana yang langsung mengambil putrinya dari orang misterius tersebut.


"Paman yang baik ayah” Lucia langsung menjauh dari orang misterius tersebut.


"Sudah lama ternyata kamu sudah punya anak yang kedua sangat cantik putraku Rizen” Pria misterius tersebut langsung menyebutkan nama putranya yang sudah besar


Kemudian angin berhembus kembali hingga membuka kain yang menutupi identitas wajahnya yang tidak bisa di kenali siapapun dan setelah terbuka sekaligus terlihat wajah aslinya membuat Zhiyu dengan pak Rizen sangat terkejut.


"Ayah apa ini benar-benar ayah?” Rizen dengan terkejut sekaligus merasa senang langsung segera mendekati ayahnya yang sudah lama menghilang.


"Raimond kau masih hidup!?” Zhiyu yang cukup terkejut.


Lalu Kagami yang muncul dari balik bayangan ayahnya sendiri bersama Liyana.


"Berhenti! Jangan mendekatinya!!” Kagami langsung memperingatinya.


"Ayah berhenti aku mohon!” Liyana juga ikut memperingatinya.


Lalu Rizen atau ayah Liyana yang terhenti saat mendengar suara dari putri pertamanya yang sudah membantunya menjadi lebih kuat.


"Nak mendekatlah ayahmu ini sangat merindukanmu” Raimond dengan bicara kembali.


Crat!


Rizen yang pernah mendengar pembicaraan anaknya tentang mimpi yang di alami Kagami bahwa ayahnya yaitu Raimond adalah lawan keluarganya dan Kesadaran Raimond tersegel di alam bawah sadarnya jadi yang mengendalikan tubuhnya adalah orang lain.


Rizen juga yang berhasil melukai ayahnya sendiri dengan membentuk energi pedang dari tangannya sendiri berkat bantuan putrinya yang pertama adalah Liyana.


"Ugh.. Kenapa kamu menyerang ayahmu sendiri?” Raimond dengan memegang bekas lukanya.


"Aku sudah tau semuanya dan hentikan sandiwaramu itu dan kembalikan kesadaran ayahku yang sebenarnya!” Rizen dengan bicara tegas.


"Ha.. hahaha.. ketahuan juga ya?, Aku akui anak dalam takdir itu kuat dan hebat juga” Raimond seketika lukanya langsung meregenerasi lagi dengan cepat.


Kagami langsung mengeluarkan beberapa makhluk bayangan untuk menjaga semuanya yang ada di sisinya.


"Tapi maaf saja kalian harus mati di tanganku hari ini!” Raimond dengan cepat langsung menyerang balik sambil mengeluarkan pedang terkutuk.


"Tidak akan kubiarkan!!” Liyana yang langsung melesat untuk melindungi ayahnya.


Klang! Klang!


‘Sequential Perfect Judgment Cut End....!’ Liyana yang langsung menjauhkannya langsung dengan cepat.


"Tutup telinga kalian semua!”


‘Ability Scream : Dark Prison Hell Hunting Ground!!’ lalu Seketika para makhluk bayangan langsung membawa mereka semua menuju Penjara Perburuan Kegelapan Neraka.


"Menarik sekali..! Anak takdir kau kuat juga!”


"Berisik Hama! Kali ini akan aku musnahkan hingga mengirimkanmu ke neraka!!” Kagami yang langsung ikut maju menyerang Raimond.


Kagami yang langsung menyerang menggunakan pedang Guardians melesatnya menyerang balik namun pedang Guardians seperti tidak mau beradu pedang dengan yang milik Raimond.


Dengan gerakan tangan cepat Kagami langsung mengeluarkan senjata Lexalicus untuk menyerang Raimond sambil menyimpan dengan cepat pedang Guardians.


Lalu Kagami yang langsung mengubah senjatanya Lexalicus menjadi bentuk tombak bermata dua untuk menyerang Raimond lebih cepat di bandingkan dengan Raimond sendiri.


Klang! Blam! Klang!


"Ayah sadarlah... Ayaahh!!” Rizen yang tidak berani lagi untuk menyerang karena untuk sekarang tubuhnya bergetar ketakutan.


Lalu Kagami yang bertarung langsung mengeluarkan api di tangan kirinya berbentuk teratai api tiga warna energi yang di miliki oleh Kagami.


"Kagami jangan lakukan itu terlalu menguras energimu!!” Liyana yang langsung melarang Kagami melakukannya.


Raimond kemudian tersenyum sejenak dan secara sengaja menggunakan kemampuan terlarang keluarganya yaitu ’Demonic Blood Reversal!’ yang membuat perubahannya juga dari rambutnya yang mulai berubah drastis dari merah menjadi putih.


"Kalau itu maumu maka matilah bersamaku anak takdir!!’


Raimond seketika pedang yang di pegang di tangannya langsung menebas tangan kirinya hingga mengeluarkan darah cukup banyak.


"Nikmatilah sembahan darahku ini” Raimond dengan seketika tubuhnya muncul urat-urat syaraf terlihat.


"Jangan-jangan cara itu adalah Blood Burning Art” Zhiyu yang bisa tau hanya dengan melihatnya saja.


Lalu Raimond yang dalam kondisi yang sangat pulih sekaligus sangat kuatnya hingga mencoba menertawakan Kagami sendiri.


"Hahaha anak takdir kau tidak akan bisa mengalahkanku sekarang karena sekarang diriku adalah kuat darimu!!” Raimond dengan menertawakannya.


"Jika kau dalam kondisi yang lebih hebat aku senang karena cara ini sangat pas untuk memanggangmu hingga tidak tersisa!!” Kagami dengan mengintimidasinya.


‘ANNIHILATION FIRE LOTUS DESTRUKTIF..!!’


‘CURSED SWORD : SLAUGTER..!!’


Kedua serangan tersebut beradu namun Kagami langsung menaikan suhu lebih panas lagi dan apinya membuatnya lebih membesar sekaligus menyebar lebih luas.


Duarr!


"APA TIDAK MUNGKIN AKU KALAH SEPERTI INI!!” Raimond yang melihat serangannya gagal dengan tubuhnya ikut terbakar hingga memusnahkan energi jahat yang mengendalikannya.


Krak! Trass!


Sesuatu muncul bunyi seperti sesuatu hancur atau pecah dan bersamaan dengan itu Kagami yang energinya terkuras drastis karena kemampuan yang sangat kuat di ciptakan olehnya sendiri.


Semuanya mulai kembali menjadi semula lagi dan juga Raimond yang sudah berhasil di selamatkan oleh Kagami sendirian.


"Kagami apa kamu baik-baik saja?” Liyana yang langsung mendekati Kagami dengan perasaan khawatir.


"Hahh.. iya aku baik-baik saja yang sedikit lelah” Kagami langsung beristirahat sejenak.


"Syukurlah jika kamu tidak terluka parah” Liyana dengan sangat Khawatir.


"Apa yang lain baik-baik saja lalu bagaimana keadaan kakekmu?” Kagami yang langsung melihat ke arah yang lain.


"Harusnya pikirkan dirimu saja dasar bodoh!” Liyana yang langsung memeluk erat Kagami.


Lalu di saat itu juga ketiga bawahan Kagami dengan Liyana baru menyadari bahaya langsung memeriksanya keluar dari dalam istana hingga disana terlihat sepertinya bahaya sudah selesai di tangani.


Tidak lama dari itu juga Kagami yang menyadarinya sejak sedang bertarung pedang Guardians tidak mau melawannya atau bersentuhan dengan pedang yang di pegang oleh Raimond.


Membuat Kagami berdiri langsung berjalan mendekati Raimond yang belum sadarkan diri karena Kagami sudah memusnahkan energi jahat yang mengendalikan Raimond.


"Kagami ada apa?” Liyana yang melihat Kagami pandangannya ke arah pedang yang di bawa oleh kakeknya Liyana.


"Aku akan mengambil ini” Kagami yang langsung mengangkat pedang terkutuk tersebut.


"Untuk apa kamu mengambilnya?” Liyana yang masih belum mengerti.


"...” Kagami tidak bicara apapun.


Lalu Kagami yang langsung mengeluarkan pedang Guardians juga di tangan kanannya lalu saat kedua pedang berdekatan tiba-tiba kedua pedang tersebut langsung terbang dan diam di atas kepala Kagami sambil kedua pedang tersebut bersatu hingga mengeluarkan aura menakutkan dari kedua pedang tersebut.